Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Pagi itu Adrian duduk di ruang kerjanya dengan perasaan gelisah yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu terasa tidak beres sejak dia bangun tidur, meskipun dia tidak tahu apa penyebabnya. Elena menyiapkan sarapan seperti biasa, Nathan pergi ke sekolah, dan Adeline sedang bermain di ruang tamu dengan tenang. Semuanya tampak normal, tetapi Adrian tidak bisa menghilangkan firasat buruk yang menghantui pikirannya.
Telepon di mejanya berdering dan Adrian mengangkatnya dengan cepat. Suara Daniel Pratama terdengar dari seberang sana, terdengar tergesa-gesa dan sedikit panik. "Adrian, aku menemukan sesuatu. Ada manipulasi dalam dokumen keuangan perusahaan. Ini besar, Adrian. Aku butuh kamu segera melihatnya."
Adrian merasakan jantungnya berdegup kencang. "Apa maksudmu, Daniel? Manipulasi seperti apa?"
"Aku akan menjelaskan semuanya ketika kita bertemu. Aku akan ke rumahmu sore ini dengan semua bukti. Jangan bicara pada siapa pun sampai aku sampai di sana." Daniel menutup telepon sebelum Adrian sempat bertanya lebih lanjut.
Adrian meletakkan telepon dengan tangan gemetar. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Manipulasi dokumen? Siapa yang bertanggung jawab? Apakah ini masih ulah Victor atau ada orang lain yang terlibat? Dia memutuskan untuk menunggu Daniel datang sebelum memberitahu siapapun, termasuk William.
Sore itu, Daniel tiba di rumah besar Wijaya dengan wajah pucat dan langkah tergesa-gesa. Dia membawa sebuah map tebal yang tampak penuh dengan dokumen. Adrian menyambutnya di ruang kerjanya dan mengunci pintu agar percakapan mereka tidak terdengar oleh siapa pun.
"Apa yang kamu temukan?" tanya Adrian dengan suara tegang.
Daniel membuka mapnya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. "Aku meneliti semua transaksi keuangan dalam tiga tahun terakhir. Ada banyak kejanggalan. Beberapa dana perusahaan dialihkan ke rekening pribadi tanpa persetujuan dewan direksi. Dan yang lebih parah, ada laporan palsu yang dibuat untuk menutupi kehilangan dana itu."
Adrian mengambil dokumen-dokumen itu dan memeriksanya dengan teliti. Wajahnya semakin gelap saat membaca setiap angka dan catatan. "Ini luar biasa. Siapa yang melakukan ini?"
"Aku belum tahu pasti," jawab Daniel. "Tapi aku punya beberapa nama yang mencurigakan. Aku perlu waktu untuk menyelidiki lebih lanjut. Sementara itu, aku akan menyimpan dokumen-dokumen ini di tempat yang aman."
Namun keesokan harinya, ketika Daniel datang kembali ke rumah Adrian, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari sebelumnya. Tangannya kosong dan ekspresinya panik.
"Adrian, aku punya kabar buruk," kata Daniel dengan suara bergetar. "Dokumen-dokumen itu hilang. Aku menyimpannya di brankas kantorku semalam, dan pagi ini ketika aku membukanya, semuanya sudah tidak ada."
Adrian terkejut. "Apa maksudmu hilang? Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu," jawab Daniel frustasi. "Brankasku hanya aku dan asistenku yang tahu kodenya. Dan asistenku sudah bekerja untukku selama sepuluh tahun. Aku tidak percaya dia terlibat."
Adrian merasakan kepalanya pusing. Bukti penting yang bisa mengungkap siapa yang merusak perusahaannya telah hilang begitu saja. Dan tanpa bukti, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan pelaku kejahatan itu.
Malam itu, ketika semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, Adeline tiba-tiba menegang. Gadis kecil itu menatap ke arah ruang kerja ayahnya dengan mata lebar. Ada suara hati yang muncul dari suatu tempat di dalam rumah. Suara itu panik, gelisah, dan penuh ketakutan.
Dokumen-dokumen itu! Aku sudah mengambilnya dan menyembunyikannya. Tapi Daniel sudah terlalu dekat dengan kebenaran. Aku harus melakukan sesuatu sebelum dia menemukan semuanya. Aku tidak bisa membiarkan Adrian tahu bahwa aku yang melakukan semua ini.
Adeline menggenggam erat boneka beruangnya dan menoleh pada ayahnya. "Ayah, ada seseorang di rumah ini," bisiknya dengan suara bergetar. "Seseorang yang panik. Dia yang mengambil dokumen Daniel."
Adrian langsung waspada. "Kamu bisa mendengar suaranya, Sayang? Siapa dia?"
Adeline menutup matanya dan mencoba mendengarkan lebih keras. Suara itu terus berbicara dengan panik, tetapi gadis kecil itu kesulitan mengidentifikasi siapa pemiliknya. Terlalu banyak suara hati di rumah besar itu. Terlalu banyak kebisingan yang mengganggu pendengarannya.
"Aku tidak tahu, Ayah. Suaranya terlalu cepat dan kacau. Tapi dia ada di sini. Dia sangat takut ketahuan."
Adrian memandang sekeliling ruangan. Elena, Nathan, William, dan beberapa pembantu rumah tangga berada di ruang tamu. Daniel juga masih ada, duduk di sudut dengan wajah cemas. Adrian mengamati setiap orang dengan tatapan tajam, mencoba mencari siapa yang mungkin bersembunyi di balik wajah tenang mereka.
"Apa kita harus memanggil polisi?" tanya Elena dengan suara cemas.
Adrian menggeleng. "Belum. Kita belum punya bukti yang cukup. Kita hanya punya kata-kata Adeline. Dan meskipun aku percaya padanya, kita butuh sesuatu yang lebih konkret untuk menangkap pelakunya."
Daniel menghela napas panjang. "Aku akan terus menyelidiki dari dalam perusahaan. Mungkin ada jejak yang bisa aku temukan. Dan jika Adeline bisa mendengar suara hati pelaku lagi, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk."
Adeline mengangguk dengan tegas. "Aku akan mencoba, Paman Daniel. Aku akan mendengarkan dengan lebih keras. Aku akan menemukan siapa yang mengambil dokumen itu."
Malam itu, Adeline tidak bisa tidur. Dia duduk di dekat jendela kamarnya, mencoba menangkap setiap suara hati yang ada di rumah besar itu. Ada suara ayahnya yang gelisah, suara ibunya yang cemas, suara kakeknya yang bijaksana, dan suara kakaknya yang waspada. Tetapi suara yang dia cari, suara panik dari pelaku pencurian dokumen, tidak muncul lagi. Seolah-olah orang itu berhasil menenangkan dirinya dan menyembunyikan ketakutannya dengan sangat baik.
Adeline memeluk boneka beruangnya dan berbisik, "Aku akan menemukanmu. Aku tidak peduli seberapa baik kamu bersembunyi. Aku akan mendengar suaramu suatu hari nanti. Dan ketika itu terjadi, semua kebohonganmu akan terbongkar."
Di luar jendela, bulan bersinar terang menyinari rumah besar Wijaya. Di dalam rumah itu, seorang gadis kecil berjuang melawan kegelapan yang bahkan orang dewasa tidak bisa melihatnya. Dan dia tidak akan berhenti sampai semua kebenaran terungkap.