Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Ayahnya tampak bingung. Benar-benar bingung. Bukan bingung karena pekerjaan. Bukan bingung karena angka. Tetapi bingung karena kehilangan seseorang yang diam-diam mengurus segalanya. Sean menatap dapur. Lalu ruang makan. Lalu tangga. Dan sebuah pemikiran yang tidak nyaman muncul di kepalanya. Selama aepekan terakhir, mereka semua sibuk melawan Vivi. Mencari cara membuatnya menyerah. Mencari cara membuktikan bahwa ia tidak pantas berada di rumah ini. Namun baru ketika Vivi menarik diri Mereka menyadari sesuatu. Rumah ini terasa berbeda tanpanya. Lebih berisik. Lebih kacau. Lebih sulit.

Sean tidak menyukai pikiran itu. Sama sekali tidak. Karena jika ia mengakuinya Maka berarti wanita itu mulai mengambil tempat di rumah mereka. Dan Sean belum siap menerima kenyataan tersebut.

Sementara di atas, Vivi kembali mengunci pintu kamar tamu. Ia tidak tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak kedatangannya Bukan hanya Baskara yang mulai memikirkan kehadirannya. Sean pun mulai bertanya-tanya hal yang sama. Bagaimana jika wanita nomor tiga puluh tiga ini ternyata tidak semudah itu untuk disingkirkan?

Di dapur, situasi semakin memburuk. Ella mulai mengeluh lapar setiap lima menit. Saka sudah dua kali membuka tutup panci kosong hanya untuk memastikan keajaiban tidak terjadi. Yuan duduk sambil mengamati ayahnya seperti ilmuwan yang sedang meneliti spesies langka. Sementara Sean memilih diam. Diam sambil memperhatikan.

Baskara berdiri di depan kompor. Sudah hampir satu jam. Dan hasilnya? Belum ada makan malam. Ia menghela napas panjang. Lalu menatap tangga. Kemudian kembali menatap bahan makanan. Lalu tangga lagi. Harga dirinya berusaha bertahan. Tetapi suara perut anak-anak jauh lebih kuat. Akhirnya ia menyerah.

Beberapa menit kemudian Baskara berdiri di depan kamar tamu. Pintu masih tertutup. Ia mengetuk. Tok. Tok. Tok. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. "Vivi." Tak ada jawaban. "Vivi, aku tahu kamu di dalam." Baskara mengusap wajahnya. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah pandai menghadapi situasi seperti ini. Mengurus perusahaan lebih mudah. Menghadapi investor lebih mudah. Bahkan menghadapi rapat yang penuh konflik terasa lebih sederhana. Akhirnya ia berkata jujur. "Aku menyerah."

Di dalam kamar, Vivi yang sedang membaca buku langsung berhenti. Menyerah? Kata itu terdengar asing keluar dari mulut Baskara.

"Anak-anak lapar. Dan aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Hening beberapa detik. Kemudian terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka sedikit. Vivi muncul. Melipat tangan di dada. "Bukankah kamu bisa pesan makanan?"

Baskara menghela napas. "Bisa. Tapi kami sedang ditahap tidak memesan makanan diluar dulu dengan alasan kesehatan anak-anak. Di bawah Ella sudah menangis. Saka mulai mengganggu Yuan. Sean mulai kesal."

"Lalu?" ia masih mempertahankan wajah datarnya.

Baskara menatapnya beberapa detik. Lalu akhirnya mengucapkan kalimat yang mungkin paling sulit ia katakan hari itu. "Tolong bantu aku." selama ini Baskara selalu terlihat sebagai orang yang mampu mengendalikan semuanya. Dan sekarang ia berdiri di depan kamar tamu. Meminta bantuan.

Vivi menatapnya lama. Kemudian bertanya, "Kalau aku membantu?"

"Aku akan bicara."

"Bicara apa?"

"Tentang kita."

Vivi mengangkat alis. "Serius?"

Baskara mengangguk. "Serius."

"Bukan lima menit lalu pergi lagi?"

"Tidak. Bukan sambil buka, bukan sambil jawab telepon juga." Baskara mulai merasa sedang diinterogasi.

Vivi akhirnya menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar. "Baik."

Baskara terlihat lega. Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena Vivi langsung menunjuk tangga ia juga meminta Baskara ikut karena yang akan memasak bukan hanya Vivi, tetapi semua anggota keluarga.

Sepuluh menit kemudian. Seluruh keluarga berkumpul di dapur. Sean berdiri dengan ekspresi curiga. Yuan tampak tertarik. Saka tampak bahagia karena ada potensi kekacauan baru. Ella mulai tenang. Lili sudah menempel di kaki Vivi. Kemudian Vivi membagikan tugas. "Sean cuci sayur. Yuan siapkan piring. Saka ambil bumbu. Ella susun meja."

Lili langsung mengangkat tangan. "Aku?"

"Temani Ayah." Semua anak menoleh ke Baskara. Termasuk Baskara sendiri. Vivi tersenyum manis. Senyum yang selalu membuat Sean curiga. Dapur langsung sunyi. Sean hampir tersedak. Yuan menahan tawa. Saka malah tertawa keras.

"Ayah masak!"

Baskara menatap Vivi. "Aku?"

"Kamu tadi bilang mau belajar."

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi seharusnya begitu." Vivi menyerahkan celemek kepadanya. "Hari ini aku bantu. Besok belum tentu."

Baskara menerima celemek itu dengan ekspresi orang yang baru menerima surat keputusan yang tidak bisa dibatalkan. Sementara Sean yang melihat semua itu mulai menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal Ada seseorang yang berani menyuruh ayah mereka melakukan sesuatu. Dan yang lebih mengejutkan lagi Ayah mereka menurut. Tanpa protes panjang. Sean masih punya ingatan bagaimana ayahnya sering sibuk sendiri sehingga beban rumah tangga sepenuhnya jatuh pada ibu mereka, bahkan saat hamil Lili pun ibunya bersusah payah mengatur semuanya.

Malam itu makan malam akhirnya selesai. Sedikit terlambat. Sedikit berantakan. Tetapi untuk pertama kalinya sejak lama, seluruh keluarga ikut terlibat. Dan setelah anak-anak selesai makan, setelah mereka mandi dan masuk kamar..

Baskara berdiri di depan ruang tamu. Menatap Vivi yang sedang membereskan gelas. Kali ini tidak ada alasan untuk kabur. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada rapat. Tidak ada anak-anak. Hanya mereka berdua. Baskara menarik napas panjang. Karena ia sadar Janji yang tadi diucapkannya akhirnya jatuh tempo.

Rumah akhirnya tenang. Sean dan Yuan sudah masuk kamar. Saka sudah berhenti mondar-mandir. Ella tertidur lebih cepat karena kelelahan. Lili bahkan sudah pulas sebelum cerita pengantar tidurnya selesai.

Untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada suara anak-anak. Tidak ada kekacauan. Tidak ada alasan bagi Baskara untuk mengalihkan pembicaraan. Kini hanya ada ia dan Vivi di ruang keluarga. Vivi duduk di salah satu sofa. Sementara Baskara berdiri cukup lama sebelum akhirnya ikut duduk di seberangnya. Suasana canggung. Karena keduanya sadar percakapan ini seharusnya sudah terjadi sejak hari pertama.

Baskara mengembuskan napas perlahan. Lalu berkata, "Aku sudah memikirkan pertanyaanmu."

Vivi tidak menjawab. Ia hanya menunggu.

"Tentang rumah tangga ini." Baskara menatap meja di depannya. Mencari kata-kata yang tepat. Sesuatu yang ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin rapat atau menyusun strategi bisnis. Akhirnya ia berkata jujur. "Aku membutuhkanmu di rumah tangga ini."

Vivi terdiam. Kalimat itu bukan yang ia harapkan. Tetapi juga bukan yang ia duga.

Baskara melanjutkan. "Hari ini aku baru menyadarinya." Senyum tipis yang pahit muncul di wajahnya. "Mungkin terdengar bodoh."

"Sedikit." Jawaban Vivi membuat Baskara hampir tertawa.

"Aku terbiasa mengurus semuanya sendiri. Sejak istriku meninggal, aku berpikir selama anak-anak makan, sekolah, dan punya tempat tinggal, berarti aku sudah melakukan tugasku. Lalu kamu datang." Baskara menatapnya. "Dan aku menganggap semua yang kamu lakukan akan terjadi begitu saja." Ada penyesalan yang jelas terdengar dalam suaranya sekarang. "Padahal tidak."

1
Evy
Wah ternyata dugaan ku benar..
Pasti Dokter Sinta ada dendam masa lalu dengan Ayahnya Vivi dan berimbas pada Vivi... Kasihan juga sih..
Evy
Seharusnya Baskara terus terang tentang masalah yayasan.. sebelum mengambil keputusan juga istri barunya harus tau dulu.walaupun Vivi selalu bisa menerima...tapi dia jiga punya hati yang harus dijaga..
Evy
Harusnya anak anak disekolah kan disekolah umum saja .
biar bisa berinteraksi dengan lingkungan..
Rosyani Rini
ini racun nya datang
Rosyani Rini
teman nya ini bijak banget
Rosyani Rini
terlalu sibuk kerja nih si Ayah jadi anaknya ga ada kemistri
Rosyani Rini
ohhh ipar adalah maut ini,lahhh
Rosyani Rini
ehhhh pantesan istrinya meninggal...cape ngurus rumah tangga sendirian...ga ada pembantu kah
Evy
Horang kaya yang menzolimi diri sendiri..sudah tau ada kesibukan karena kematian Nek Mega..masa sih mengerjakan sendiri semua urusan konsumsi..bisa kan panggil pembantu harian untuk meringankan beban pekerjaan... cerita nya sih oke..bagus...tapi tidak masuk akal..
Ummee
apakah dokter sinta berbohong ttg kondisi Vivi?
Evy
Definisi orang kaya yang ini gimana sih..masa rumah Segede gaban tidak ada pembantu..aneh banget...lagian anak sebanyak itu tak ada baby sitter.. walaupun sering ganti2 ART dan baby sitter karena anak2.tapi tak mungkin tidak ada kan...
Evy
Gila banget minum obat yang diresepkan Dokter Sinta selama 10tahun...masih untung gak kena gagal ginjal karena minum obat yang tidak seharusnya diminum...
Evy
Kenapa Dokter Sinta mencurigakan ya...apa dulu mantan pacar Ayahnya Vivi yang masih belum move on..jadi dendam tersirat...
Evy
Nanti juga pasti Vivi akan punya anak sendiri....harinya yang tulus.. pasti akan dimudahkan untuk memiliki keturunan dari suaminya.
Evy
Masa sih rumah mewah gak ada ART nya ..mustahil kan...
Evy
Pasti anak perempuan yang paling kecil yang lebih dulu luluh..
Evy
Banyak nya anak Pak Duda..
Hana
orang kaya punya segalanya, punya 5 anak gk ada art?? janggal
Atik Marwati
ceritanya bagus banget penuh perjuangan dan cinta yang tulus🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Deera__
astaga muridnya Yuan nggak tuh /Sly/😌😬🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!