perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memberi waktu
setelah urusan pekerjaannya selesai, aji berniat kembali ke malang. dalam hati aji masih sangat mengganjal, ingin sekali aji menyudahi sandiwara wulan, ingin sekali aji membongkar kebohongan wulan.
aji meraih ponselnya, mencari nama wulan di daftar kontak
"kamu dimana?"
"di rumah mas"
"aku tunggu kamu di caffe depan hotel nature"
"sekarang"
"ya" ucap aji singkat dan langsung mengakhiri panggilannya
Aji termenung, sesekali memainkan gagang cangkir kopi
"Mel... bagaimana keadaan ajeng?"
"panasnya sudah turun mas, hasil labnya juga sudah keluar"
"apa diagnosanya?"
"ada bakteri dalam pencernaan ajeng, tadi subuh di ambil fesesnya, Untuk di lab"
"mungkin malam ini aku sampai di malang, kalau ndak capek aku langsung ke rumah sakit"
"Hati-hati di jalan, bagaimana kabar mbak wulan"
"baik... firman juga sehat"
"alhamdulillah"
Dari kejauhan aji melihat wulan memasuki cafe yang dia maksud, aji bergegas mengakhiri percakapannya dengan Mela
"duduk"
Wulan duduk di depan aji
"kenapa ngajak aku ketemu disini? kenapa ndak ke rumah aja mas?"
"aku langsung pada intinya saja, sebentar lagi aku harus kembali ke malang" ucap aji tegas. wulan mendengarkan dengan serius
"lan.... " aji diam sejenak "sampai sekarang aku merasa berdosa karena tidak bisa memberimu nafkah batin, sejak kita menikah aku tak pernah menyentuhmu sama sekali. aku pria normal, masih tertarik pada perempuan. bukan pernikahan seperti ini yang aku mau"
"maksud kamu apa mas? kamu mau ceraikan aku?"
"sabar... selowwww.... bukan begitu. dari awal kamu bilang kamu hamil, jujur aku sangat yakin kalau itu bukan anakku. oke betul waktu itu aku mabuk, tapi waktu itu aku hanya kurang sadar bukan hilang ingatan, aku tak ingat sama sekali apa yang kita lakukan, sampai detik ini aku ndak ingat" aji diam sejenak
"sampai detik ini aku menjaga marwah keluarga, keluargamu dan juga keluargaku, menjaga nama baik kedua orang tuamu dan orang tuaku. lan... aku harap kamu sendiri yang menyampaikan kebenaran itu, aku sangat mengapresiasi niat baikmu mengakui kebohonganmu"
"maksudmu????"
"tolong jangan marah... pikiran dengan kepala dingin. aku tidak bisa hidup seperti ini terus"
"owww jadi ini alasan kamu tidak mau menikah secara sah? iya? kamu mau ceraikan aku, pergi, lepas tangung jawab begitu saja?"
"tolong kecilkan suaramu.. ini tempat umum. wulan, aku memberi kamu kesempatan 6 bulan untuk berkata jujur"
"jujur apa? semua sudah jelas firman anakmu, anak kita mas"
"jangan mendebat sekarang, firman wajib tau siapa ayah biologis dia sebenarnya. aku beri waktu 6 bulan kamu pikirkan baik-baik"
"ndak waras kamu mas" ucap wulan sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari cafe itu. aji melihat kegelisahan di wajah wulan. tak lama kemudian aji juga pergi meninggalkan cafe itu.
Perjalanan ke malang hari itu terasa sangat lama, bukan hanya badan yang lelah. tapi juga pikirannya sudah lelah.
*****
Sesampainya di malang, aji langsung menghampiri mela di rumah sakit
"Mel... " aji membangunkan Mela yang tengah tertidur di samping ajeng
"mas.... duduk" Mela pindah ke sofa dan di ikuti aji
"kenapa langsung kesini? apa ndak capek?"
"aku mau lihat ajeng, apa dia sudah baik-baik saja"
"alhamdulillah sudah semakin membaik, mungkin besok sudah bisa pulang"
"alhamdulillah... aku sudah janji kalau aku akan menginap di rumahmu"
"iya mas, dari kemarin ajeng nanyain kamu terus, maunya nelpon kamu tapi ndak aku perbolehkan, aku takut kalau kamu sama mbak wulan"
aji hanya diam
"sudah subuh... sholat yuk" ucap aji sambil melihat jam tangannya
aji dan Mela melaksanakan sholat subuh berjamaah di mushola rumah sakit itu
"Mel... aku ngantuk. tolong bangunkan aku 1 jam lagi ya"
"kenapa ndak pulang aja mas?"
"aku ingin menemani kalian disini" ucap aji sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa kamar rawat ajeng
tidak ada 5 menit aji sudah terlelap dalam tidurnya, dari kejauhan Mela memandang wajah aji yang kelihatan lelah.
seperti pesan aji. satu jam berlalu, Mela membangunkan aji
"mas... bangun" Mela menggoyang pelan tubuh aji
aji berusaha memulihkan kesadarannya
"ayah.... " suara ajeng
"selamat pagi sayang.... bagaimana masih panas badannya?" ucap aji menghampiri ajeng di ranjangnya
"sudah dingin..." ucap ajeng sambil memegang dahinya "ayah jadi tidur di rumah mama kan?"
"iya... sesuai janji... setelah pulang dari sini, ayah menginap di rumah ajeng. tapi semalam aja ya"
"yahhhh... kok cuma semalam????"
"paginya ayah antar ajeng ke sekolah... mau tau siapa yang ejek ajeng kalau ndak punya ayah.. mau ayah jitak dia" canda aji
"jangan yah... nanti dia nangis"
"biar... salah sendiri buat anak ayah nangis"
dari kejauhan mela melihat aji dan anaknya, bisa memiliki tapi tak bisa direngkuh
"sayang... ayah mau kerja. ngobrolnya nanti lagi ya" ucap Mela
"ya... kok pergi lagi"
"nanti ayah kesini lagi ya. ajeng mau dibawain apa? makanan? atau mainan?"
"ayam goreng... geprekkkk"
"kok ayam geprek?" ucap aji bingung, anak umur 3 tahun minta ayam geprek
"ayamnya di pukul kan jadi geprek yah"
"owww... ayah kira ayam geprek pake sambel bawang"
Aji berpamitan untuk pulang, badannya sudah gerah, lengket seharian belum menganti bajunya.
*****
Sesampainya di rumah mewah miliknya, aji masuk kedalam kamarnya, mandi dan berganti baju
"bik... tolong ambil koper di mobil ya. baju kotor semua itu" ucap aji
"baik tuan"
"ganti lagi panggilannya"
"bik atik bingung... "
setelah makan sedikit, aji berangkat lagi ke kantor
"pak yanto, jaga rumah saja ya"
"mas aji mau nyetir sendiri lagi?"
"iya Pak, sepertinya memang enak kalau nyetir sendiri"
Ucap aji lalu pergi meninggalkan rumahnya, tak jauh dari rumahnya, aji melihat seorang gadis yang wajahnya begitu familiar
"suci.... " ucap aji, setelah melewati perempuan itu
"ah... masak dia disini. kemarin kan terakhir aku ketemu dia di jogja. ada ya orang semirip itu" gumam aji sendiri
*****
𝙙𝙞𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙖𝙟𝙞
"pak yanto.... setoppp... jangan tutup dulu"
"hampir aja aku tutup wik, dari belanja?"
"iya Pak, sambil ngapalin daerah sini"
"mau apa kok di apalin wik, takut kesasar?"
"iya Pak... jalannya itu kayak miri-mirip gitu lho"
"mau masak apa wik?"
"cah kangkung sama ini ada udang, ada ikan kembung"
"enak tuh.."
pembantu baru itu masuk kedalam membawa hasil buruannya
"bik atik, baju siapa?"
"bajunya tuan, baru pulang"
"kok ndak ada mobilnya?"
"sudah berangkat lagi wik. sudah sana masak"
Dwi masuk kedapur yang sangat besar itu
"bik atik... aku penasaran dengan pemilik rumah ini, rumah sebagus ini orangnya bagaimana ya?"
"ya sama seperti kita wik... cuma tuan rumah ini lebih beruntung dari pada kita yang cuma bisa jadi pembantu"
"bik... besok lusa aku test di kampus, Kira-kira bisa apa ndak ya aku kerja sambil kuliah?"
"kamu minta ijin aja ke tuan aji wik"
"Kira-kira pak aji pulang jam berapa ya bik"
"ndak tau wik, nanti kalau pulang kamu langsung bicara aja, minta ijin. bisa alhamdulillah, ndak bisa ya mau gimana lagi"
dwi berniat kuliah di malang sambil bekerja, dia tau kedua orang tuanya tak memiliki uang uang cukup untuk membiayai kuliahnya