Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.7
Nama Author: gigiwww

Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.

Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.

Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Percakapan yang Tertunda Tiga Tahun

Hujan turun perlahan membasahi jendela rumah sakit malam itu. Lampu kamar rawat inap anak menyala redup, menciptakan suasana tenang yang justru membuat hati Alya semakin gelisah.

Liora akhirnya tertidur setelah tangis kecilnya mereda.

Pipi gadis kecil itu masih sedikit merah karena demam, sementara tangan mungilnya menggenggam ujung baju Alya seolah takut ditinggalkan.

Alya mengusap rambut putrinya pelan.

“Cepat sembuh ya, sayang…”

Dadanya terasa sesak melihat Liora sakit seperti ini.

Selama tiga tahun, anak itu selalu menjadi alasan dirinya bertahan hidup. Karena itu, melihat Liora lemah di atas ranjang rumah sakit membuat Alya merasa sangat takut.

Kate yang duduk di sofa kecil menatap Alya hati-hati.

“Kamu juga harus istirahat.”

Alya menggeleng pelan.

“Aku nggak bisa tidur.”

Pikirannya terlalu penuh.

Tentang Leon.

Tentang pertemuan di taman.

Tentang fakta bahwa pria itu sekarang berada di kota yang sama.

Dan kemungkinan terburuk yang terus menghantuinya—

Bagaimana kalau Leon mengetahui keberadaan Liora?

Ponsel Alya tiba-tiba bergetar.

Nama Om Ares muncul di layar.

Alya langsung berdiri dan keluar kamar agar tidak membangunkan Liora.

“Hallo, Om…”

Suara Ares terdengar cemas dari seberang sana.

“Kate tadi nelepon. Liora gimana?”

“Demam tinggi… tapi dokter bilang sekarang udah mulai turun.”

Ares menghembuskan napas lega.

“Kamu pasti panik banget.”

“Iya…”

Suara Alya melemah pelan.

Dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.

Selama ini ia selalu berusaha kuat.

Namun malam ini semuanya terasa terlalu berat.

“Om…” suaranya lirih. “Aku takut.”

“Ada apa?”

Alya bersandar lemah di dinding lorong rumah sakit.

“Leon ada di Roma.”

Hening.

Beberapa detik tidak ada suara dari seberang telepon.

Lalu nada suara Ares berubah serius.

“Kamu ketemu dia?”

“Belum… tapi dia sempat lihat Liora di taman.”

“Apa dia curiga?”

“Aku nggak tahu…”

Alya menutup matanya lelah.

“Aku takut dia ngambil Liora dari aku.”

Kalimat itu keluar bersama suara yang nyaris pecah.

Karena itulah ketakutan terbesar Alya selama ini.

Bukan tentang dirinya.

Tapi kehilangan anaknya.

“Dengar sama Om,” ujar Ares lembut namun tegas. “Nggak ada yang bisa ambil Liora dari kamu.”

“Tapi dia ayahnya…”

“Dan kamu ibunya.”

Suara Ares terdengar sangat tenang.

“Selama tiga tahun siapa yang ada buat anak itu? Kamu.”

Air mata Alya akhirnya jatuh perlahan.

Tiga tahun lalu ia pergi dengan rasa takut dan kebingungan.

Namun sekarang…

Liora sudah menjadi seluruh dunianya.

“Kalau memang situasinya bahaya,” lanjut Ares, “kita pindah lagi.”

Alya langsung menggigit bibir.

Pindah lagi.

Kabur lagi.

Hidup sembunyi-sembunyi lagi.

Tiba-tiba ia merasa lelah.

Sangat lelah.

“Liora udah mulai nyaman di sini, Om…” bisiknya pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak melarikan diri dari Leon—

Alya merasa ingin berhenti berlari.

---

Di sisi lain kota Roma…

Sebuah ruang meeting mewah di gedung perusahaan internasional masih dipenuhi suasana formal.

Leon duduk di ujung meja sambil mendengarkan presentasi kerja sama terbaru. Wajahnya tetap dingin dan profesional seperti biasa.

Sementara di seberangnya duduk seorang pria paruh baya dengan aura elegan dan berwibawa.

Armand Elvara.

Ayah Sabrina.

Sudah tiga tahun sejak terakhir kali mereka benar-benar berbicara di luar urusan bisnis.

Hubungan mereka tetap dingin.

Namun malam ini perusahaan mereka harus menghadiri meeting penting bersama investor Eropa.

“Kalau begitu kita lanjut pembahasan kontrak minggu depan,” ujar salah satu direksi.

Semua orang mulai berdiri.

Namun Leon tampak tidak fokus.

Pikirannya masih dipenuhi sosok wanita yang ia lihat sekilas di rumah sakit tadi.

Sabrina.

Apa benar itu dia?

Atau hanya halusinasi karena terlalu lelah?

Di sisi lain ruangan, Armand berdiri sambil menerima telepon dari asistennya. Namun langkah pria itu tiba-tiba berhenti saat mendengar nama yang sangat familiar.

“Nona Sabrina menelepon Tuan Ares tadi malam, Pak.”

Deg.

Armand langsung membeku.

Sudah tiga tahun.

Tiga tahun tanpa kabar jelas dari putrinya sendiri.

“Dia bilang anaknya masuk rumah sakit.”

Jantung Armand berdetak keras.

Anaknya.

Sabrina.

Dan… cucunya.

“Di mana?” suara Armand langsung berubah rendah.

“Roma, Pak.”

Leon yang kebetulan berjalan melewati dekat ruangan kecil itu langsung berhenti.

Tatapan pria itu berubah tajam.

Roma?

Tubuhnya langsung menegang saat mendengar nama Sabrina disebut.

“Apa kondisi anaknya serius?” tanya Armand cepat.

“Demam tinggi, Pak. Tapi katanya sudah mulai membaik.”

Armand memejamkan mata beberapa detik.

Wajah pria itu terlihat campuran lega sekaligus hancur.

Selama tiga tahun terakhir ia terus mencari Sabrina diam-diam.

Namun egonya terlalu besar untuk mengakui penyesalan itu secara langsung.

Kini saat mendengar kabar putrinya untuk pertama kali…

Yang ia dapat justru berita bahwa cucunya sedang sakit.

“Pak?” suara asistennya terdengar hati-hati.

Armand mengusap wajahnya lelah.

“Cari tahu rumah sakitnya.”

“Baik, Pak.”

Telepon ditutup.

Dan saat Armand berbalik—

Ia langsung mendapati Leon berdiri tidak jauh darinya.

Tatapan kedua pria itu bertemu.

Tegang.

Sunyi.

“Apa maksud pembicaraan tadi?” suara Leon rendah.

Armand langsung menyadari.

Leon mendengar semuanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun—

Harapan kecil muncul di mata Leon.

Sabrina ada di Roma.

1
Nurvi Indri Maryawan
kenapa y, perempuan cinta sekali SM orang yg menyakitinya. luluh secepat kilat.
tp lupa ada orang yg tulus menolong kita.
Ardiana Wahyuningrum
kok keponakan sih Thor, om Ares kan adiknya papanya alya dan om nya Alya, seharusnya kan om Ares ke Liora itu statusnya opa atau kakek juga buat Liora
Ardiana Wahyuningrum
maaf aku baru baca kok risih banget ya sama kata " deg " nya, terlalu keseringan jadi nggak nyaman bacanya
Dwi Hallina
Leon panggil Alya krana itu nama sarapannya si Sabrina selama pelarian biar gak ketahuma Leon n bapaknya Sabrina, kan udah di jelasin sama ditektifnya Leon
mimief
yah bagaimana pun firasat itu pasti terhubung bukan?
masih ada darah nya dia🫣
mimief
laki laki dan segala sifat NPD nya
mereka fikir dunia mutar Hanya di sekitar dia doank
eec
sabrina tapi alya... jadi yg leon kenal sebenernya siapa
Jiuyue
kebalik nih thor🤣🤭🤣🤭🤣🤭
Jiuyue
berubahlah Sabrina menjadi alya🤣🤣🤣🤣
Dzie Drafir
lahirannya bukan di belanda ya? kayaknya di bab brp sabrina lahiran di belanda, karena ketahuan ama detektipnya leon, akhirnya dibawa pindah k roma. sdh pny lio wkt pindah k roma
Hadi Mulyono
cerita keluarga yg bagus
Hadi Mulyono
sebenernya gak harus bnyk kata " deg pembaca SDH bisa faham ekspresi tokoh
Atik Kiswati
akhirnya tamat....
Ika Marbun
harusnya panggil opa dong si lio
Hadi Mulyono
di sini karakter Alya ibu rumah tangga biasa ya Thor ..ga yg wanita pinter karier
Jadi masro sinaga
👍👍
✨Susanti✨
ini gimana maksudnya ya,
kan disini Alya sebagai Sabrina kok berulang kali Leon manggilnya Alya ?
Hadi Mulyono
sampai bab ini cerita seputar Leon SM istri anaknya doang
Hadi Mulyono
ga balikan SM mantan si leon
Bela Viona
udah lah stop baca dsini 😄,krn ending ny udh bisa ketebak,sabrina bakal luluh dan balikan sama leon. sementara Leon tinggal gampang bilang maad udah selesai,balikan lgi.
anjay...alur yg membosan kn. gak ad gitu bikin adegan yg ngenes ,hukum Leon dulu sampe kapok. kasih rintangan dulu buat Leon dpt kn hati sabrina lgi
ini cuma modal kata maaf, modal tampang, modal dada berdebar..
cihhhhh ...gedeg.
pamit Thor...
terima kasih udh hadir kn karya yg menarik,mungkin alur ny kurang cocok di aku pribadi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!