Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Awal
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyelinap lembut menembus jendela kafe yang bernuansa hangat itu, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di atas meja kayu tempat Rina dan Dimas duduk berhadapan.
Suasana cafe itu tenang, hanya terdengar suara lembut musik latar yang menenangkan, bercampur dengan aroma kopi yang harum menyebar perlahan di udara. Rina duduk dengan tenang, menyesap teh hangat di hadapannya sambil menunggu Dimas membuka pembicaraan yang ia inginkan.
Cahaya pagi itu menyinari wajahnya yang tampak lebih damai dari biasanya, seolah beban berat perlahan mulai terangkat dari pundaknya.
Dimas menatap Rina sejenak, lalu tersenyum pelan, senyum yang menyembunyikan begitu banyak perasaan di baliknya.
"Rina, aku sengaja mengajakmu ke sini untuk memberitahumu sesuatu. Tentang tawaran kerja yang kita bicarakan kemarin..."
Rina mengangkat alisnya sedikit, matanya menatap Dimas dengan penuh perhatian, penasaran namun tetap tenang.
"Lalu? Bagaimana kabarnya, Dimas? Apakah Rania menerima?"
"Rania menerima tawaran itu"ucap Dimas lembut namun jelas, kata-katanya terdengar begitu meyakinkan.
"Dia bersedia bekerja di restoran itu" lanjut dimas.
Mendengar itu, wajah Rina seketika bersinar cerah. Senyum bahagia merekah lebar di bibirnya, matanya berbinar tulus menyambut kabar baik itu, seolah itu adalah berita terbaik yang pernah ia dengar selama bertahun-tahun.
"Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus, Dimas! Baguslah kalau begitu..." Rina meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas piring kecil, suaranya terdengar penuh syukur dan lega yang tak bisa disembunyikan.
"Tinggal satu lagi..." gumamnya pelan, namun cukup terdengar oleh Dimas, matanya menerawang seolah melihat masa depan yang perlahan mulai terang.
"Rin..." panggil dimas tiba-tiba, seakan ingin memastikan sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan pria itu.
Rina menoleh ke arahnya, menatap pria yang duduk di seberang meja itu dengan tatapan bingung namun lembut, tatapan yang menyimpan lebih dari sekadar persahabatan.
"Ada apa, dim?"
Dimas menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menimbang setiap kata yang hendak keluar dari bibirnya, memastikan tidak ada satu pun yang salah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan, sesuatu yang membuat tangannya sedikit gemetar di atas meja.
Ia menatap mata Rina lekat-lekat, lalu bibirnya bergetar pelan saat ia mencoba menyusun kalimat yang selama ini tersimpan rapat di hatinya, kalimat yang selalu tertahan di ujung lidah.
"Aku... aku..." kata-kata itu terhenti di kerongkongannya, seolah ada sesuatu yang menahan mereka untuk keluar, sesuatu yang membuatnya ragu untuk melangkah lebih jauh.
Ia ingin mengatakannya, ingin sekali membahas tentang perasaannya, perasaan yang bukan sekadar persahabatan, bukan sekadar rasa hormat, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih berarti.
Namun saat melihat tatapan Rina yang begitu tulus dan polos, keberaniannya seketika luruh. Ia takut, takut mengubah segala sesuatu yang selama ini terjalin begitu indah di antara mereka. Takut jika kata-kata itu terucap, ia tidak akan bisa lagi menariknya kembali, dan mungkin... justru akan merusak kebahagiaan yang baru saja mereka bangun bersama dengan susah payah.
Rina menunggu sejenak, lalu mengerutkan keningnya pelan, bingung melihat perubahan ekspresi di wajah pria itu.
"Aku apa, Dimas?" tanyanya lembut, penuh kebingungan namun tetap sabar, tidak mendesak sedikit pun.
Dimas menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis di wajahnya, meski hatinya terasa berat sekali, seolah ada batu besar yang menindih dadanya. Ia menurunkan pandangannya sejenak, mencoba mengumpulkan kembali ketenangannya yang sempat hilang, lalu kembali menatap Rina dengan tatapan yang berusaha tenang dan tegar.
"Tidak jadi" jawabnya pelan, namun terdengar tegas, seolah meyakinkan dirinya sendiri sekaligus meyakinkan Rina.
"Lupakan saja, Rina. Bukan hal penting" ucapnya lagi.
Rina menatapnya sejenak, mencoba membaca apa yang sebenarnya ada di balik tatapan itu, mencoba melihat apa yang disembunyikan di balik senyum tipisnya. Namun ia hanya mengangguk pelan, tidak mendesak, tidak pula bertanya lebih jauh. Ia tahu, ada hal-hal yang belum siap untuk diucapkan, dan ia harus menghormati itu. Setiap hal ada waktunya, dan mungkin saat ini belum tiba waktunya.
"Baiklah" ucap Rina lembut, tersenyum kembali agar suasana tidak menjadi kaku, agar pria itu merasa tidak terbebani oleh pertanyaannya.
"Kalau begitu, mari kita fokus pada Rania dan rencana di restoran itu ya. Semoga semuanya berjalan lancar untuknya"
Dimas mengangguk, meski rasa berat itu masih menyelimuti dadanya, meski kata-kata yang tertahan itu masih berputar di kepalanya.
"Iya... semoga lancar. Semoga dia bahagia di sana"
Namun di dalam hatinya, ia tahu — kata-kata itu belum hilang, hanya tertunda. Dan entah kapan, ia akan kembali menemukan keberanian itu untuk mengatakannya. Karena satu hal yang ia yakini sepenuh hatinya perasaan itu tidak akan pernah hilang, sekalipun ia memilih untuk menyimpannya lebih lama lagi. Perasaan itu tumbuh dan hidup di sana, menunggu waktu yang tepat untuk mekar.
Di luar cafe, angin berhembus lembut, membawa serta harapan baru dan janji waktu yang belum tiba. Daun-daun di pohon pinggir jalan bergoyang pelan seirama dengan hembusan angin, seolah menyetujui segala hal yang sedang berjalan.
Rina dan Dimas kembali berbincang tentang rencana-rencana ke depan, tentang cara menyambut Rania, tentang hal-hal kecil yang perlu disiapkan, namun di antara percakapan itu, ada satu hal yang tersimpan di antara mereka — sesuatu yang belum terucap, namun sudah ada di sana, tumbuh dan menunggu saat yang tepat untuk mekar.
Di tempat lain, pagi itu, Rania duduk sendirian di teras depan rumahnya yang sederhana. Cahaya matahari pagi yang mulai menyinari wajahnya yang tampak tenang namun tak sepenuhnya damai, ada keraguan kecil yang masih menyelimuti hatinya. Di tangannya, ponsel itu tergenggam erat, dan di layarnya yang menyala lembut, tertera jelas nama yang terus berputar di pikirannya sepanjang hari itu — Kak Dimas.
Jari-jarinya yang halus melayang ragu di atas layar, seolah ada magnet yang menarik namun sekaligus menahannya. Ia ingin sekali menelepon pemuda itu, ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi, ingin memastikan bahwa ia tidak salah langkah dalam menerima tawaran itu, ingin mendengar suara tenang yang selalu mampu meyakinkannya. Namun setiap kali ia hendak menekan tombol panggil, rasa ragu kembali menghantamnya, membuatnya menarik tangannya kembali.
"Bagaimana kalau Kak Dimas sedang sibuk? Bagaimana kalau ia merasa terganggu? Bagaimana kalau aku terlalu berlebihan?" pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuat jari-jarinya kembali turun, dan ia hanya menatap nama itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara rindu dan takut.
Angin pagi berhembus pelan, menerpa wajahnya yang terasa hangat oleh kegelisahan itu. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, membiarkan ponsel itu tetap di pangkuannya sambil menatap jalan setapak di depan rumahnya yang sepi. Rumahnya yang kecil dan sederhana itu tampak damai di bawah cahaya senja, namun di dalam hatinya, ada pergolakan yang belum usai.
Namun tak lama kemudian, di tengah keheningan itu, terdengar suara deru mesin mobil yang mendekat perlahan. Suaranya lembut namun jelas, membelah kesunyian sore itu dan perlahan semakin mendekat ke arah rumahnya.
Rania mengangkat wajahnya perlahan, menatap ke arah jalan yang menjadi satu-satunya akses menuju rumahnya, matanya menyipit mencoba mengenali kendaraan yang sedang mendekat itu.
Mobil berwarna silver elegan itu melaju pelan, membelah jalan tanah yang berdebu, lalu berhenti tepat di depan rumahnya yang sederhana. Saat pintu pengemudi terbuka dan sesosok tubuh tegap turun dengan gerakan yang tenang dan berwibawa, mata Rania seketika membelalak bahagia. Senyum yang tadi sempat tertahan karena kegelisahan itu langsung merekah lebar, menyingkirkan segala keraguan yang sempat ada di dadanya seketika itu juga.
Itu Dimas.
Ia berdiri di sana, mengenakan pakaian yang rapi namun santai, wajahnya tampak segar dan tersenyum lembut saat melihat sosok gadis itu di teras. Seolah ia tahu, seolah ia merasakan bahwa di tempat itu, seseorang sedang menunggunya dengan hati yang penuh rasa syukur dan harapan.
Rania segera bangkit dari duduknya, melupakan segala keraguannya tadi, melupakan ponsel yang masih tergeletak di kursi.
Ia berjalan mendekat ke arah gerbang dengan langkah yang ringan dan penuh sukacita, hatinya berdegup kencang bukan karena cemas, melainkan karena kebahagiaan yang tulus.
"Kak Dimas!" seru Rania dengan suara penuh kebahagiaan, tak mampu lagi menahan senyum lebar yang merekah di wajahnya.
Ia melangkah mendekat ke arah dimas, matanya berbinar bahagia menyambut kedatangan pemuda itu.
Dimas tersenyum lembut saat melihat wajah gadis itu yang begitu berseri-seri, lalu menyapanya dengan ramah dan sopan. "Assalamualaikum, Rania"
"Waalaikumsalam, Kak Dimas" balas Rania dengan suara yang lembut namun penuh sukacita, tangannya meremas ujung bajunya dengan perasaan yang bercampur aduk antara senang dan malu.
Dimas berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapan rumah itu, menatap Rania dengan tatapan yang hangat dan bersahabat.
"Kebetulan sekali aku lewat sini dan melihatmu sedang duduk di teras. Jadi aku berhenti sebentar"ucapnya pelan, suaranya terdengar begitu tulus.
Lalu ia melanjutkan dengan nada yang sedikit antusias, "Eh, iya—kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita pergi ke restoran yang kemarin kita makan bersama? Aku ingin mengajakmu ke sana lagisekarang, sekalian memperkenalkanmu pada tempat di mana kamu akan" ucap dimas.
Rania tertegun sejenak, matanya membelalak sedikit karena terkejut sekaligus senang.
"Ke... restoran yang kemarin itu, Kak? Di sana aku akan bekerja?" tanyanya pelan, matanya memancarkan rasa heran sekaligus syukur yang mendalam.
"Iya, tempat yang sama..." jawab Dimas sambil tersenyum ramah. "Tempat itu nyaman, bersih, dan dikelola dengan penuh kasih sayang. Aku rasa tempat itu cocok untukmu. Bagaimana?"
Rania mengangguk mantap, senyumnya tak pernah luntur sedikit pun. "Tentu saja boleh, Kak. Aku mau sekali. Tunggu sebentar ya aku ganti pakaian dulu"
Dimas mengangguk pelan. "Tentu, silakan. Aku tunggu di sini"
Rania segera berlari kecil kembali ke dalam rumah, hatinya berdegup kencang bukan karena cemas, melainkan karena rasa bahagia yang meluap-luap. Dengan langkah ringan dan wajah yang berseri-seri, ia masuk ke dalam tak sabar untuk segera pergi bersama Dimas dan melihat tempat yang akan menjadi awal baru bagi hidupnya.
Tak lama kemudian, Rania keluar kembali dari rumah dengan wajah yang lebih cerah dan pakaian yang rapi. Ia segera melangkah menuju halaman, di mana Dimas sedang menunggu sambil bersandar ringan pada pintu mobil, menatap pemandangan sekitar dengan tenang.
"Sudah siap?" tanya Dimas lembut saat Rania berdiri di hadapannya.
"Sudah, Kak. Maaf menunggu lama " jawab Rania sopan, matanya bersinar penuh semangat.
Dimas membukakan pintu penumpang depan untuknya dengan sopan. "Tidak apa-apa. Silakan masuk "
Perjalanan menuju restoran itu berjalan tenang dan menyenangkan. Di sepanjang jalan, Dimas bercerita tentang suasana restoran, tentang jam kerja, serta hal-hal kecil yang perlu Rania ketahui agar ia lebih siap saat mulai bekerja nanti.
Rania mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk dan tersenyum, merasa semakin yakin bahwa keputusannya untuk menerima tawaran itu adalah hal yang benar. Pemandangan di luar jendela bergerak perlahan, dan angin siang yang masuk sedikit melalui celah jendela membawa ketenangan yang luar biasa.
Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan restoran yang bersih dan elegan itu. Dimas mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Rania.
"Kita sudah sampi, Rania"ucap Dimas sambil menunjuk bangunan di hadapan mereka. "Ini tempat di mana kamu akan bekerja."
Rania menatap bangunan itu dengan rasa kagum sekaligus haru. " Kak... aku benar-benar akan bekerja di sini?" tanyanya pelan, tak percaya melihat bangunan yang begitu megah dan indah di hadapannya.
"Iya, di sini"jawab Dimas mantap sambil membukakan pintu mobil dan mengajaknya masuk. "Mari, ada seseorang yang sudah menunggumu di dalam."
Mereka berjalan masuk bersama-sama. Begitu pintu kaca terbuka, Rania disambut oleh suasana yang hangat, bersih, dan nyaman masih persis seperi kemaren. Aroma masakan yang lezat bercampur dengan wangi bunga segar di setiap sudut ruangan.
Ia belum tahu, bahwa pemilik restoran itu sendiri, kakaknya sendiri yang selama ini ia rindukan.
Bersambung...