Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Malam makin larut saat mobil sedan mewah milik Bashkar berbelok memasuki halaman mansion Deluca yang sudah diselimuti hamparan salju tebal. Lampu-lampu taman memancarkan pendar hangat di tengah hawa beku yang menusuk hingga ke tulang.
Di dalam mansion, Zela sudah bersiap sejak mendengar deru mesin mobil di pelataran. Begitu pintu depan yang kokoh terdorong terbuka, Zela langsung melangkah cepat menyambut suaminya dengan wajah berbinar hangat.
Namun, binar di matanya seketika meredup, berganti menjadi kerutan tebal di kening saat pandangannya menyapu sosok Bashkar. Pria tegap itu melangkah masuk sambil melepaskan sarung tangan kulitnya. Dan benar saja di balik jas formal hitam yang ia kenakan, Bashkar sama sekali tidak memakai long coat tebal berpotongan anggun hasil buruan Zela dari mall tadi siang. Ia bahkan tidak melilitkan syal hangat di lehernya.
Zela mendesis pelan seraya melipat kedua tangannya di dada. Ia melangkah maju menutupi jalan Bashkar, menyunggingkan bibirnya yang dipanyunkan penuh omelan.
"Astaga, Mas! Kamu ini benaran ya, keras kepalanya udah melebihi fondasi batu kali!" omel Zela dengan nada gemas yang lucu seraya berkacak pinggang. "Kan aku udah bilang di surat tadi siang, salju di luar itu tebal banget! Itu mantel wool tebal yang aku beliin seharga motor matic baru kenapa kagak dipakai, coba?! Kenapa cuma pakai jas tipis begini? Kamu mau pamer kekebalan tubuh sama bakteri salju, apa gimana sih?!"
Bashkar menghentikan langkahnya tepat di hadapan Zela. Wajah tampannya kaku bagai es, dan manik mata kelabunya menatap Zela tanpa riak emosi sedikit pun. Ia membiarkan wanita di depannya ini berkicau panjang lebar tanpa menyela sepatah kata pun.
"Nanti kalau badan kamu demam, terus batuk-batuk sampai bersin, yang repot siapa? Aku juga kan yang harus ngurusin!" lanjut Zela seraya menggerutu, menggeleng-gelengkan kepalanya panik bercampur gemas. "Dah lah, tunggu di sini sebentar. Jangan jalan kemana-mana!"
Zela berbalik cepat dan setengah berlari menuju dapur utama. Di sana, ia meracik minuman hangat spesial: teh jahe merah yang diseduh dengan irisan lemon dan sedikit madu murni. Aromanya yang wangi, pedas manis, dan membumbungkan uap hangat menyebar di udara. Zela menatanya di atas nampan kecil dengan sangat hati-hati.
Beberapa menit kemudian, Zela kembali ke ruang tengah. Ia mendapati Bashkar masih berdiri kaku di dekat tangga utama, sedang melepaskan jam tangan mewahnya.
"Nih, minum dulu," Zela menyodorkan cangkir keramik berisi teh hangat itu tepat di hadapan dada bidang Bashkar. Uap panasnya menari-nari di udara. "Ini teh jahe lemon hangat. Biar tenggorokan kamu nggak beku dan badan kamu hangat. Mumpung masih panas, habisin ya?"
Bashkar menatap cangkir di tangan Zela sejenak, lalu pandangannya bergulir naik menatap tepat ke sepasang mata bulat milik istrinya. Di sana, tidak ada sedikit pun kepura-puraan hanya ada kejujuran dan rasa peduli yang pekat.
Namun, alih-alih menyambut cangkir hangat tersebut atau tergerak oleh perhatian jujur sang istri, raut wajah Bashkar justru makin membeku. Bayangan rencana besar, manipulasi bisnis, serta pengkhianatan yang mengelilingi hidupnya seolah menolak kehadiran kehangatan sederhana ini.
Bashkar melangkah maju satu tindak, memotong jarak hingga ketegangan yang mendinginkan darah kembali tercipta di antara mereka. Suaranya terdengar sangat rendah, datar, dan tajam menembus keheningan malam.
"Menyingkir dari hadapanku," desis Bashkar tanpa emosi.
Kata-kata itu dingin dan lugas, memotong segala kehangatan yang coba diciptakan Zela di tengah malam musim dingin tersebut.
Bashkar melangkah melewati Zela begitu saja. Bahunya yang kokoh sempat bersenggolan tipis dengan lengan Zela, menciptakan sensasi dingin yang tertinggal di udara. Tanpa menoleh lagi, langkah kakinya yang tegap dan beritme konstan membawanya menaiki anak tangga satu per satu, meninggalkan Zela yang masih berdiri memegang nampan teh jahe hangat di tengah kemegahan ruang tengah yang sepi.
Zela menatap punggung tegap suaminya hingga menghilang di balik pintu kamar utama di lantai dua. Suara dentuman pintu yang tertutup rapat menandakan batas yang kembali ditegakkan oleh pria itu. Zela menghembuskan napas panjang, menatap uap teh yang perlahan menghilang tertiup hawa dingin malam.
"Bener-bener kulkas sepuluh pintu," gumam Zela mengelus dadanya seraya tersenyum kecut. Ia menyesap sedikit teh hangat buatannya sendiri, lalu melangkah pelan menuju kamarnya.
Malam semakin larut, menenggelamkan mansion Deluca dalam keheningan yang mencekam di bawah naungan badai salju di luar.
Di kamarnya yang hangat, Zela terlelap di bawah selimut tebal. Namun, ketenangan tidur malam itu mendadak berganti menjadi kegelapan yang pekat dan menyesakkan.
Dalam tidurnya, Zela mendadak berada di sebuah ruangan gelap tak berujung. Bau anyir darah yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya. Zela menunduk, dan betapa terkejutnya ia saat melihat tubuhnya sendiri tergeletak di atas lantai dingin yang mengilap, bersimbah cairan merah pekat yang terus mengalir deras dari dadanya.
Pakaian kremnya berubah menjadi merah tua, basah kuyup oleh darahnya sendiri yang menggenang luas. Napasnya terasa sangat berat dan tercekat, seolah ada beban ribuan ton yang menindih dadanya. Di kegelapan itu, ia melihat bayangan sosok tinggi besar berdiri menjulang di atasnya memegang belati berdarah dengan mata kelabu yang sangat dingin tanpa ampun.
Gasp!
Zela tersentak bangun! Matanya membelalak lebar, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah dalam. Peluh dingin membasahi dahi dan lehernya, sementara jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu.
Zela dengan cepat meraba dadanya sendiri, memastikan tidak ada luka atau darah di tubuhnya. Ia mengusap wajahnya yang pucat, mencoba menetralkan detak jantungnya yang liar seraya menyandarkan punggung pada headboard tempat tidur.
"Hah... hah... gila, serem banget!" gerutu Zela dengan suara serak, mengusap lehernya yang basah oleh keringat dingin.
Zela menyebakkan selimutnya, melipat kedua tangan di dada seraya memanyunkan bibirnya dengan raut wajah kesal sekaligus bergidik ngeri.
"Masuk ke dalam novel begini, gue kagak bisa apa ya mimpi jadi princess yang tinggal santai di istana, terus dijemput pangeran naik kuda putih?" oceh Zela menggerutu pada keheningan malam. "Ini malah dimimpiin mati mengenaskan dibanjiri darah sendiri! Mana visual pembunuhnya mirip banget lagi sama si es batu itu! Apes banget nasib gue..."
Sementara itu, di kamar pribadi Bashkar yang didominasi warna hitam dan abu-abu gelap, suasana terasa begitu redup. Lampu utama dimatikan, hanya menyisakan pendar remang dari lampu dinding.
Bashkar berdiri di dekat kaca jendela raksasa yang menampilkan tarian salju di luar. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain hitam berpotongan santai.
Di jemari panjangnya, terselip sebatang cerutu impor yang membara merah tipis. Bashkar menyesapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan uap asap putih tebal yang membumbung perlahan di udara, menyatu dengan keheningan malam.
Pendar remang cahaya lampu menyorot bahu dan punggung kokohnya yang tegap. Di bahu kirinya hingga menjalar ke dada dan lengan atasnya, terukir tato rajah berpigmen hitam pekat bergambar kepala naga bersayap dengan detail yang amat rumit dan gelap simbol kekuasaan mutlak dan garis keturunan tertinggi di dunia underworld.
Otot-otot dadanya yang keras, dihiasi beberapa bekas luka tembak dan sayatan pisau masa lalu, makin mempertegas aura gembong mafia yang teramat berbahaya, kejam, dan berdarah dingin. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut di mata kelabunya.
Bashkar mengetukkan abu cerutunya, menatap tajam ke arah kegelapan malam. Di balik keheningan wajah tampannya yang dingin bagai porselen, otak pria itu terus berputar, memperhitungkan setiap kemungkinan, perangkap, dan kematian yang sedang ia siapkan untuk musuh-musuhnya termasuk nasib janji dua bulan yang ditawarkan oleh istrinya.