Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Sensasi sejuk langsung meresap ke dalam telapak tangan Arya begitu daun obat itu menempel sempurna.
Rasa perih yang sejak tadi membakar kulitnya berangsur-angsur menghilang dalam hitungan menit.
"Wah, luar biasa juga efek daun ini, tangan ku rasanya langsung sembuh total," puji Arya takjub sambil menggerakkan jarinya.
Vanya memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah dinding kuil untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Jangan salah paham, aku melakukan itu hanya supaya kamu tidak merengek seperti anak kecil," elak Vanya ketus.
"Iya deh iya, ratu iblis memang tidak pernah mau ngaku kalau lagi baik hati," goda Arya tersenyum tipis.
Vanya mendengus keras, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuhnya yang khas.
"Sudah berhenti bicara omong kosong, sekarang pikirkan bagaimana cara kita bertahan hidup di sini," ujar Vanya serius.
Arya mengangguk pelan, senyum di wajahnya seketika lenyap digantikan ekspresi tegang.
Ia tahu betul bahwa insiden mata-mata istana yang dihajar Vanya kemarin pasti meninggalkan jejak besar.
"Pasti prajurit istana sudah melacak arah pelarian kita ke bukit barat ini," analisis Arya cemas.
"Baguslah, kalau mereka berani datang ke sini, aku bakal kubur mereka hidup-hidup di halaman kuil ini," desis Vanya dingin.
[Peringatan Sistem: Deteksi energi spiritual musuh skala besar mendekati area kuil!]
[Peringatan Keras: Pasukan utama istana di bawah pimpinan Jenderal Perbatasan telah tiba dalam radius lima ratus meter!]
Suara dengungan sistem itu berputar kencang tanpa henti di kepala Arya.
Arya langsung berdiri tegak dengan mata melotot lebar mendengar peringatan tegas itu.
"Sialan! Pasukan utama istana beneran datang ke sini!" panik Arya setengah mati.
Vanya ikut menegakkan tubuhnya, senyum berbahaya terukir jelas di bibir merahnya.
Tap... tap... tap...
Suara derap puluhan kuda berzirah berat mulai terdengar mendekati halaman kuil.
Tanah di sekitar kuil tua itu bergetar hebat seiring kedatangan pasukan dalam jumlah besar.
"Mereka sudah sampai di luar," bisik Arya sambil melangkah mengintip dari celah pintu kuil.
Di halaman luas kuil, puluhan prajurit berzirah emas dan perak mengepung bangunan tua tersebut rapat-rapat.
Seorang pria berperawakan kekar menunggang kuda hitam legam berdiri di barisan paling depan.
"Itu Jenderal Barata, panglima perang terkuat di kerajaan ini!" gumam Arya bergidik ngeri.
Vanya mendengus meremehkan saat melihat pria di atas kuda tersebut dari balik jendela kuil.
"Panglima rendahan dengan aura lemah seperti itu berani memimpin pasukan kemari?" cibir Vanya tajam.
"Jangan meremehkan dia, Jenderal Barata punya kekuatan fisik monster yang bisa menghancurkan batu besar!" bela Arya panik.
"Biarpun dia monster, di mataku dia tetap saja cacing tanah yang menyedihkan," balas Vanya dingin.
Brak...
Pintu gerbang halaman kuil didobrak paksa dari luar oleh beberapa prajurit.
"Wah, pintu kuilnya malah dirusak, padahal kita kan tidak punya uang buat ganti rugi," keluh Arya sempat-sempatnya.
"Fokuslah pada situasi sekarang, bukan pada pintu kayu rongsokan itu!" tegur Vanya sewot.
Jenderal Barata turun dari kudanya dengan langkah tegap penuh wibawa.
Ia berdiri di tengah halaman kuil sambil menodongkan pedang panjangnya ke arah bangunan utama.
"Dengar, buronan istana! Keluar sekarang atau kami ratakan kuil tua ini dengan tanah!" teriak Jenderal Barata menggelegar.
Suara teriakan itu menggema kencang memecah kesunyian di kaki bukit barat.
Arya menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan menuju pintu utama kuil.
"Tunggu, mau ke mana kamu?!" cegah Vanya memegang lengan Arya.
"Aku mau keluar dan bicara baik-baik dengan mereka," jawab Arya tenang.
Vanya menatap Arya dengan tatapan tidak percaya bercampur kesal.
"Bicara baik-baik pada anjing istana yang berniat membunuhmu? Kamu sudah gila?!" bentak Vanya.
"Kalau kita langsung serang, mereka bakal hancurkan tempat ini dan kita mati kepanggang," jelas Arya realistis.
Vanya mengepalkan tangannya erat-erat, menahan amarah yang mulai membumbung di dadanya.
"Baiklah, kalau negosiasimu gagal, aku yang akan merobek kepala jenderal itu!" ancam Vanya berbahaya.
Arya mengangguk pasrah, lalu mendorong daun pintu kuil yang sudah lapuk perlahan-lahan.
Kriet...
Bunyi engsel pintu berderit nyaring memecah ketegangan di halaman.
Jenderal Barata dan seluruh pasukannya langsung menatap tajam ke arah pintu kuil.
Arya melangkah keluar seorang diri dengan tangan kosong tanpa senjata sama sekali.
"Oh, lihat siapa yang keluar, si tukang pijit pecat yang jadi buronan istana," sindir Jenderal Barata meremehkan.
Arya berdiri tegak menatap sang jenderal tanpa rasa gentar sedikit pun di wajahnya.
"Selamat pagi, Jenderal. Tenda pasukan Anda kurang besar ya sampai harus repot-repot bertamu ke kuil jelek ini?" sapa Arya sengaja memancing emosi.
Wajah Jenderal Barata langsung memerah padam mendengar ejekan terang-terangan dari pemuda di depannya.
"Kurang ajar! Beraninya kamu bicara begitu di depan panglima perang kerajaan!" murka Jenderal Barata.
"Biasa saja, Jenderal, saya kan cuma nanya kabar pasukan Anda yang kemarin sempat pingsan di gang sempit," balas Arya tersenyum miring.
Kemarahan Jenderal Barata mencapai puncaknya mendengar kisah anak buahnya yang dipermalukan di kota.
"Tangkap dia hidup-hidup! Cincang kakinya kalau dia berani melawan!" perintah Jenderal Barata kepada pasukannya.
Puluhan prajurit berzirah langsung berlari serempak menerjang ke arah Arya dengan tombak terhunus.
Arya bersiap memasang kuda-kuda, mengaktifkan seluruh skill dorongan sistem di dalam tubuhnya.
Namun sebelum prajurit itu menyentuhnya, sesosok bayangan putih perak melesat cepat dari dalam kuil.
Bum...
Gelombang energi hitam pekat meledak dahsyat di antara Arya dan para prajurit.
Prajurit-prajurit terdepan langsung terpental jauh ke belakang menghantam halaman batu.
Vanya berdiri anggun di samping Arya dengan mata merah menyala penuh amarah dingin.
"Sudah kubilang, bicara baik-baik dengan anjing istana itu adalah hal yang sia-sia," ucap Vanya dingin.
Jenderal Barata membelalakkan matanya lebar-lebar melihat kehadiran wanita berambut perak tersebut.
"R-Ratu Iblis Vanya?! Jadi laporan itu benar, dia bersembunyi bersama tukang pijit ini!" teriak Jenderal Barata kaget bukan main.