Indonesia
NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​

​Keheningan yang mencekam kembali menyergap ruang tamu itu. Kata-kata pedas dari Papa tiri Hanif seolah-olah membekukan aliran darah semua orang yang ada di sana. Di sudut ruangan, Sarah masih meremas jemarinya yang gemetar. Otaknya yang sedari tadi berputar keras mencoba mencerna situasi, akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang mengejutkan.

"​Mas... pria paruh baya yang berwajah kaku itu ternyata Papa tiri Mas Hanif? Suami sah Ibu Rahma yang mengirimi mereka uang melimpah dari luar negeri?." batin Sarah dengan dada yang berdegup kencang. Ada rasa syok yang luar biasa menjalar di hatinya. Jadi, kemewahan yang dipamerkan Ibu Rahma tadi siang, rumah besar yang mereka tempati ini, seluruhnya berasal dari dompet pria paruh baya yang saat ini menatap mereka dengan pandangan penuh muak.

​Hanif sendiri hanya bisa diam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri. Kepalanya tertunduk begitu dalam, menghindari tatapan mata sang papa tiri, dan juga menghindari tatapan dari satu sosok lagi yang berdiri di sampingnya Tian.

​Tian kakak tiri Hanif akhirnya melangkah maju. Laki-laki bertubuh tinggi atletis dengan setelan jas abu-abu gelap itu memancarkan aura intimidasi yang luar biasa kuat. Di kalangan keluarga besar, Tian bukanlah laki-laki yang gampang bersuara. Sikapnya terkenal sangat pendiam, dingin, dan kaku. Bahkan Hanum sendiri tahu betul bagaimana watak asli kakak tiri dari suaminya ini. Selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keluarga, Hanum tahu bahwa Tian selalu bersikap kaku dan menjaga jarak dengannya. Namun, Hanum juga tahu satu rahasia. Tian akan menjadi orang yang sepenuhnya berbeda, dalam versi yang jauh lebih hangat dan protektif, saat dia berbicara atau berkumpul dengan kedua anak kembar Hanum Kayla dan Kenzie. Bagi Tian, kedua keponakan tirinya itu adalah garis merah yang tidak boleh disakiti oleh siapa pun, termasuk oleh Ayah kandung mereka sendiri.

​Mata tajam Tian menghantam tepat ke arah Hanif. Tatapannya begitu menusuk, seolah-olah sedang menguliti kebodohan adik tirinya itu hidup-hidup.

​"Dasar laki-laki biadab," ucap Tian. Suaranya rendah, tidak berteriak, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu dingin dan sarat akan penghinaan yang mematikan.

​"Tian!" Ibu Rahma mendadak histeris, tidak terima anak kesayangannya dimaki dengan sebutan sekasar itu di depan menantu barunya. Dengan sisa-sisa keberaniannya, wanita tua itu melangkah maju, mencoba membela putranya.

"Jaga bicaramu, Tian! Bagaimanapun juga, Hanif ini adikmu! Dia baru saja menikah hari ini, kenapa kamu malah memandangnya seperti penjahat?!"

​Tian tidak mundur selangkah pun. Dia justru memutar tubuhnya perlahan, lalu menatap tajam ke arah ibu tirinya. Sorot matanya yang dingin seketika membuat kata-kata Ibu Rahma tertahan di tenggorokan.

​"Kalian itu memang tidak pernah bisa berubah, ya," ucap Tian dengan senyum sinis yang mengembang di sudut bibirnya. "Kalian dulu dipungut dari bawah oleh papa saya. Diselamatkan dari kemiskinan, diberi makan, diberi pakaian bermerek, dan diberikan kehidupan yang layak agar bisa berdiri sama tinggi dengan orang-orang terpandang. Akan tetapi, rupanya jiwa miskin kalian itu memang sudah mendarah daging."

​Tian menjeda kalimatnya, matanya melirik sekilas ke arah Sarah dan ibunya yang berdiri gemetar di sudut ruangan. "Sampai-sampai, setelah berada di atas pun, kalian masih saja memungut sampah yang tidak seharusnya dipungut dan memasukkannya ke dalam kehidupan kalian. Menghancurkan apa yang sudah dibangun dengan susah payah demi kepuasan murahan."

​"Kamu..." Wajah Ibu Rahma memerah padam, tangannya bergetar hebat menahan rasa terhina yang luar biasa. Kalimat dipungut dari bawah dan jiwa miskin benar-benar menampar harga dirinya hingga hancur berkeping-keping.

​Sarah yang mendengar kata sampah diucapkan untuk kedua kalinya oleh Tian merasa dadanya sesak. Ketampanan dan karisma Tian yang sempat membuatnya terpesona beberapa menit lalu, kini berubah menjadi sosok monster yang paling menakutkan.

​Sebelum perdebatan itu melebar, Papa tiri Hanif melangkah maju, menepuk pundak Tian memberi kode agar putranya mundur selangkah. Pria paruh baya itu mengambil alih kendali ruangan. Wajahnya tidak lagi memancarkan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan sebuah ketegasan yang mutlak tanpa ada celah untuk negosiasi.

​Tanpa basa-basi lagi, Papa tiri Hanif langsung memberikan ultimatumnya.

​"Pergi dari rumah ini," ucapnya dingin, menatap lurus ke arah Ibu Rahma dan Hanif bergantian.

​"Mas... apa maksudmu?!" Ibu Rahma terbelalak, napasnya mendadak memburu, dadanya kian sesak. "Ini rumah kita! Ini rumah tempat saya tinggal!"

​"Rumah ini adalah rumah yang saya miliki, Rahma. Secara hukum, aset ini atas nama saya," potong Papa tiri Hanif tanpa belas kasihan. "Dulu, saya memberikan rumah mewah ini untuk kamu tempati, hanya untuk menjamin kehidupan kamu agar kamu tidak memalukan saat menjadi mertua dari Hanum. Saya ingin kamu memiliki martabat di depan keluarga besar Hanum yang terpandang. Tapi sekarang?" Pria itu mendengus jijik. "Sudah saya pastikan, setelah pengkhianatan menjijikkan ini, Hanum pasti akan menceraikan Hanif. Dan begitu gugatan itu masuk, kamu sudah tidak jadi mertua Hanum lagi. Jadi, untuk apa saya membiarkan fasilitas saya dinikmati oleh orang-orang yang tidak tahu terima kasih seperti kalian? Silakan angkat kaki dari sini. Sekarang."

​Mendengar kata angkat kaki dan usir, mental Hanif akhirnya runtuh. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini benar-benar terjadi di depan mata. Kehilangan Hanum berarti kehilangan harta, dan kini, kemarahan papanya berarti kehilangan tempat bernaung. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Hanif mendongakkan wajahnya yang pucat.

​"Papa... Papa tidak bisa mengusir kami begitu saja," protes Hanif dengan suara bergetar, mencoba mencari celah. "Hanif masih jadi suami Hanum yang sah! Pernikahan kami masih tercatat di negara! Hanum tidak akan bisa menceraikan Hanif semudah itu! Hanif tidak akan mau menandatangani surat cerai apa pun!"

​Papa tiri Hanif menatap anak bawaan istrinya itu dengan pandangan kasihan bercampur muak. "Kamu pikir kamu punya pilihan, Hanif? Papa sebenarnya sudah tahu tentang rencana pernikahan siri busukmu ini sejak beberapa hari lalu melalui orang-orang Papa di sini. Papa sengaja pulang hari ini, menunggu konfirmasi langsung dari Hanum apakah dia tahu atau tidak."

​Pria paruh baya itu menarik napas dalam, menggelengkan kepalanya dengan rasa sesal yang mendalam. "Dan kamu tahu apa yang membuat Papa paling terpukul? Menantuku itu kelewat baik. Hanum bahkan tidak memberitahu mertuanya tentang kelakuan bejatmu karena dia masih ingin menjaga kehormatanmu di depan Papa! Dia menanggung rasa sakit itu sendiri demi melindungi nama baik keluarga ini dari luar! Tapi kamu? Kamu justru menusuknya dari belakang bersama ibumu dan perempuan ini!"

​"Papa, dengar dulu penjelasan Hanif..." Hanif melangkah maju, berniat memohon berlutut di kaki papa tirinya.

​"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" bentak Papa tiri Hanif, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat seluruh kaca di jendela ruang tamu seolah bergetar. "Bawa semua barang-barang kalian, bawa istri barumu yang seperti sampah itu keluar dari rumah saya! Mulai detik ini, tidak ada lagi kiriman uang bulanan, tidak ada lagi fasilitas mobil, dan tidak ada lagi hak tinggal di rumah ini untuk kalian berdua! Pergi!"

​Ibu Sarah yang melihat situasi sudah tidak menguntungkan lagi, langsung menarik lengan Sarah dengan panik. "Sarah... ayo kita pergi dari sini! Tempat ini bukan rumah kaya, ini neraka! Ayo!"

​Sarah hanya bisa pasrah, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang berantakan. Impian indahnya tentang gaun pengantin, pesta mewah dan kehidupan bak ratu di lantai tiga hancur total dalam waktu kurang dari beberapa jam. Dengan pakaian yang masih lembap dan hati yang hancur, Sarah, ibunya, Ibu Rahma, dan Hanif hanya bisa berdiri mematung di tengah kehancuran ego mereka, sementara Tian dan Papanya menatap mereka dengan pandangan yang tak lagi menganggap mereka sebagai manusia.

1
Ning Suswati
benar juga sih, lapar dg kelaparan beda jauh, dasar pebisnis, setiap kata2 akan membunuh lawan secara telak
Ning Suswati
awas lho kak tian, jgn sampai kesandung kakinya sendiri dlm mengawal hanum🤭🤭
Ning Suswati
selaku ortunya hajum jelas2 emosi mendengar anaknya di sakiti oleh laki2 gk tau diri, tapi besan yg dlm hukum orang lain berani memasang badan untuk anaknya, dan sampai mobil beriringan berarti banyak dong bawa pengawal
Ning Suswati
dasar manusia watak gk akan berubah, penampilan bisa dirubah, bagi manusia gk tau diri jadi besar kepala dan sombong
Ning Suswati
waaaw keberuntungan masih ada di pihak hanum, sdh dihianati suami dan mertua tapi orang lain bahkan sangat peduli
Ning Suswati
kaya nya kak tian ada sesuatu deh
Ning Suswati
jangan2 kak tian menunggu jandamu🤭
Ning Suswati
masih ada y manusia berhati malaikat, menyayangi menantu dr anak bawaan isteri, begitu mulia hatinya, tapi jgn sampai ada udang dibalik gandum dong
Ning Suswati
bagus deh, hukumannya rasanya setimpal, tapi ini belum selesai, bahkan pertunjukan ini baru mulai
Ning Suswati
syukur deh kalau pa2 tirinya hanif sdh ada, bisa dilihat mereka bukanlah siapa2 dan bukanlah apa2
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bagus deh, mokondo aja belahu bawa2 madu kerumah utama, aq suka harum beraksi jadi sakit perut, mules menghadapi suami gk tau diri
Ning Suswati
ya tuhan, laki2 mokondo gk tau diri banget, semoga siksaan dan karma telah menghianati isteri sah
Ning Suswati
coba aja kalau berani mau tinggal satu atap dg hanum yg kepemilikannya sah secara hukum,
Ning Suswati
hhhhh nikmatilah hanif yg akan menikah karena ibadah, terus sama isteri sah itu statusnya apa y, satu aja gk mampu ngasih nafkah, dasar mokondo
Ning Suswati
waaau aq rasa segera menyelamatkan jantung q coy, istirahat dulu deh🤣🤣, tegang terus sih di mana2 yg namanya perselingkuhan itu menguras tenaga, pikiran dan jantung
Ning Suswati
jangan sampai hanif ingkar untuk mememberikan tanda tangannya, demi restu dari isteri sah biar nafsu iblisnya dapat cepat dia gapai bersama sarah, dan satu lagi belum nikah aja kok sarah sdh dianggap isteri pertama, padahan kan minggu depan baru nikahan sirih
Ning Suswati
semoga rencana hanum berjalan lancar, dg alasan sdh memberikan izin untuk dimadu, kalau laki2 jantan tdk akan melakukan hal2 bodoh, yg dikendalikan nafsu iblis ingin paligami🤣🤣🤣
Ning Suswati
waaauuuu jadi ikutan emosi, sebaiknya hanum segera memberi tahu segera kepada kepala keluarga yg sangat dihormati laupun ayah tiri.
Ning Suswati
bagus deh, jadikan gembel seluruh kekuarganya, emang laki2 itu harus diberikan pelajaran yg setimpal, alasan bakti pada ibu, ibu seperti itu pendosa besar,
Sriza Juniarti
wow kereen...ini baru namanya...wanita independen .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!