Sequel Bad Girl In The School
Bagaimanakah jadinya jika Jea yang terkenal playgirl dan tomboy dijodohkan dengan Louis yang cueknya minta ampun?
Belum lagi Jea harus membuat Louis jatuh cinta padanya dan itu tidak mudah, karena Jea harus menghadapi Caca yang diminta Louis untuk menjadi pacar boongannya.
Akankah dia bisa membuat lelaki yang dijodohkan padanya mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
“Louis, jangan cepet-cepet! Kaki gue sakit!" rengek Jea, gadis itu berenti berjalan dan memegang pergelangan kakinya yang sakit.
Louis pun kembali berjalan ke arah Jea dan menggendong gadis itu ala bridal style, "ngerepotin," ucap Louis. Jea yang kaget pun hanya bisa diam digendongan Louis. Lelaki itu berjalan memasuki lift dan menurunkan Jea dengan tiba-tiba membuat Jea lagi-lagi memekik, "jahat!" umpat gadis itu.
Louis tak memperdulikan Jea, lelaki itu menekan tombol lift. Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka. Louis berjongkok dan menggendong Jea lagi, membuat gadis itu terdiam. Jantung mereka berdua berdetak kencang, entah kenapa, mungkin karena mereka sedang berdekatan.
Louis menatap lurus ke depan sementara Jea menatap Louis dengan tatapan memuji. Louis ganteng, batinnya.
"Nggak usah natap gue kayak gitu," kata Louis membuat Jea mengalihkan pandangannya. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rooftop. Jea pun terpukau dengan pemandangan langit yang berisi bintang bertebaran.
Louis menurunkan Jea perlahan-lahan. "Lain kali kalau enggak bisa pakai kostum kayak gini, jangan sok-sokan. Bikin repot orang," gerutu Louis. Lelaki itu berjalan ke ujung rooftop.
"Dih, gue kan pengen jadi cewek," kata Jea sambil menyusul Louis.
"Emang sekarang lo jadi apa? Hantu?" ejek Louis membuat Jea mencibir kesal.
"Tau ah, bodo, mending gue pulang sama Bastian," kata Jea lalu mengambil ponselnya yang ada di tasnya. Dengan cepat Louis merampas ponsel milik Jea dan memasukkan ke kantong celananya, "ihh, Louis, balikin," ucap Jea.
Louis tak memperdulikkan gadis itu, Louis duduk lesehan di pojok tembok, "lo tau nggak kalau langit malam itu indah banget kalau kita lihat dari rooftop," kata Louis sambil menatap langit yang sudah semakin gelap.
Jea ikut duduk di sebelah Louis, namun Jea kesulitan duduk karena dressnya yang semakin pendek ketika ia duduk, "nyebelin banget," gerutu Jea kesal.
Louis pun menatap Jea, sebelum akhirnya lelaki itu melepaskan jaket kulitnya, "nih," kata Louis sambil menyerahkan jaketnya.
Jea pun menerima jaket itu untuk menutupi pahanya yang terlihat, "makasi," ucapnya. Setelah itu tak ada yang bersuara, mereka sama-sama terhanyut dalam suasana sunyi hingga akhirnya Jea membuka suara, "Louis, gue mau nanya," kata Jea.
Louis melirik Jea sebentar, lalu kembali menatap langit yang bertaburan bintang-bintang, "iih, Louis, dengerin gue dulu," kata Jea sambil menggoyang-goyangkan bahu Louis. Lelaki itu pun terpaksa menatap Jea, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa lo cuek banget? Dan juga nyebelin?" tanya Jea.
Louis mengerutkan keningnya, "enggak tuh, gue biasa aja," ucap Louis.
"Tuh kan nyebelin lagi," gerutu Jea.
"Sekarang gue tanya, kenapa lo nggak bisa berhenti bawel?" tanya Louis kepada Jea.
"Gue enggak bawel, tapi lo nya aja yang nyebelin. Coba lo enggak nyebelin pasti gue enggak bawel," ujar Jea.
"Tuh kan bawel lagi," kata Louis.
Setelah itu tak ada suara lagi dari mereka berdua, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing dengan mata tertuju pada langit yang makin gelap. Tanpa sadar Jea mulai menutup matanya, gadis itu menyenderkan kepalanya di bahu milik Louis. Louis yang merasa bahunya berat pun menoleh ke samping.
Tanpa sadar Louis tersenyum tipis ketika melihat wajah damai Jea ketika tertidur. Udara malam menerpa kulit keduanya, membuat rambut mereka teracak. Perlahan-lahan mata Louis terpejam. Mereka berdua tertidur di sana dengan senyum menghiasi di kedua wajah mereka.
◇◇◇◇◇
Cahaya matahari membangunkan gadis yang tengah tertidur itu. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya gadis itu tersadar akan suatu hal. Ini bukan kamarnya. Karena memang dia tidak berada di kamar, melainkan di roftof.
Jea mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu Louis. Gadis itu menatap sekelilingnya dan dia sadar akan sesuatu. Jea tertidur bersama Louis di roftof hotel sampai pagi. Wow, itu benar-benar menakjubkan, sekaligus mengerikan, kalau sampai ada orang yang melihat mereka di sini, pasti orang itu akan menganggap mereka melakukan hal yang negatif.
Jea menatap Louis yang masih tertidur. Lucu. Sangat berbeda ketika ia sudah terbangun. Perlahan-lahan Jea menepuk pipi Louis, membuat lelaki itu bergumam pelan. "Lou, bangun!" pinta Jea. Lelaki yang disebutkan namanya itu hanya membuka matanya, lalu kembali memejamkannya.
"Louis, bangun, kita ketiduran di roftof," cetus Jea pada akhirnya. Louis pun seketika terbangun, lelaki itu langsung berdiri.
"Kita ketiduran di sini?" tanya Louis tak percaya. Jea pun mengangguk pelan. "Berdua?" tanya Louis lagi, dan kembali Jea menganggukkan kepalanya. "Tanpa ada siapapun?" tanya Louis lagi.
Jea yang gemas pun bangun dari duduknya, "Iya, kita ketiduran di rooftof, berdua tanpa ada orang lain," ujar Jea.
"Oh."
"Astaga, tadi lo yang nanya banyak ke gue, dan sekarang setelah gue ngejelasin panjang kali lebar tambah tinggi dibagi dua, eh kok jadi rumus sih. Ya pokoknya gitu, dan lo Cuma nanggepin dengan satu kata yang singkat, padat dan enggak jelas?!" protes Jea sambil melotot kea rah Louis.
Louis hanya mengangkat bahunya tak peduli. Lelaki itu mengambil jaketnya yang berada di tangan Jea, lalu memakainya. Dan setelah itu lelaki itu pergi berjalan menuju pintu roftof. "Louis lo mau kemana?" tanya Jea sedikit berteriak. Tak ada jawaban. Dengan terpaksa Jea mengejar Louis yang semakin menjauh. "Louis tungguin!" teriak Jea.
Jea terus berjalan mengejar Louis, hingga akhirnya Jea bisa meraih tangan lelaki itu, "kenapa sih lo suka banget ninggalin gue?" tanya Jea.
"Kenapa lo suka banget ngikutin gue?" Louis balik bertanya.
"Dimana-mana ya, cowok yang ngejar ceweek, bukan sebaliknya," kata Jea.
"Itu lo tau, kenapa lo masih ngejar gue?" tanya Louis. Seperti ada sesuatu yang menyambar Jea saat itu.
Hening
Seakan keduanya tak mau mengeluarkan suara. Hingga akhirnya Louis berkata, "nggak usah inget ucapan gue yang tadi. Gue mau pulang, kalau lo mau ikut, silahkan," kata Louis, lalu pergi meninggalkan Jea.
Jea hanya bisa mematung. Setetes air mata jatuh dari matanya, entah kenapa. Kenapa gue harus nangis? Please deh, gue ngejar Louis cuma karena taruhan gue sama Mama, enggak lebih! Jadi kalau dia ngomong kayak gitu kenapa gue harus baper kayak gini? Batin Jea. Gadis itu mengusap air matanya dan kembali mengejar Louis yang semakin menjauh.
Yang Jea tau dia hanya mengejar Louis karena taruhan dari Mamanya.
Yang Louis tau dia hanya menjauhi Jea karena tidak suka akan keberadaan Jea didekatnya.
Tetapi yang mereka berdua tidak tau ada seseorang yang mengejar karena perasaan yang mulai tumbuh dan ada seseorang yang menjauh karena tak mau mengakui perasaannya. Atau mungkin dua orang itu tau akan hal itu, namun mereka berpura-pura tidak tau.
Yang pasti mereka berdua mengelak atas apa yang mereka rasakan saat ini. Dan kita lihat saja bagaimana akhirnya ketika dua orang yang memiliki perasaan tertentu, namun keduanya tak mau mengakui.