Malam semakin larut sudah hampir pukul satu malam.Entah mengapa hawa malam ini begitu mencekam.Tidak seperti malam kemarin saat diriku tiba
didesa ini.
Sudah dua malam Aku menginap disini, dirumah teman masa kecilku.
Dia mengadakan sebuah acara resepsi pernikahan,tentu pernikahannya.
Aku tiba kemarin sore dan pagi tadi teman masa kecilku,telah resmi menjadi istri tuan tanah.Maklum temanku itu memang lumayan cantik punya paras ayu, memiliki tubuh yang sintal dan molek, banyak yang tergila-gila padanya tak terkecuali tuan tanah yang umurnya agak jauh darinya yaitu dua puluh delapan tahun sedang Riana dan Aku baru genap dua puluh dua tahun.
RIANA DWI NINGRUM dan suaminya RAKA ADITYA JOYONINGRAT.Mereka resmi menjadi pasangan suami-istri hari ini.
Malam ini sebenarnya sangat ramai oleh para tamu undangan yang belum beranjak pulang dari pesta, mereka masih betah duduk sambil menikmati hiburan dari yang punya hajatan.
Tabuhan gamelan yang mengiringi para penari begitu syahdu.Namun entah mengapa Aku belum juga mengantuk,entah karena perasaanku yang tak menentu atau karena suara musik yang lumayan riuh.
Tiba-tiba ada suara teriakan yang sangat keras memecah keriuhan serta syahdunya suara gamelan,suara itu mengalahkan tabuhannya.
"Toloong..!!tolooongggg....!!!"
Aku yang mendengar seketika kaget dan keluar dari kamar,aku melihat semua orang telah berhenti bermain musik dan malah berkumpul di kamar pengantin yang baru saja menikah dan akan melaksanakan ritual malam pertama mereka.
"Ada apa gerangan"(batinku)
Aku menghampiri kerumunan dan melihat bude Marni menangis,aku sangat kaget kala melihat apa yang ditangisi bude Marni.Riana tergeletak bersimbah darah dilantai tanpa ada suami disampingnya dalam keadaan mengenaskan yaitu tanpa sehelai benangpun.
Apa yang terjadi pada Riana.Jika kalian ingin mengetahuinya vote,like,dan jadikan tulisan pertama saya ini, favorit kalian semua.oke..!!!
namun sebelumnya bila ada kekurangan dalam karya pertama saya ini,silahkan kalian semua memberikan komentar yang bisa menjadi inspirasi saya dalam memperbaiki dan memberikan cerita yang baik untuk kalian semua.terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatama Jani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Kampung Ke Desa
Aku hanya menceritakan bagian awal dan akhir kejadiannya saja, yaitu saat dimana pak Presdir yang pingsan bersimbah darah sama seperti Riana,juga menceritakan ancamannya dirumah sakit terhadap pertukaran nyawaku dan juga Andini.
Aku juga menceritakan hal yang sama kepada bude Marni kemarin malam dan tak lupa mengatakan kepada Papa dan Mama kalau kami semua harus segera pulang kampung ke desa.
"Pa , inilah yang mama sering khawatirkan,sejak dulu" ucap Mama
"Tenang, ma" tukas Papa
"Tenang gimana,pa,dia menuntut kita sekarang" tambah Mama lagi
"Ma..." papa menyadarkan Mama kalau aku masih duduk ditengah-tengah mereka berdua
Aku hanya bisa diam,menatap mereka satu persatu, dengan mencoba mencari jawaban dari ucapan Mama barusan,tapi keduanya malah sama-sama memilih bungkam.
Papa dan Mama pun pergi begitu saja,tak menghiraukan diriku, padahal aku masih ada disana.
Skip.
Pagi ini, setelah kami semua sarapan,mama terlihat berkemas,aku heran dan bertanya,mama hanya mengatakan kalau kami,pagi ini juga, akan kembali ke desa,aku hanya menurut kali ini dan tidak ada bantahan pertanyaan mengapa harus dadakan begini.
(Memang Author Mah Suka Banget Tahu Bulat,makanya, selalu Dadakan Up-nya)
Melihat wajah ketakutan Mama, entah pada siapa dia takut,aku kasihan sekali,tapi tentu aku hanya diam, karena memang masih belum tahu apa yang menimpa keluarga kami kali ini, cobaan demi cobaan kami hadapi,tapi kali ini rasanya benar-benar terlalu pelik dari sebelum-sebelumnya.
Kali ini juga membawa-bawa bude Marni dan Riana pula.
Aku pun mulai membantu memasukkan beberapa barang yang akan kami bawa ke dalam mobil dan disana sudah ada Papa dan Andini yang sudah berada dimobil.
Papa dan mama menyuruhku masuk ke mobil,aku duduk disamping Andini,dan Papa mulai menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, hanya Andini sendirilah yang bahagia, karena akan pulang kampung ke desa untuk pertama kalinya, setelah sepuluh tahun lamanya kami pindah, yang mana aku baru berusia dua belas tahun sedang Andini baru berusia enam tahun,dari pengakuannya,dia sama sekali tidak ingat bagaimana desa meski usianya saat itu sudah enam tahun.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,kali ini kami tidak naik kereta api,tapi langsung pergi dengan mobil, yang tentu saja akan memakan waktu lama dan lumayan jauh sekitar tiga jam lebih menuju kota XX,ditambah harus masuk lagi ke dalamnya sekitar satu jam menuju perbatasan desa yang hanya bisa ditempuh dengan melewati hutan dan lembah, barulah kami berada di perbatasan desa.
total perjalanan yang kami akan tempuh sekitar 4 jam.
Sekitar jam satu siang kami pun tiba di kota tujuan,kami kemudian beristirahat disebuah masjid, melaksanakan kewajiban kami dan mampir ke sebuah restoran Jawa favorit Papa dikota XX ini.
Setelah makan, kami menuju jalan ke arah sebuah hutan, ketika melewati hutan, tiba-tiba saja ada aura yang seperti menyambut kedatangan kami, seperti telah lama menanti kami di gerbang hutan, aku menyadarinya sebab saat ini ada awan hitam yang muncul dibelakang mobil kami, terlihat jelas dari kaca spion mobil.
Aku tak menghiraukan hal itu, tapi Mama yang tahu mulai terlihat panik,entah apa yang mama pikirkan,aku hanya diam, apalagi awan itu terus mengikuti kami,sampai ke desa bagaikan pengawal.
Papa mulai meminta kami semua berdoa,membaca ayat kursi,tak lama setelah itu awan hitam tersebut pun hilang dengan sendirinya.
meninggalkan jejak?.. seru nih