Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kendali yang Mulai Lepas
POV Paolo
Dua bulan.
Selama itulah waktu yang kubutuhkan untuk mengakui... meski hanya pada diriku sendiri... bahwa perasaan itu tidak pernah pergi.
Aku sudah mencoba.
Mengabaikannya.
Menguburnya dalam pekerjaan.
Menyangkalnya dengan segala cara yang mungkin.
Namun tak ada gunanya.
Maria Cecília tetap ada di sana.
Di dalam benakku.
Dalam pikiranku.
Dalam saat-saat hening.
Dan itu... tak bisa kuterima.
Rutinitas di Italia kembali seperti biasa. Rapat. Keputusan. Bisnis. Mafia. Perusahaan. Tanggung jawab yang tak pernah berhenti.
Biasanya, itu sudah cukup.
Selalu cukup.
Tapi kali ini tidak.
Karena di tengah semua itu... aku mendapati diriku terkenang. Pada caranya. Pada cara dia memandangku. Pada cara dia bereaksi terhadap kehadiranku.
Dan yang paling utama... pada perpisahan bisu di hanggar itu.
Tatapan itu.
Semua itu tak mau hilang dari kepalaku.
Dan itu membuatku jengkel.
Sampai ke tulang.
Karena aku bukan pria yang tersesat dalam pikiran sia-sia. Aku pria yang lugas. Dingin. Cermat.
Perasaan tak pernah menjadi bagian dari perhitungan.
Tak pernah.
Dan tak akan dimulai sekarang.
"Kau melamun."
Suara Pietro menarikku kembali. Aku mengangkat wajah.
"Tidak."
Ia bersandar di kursinya, menyilangkan lengan.
"Iya, kok."
Kuabaikan. Aku terus menelaah laporan-laporan di hadapanku.
"Ini soal dia, kan?"
Aku terhenti. Perlahan. Kuangkat pandanganku.
"Hati-hati dengan ucapanmu."
Ia tersenyum miring.
"Berarti benar."
Kututup map itu keras-keras.
"Jangan mulai."
"Kaupikir aku tak menyadarinya?"
"Tak ada yang perlu disadari."
"Paolo..."
"Pietro."
Nadaku sudah cukup untuk menghentikannya. Ia mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
"Baiklah. Tapi kalau kau sudah siap berhenti membohongi diri sendiri, kita bicara."
Aku tak menjawab.
Karena jawaban apa pun... berarti mengakui sesuatu yang belum siap kuterima.
Persiapan pernikahan Luna sedang berjalan penuh gas. Mama terlibat dalam setiap detailnya. Luna... bahagia. Benar-benar bahagia.
Dan Lutero... menjalankan perannya dengan sempurna. Seperti biasa.
Ia memandang Luna seakan gadis itu adalah hal paling berharga di dunia.
Dan mungkin memang begitu.
Bagi Lutero, sudah pasti begitu.
Aku menghormati itu. Lebih dari apa pun.
Karena ia tak pernah melewati batas. Tak pernah mengkhianati kepercayaanku.
Dan kini... ia sudah mendapat izinku.
Lebih dari itu... restuku.
Meski begitu... ada bagian dari diriku yang menyaksikan semua itu dengan jarak tertentu. Seolah semua itu... wajar bagi orang lain.
Tapi tidak bagiku.
"Mereka menerimanya."
Suara Pietro menarikku kembali dari lamunan. Aku mengangkat pandangan.
"Siapa?"
Ia mengangkat sebelah alis.
"Serius?"
Aku tak menjawab. Ia melepas tawa pelan.
"Maria Cecília dan Ana Paula. Promosi itu. Perjalanan ke Italia."
Tubuhku bereaksi sebelum pikiranku sempat. Sedikit menegang. Nyaris tak terlihat.
"Bagus," jawabku, datar.
"Cuma itu?"
"Apa lagi yang kaumau kukatakan?"
Ia menatapku beberapa detik.
"Tidak ada."
Tapi tatapan itu... mengatakan segalanya.
Ide itu datang dari Papa.
Dan, seperti biasa... cemerlang.
Menawarkan kesempatan. Berdasarkan kemampuan. Peluang untuk berkembang.
Tanpa melukai harga diri mereka. Tanpa terkesan sedekah. Tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dan berhasil.
Mereka menerimanya.
Tentu saja mereka menerima. Itulah jalan yang paling masuk akal.
Tapi bagiku... itu berarti hal lain.
Mereka akan datang.
Dia akan datang.
Dan itu... aku belum tahu apakah itu sebuah masalah... atau sesuatu yang lebih buruk.
Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku berbaring, menatap langit-langit. Berpikir.
Sesuatu yang selalu kuhindari kalau menyangkut dirinya.
Karena berpikir menuntun pada merasa.
Dan merasa... menuntun pada hilangnya kendali.
Tapi tak terelakkan.
Ia akan berada di sini. Di kotaku. Di wilayah kekuasaanku. Dekat. Sangat dekat.
Dan itu mengusikku lebih dari yang ingin kuakui.
"Ini konyol..."
Aku bergumam pada diri sendiri. Kubalikkan tubuh di ranjang. Kupejamkan mata.
Tapi, seperti biasa... bayangannya datang. Jelas. Terperinci. Membandel.
Dan tubuhku bereaksi. Seketika.
Aku bangkit. Langsung menuju kamar mandi. Kunyalakan pancuran. Air dingin.
Aku membutuhkannya. Aku butuh menghapus setiap sisa pikiran semacam itu.
Karena itu tak boleh tumbuh. Tak boleh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Keesokan harinya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Rapat tak berkesudahan. Urusan organisasi. Penyesuaian strategi.
Semua demi menyibukkan pikiranku. Menjauhkannya. Menjaganya tetap jauh.
Tapi jauh di dalam hati... aku tahu.
Itu hanya sementara.
Karena ia sedang dalam perjalanan.
"Pesawatnya tiba malam ini."
Pietro memberitahu, masuk ke kantorku tanpa mengetuk.
"Aku tahu."
"Kau mau menjemput mereka?"
"Tidak."
Jawaban seketika.
"Kau mau menyuruh orang?"
"Sudah beres."
Ia mengangguk. Tapi tak beranjak.
"Ada apa?" tanyaku, tak sabar.
"Tidak ada."
"Kalau begitu bicara."
Ia melangkah maju satu langkah.
"Kau bisa membohongiku sesukamu... tapi kau tak akan bisa membohongi dirimu sendiri selamanya."
Aku bangkit perlahan.
"Kau sudah melewati batas."
Ia menahan tatapanku.
"Tidak. Aku cuma mengingatkanmu bahwa kau masih manusia."
Itu membuatku jengkel. Lebih dari seharusnya.
"Keluar."
Ia mengangkat bahu.
"Terserah."
Lalu keluar. Membanting pintu.
Aku tinggal sendirian.
Sunyi. Berat. Menyesakkan.
Aku berjalan ke jendela. Menatap kota. Kotaku. Tempat aku menguasai segalanya.
Atau nyaris segalanya.
Karena ada satu variabel... yang tak bisa kukendalikan.
Dan itu... adalah sebuah masalah.
Beberapa jam kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari sopir.
"Mereka sudah bersama kami."
Jantungku... berdegup lebih cepat. Di luar kehendakku.
Kupejamkan mata sesaat. Kutarik napas dalam-dalam.
Kendali. Selalu.
"Antar ke apartemen."
Balasan cepat. Lugas. Tak ada ruang untuk kesalahan.
Tapi, bahkan setelah mengirimnya... aku tetap di sana. Diam. Berpikir.
Ia sudah di sini. Di Italia. Hanya beberapa kilometer dariku.
Dan, untuk pertama kalinya sejak lama... aku tak tahu persis apa yang harus kulakukan.
Kusambar jas. Aku keluar dari kantor. Tanpa memberi tahu siapa pun. Tanpa tujuan yang jelas.
Aku masuk ke mobil. Mulai menyetir. Tanpa terburu-buru. Tanpa arah.
Hanya... menyetir. Mencoba menata sesuatu yang tak masuk akal.
Sampai, ketika aku sadar... aku sudah dekat. Sangat dekat. Dengan tempat ia berada.
Aku menghentikan mobil. Aku tetap di sana. Kedua tangan di kemudi. Mesin menyala. Jantung... berdegup kencang.
"Ini sebuah kesalahan..."
Kuucapkan dengan suara pelan.
Tapi aku tak pergi. Aku tak bisa.
Karena, jauh di dalam hati... ada sesuatu yang lebih kuat daripada akal sehat.
Sesuatu yang masih kutolak untuk kuberi nama.
Tapi yang, dengan jelas... sudah tak lagi berada di bawah kendaliku.
Dan itu... baru permulaan.