Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Deru sirine ambulans membelah keheningan malam kota yang sepi. Di dalam kabin medis yang sempit, lampu darurat berpendar kemerahan, membiaskan bayangan panik di atas wajah Kenzo. Pria yang biasa berdiri teguh dengan keangkuhan mutlak itu kini berlutut di samping brankar, memegang erat jemari tangan Alana yang terasa sedingin es.
Wajah Alana seputih porselen pecah, bibirnya yang kebiruan terkatup rapat. Gaun tidur putih yang ternoda noda darah pekat masih melekat di tubuh kecilnya. Selang oksigen terpasang di hidungnya, sementara tabung cairan infus menetes cepat mengalirkan darah tambahan ke dalam pembuluh darahnya.
"Cepat sedikit!" bentak Kenzo pada petugas medis di depannya, suaranya parau dan bergetar hebat. "Kenapa tekanan darahnya terus menurun?!"
"Tuan Kenzo, pasien mengalami syok hipovolemik akibat pendarahan hebat!" jawab dokter medis ambulans terburu-buru. "Kami berusaha menstabilkan kondisinya sebelum sampai di unit gawat darurat!"
Kenzo meremas jemari Alana lebih kuat, menempelkan punggung tangan istrinya ke dahinya sendiri. Dada pria itu naik turun tak teratur, dihantam oleh gelombang rasa bersalah dan kepanikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Alana... bertahanlah... buka matamu, Alana..." bisiknya parau, namun tak ada sahutan dari wanita yang kini terbaring tak sadarkan diri itu.
Lampu merah di atas pintu ruang bedah dan perawatan intensif Rumah Sakit Utama Elard menyala terang. Pukul tiga dini hari, koridor steril lantai VIP tampak mencekam.
Langkah kaki terburu-buru dari sepatu high heels memecah keheningan. Nyonya Helena melangkah cepat menyusuri koridor bersama Dr. Maya. Wajah wanita paruh baya itu tampak tegang, dipenuhi kecemasan yang bukan berasal dari belas kasihan, melainkan ketakutan akan hancurnya reputasi keluarga.
Begitu Nyonya Helena mendekati pintu ICU, sosok Kenzo berdiri mematung di balik kaca tebal. Kemeja putihnya ternoda bercak darah Alana yang mengering.
"Kenzo!" panggil Nyonya Helena setengah berbisik namun penuh penekanan. "Bagaimana keadaan Alana? Kenapa kamu harus membawanya ke rumah sakit umum seperti ini?! Kamu tahu kan, jika wartawan atau Kakek Hendra tahu Alana dilarikan ke ICU tengah malam, skandal ini bisa menghancurkan saham Elard Group!"
Kenzo perlahan memalingkan wajahnya. Iris mata hitamnya yang biasa dingin kini berkilat penuh amarah yang teramat pekat. Pria itu menatap ibunya dengan tatapan menyeramkan.
"Ibu masih memikirkan saham saat nyawa Alana hampir melayang?!" desis Kenzo dengan suara berat yang menekan.
"Kenzo, jaga bicaramu!" tegar Nyonya Helena. "Ibu melakukan semua ini demi kebaikanmu! Demi kepastian posisi Direktur Utama!"
Pintu ruang ICU mendadak terbuka. Seorang dokter spesialis kandungan senior melangkah keluar dengan raut wajah amat tegang, melepaskan masker medisnya.
"Dokter! Bagaimana kondisi istri saya?!" serbu Kenzo cepat, mengikis jarak tanpa peduli pada ibunya.
Dokter senior itu menghembuskan napas panjang, menatap Kenzo dan Nyonya Helena secara bergantian dengan pandangan prihatin sekaligus tajam. "Kondisi Nyonya Alana berhasil distabilkan setelah manipulasi penghentian pendarahan mendesak. Namun, kondisinya sangat kritis. Ada luka dan peradangan parah pada dinding rahimnya akibat akumulasi zat kimia keras dari suntikan hormon kesuburan dosis tinggi yang dipaksakan."
Dokter itu menoleh pada Dr. Maya yang berdiri mematung di belakang Nyonya Helena. "Siapa pun yang meresepkan dan memberikan hormon sintetis dosis tinggi ini pada hari pertama menstruasi telah melakukan tindakan medis yang sangat berbahaya! Rahim pasien hampir robek, dan tekanan psikologis yang teramat berat membuat tubuhnya menolak semua asupan kimia tersebut!"
"Apa maksud Anda?!" potong Nyonya Helena cepat, mencoba membela diri. "Itu hanya reaksi penyesuaian tubuh yang berlebihan! Rahimnya saja yang terlalu lemah!"
"Ini bukan masalah rahim lemah, Nyonya!" tegas dokter spesialis itu tanpa takut. "Jika asupan obat kimia keras dan tekanan mental ini terus dipaksakan pada Nyonya Alana, bukan hanya rahimnya yang akan rusak permanen, tapi nyawanya tidak akan bisa diselamatkan!"
Kata-kata dokter itu menghantam dada Kenzo bagaikan pukulan godam. Pria itu mematung, menatap tangannya sendiri yang masih menempelkan bekas darah Alana. Bayangan saat ia menuntut kewajiban ranjang, membentak Alana, serta membiarkan ibunya memaksa Alana menelan racikan pahit terus berputar menghancurkan gengsi dan keangkuhannya.
Dokter spesialis itu membungkuk singkat lalu melangkah pergi, meninggalkan ketegangan yang kian membakar di koridor tersebut.
Nyonya Helena menelan ludah secara kasar. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Ia memegang lengan Dr. Maya, lalu menoleh ke arah Kenzo dengan raut wajah panik.
"Kenzo, dengarkan Ibu," ujar Nyonya Helena terburu-buru dengan nada merajuk dan menekan. "Kita tidak boleh membiarkan Kakek Hendra tahu hal ini. Begitu Alana sadar nanti, Ibu yang akan bicara dengannya. Kita harus menekan Alana agar dia mengaku bahwa pendarahan ini terjadi karena kelalaian pribadinya sendiri, mungkin karena dia jatuh atau salah minum jamu tradisional di luar. Dia harus bungkam di depan Kakek!"
Nyonya Helena melangkah hendak menerobos pintu kamar perawatan VIP tempat Alana dipindahkan. "Ibu akan masuk sekarang untuk memberi tahu Alana apa yang harus dia katakan—"
Brak!
"Jangan pernah sentuh dia lagi!"
Langkah Nyonya Helena terhenti seketika saat Kenzo mencengkeram lengan ibunya secara kasar, mendorongnya menjauh dari pintu kamar Alana. Suara bentakan Kenzo menggema keras di sepanjang koridor rumah sakit, memancarkan aura kegelapan dan ancaman mutlak.
Nyonya Helena membelalak kaget, memegang tangannya yang tersentak. "Kenzo! Kamu berani membentak Ibumu sendiri demi wanita itu?!"
"Ibu dan Dr. Maya sudah hampir membunuhnya!" amuk Kenzo dengan napas memburu, matanya merah padam oleh gabungan amarah dan penderitaan batin. "Cukup! Mulai detik ini, tidak ada satu pun obat, ramuan, atau perintah Ibu yang boleh menyentuh Alana lagi! Jika Ibu atau Dr. Maya berani mendekati Alana atau menekannya lagi... saya sendiri yang akan membongkar seluruh malpraktik ini di hadapan Kakek Hendra!"
"Kenzo!" jerit Nyonya Helena tak percaya, wajahnya pucat pasi melihat putranya yang biasa penurut dalam urusan dinasti kini berbalik melawannya bagaikan monster berselimut dendam. "Kamu sudah gila?! Kamu membahayakan posisimu sendiri!"
"Saya tidak peduli!" tegas Kenzo dengan nada dingin yang tak teratahkan. Pria itu menunjuk ke arah ujung koridor. "Pergi dari sini. Sekarang!"
Nyonya Helena mengepalkan tangannya rapat-rapat, napasnya memburu menahan malu dan amarah yang meluap. Melihat intimidasi mutlak dari putranya, Nyonya Helena akhirnya berbalik kaku dan melangkah pergi bersama Dr. Maya yang gemetar ketakutan.
Keheningan kembali menguasai ruang perawatan VIP. Aroma karbol medis yang bersih menyelimuti ruangan besar yang sunyi itu.
Kenzo melangkah masuk perlahan. Bunyi konstan dari monitor detak jantung menjadi satu-satunya suara di dalam ruangan. Di atas ranjang rumah sakit, Alana terbaring kaku dengan selang infus dan pemantau medis terpasang di tubuhnya. Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam rapat.
Kenzo menarik kursi ke samping tempat tidur, mendudukkan tubuhnya yang terasa amat berat. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun di dunia bisnis itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di tepi kasur Alana.
Jemari Kenzo terulur ragu, menyentuh helai rambut halus Alana yang terurai di atas bantal.
"Alana..." bisik Kenzo parau, suaranya bergetar hebat di dalam keheningan malam. "Maafkan saya..."
Kata maaf yang tak pernah terucap sepanjang hidupnya itu kini meluncur begitu saja dari bibir sang CEO dingin. Namun, di atas ranjang yang membeku, Alana tetap terbaring bisu, tak mendengarkan penyesalan dari pria yang telah mengurung dan meremukkan hidupnya.
Bersambung...