Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang berusaha disembunyikan (16)
Senin pagi kembali datang. Suara alarm membangunkannya lebih cepat dari yang diinginkan. Cahaya matahari menembus sela-sela gorden, membuat kamar Naya perlahan menjadi terang.
Mata Naya terbuka pelan. Hal pertama yang terlintas bukan jadwal pelajaran hari ini.
Melainkan satu kalimat sederhana yang masih terdengar jelas di kepala Naya.
"Berarti minggu depan ketemu lagi."
Seketika wajah naya terasa menghangat. Bantal langsung ditarik menutupi wajah nya.
Kenapa harus mengingat itu lagi? Itu hanya janji untuk jogging. Bukan sesuatu yang istimewa. Bahkan mungkin Arga sudah melupakannya sekarang.
Naya menghela napas panjang. "udahlah, ga usah dipikirin terus." ucapnya dengan pelan.
Beberapa menit kemudian, rutinitas pagi kembali berjalan seperti biasa. Bersiap ke sekolah, sarapan bersama Mama, lalu berpamitan sebelum berangkat.
Semuanya terlihat sama. Hanya saja, pikiran Naya rasanya tidak bisa diajak bekerja sama. Koridor sekolah mulai ramai ketika Naya baru saja sampai di gerbang sekolah.
Beberapa siswa bercanda di depan kelas, sebagian lagi sibuk mengerjakan tugas yang baru teringat pagi ini.
"Naya!" Suara Tasya terdengar dari kejauhan.
Sahabatnya itu melambaikan tangannya sambil berlari kecil ke arahnya.
"Kirain telat."
"Masih pagi."
"Iya sih." Mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Seperti biasa, Tasya langsung mulai bercerita tanpa jeda.
"Nanti pelajaran pertama matematika, terus habis itu presentasi Bahasa Indonesia. Eh, semalam ngerjain tugas nggak?"
"Iya."
"Gampang?"
"Lumayan."
"Lumayan gampang apa lumayan susah?"
"Hm..." Jawaban Naya menggantung membuat Tasya berdecak kesal.
"Nay."
"Hm?"
"Dengerin nggak, sih?" Langkah keduanya terhenti Tasya menatap dengan kedua tangan bertolak pinggang.
"Dari tadi jawabnya kayak robot." Senyum canggung muncul begitu saja di bibir naya.
"Maaf."
"Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Yakin?"
"Iya." Padahal...
Tidak benar-benar yakin. Pikiran Naya masih saja kembali ke Minggu pagi. Ke taman, ke jogging yang awalnya terasa biasa saja, ke semangkuk bubur ayam yang ternyata meninggalkan kesan lebih lama dari seharusnya.
Dan tentu saja...
Kepada Arga.
Buru-buru kepalanya digelengkan pelan. Tidak boleh terus begini. Seketika bel masuk berbunyi.
Seluruh siswa mulai kembali ke tempat duduk masing-masing. Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Guru menjelaskan materi di depan kelas dengan penuh semangat.
Pulpen bergerak mengikuti penjelasan guru. Sampai suatu ketika...
Gerak tangannya berhenti. Entah sejak kapan,di sudut buku Naya sudah tertulis satu kata yang sama berkali-kali.
**Minggu.**
Mata Naya membelalak. Cepat-cepat tulisan itu dicoret. Astaga. Apa yang sedang dilakukannya?
"Naya." Suara Tasya membuat tubuh naya refleks menoleh.
"Iya?"
"Bukunya." Tatapannya mengikuti arah telunjuk Tasya. Bekas tulisan yang baru saja dicoretnya masih terlihat jelas oleh Tasya.
"Minggu?" Wajah naya langsung memanas.
"Oh..."
"Itu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa ko." jawab nya cepat
"Terus?"
"Cuma..." Otak Naya mendadak kosong.
"Mikir weekend." Tasya mengernyit.
"Weekend?"
"Iya."
"Padahal baru Senin."
"..."
"Ih, aneh." Tasya tertawa kecil sebelum kembali memperhatikan guru.
Sementara itu, jantung Naya masih berdetak lebih cepat. Hampir saja ketahuan.
Padahal bahkan belum ada apa-apa. Bel pergantian jam akhirnya berbunyi. Suasana kelas kembali ramai.
Beberapa teman kelas keluar membeli minuman. Sebagian lagi mengobrol di bangku masing-masing.
Guru Bahasa Indonesia yang baru masuk meminta bantuan Naya mengantarkan beberapa map ke ruang guru.
"Naya, bisa tolong antar ini?"
"Bisa, Bu." jawab Naya sambil mengambil tumpukan map yang berada di meja, lalu langkahnya mulai menyusuri koridor.
Udaranya terasa sangat hangat. Angin bertiup pelan melewati lorong sekolah. Suasana seperti ini selalu terasa menenangkan. Sampai langkah mendadak berhenti.
Dari arah berlawanan, seseorang berjalan sambil membawa beberapa dokumen. Seragam putih abu-abunya tampak rapi. Lencana OSIS masih terpasang di saku.
Arga.
Tatapan mereka bertemu hampir bersamaan.
"Naya." panggil Arga membuat senyum kecil naya muncul tanpa diminta.
"Pagi, Kak."
"Pagi." Arga menghampiri.
"Mau ke ruang guru?" tanyanya membuat Naya menganggukkan kepalanya dan menjawab
"Iya."
"Sama." Mereka akhirnya berjalan berdampingan. Tidak ada percakapan selama beberapa detik.
Aneh, kemarin rasanya begitu mudah berbicara. Sekarang, berjalan berdampingan saja membuat jantung berdetak lebih cepat.
"Kaki masih pegal?" Suara Arga memecah keheningan.
"Hm?"
"Habis jogging kemarin."
"Oh..." Naya menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
"Nggak." jawabnya
"Syukurlah."
"Lagian jalannya pelan." Arga terkekeh.
"Justru enak."
"Enak?"
"Nggak perlu buru-buru." Kalimat sesederhana itu berhasil membuat langkah nya terasa sedikit lebih ringan tanpa sadar, sudut bibir Naya ikut terangkat.
Sesampainya di depan ruang guru, Arga membukakan pintu lebih dulu.
"Silakan."
"Terima kasih." ucap Naya
"Nggak usah formal begitu."
"Habis..."
"Apa?"
"Udah dibantuin." Arga terkekeh pelan.
"Kalau begitu sama-sama."
Setelah menyerahkan map kepada guru, keduanya kembali keluar hampir bersamaan. Koridor kini mulai lebih ramai. Beberapa adik kelas memberi salam saat berpapasan dengan Arga.
Ia membalas semuanya dengan senyum yang sama ramahnya. Baru saat itulah sebuah pikiran muncul.
Begini rupanya Arga setiap hari.
Ramah kepada siapa pun.
Suka membantu siapa pun.
Mudah tersenyum kepada siapa pun.
Berarti...
Perhatian yang selama ini diterima bukan sesuatu yang istimewa. Memang seperti itulah dirinya.
Aneh, harusnya lega setelah menyadari itu. Namun entah kenapa, ada rasa sesak kecil yang muncul di dalam dada.
"Naya?" Suara Arga kembali terdengar, lamunan Naya buyar seketika.
"Iya?"
"Kok ngelamun." tanya Arga membuat Naya menggelengkan kepalanya
"Oh... nggak."
"Capek?"
"Nggak juga."
"Kalau capek jangan dipaksa."
"Iya." Lagi-lagi, perhatian sederhana, perhatian yang mungkin akan diberikan Arga kepada siapa saja. Namun tetap saja, sulit bagi Naya untuk tidak mengingatnya, sulit untuk tidak merasa senang. Dan yang paling sulit...
Meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu tidak berarti apa-apa sebab semakin sering bertemu, semakin sering berbicara, semakin sering melihat senyum itu. Perasaan yang selama ini berusaha disimpan perlahan mulai mencari jalan untuk keluar dan harapan yang sudah ia hapus perlahan kini kembali muncul tanpa dirinya minta. Sementara di sisi lain...
Arga tetap berjalan seperti biasa.
Tanpa menyadari bahwa setiap perhatian kecil yang diberikannya membuat seseorang semakin sulit menjaga rahasia di dalam hati.
...
Bel istirahat berbunyi nyaring.
Suasana sekolah yang semula tenang seketika berubah ramai. Kursi-kursi bergeser, pintu kelas terbuka, dan para siswa berbondong-bondong keluar.
"Nay, ke kantin, yuk." Tasya sudah berdiri di samping meja nya sambil merapikan rambutnya sendiri.
"Hm? Oh... ayo." Mereka berjalan berdampingan menuju kantin.
Hari itu kantin jauh lebih ramai dari biasanya. Hampir semua meja sudah terisi. Setelah berkeliling sebentar, akhirnya menemukan satu meja kosong di sudut.
"Untung masih ada." Tasya langsung duduk.
"Nunggu di sini, ya. Biar beli minum dulu."
"Iya." Pandangan Naya mengikuti Tasya yang menghilang di antara kerumunan. Tanpa sadar, matanya justru berkeliling mencari sosok lain.
Begitu menyadarinya, kepala Naya spontan langsung menunduk. Sedang apa? Kenapa harus mencari Arga? Bukankah tadi pagi sudah bertemu?
"Nih." Satu gelas es teh diletakkan di depannya. Tasya kembali duduk sambil memperhatikan wajah Naya beberapa detik.
"Kenapa?" tanya Tasya, membuat Naya melihat dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak." jawab naya
"Kamu dari tadi aneh tau." ucap Tasya membuat Naya mengerutkan keningnya bingung.
"Aneh gimana?" tanyanya
"Sering melamun." Naya tersenyum tipis.
"Capek aja."
"Yakin cuma capek?"
"Iya." Tasya tidak langsung menjawab. Ia hanya menyeruput minumannya sambil terus memandangi wajah Naya dengan tatapan penuh selidik.
"Kenapa lihatnya begitu?" tanya Naya, ketika sadar dirinya di tatap begitu oleh Tasya.
"Nggak tahu." jawab Tasya cepat.
"Apa?" tanya Naya memaksa.
"Kayaknya ada yang disembunyiin." Jantung naya seolah berhenti sesaat.
"Mana ada."
"Serius?"
"Iya."
"Biasanya kalau bohong, kamu senyumnya kayak gitu." Naya spontan menyentuh sudut bibirnya.
"Hah?"
"Tuh, kan."
"Bukan bohong."
"Terus?"
"..."
"Nggak ada jawaban." Naya mengembuskan napas pelan.
"Emang lagi banyak pikiran."
"Pikiran apa Naya?" tanya Tasya sedikit kesal
"Tugas."
"Yakin bukan orang?" Pertanyaan itu membuat wajah Naya langsung memanas.
"Hah? Orang apaan?"
"Nggak tahu." Tasya terkekeh.
"Cuma nebak." lanjutnya membuat Naya sok berdelik tajam
"Jangan asal."
"Iya, iya." Meski begitu, sorot mata Tasya belum berubah. Seolah-olah sahabatnya itu sedang menyusun potongan-potongan teka-teki yang belum lengkap.
Beberapa menit kemudian, kantin semakin ramai, suara tawa dan obrolan bercampur menjadi satu.
Saat sedang membuka bekal yang dibawa dari rumah, seseorang tiba-tiba berhenti di dekat meja mereka.
"Naya." Kepala Naya langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil.Arga berdiri sambil membawa botol minum. Di sampingnya ada Steven yang tersenyum santai.
"Pagi."
"Pagi, Kak."
"Eh, Kak Steven." Steven mengangguk.
"Pagi." Arga memperhatikan kotak makan di atas meja.
"Bawa bekal?" tanyanya membuat Naya menganggukkan kepalanya.
"Tumben."
"Mama masak banyak."
"Bagus." Hanya satu kata. Namun cara Arga mengatakannya terdengar begitu hangat.
"Oh ya." Arga mengeluarkan sebuah pulpen dari saku.
"Ini punya kamu kan?" Naya memandang benda itu beberapa detik. Baru teringat, pulpen itu tertinggal di ruang guru tadi pagi.
"Iya."
"Ketinggalan."
"Astaga..." Pulpen itu diterima dengan kedua tangan.
"Terima kasih kak." ucap Naya dengan tulus
"Sama-sama." Arga tersenyum singkat.
"Nanti ketemu lagi."
"Iya." Setelah itu Arga dan Steven kembali berjalan menuju meja lain, semuanya berlangsung tidak sampai dua menit, sederhana, sangat sederhana. Namun begitu Arga menjauh...
Tasya yang sedari tadi memperhatikan keduanya langsung memutar badan menghadap Naya.
"Nah." ucapnya berseru membuat Naya menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Nah apanya?"
"Itu."
"Itu apa?"
"Kamu senyum." Refleks senyum itu langsung menghilang dari mulut naya.
"Nggak."
"Barusan senyum."
"Kan emang lagi ngobrol."
"Tapi senyumnya beda."
"Dari mana bedanya?"
"Ya... beda aja." Naya menggeleng sambil tertawa kecil.
"Kamu kebanyakan drama." ucapnya mengelak
"Bukan drama." Tasya menyandarkan dagu di atas telapak tangan sambil menatap naya.
"Jujur deh."
"Apa?"
"Kamu suka Kak Arga, ya?" Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti beberapa detik.
"Apaan, sih?" ucap Naya
"Nanya doang."
"Nggak."
"Yakin?"
"Iya." jawab Naya dengan cepat.
"Cepet banget jawabnya."
"Karena emang nggak." Tasya memperhatikan wajah Naya cukup lama, lalu akhirnya mengangkat kedua bahu.
"Yaudah." Meski begitu, Naya tahu. Tasya belum benar-benar percaya padanya.
Bel masuk kembali berbunyi.
Pelajaran sore berlangsung seperti biasa, namun konsentrasi Naya kembali buyar berkali-kali, bukan karena ucapan Tasya, melainkan karena satu kenyataan yang mulai sulit dihindari, pertanyaan itu ternyata terdengar jauh lebih menakutkan ketika diucapkan oleh orang lain.
"kamu suka kak Arga ya?" Selama ini, pertanyaan itu hanya ada di dalam kepala Naya, selalu berhasil dihindarinya, selalu berhasil dibantah oleh dirinya. Tapi hari ini...
Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu keluar dari mulut orang lain. Dan entah mengapa...
Jawaban "nggak" yang tadi diucapkan oleh nya terasa jauh lebih berat daripada biasanya.
Sepulang sekolah, langkah kaki Naya berjalan pelan menuju gerbang. Dari kejauhan, Arga terlihat sedang berbincang dengan Steven di parkiran motor.
Sesekali mereka tertawa membahas sesuatu. Arga tampak sama seperti biasanya, tidak ada yang berubah, tetap ramah, tetap mudah tersenyum, tetap perhatian kepada siapa saja, lalu kenapa justru hati naya yang berubah? pandangannya segera dialihkan sebelum Arga sempat menyadarinya. Mungkin...
Masalahnya memang bukan Arga, masalahnya adalah hatinya sendiri yang mulai sulit diajak mengerti.
Semakin berusaha menganggap semua perhatian itu biasa saja...
Semakin sulit meyakinkan dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya, muncul rasa takut yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Takut kalau suatu hari nanti...
Tasya tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang menyadari perubahan itu, takut kalau perasaan yang selama ini disimpan rapat akhirnya terlihat oleh semua orang.
Sementara hatinya ini...
Belum siap mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri, bahwa dia telah menyukai arga sedalam ini.
Dia pikir, dia hanya menyukai arga biasa saja setelah satu tahun lebih itu, namun ketika Arga memberikan perhatian-perhatian kecil padanya, rasa suka yang Awalnya dia kira biasa saja akhirnya menjadi sedalam ini.
......................
Soon to bee