Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Loh... Kenapa Ini?

​"Sekali lagi... Terima kasih banyak, jaketnya sangat membantu," ucap Reyna penuh rasa hormat.

​Dikta menerima jaket tersebut, namun tangannya sempat tertahan sejenak. Sorot matanya menatap wajah Reyna yang masih menyisakan rona pucat akibat rasa dingin.

​"Sama-sama, besok pagi biar saya antar ambil," ucap Dikta tenang.

​Reyna buru-buru menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum canggung, "Tidak usah, Dikta. Saya bisa naik angkutan umum atau ojek, sekali lagi saya berterima kasih, kalau begitu saya permisi," tolak Reyna seraya berpamitan.

​Reyna menyambar ransel lusuh serta tas oleh-olehnya, membuka pintu mobil dan bergegas melangkah menembus gerimis tipis menuju gang sempit kontrakannya. Di balik celah spion mobil, Dikta memandangi punggung gadis itu hingga bayangannya menghilang di tikungan gang, sebelum akhirnya memutar kemudi dan melaju membelah malam.

Pagi harinya, usai menaiki angkutan umum untuk mengambil motor, Reyna langsung kembali ke kontrakan untuk menikmati sisa hari liburnya. Namun, ketenangan itu terusik saat ponselnya bergetar menampilkan nama Agnia.

​[Reyna! Gimana semalam? Diantar pulang sama Dikta, kan?] - Agnia

​Reyna menghela napas panjang, menebak bahwa sahabatnya itu memang sengaja merencanakan hal ini sejak awal.

^^^​[Nia... kamu sengaja ya? Kenapa nggak bilang dari awal kalau Dikta bakal datang?] - Reyna^^^

​Di ujung telepon, Agnia terkekeh riang tanpa penyesalan.

​[Hehehe, kalau aku bilang dari awal, kamu pasti nolak buat datang! Lagian Dikta itu pria baik, Rey. Mas Bagas kenal banget sama dia dari lama, mereka temenan dari kecil. Dia itu orangnya bertanggung jawab, jujur dan ya cuma memang agak pendiam karena terlalu fokus sama pekerjaannya sebagai dokter. Mumpung kalian sama-sama single, apa salahnya mencoba kenal lebih dekat?] - Agnia

^^^​[Nia, posisi kita beda jauh. Dia dokter, sedangkan aku cuma karyawan biasa yang gajinya pas-pasan. Jangan bikin aku makin canggung, plis...] - Reyna^^^

​[Aduh Reyna sayang, cinta itu nggak mengukur gaji! Yang penting itu karakter dan cara dia memperlakukan kamu, lagian kemarin malam dia khawatir banget pas kamu nekat pulang hujan-hujanan naik motor. Udah ya, buka hati kamu sedikit!] - Agnia

​Reyna hanya bisa mengurut dadanya mendengar ocehan sahabatnya itu.

^^^[Nggak usah bahas itu deh, aku jadi nggak mood nih] - Reyna^^^

[Hahaha, emang susah ngomong sama kamu, Rey] - Agnia

^^^[Kamu jadi pindah rumahnya?] - Reyna^^^

[Iya, aku udah pindah. Soalnya kan pas aku di Jepang, Mamanya Mas Bagas udah nyuruh orang buat bantu pindah, jadi aku tinggal pindah deh] - Agnia

^^^[Berarti, aku masih harus bawa sesuatu nggak ke rumah baru kamu?] - Reyna.^^^

[Nggak usah deh, Rey. Rumah dinasnya Mas Bagas udah penuh sama Barang... atau nggak gini aja, satu minggu lagi kan libur panjang nih... kamu ikut aku aja yuk ke Dieng] - Agnia

^^^[Aku nggak tahu ya, Ni. Kamu tahu sendiri gimana tempat kerjaku, nggak ada itu cuti bersama] - Reyna.^^^

[Iya juga ya, nanti kamu kabarin aku lagi deh. Siapa tahu, tiba-tiba kamu bisa ikut ya] - Agnia

^^^[Oke, nanti aku kabarin lagi] - Reyna^^^

Setelah sambungan telepon terputus, Reyna pun merebahkan tubuhnya dan menikmati hari liburnya, ditambah besok ia gajian, batu memikirkannya saja Reyna sudah bahasia apalagi uang lemburan Reyna untuk bulan lalu cukup besar.

.

​Tiga hari berlalu dengan cepat. Pagi ini, alarm ponsel Reyna berdering tepat seperti biasa, Reyna terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Senyum kecil mengulas di wajahnya karena gaji dan bonusnya sudah cair sejak dua hari lalu, inilah Reyna, baginya hari-hari setelah gajian adalah hari yang menyenangkan.

​Usai membersihkan diri dan mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, Reyna merapikan barang-barang di ranselnya dan mengunci pintu kontrakannya, lalu melangkah penuh semangat menuju motor matic tuanya yang terparkir di halaman kontrakan. Setelah memanaskan mesin sejenak, Reyna mulai membelah jalanan kota Bandung yang masih diselimuti udara dingin khas pagi hari.

​Perjalanan awal terasa lancar, Reyna menikmati embun yang masih tersisa di dedaunan dan deretan kendaraan yang mulai padat merayap. Namun, takdir berkata lain. Saat melintasi jalan raya utama, sekitar sepuluh menit dari kontrakannya, mesin motornya yang dikendarainya mendadak meraung kasar. Suaranya menderu tak wajar, bergetar hebat beberapa kali, lalu mendadak mati total di tengah-tengah laju kendaraan lain.

​"Loh... kenapa ini?" gumam Reyna panik.

​Dengan sisa momentum yang ada, Reyna bersusah payah menepi ke pinggir trotoar untuk menghindari himpitan mobil dan kendaraan lain. Setelah berhasil berhenti aman di bahu jalan, ia mencoba memutar kunci kontak dan menekan tombol starter.

Tidak ada respons sama sekali, Reyna turun dari motornya, lalu menurunkan standar tengah dan mencoba menyalakannya. Berkali-kali kakinya menekan tuas engkol hingga kakinya pegal, namun motor itu tetap membisu tanpa menunjukkan tanda-tampan kehidupan.

​Reyna melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.25 pagi. Jarak menuju kantor masih cukup jauh, membiarkan motor tergeletak begitu saja jelas bukan pilihan. Reyna menghela napas panjang, menekan rasa cemas yang mendadak menyeruak di dadanya.

​Tanpa membuang waktu, Reyna mulai mendorong motornya menyusuri trotoar. Di bawah terik matahari pagi yang mulai terasa menyengat, kakinya yang mengenakan sepatu beralas tipis melangkah menyeret beban besi itu demi mencari bengkel terdekat, keringat dingin mulai membasahi pelipis dan kerah kemejanya.

​Sambil terus mendorong, teringat akan aturan kantor yang ketat dan tabiat Bu Sandra yang sangat tidak menyukai keterlambatan, Reyna merogoh ponsel dari tasnya. Dengan jemari yang sedikit gemetar akibat kelelahan, ia mengambil foto kondisi motornya yang mogok di tepi jalan raya, lengkap dengan latar belakang papan nama jalan sebagai bukti lokasi.

​Reyna membuka aplikasi pesan dan mengetikkan pesan permohonan izin kepada Bu Sandra.

^^^​Selamat pagi, Bu Sandra. Mohon maaf sebelumnya, motor saya mendadak mogok total di jalan menuju kantor. Saat ini saya sedang mendorong motor untuk mencari bengkel terdekat, saya usahakan segera sampai ke kantor begitu perbaikan selesai. Terima kasih, Bu.^^^

​Pesan tersebut segera dikirimkan bersama dengan foto bukti mogoknya kendaraan.

​Setelah mendorong sejauh hampir lima ratus meter dengan tenaga yang terkuras habis, Reyna akhirnya melihat plang papan kayu bertuliskan bengkel motor kecil di pinggir jalan, senyum lega membayang tipis di wajahnya. Seorang montir berkaus hitam menyambut kedatangannya dan langsung mengecek kondisi mesin motor Reyna.

​"Ini tali kipasnya putus, Mbak, terus businya juga sudah mati total. Harus diganti baru, pengerjaannya butuh waktu sekitar setengah jam," terang sang montir setelah membongkar bagian cvt dan mesin.

​Reyna mengangguk pasrah, "Tolong dikerjakan secepatnya ya, Mas," ucapnya.

​Untuk menjaga transparansi dan menghindari sangkaan yang tidak-tidak dari Bu Sandra, Reyna kembali meraih ponselnya. Ia memfoto suasana bengkel serta motornya yang sedang dibongkar oleh montir, lalu mengirimkan foto tersebut ke obrolan Bu Sandra sebagai bukti susulan bahwa ia memang benar-benar berada di bengkel.

​Beberapa detik kemudian, dua centang biru menyala di bawah pesan dan foto yang Reyna kirimkan. Bu Sandra telah membaca pesan tersebut, Reyna mengembuskan napas lega dan berpikir bahwa Bu Sandra dapat memakluminya.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
ayo gaskan Nia jadi Mak Comblang 🤭🤭🤭🤭
lia juliati
kaga kebayang gimana perasaan Reyna klo denger obrolan meraka..... rasanya mau kabur aja..... kesannya Reyna butuh pasangan bgt.... mentang2 Agnia udah berstatus.... puas2 in nikmatin hidupmu rey
lia juliati
klo kata dikta terserah Reyna mau d deketin orng lain..... gppp sih......
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
Rizky Manik
tanyak langsung aja sama orangnya dik, masak nanyak sama Agnia sih🤭
Rizky Manik
bener kata agnia, Dikta kurang gercep jadi kurang greget deh
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
Aidil Kenzie Zie
kok jawabnya terserah sich Dikta biar nggak ada yang curiga ya kalo ternyata ente emang udah ada rasa
Felycia Fernandez
pernah denger sih mie ini,katanya enak banget khas wonosobo
Felycia Fernandez: ntar kk Thor aku cobain kalau ada perjalanan ke daerah sana👍
total 2 replies
lia juliati
bonus 1 update tor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!