"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
"Sudah belum, Qil? Jangan lama-lama, kasihan Mas Akbar sendirian menjaga cucian di atas!" desak Abi sambil mengguyur air pelan-pelan untuk membersihkan pan*at anaknya.
"Udah, Ayah... lega banget!" sahut Aqil dengan senyum polos.
Abi buru-buru memakaikan kembali celana dalam Aqil, lalu menuntun anak bungsunya itu kembali ke tempat cucian..
Abi menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengucek kaos, lalu menatap Akbar dan Aqil yang mulai merinding ketakutan disiram angin pagi sungai. Matanya menangkap bibir Aqil yang sedikit gemetar.
"Ya sudah, sini! Ayah mandikan kalian duluan," panggil Abi mengambil sabun mandi dan sampo.
"Daripada kalian makin kedinginan dan masuk angin kalau Ayah selesaikan cucian dulu."
Abi dengan cepat dan sigap menyiram tubuh kedua anaknya memakai air sungai yang jernih. Tangannya bergerak lincah mengusapkan sabun ke seluruh tubuh Akbar dan Aqil, lalu meratakan sampo ke kepala mereka hingga penuh busa putih.
"Ayah, pedih di mata!" keluh Aqil sambil merem rapat-rapat.
"Iya, makanya merem terus, jangan dibuka matanya!" omel Abi gemas sambil buru-buru menyiramkan air bersih ke kepala Aqil dan Akbar hingga busanya hilang sempurna.
Setelah tubuh kedua putranya bersih dan wangi, Abi langsung mengeringkan badan mereka menggunakan handuk kering, lalu memakaikan kaos dan celana bersih yang sempat dibawanya dari rumah.
"Nah, sekarang kalian duduk di atas batu yang kering itu. Pakai sandalnya, jangan main air lagi. Biar Ayah fokus selesaikan cuci baju," tegas Abi menunjuk batu besar yang tak jauh dari jangkauannya.
Matahari mulai sedikit tinggi ketika suara langkah kaki terdengar mendekati tepi sungai. Kayla berjalan membawa ember plastik berisi tumpukan baju kotornya. Ia cukup kaget saat melihat dua bocah yang sudah tampil rapi dan wangi duduk santai di atas batu besar.
"Kakak!" sapa Akbar dan Aqil serentak sambil melambaikan tangan mereka.
Kayla menghentikan langkahnya, tersenyum lebar melihat kedua anak itu. "Eh, Akbar sama Aqil! Sama siapa ke sini?"
"Nemenin Ayah nyuci. Itu..." sahut Akbar sambil menunjuk ke arah aliran air yang agak dalam.
Kayla mengikuti arah telunjuk Akbar, dan pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang sedang berjongkok mengucek baju. Ia baru tersadar jika Abi ada di sana, bertelanjang dada dengan celana pendek yang basah kuyup, sibuk memeras pakaian.
Abi yang menyadari kehadiran Kayla mendadak salah tingkah. Wajahnya merona tipis, merasa agak malu karena tertangkap basah sedang sibuk bergelut dengan tumpukan baju kotor dan busa sabun. Abi buru-buru mengusap usapan air di wajahnya lalu melempar senyum canggung.
"Nyuci, Mas?" sapa Kayla ramah sambil menurunkan ember belanjanya ke atas tanah.
"Iya, Mbak," sahut Abi singkat, suaranya agak pelan menahan rasa canggung.
"Mati air juga ya di rumah ya mas?" tanya Kayla lagi.
"Iya, dari subuh tadi mati total. Makanya bawa anak-anak ke sini sekalian dimandikan," jawab Abi.
"Aku nyuci di sebelah depan sana ya, Mas," panggil Kayla sopan sambil menunjuk batu datar yang berada beberapa meter di depan Abi.
"Nggèh, Mbak, silakan," sahut Abi merasa sedikit lega.
Kayla berjongkok di atas batu pilihannya dan mulai membasahi pakaian-pakaian kotornya. Sementara itu, Aqil yang mulai bosan duduk di atas batu tiba-tiba melangkah turun dan berjalan perlahan menyusuri pinggiran sungai.
"Mau ke mana, Qil?" tanya Abi menghentikan gerakannya yang sedang memeras kaos, matanya langsung mengawasi langkah anak bungsunya.
"Mau ke depan, Yah. Ke tempat Kakak," jawab Aqil polos sambil menunjuk ke arah Kayla.
Abi menghela napas pelan, lalu berpesan, "Jangan ganggu Kakaknya, ya."
"Iya, Ayah," sahut Aqil singkat.
Bocah kecil itu melanjutkan langkahnya hingga mendekati batu tempat Kayla berjongkok.
"Kakak..." sapa Aqil menyunggingkan senyum lebarnya.
Kayla menoleh dan menghentikan gosokan sabunnya. "Eh, ngapain ke sini?"
"Ndak ada, Kakak," jawab Aqil santai sambil mengoyak-ngoyak air dengan ujung sandalnya.
Kayla tertawa kecil sambil melirik ke arah Abi yang masih mengawasi dari kejauhan. "Nda dimarahi Ayahmu kamu?"
Aqil menggelengkan kepalanya polos. "Ndak, kata Ayah jangan ganggu Kakaknya."
"Memandangmu... selalu membuatku terpesona..." dendang Yanti yang baru saja datang.
"Eh, Mbak Yanti... Nyuci juga?" sahut Abi terbata-bata.
Mata Yanti langsung terkunci pada sosok Abi yang berdiri tegap di tepi air. Dengan senyum centilnya, ia melayangkan pandangan penuh godaan. "Aduh, Mas Abi... rajinnya! Udah ganteng, sayang anak, pandai nyuci baju lagi. Suami idaman banget sih ini, bikin makin betah aja tengoknya!"
Mumpung baju-baju di karung memang sudah selesai dikucek dan dibilas semua, Abi tak mau buang-buang waktu lagi. Tanpa membalas godaan Yanti, ia dengan cepat menceburkan diri ke dalam sungai, membilas tubuhnya kilat, lalu buru-buru naik kembali ke darat. Tangannya yang sigap langsung menyambar kaos bersih dari tumpukan dan memakainya secepat kilat.
Kayla yang menyaksikan momen kelakuan Yanti dari tempatnya berjongkok langsung mendengus geli, menahan tawa setengah mati melihat kepanikan Abi.
"Qil, Bar! Ayo pulang, baju-bajunya udah selesai dicuci!" panggil Abi setengah panik, tangannya dengan lincah mengikat mulut karung cuciannya kuat-kuat agar bisa segera kabur dari serbuan godaan janda muda itu.
Yanti yang melihat Abi terburu-buru memakai kaos dan mengikat karung cuciannya malah makin makin menjadi-jadi gatalnya. Ia melangkah mendekat sambil meletakkan embernya di atas batu.
"Aduh, Mas Abi... kok terburu-buru banget sih? Baru juga Yanti datang, masa langsung mau pulang? Sini Yanti bantuin angkat karungnya, lumayan berat itu," goda Yanti lagi sambil memposisikan diri hendak memegang ujung karung.
Abi langsung menarik karung bajunya lebih mendekat ke tubuhnya. "Eh, nggak usah, Mbak Yanti. Terima kasih, saya bisa angkat sendiri kok," tolak Abi tegas tapi tetap berusaha sopan, meski kerah bajunya sampai terbalik karena buru-buru memakainya tadi.
Akbar yang melihat ayahnya didekati wanita asing dengan suara aneh langsung melompat turun dari batu. Bocah itu berdiri di depan ayahnya sambil menatap Yanti dengan wajah cemberut dan mata melotot.
"Jangan dekat-dekat Ayahku! Ayah mau pulang sama Akbar dan Aqil!" cetus Akbar polos tapi galak.
Yanti tertawakan tingkah Akbar, walau sedikit kaget. "Aduh, galaknya anak Mas Abi... Mirip banget sama Ayahnya kalau lagi merengut."
"Aqil, ayo sini! Kita pulang!" panggil Abi setengah setengah setengah panik, tidak menghiraukan godaan Yanti lagi.
Aqil yang dari tadi bersama Kayla langsung berlari kecil menghampiri ayahnya. "Iya, Ayah! Dadaaa Kakak Kayla!" seru Aqil sambil melambaikan tangan ke arah Kayla.
Kayla yang melihat pemandangan itu melambaikan tangan balik sambil menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga menahan tawa melihat wajah Abi yang sudah tegang dan merah padam seperti kepiting rebus.
"Duluan ya, Mbak Kayla, Mbak Yanti," pamit Abi cepat-cepat, langsung memikul karung cucian yang basah di bahu kanannya dan menggandeng erat tangan kedua anak laki-lakinya.
"Hati-hati di jalan ya, Mas Abi Suami Idaman! Nanti Yanti main ke rumah ya!" teriak Yanti melambaikan tangan dengan gaya centilnya.
Abi sama sekali tidak menoleh dan makin mempercepat langkah kakinya menaiki tanjakan sungai, disusul gelak tawa Kayla yang akhirnya pecah menggema di sepanjang aliran sungai setelah rombongan Abi menghilang di balik pohon pisang.
Yanti memanyunkan bibirnya dengan wajah cemberut menatap punggung Abi yang makin menjauh dan menghilang di balik rimbunnya pohon pisang. Sambil menghentakkan kakinya kesal, ia melangkah mendekati batu tempat Kayla berjongkok.
"Ihh, Mbak Kayla... Kok Mas Abi gitu banget sih sama aku?" adu Yanti dengan nada manja penuh kekesalan, lalu mendudukkan dirinya kasar di atas batu kosong. "Padahal kan aku cuma mau menyapa, mau bantuin juga. Kenapa malah terburu-buru kabur kayak melihat hantu gitu coba?"
Kayla yang baru saja meredakan tawanya mengambil kaos kotor dari ember, lalu menatap Yanti sambil berusaha menahan senyum giginya.
"Takut dia, Mbak, sama kamu," sahut Kayla santai sambil mulai mengucek bajunya.
Mata Yanti langsung membelalak kaget mendengarnya. "Iya kah?!"
"Iya lah," lanjut Kayla terkekeh pelan. "Mbak Yanti datang-datang langsung nyanyi mendayu-dayu, godain dia. Mas Abi itu orangnya pemalu, Mbak. Bukannya makin nempel, ya malah bikin dia risih dan ketakutan."
Yanti memegangi kedua pipinya dengan wajah panik bercampur malu. "Aduh... Masa iya sih, Mbak? Berarti tadi aku kelewat agresif ya? Yah, gagal dong caper sama duda keren..."
Kayla hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan dan tingkah centil janda muda di depannya itu, sementara suara aliran sungai kembali tenang menemani aktivitas mencuci mereka.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti