GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Dua Puluh Tahun dan Kebenaran di Balik Topeng
Suara helaan napas Pak Broto bergema pelan di dalam ruangan laboratorium steril itu, menusuk dada Senja bagaikan sebilah belati beracun. Hening yang menyusul terasa begitu pekat—jenis keheningan yang biasa hadir tepat sebelum sebuah bangunan runtuh dihantam gempa bumi.
Senja berdiri memaku. Lidahnya terasa kelu, dadanya sesak oleh badai emosi yang berkecamuk antara amarah, kebingungan, dan rasa tidak percaya yang amat sangat. Pria di depannya ini—pria yang saban pagi memotong rumput di pekarangan rumah, yang selalu menyeduh kopi hitam pahit sambil mendengarkan burung berkutut, dan yang mengomel jika Senja pulang terlambat—kini menatapnya tanpa kedipan mata.
“Bapak… bohong, kan?” suara Senja bergetar tipis, hampir menjadi bisikan. “Bapak cuma lagi main peran... kayak waktu Bapak pura-pura jadi figuran di lokasi syuting filmku dulu, kan?”
Pak Broto tidak tersenyum. Wajah keriputnya tetap dingin dan kaku, tanpa menyisakan jejak kehangatan seorang ayah.
“Di dunia nyata tidak ada sutradara yang berteriak cut, Senja,” ujar Pak Broto datar. “Bapak tidak pernah berpura-pura saat mendirikan Vanguard. Bapak yang menciptakan sistem itu. Bapak yang merancang jalur cuci uangnya, dan Bapak pula yang memilih Victor untuk menggantikan posisi Bapak saat Bapak memutuskan untuk ‘pensiun’ di mata dunia.”
Victor “The Architect” tertawa pelan—sebuah tawa elegan yang menyorotkan superioritas mutlak. Ia melangkah mendekati koper titanium hitam yang dipegang oleh Gala, membelai permukaan logam dingin itu dengan jemarinya yang terawat.
“Anak yang menyedihkan,” ujar Victor sambil menatap Senja dengan pandangan penuh belas kasihan yang dibuat-buat. “Ayahmu adalah arsitek sejati dari seluruh kegelapan ini. Dia menyembunyikanmu di pinggiran kota, memberimu kehidupan normal yang membosankan, hanya untuk satu tujuan: menjadi tabungan biometrik berjalan jika suatu saat Vanguard membutuhkan pembaruan enkripsi master.”
“Tutup mulutmu!” teriak Gala. Ia melangkah menutupi tubuh Senja, menodongkan senapan peredam suara tepat ke dahi Victor dari jarak dua meter. “Nja, jangan dengerin bapak kamu! Pria tua ini pasti sudah dicuci otaknya atau diancam!”
“Gala…” Pak Broto menyela dengan suara berat yang dipenuhi wibawa tua marinir. “Turunkan senjatamu. Kamu jurnalis, bukan pembunuh. Jika kamu menembak Victor, seluruh sistem keamanan di bunker ini akan mengunci ruangan ini hermetis dan menyemprotkan asam sianida dalam waktu lima detik.”
Di balik punggung Gala dan Senja, Siska tidak bergerak sedikit pun. Mata agen proteksi itu menyipit tajam, memindai seluruh sudut ruangan, saluran ventilasi, hingga gerak-gerik mikro di otot wajah Pak Broto.
Siska menarik napas pelan melalui hidungnya. Ada sesuatu yang tidak cocok dengan analisis logisnya.
“Pak Broto,” kata Siska tiba-tiba, suaranya tenang dan memotong ketegangan. “Jika Anda benar-benar bekerja sama dengan The Architect, mengapa Anda membiarkan saya membawa koper ini keluar dari Vila Melati? Mengapa Anda memberi saya kode backdoor untuk melintasi sistem pertahanan Gunung Salak?”
Victor menoleh ke arah Siska, alisnya terangkat sedikit. “Karena itu adalah bagian dari algoritma yang saya rancang, Siska. Koper Protokol Broto membutuhkan dua kunci biometrik untuk membuka enkripsi tingkat tinggi: DNA darah dari keturunan Broto... dan sampel retinal dari sang Pendiri sendiri.”
Victor mengulurkan tangannya yang bersarung kulit hitam tipis ke arah Senja.
“Serahkan koper itu, Senja. Biarkan ayahmu menempelkan matanya ke pemindai, dan letakkan telapak tanganmu di atas panel. Setelah seluruh dana triliunan rupiah dan kendali jaringan satelit Vanguard beralih penuh ke tangan saya, saya berjanji akan membiarkan kalian berdua hidup. Kalian bisa kembali ke rumah kecil kalian, memelihara burung berkutut, dan berpura-pura bahwa malam ini tidak pernah terjadi.”
Senja menatap koper titanium di tangan Gala. Layar timernya kini berkedip cepat merah pekat: 00:08:12... 00:08:11...
delapan menit tersisa sebelum seluruh data Vanguard meledak dan menghancurkan sistem keuangan negara.
Senja mengepalkan tangannya, melangkah maju melewati Gala. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya.
“Pak,” kata Senja, suaranya kini melunak, kembali menjadi suara anak perempuan yang biasa meminta uang jajan. “Ingat nggak waktu Senja umur delapan tahun? Waktu itu burung berkutut kesayangan Bapak lepas dari sangkar karena Senja lupa mengunci pintunya.”
Pak Broto diam, matanya sedikit bergerak.
“Waktu itu Senja menangis semalaman karena takut Bapak marah,” lanjut Senja sambil melangkah makin dekat ke meja kayu jati tempat Pak Broto duduk. “Tapi Bapak cuma usap kepala Senja, terus bilang apa?”
Pak Broto menelan ludah. Garis rahangnya menegang. “Bapak bilang… burung yang sudah merasakan rasanya terbang bebas di langit, tidak akan pernah mau kembali ke dalam sangkar emas, meskipun sangkar itu diisi makanan paling enak di dunia.”
Senja tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh duka yang membuat air mata akhirnya menetes melintasi pipinya yang memar.
“Kalau gitu… kenapa Bapak sekarang memilih masuk ke dalam sangkar emas ini lagi, Pak?”
Keheningan kembali melingkupi ruangan. Victor yang berdiri di samping Pak Broto mulai merasa tidak sabar. Ia merogoh saku dalam jasnya, mengepalkan tangan pada sebilah pisau analisis otomatis.
“Cukup sandiwara keluarga ini!” potong Victor dingin. “Waktu kita tinggal tujuh menit! Broto, pegang koper itu sekarang!”
Pak Broto perlahan berdiri dari kursinya. Tubuhnya yang tua tampak sedikit membongkok di bawah sorotan lampu ruangan. Ia meraih koper titanium hitam yang disodorkan Gala, menyetujui perintah Victor.
“Kamu benar, Victor,” kata Pak Broto pelan sambil menaruh koper itu di atas meja kayu. “Sistem ini memang butuh retinal sang Pendiri dan darah anakku untuk terbuka sepenuhnya.”
Pak Broto menempelkan mata kanannya ke lensa pemindai biometrik koper.
BIP-BIP.
IDENTIFIKASI RETINAL DITERIMA: KORPS PENDIRI (SERSAN BROTO).
“Sekarang giliranmu, Senja,” panggil Pak Broto tanpa menatap putrinya. “Tempelkan tanganmu.”
Senja mengusap air matanya. Dengan langkah berat, ia mendekati meja dan mengulurkan telapak tangannya ke atas kaca pemindai merah.
BIP-BIP.
IDENTIFIKASI BIOMETRIK DITERIMA: KETURUNAN BROTO (SENJA PRAMITA).
OTORISASI UTAMA DIBUKA. MEMUAT PROTOKOL PENGATURAN ULANG MASTER...
Victor tersenyum lebar. Matanya memancarkan keserakahan yang tidak lagi tersembunyi. Ia melangkah maju, hendak meraih antarmuka komputer yang mulai muncul dari balik koper untuk mentransfer seluruh hak aset Vanguard ke akun pribadinya.
“Luar biasa,” bisik Victor, tangannya terulur ke arah tombol konfirmasi transfer. “Akhirnya, seluruh empire ini menjadi milikku sepenuhnya—”
“Tidak, Victor,” potong Pak Broto mendadak.
Suara Pak Broto tidak lagi terdengar lelah atau pasrah. Suaranya bergema dengan nada tegas, dingin, dan penuh otoritas tempur yang amat sangat mematikan—nada suara seorang komandan marinir di garis depan pertempuran.
Sebelum Victor sempat bereaksi, Pak Broto menyambar pergelangan tangan kiri Victor dengan cengkeraman besi, menyentakkan lengan pria berjas itu ke arah panel biometrik ketiga yang berada di balik lipatan rahasia koper titanium!
KLAK!
Sebuah jarum injector otomatis dari dalam koper meluncur cepat, menusuk kulit telapak tangan Victor dan mengekstrak sampel darahnya secara paksa!
“Apa-apaan ini?!” jerit Victor terkejut. Ia mencoba menarik tangannya, namun genggaman tangan tua Pak Broto bagaikan jepitan baja yang tidak teroyak!
Layar koper titanium yang semula berwarna biru mendadak berubah menjadi merah darah yang menyala hebat. Suara sirine bernada tinggi meledak dari dalam koper, menyebar ke seluruh pengeras suara Bunker Alpha-Zero:
PERINGATAN! DNA SANG PENGKHIANAT (VICTOR HASSEL) TERDETEKSI.
SISTEM ASET EKSEKUTIF DIHANCURKAN.
PROTOKOL BUMI HANGUS BROTO: DIAKTIFKAN.
PENGIKATAN PINTU BUNKER: LOCKDOWN TOTAL.
HITUNG MUNDUR PELEPASAN ASAM & PELEMBURAN SERVER: 03:00... 02:59...
Victor membelalakkan matanya dalam kehorotan yang luar biasa. “Kau... kau gila, Broto!! Kau menipuku?!”
Pak Broto tertawa keras—sebuah tawa lepas dari seorang veteran perang yang baru saja menjebak musuh terbesarnya ke dalam lubang kematian.
“Dua puluh tahun lalu aku sadar kamu adalah sosiopat, Victor!” teriak Pak Broto di tengah raungan sirine darurat. “Aku sengaja berpura-pura menyerahkan diri dua hari lalu agar kamu membawa koper ini ke dalam markas utamamu! Protokol Broto tidak pernah dibuat untuk menyelamatkan Vanguard... koper ini adalah racun yang kubuat khusus untuk memancingmu ke sini dan memusnahkanmu bersama seluruh server Vanguard di Gunung Salak ini!”
Gala dan Senja terpaku. Seluruh kepingan teka-teki yang membingungkan selama ini seketika jatuh pada tempatnya dengan sempurna!
Pak Broto tidak pernah mengkhianati Senja. Pria tua itu sengaja memainkan peran sebagai pengkhianat, menanggung kebencian putrinya sendiri, dan membiarkan dirinya ditangkap hanya agar Victor merasa menang dan menurunkan pertahanannya di dalam bunker yang tidak memiliki jalan keluar ini!
“Bapak!” jerit Senja.
“Siska! Bawa Senja dan Gala keluar lewat lorong pembuangan air sekarang!!” perintah Pak Broto tegas sambil menahan tubuh Victor yang mulai meronta histeris dan mencoba mencabut pisaunya. “Pintu bunker ini akan terkunci selamanya dalam dua menit!”
“Tidak! Senja nggak mau ninggalin Bapak!” Senja menerjang maju hendak menarik ayahnya.
Namun Siska bergerak lebih cepat. Dengan keputusan taktis yang sangat dingin, Siska merangkul leher Senja dari belakang, menarik tubuh mantan stuntwoman itu menjauh dari meja utama, sementara Gala menyambar tas dokumen dan mengekor di belakang mereka.
“Lepasin gue, Sis!! Bapak gue di dalam!! BAPAK!!” jerit Senja histeris, meronta-ronta sambil menendang udara saat Siska menyeretnya paksa menuju pintu keluar darurat di belakang rak buku.
Di tengah ruangan steril yang mulai diselimuti asap uap asam korosif, Pak Broto menoleh sekilas ke arah Senja. Untuk terakhir kalinya, wajah kaku sang veteran melunak. Ia memberikan sebuah penghormatan militer terakhir (salute) kepada putri tunggalnya, disertai senyuman hangat seorang ayah yang telah menyelesaikan tugas terbesarnya di dunia.
BAMMMM!!
Pintu baja tahan ledakan di belakang rak buku menutup rapat, memisahkan Senja dari ayahnya untuk selamanya.
KLANG! KLANG! KLANG!
Gerendel besi raksasa terkunci mati dari dalam.
“BAPAAAKK!!” jeritan Senja bergema di sepanjang lorong pembuangan air yang gelap dan basah, menyatu dengan getaran hebat dari dalam perut Gunung Salak saat fasilitas Bunker Alpha-Zero mulai menghancurkan dirinya sendiri dalam ledakan berantai di bawah tanah.
Siska dan Gala menyeret Senja berlari menembus kegelapan lorong batu, sementara tanah di bawah kaki mereka bergoncang bagai gempa bumi dahsyat.
Konfrontasi dua puluh tahun itu telah berakhir, namun harga yang harus dibayar oleh Senja untuk kebebasannya baru saja dimulai.