Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Hujan Cinta
Melihat bahu Nayla yang bergetar pelan serta setetes air mata yang menetes membasahi pipinya, Adrian tak butuh waktu lama untuk menyadari apa yang sedang bergejolak di dalam dada istrinya. Keheningan malam dan nuansa perayaan ini pasti telah memanggil kembali kenangan akan sosok almarhum bapak Danu.
Tanpa ragu, Adrian melangkah mendekat. Lengan tegapnya terulur merengkuh tubuh Nayla, menarik wanita itu ke dalam pelukan hangat yang begitu protektif.
Nayla menyandarkan wajahnya di dada bidang Adrian. Aroma wangi maskulin yang khas dari suaminya seketika menyerbu indra penciumannya, memberikan rasa aman dan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan... Tenanglah, Nayla," bisik Adrian lembut di dekat telinga istrinya. Usapan pelan jemarinya di punggung Nayla terasa begitu menenangkan. "Mungkin... cara kita memulai semua ini memang diawali oleh sesuatu yang menyakitkan. Jika saja bisa diputar kembali, aku juga ingin mengubah awal cerita kita menjadi lebih indah tanpa ada duka."
Adrian merenggangkan pelukannya perlahan. Kedua telapak tangannya terangkat membingkai pipi lembut Nayla, memaksa pandangan mata mereka saling mengunci di udara.
"Tatap mataku, Nayla," tutur Adrian dengan nada suara yang dalam dan penuh kesungguhan. "Izinkan aku membuatmu bahagia. Bukan lagi karena permintaan almarhum ayahmu, bukan pula karena utang budi... melainkan karena kamu adalah wanita yang aku cintai."
Nayla mematut mata suaminya. Di dalam iris mata tajam itu, tidak ada setitik pun kebohongan atau kepura-puraan. Yang ada hanyalah ketulusan murni yang terpancar nyata.
Rasa sedih yang tadinya sempat merayapi dada Nayla seketika menguap tak bersisa, berganti menjadi luapan kehangatan yang membuncah. Ini benar-benar pertama kalinya dalam hidup Nayla ada seorang pria yang menatapnya dengan pendar cinta sebesar ini—menghargainya bukan karena fisik atau embel-embel lain, melainkan murni karena dirinya sendiri.
Adrian mengusap lembut sisa air mata di pipi Nayla dengan ibu jarinya, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan. "Ayo kita duduk di sana. Dan tersenyumlah... agar almarhum Bapak Danu di atas sana juga merasa tenang dan bahagia melihat putri cantiknya tersenyum malam ini."
Nayla menelan ludah, lalu menganggukkan kepalanya pelan seraya membalas senyuman itu. "Iya... Mas."
Adrian menuntun Nayla menuju meja makan bulat yang telah dihiasi lilin-lilin aromaterapi. Sebelum duduk, Nayla menjangkau buket bunga raksasa yang berada di kursi sebelah. Jemari lembutnya menyapu kelopak mawar merah segar yang masih berselimutkan embun halus. Wajahnya berseri-seri, menghirup aroma harum mawar yang menyeruak menenangkan.
"Suka bunganya?" tanya Adrian seraya menarikkan kursi untuk Nayla.
"Suka banget, Mas... Bunganya indah sekali," jawab Nayla tulus, mendongak menatap suaminya dengan mata berbinar.
Adrian tersenyum puas. Pria itu memberi isyarat kepada pelayan khusus yang berjaga di sudut rooftop. Tak berapa lama, deretan hidangan fine dining kelas atas mulai disajikan di atas meja mulai dari wagyu steak yang empuk, hidangan laut segar, hingga penutup manis berhiaskan cokelat mahal.
"Makanlah yang banyak, Nayla. Jangan malu-malu dan tidak usah memikirkan apa pun malam ini," ujar Adrian lembut, memotongkan daging steak di piringnya lalu memindahkannya ke piring Nayla.
Melihat perhatian suaminya, benteng canggung dalam diri Nayla perlahan runtuh. Perutnya yang memang lapar sejak siang akhirnya terisi. Nayla menikmati setiap suapan makanan lezat tersebut dengan lahap, membuat Adrian yang duduk di hadapannya tak henti-hentinya menatapnya dengan binar geli sekaligus gemas.
"Pelan-pelan makan " tegur Adrian terkekeh pelan.
"Habisnya enak banget, Mas..." sahut Nayla polos.
Tiba-tiba, Adrian bangkit dari duduknya. Pria itu memajukan tubuhnya menyeberangi meja makan, lalu dengan gerakan amat perlahan, jempol tangannya mengusap sudut bibir Nayla yang terkena sedikit sisa saus cokelat dari hidangan penutup.
Sentuhan mendadak itu membuat tubuh Nayla membeku seketika. Sendok di tangannya hampir saja terlepas.
Adrian menatap ibu jarinya yang bernoda cokelat, lalu tanpa canggung mengecapnya sendiri. "Manis," bisik Adrian lirih, matanya menatap dalam bibir merona istrinya.
Wajah Nayla seketika membara merah padam hingga ke ujung telinga. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura sibuk meminum air putih untuk menutupi detak jantungnya yang berdegup tak beraturan.
Di tengah rasa salah tingkah yang membumbung tinggi itu, Adrian merogoh saku jasnya. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak bludru kecil berwarna hitam berkilat, lalu meletakkannya tepat di samping piring Nayla.
Nayla mendongak heran. "Ini... apa lagi, Mas?"
"Buka saja," sahut Adrian singkat.
Dengan rasa penasaran yang membuncah, Nayla meraih kotak tersebut dan membukanya perlahan. Di dalam bantalan bludru hitam itu, terbaring sebuah kunci mobil berlogo merek ternama dunia.
Nayla membelalakkan matanya kaget. "Kunci... mobil?"
"Ayo ikut aku sebentar," ajak Adrian berdiri, meraih jemari Nayla dan menuntunnya berjalan menuju tepi pembatas kaca transparan di ujung rooftop.
Dari ketinggian lantai paling atas gedung tersebut, Adrian menunjuk ke arah area parkir di bawah sana. Sebuah sedan mewah berwarna soft pink yang berkilau di bawah sorotan lampu jalan tampak berdiri anggun. Di samping mobil itu, terlihat sosok Rio yang melambaikan tangan ke atas, meski sosoknya terlihat sangat kecil dari ketinggian.
"Itu mobil untukmu, Nayla. Hadiah dariku," ujar Adrian tenang di samping telinganya.
Nayla menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Warna soft pink adalah warna favoritnya sejak dulu. Namun, melihat keanggunan dan kemewahan sedan tersebut, rasa tidak enak hati mendadak menghampirinya.
"Mas... ini... ini pasti mahal banget," bisik Nayla merasa sungkan. "Aku tidak perlu mobil semewah ini, Mas—"
"Tidak ada kata terlalu mahal jika itu untuk istriku," potong Adrian tegas namun manis, menggenggam erat tangan Nayla. "Mulai besok, kamu tidak boleh lagi kepanasan atau kehujanan naik transportasi umum kalau mau pergi. Mobil itu sepenuhnya milikmu."
Nayla menatap suaminya dengan pandangan penuh haru. Belum sempat ia mengutarakan rasa terima kasihnya, alunan musik instrumen biola yang sangat romantis mendadak mengalun lembut dari sudut rooftop.
Adrian memutar tubuh Nayla, lalu menarik satu tangan wanita itu untuk diletakkan di bahunya, sementara tangan tegapnya melingkar sempurna di pinggang berisi Nayla.
"Mari berdansa," bisik Adrian.
Nayla menurut tanpa berani membantah. Mereka bergerak perlahan mengikuti irama musik di bawah pendar lampu keemasan malam. Tubuh mereka menempel rapat, membuat Nayla bisa merasakan detak jantung Adrian yang ternyata berdegup sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.
Saat gerakan dansa mereka makin melambat, Adrian menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di samping telinga Nayla dengan suara rendah yang memikat.
"Nayla... kamu belum menjawab perkataanku sejak tadi."
Nayla mendongak bingung, matanya berkedip polos. "Perkataan yang mana, Mas?"
"Perkataan bahwa aku mencintaimu... dan aku ingin memulai hubungan kita secara benar sebagai pasangan suami istri yang sah," tutur Adrian menatap lurus ke dalam netra Nayla. "Bagaimana dengan perasaanmu?"
Desakan rasa malu kembali menyerang Nayla. Namun, melihat kesungguhan yang tak bertepi di mata suaminya, Nayla menyadari bahwa ia tidak boleh lagi bersembunyi di balik rasa mindernya. Pria ini mencintainya dengan tulus, dan hatinya pun sudah lama menaruh rasa yang sama.
Nayla menyembunyikan wajahnya yang merona di dada Adrian, lalu berbisik pelan namun cukup jelas untuk didengar.
"Aku... aku juga mencintaimu, Mas Adrian."
Gerakan dansa Adrian seketika terhenti total.
Pria itu menarik wajah Nayla agar menatapnya kembali. Tanpa memberi jeda sedikit pun untuk rasa ragu, Adrian mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir lembut Nayla.
Deg!
Nayla gemetar hebat. Sentuhan hangat itu adalah ciuman pertama dalam hidupnya, sebuah ciuman yang sarat akan rasa cinta, kelembutan, dan janji perlindungan. Rasa bahagia yang begitu dahsyat merayapi seluruh pembuluh darah Nayla.
Meski awalnya ia membeku kaku, perlahan-lahan Nayla memejamkan matanya. Jemari kecilnya meremas kain kemeja di dada Adrian, mencoba bertahan dan membalas ciuman suaminya itu dengan gerakan yang masih sangat canggung namun penuh kepasrahan tulus.
Bersamaan dengan tautan manis itu, langit malam yang tadinya redup perlahan menurunkan rintik-rintik air hujan. Bulir-bulir air yang dingin mulai menetes menyentuh kulit mereka, membasahi bahu dan helai rambut mereka berdua.
Adrian melonggarkan tautan bibirnya perlahan, namun jarak wajah mereka masih sangat dekat. Napas mereka memburu beradu di udara dingin malam.
"Hujan turun, Nay... Ayo kita berteduh ke dalam," bisik Adrian seraya mengusap titik air hujan di dahi istrinya.
Nayla menggeleng pelan dengan senyuman paling bahagia yang mekar di wajah ayunya. Ia menengadah menatap langit malam, membiarkan tetesan hujan yang dingin menerpa wajahnya yang hangat.
"Tidak usah, Mas... Aku ingin disini," bisik Nayla riang. "Hujannya terasa sangat dingin dan menyenangkan. Aku bahagia banget malam ini."
Adrian menatap tawa lepas istrinya dengan binar penuh cinta. Tanpa memedulikan pakaiannya yang mulai basah oleh air hujan, Adrian kembali merengkuh pinggang Nayla, tertawa bersama di bawah guyuran rintik hujan kota malam itu.
..
Sementara itu, jauh di bawah sana...
Di area parkir terbuka, Rio berdiri di samping mobil sedan soft pink dengan satu tangan memegang payung hitam besar. Matanya menengadah menatap ke arah rooftop yang mulai tersiram gerimis hujan.
Rio melirik jam tangannya, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan cengiran konyol yang terkembang lebar di wajahnya.
"Ckckck... Ini hujan makin deras, tapi kenapa Pak Adrian sama Mbak Nayla belum turun-turun juga, ya?" gumam Rio terkekeh geli sendiri.
Rio mengusap dagunya, membayangkan kejadian di atas sana. "Jangan-jangan... Pak Adrian benar-benar mempraktikkan ide tutorial Kiss romantis dari saya tadi siang sampai lupa kalau hujan lagi turun deras?! Wah... parah sih, bos gue kalau udah bucin ternyata nekat juga!"
Rio tertawa cekikikan sendiri di bawah payungnya, membayangkan bosnya yang biasanya dingin membeku kini sedang meluncurkan aksi romantis di atas gedung.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️