Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kendali
Sudut Pandang Dante
Malam itu tak membuahkan apa-apa. Tak ada yang membuahkan hasil. Kami mengelilingi seluruh kota. Jason mencoba melacak nomornya. Panggilan. Lokasi. Apa pun. Nihil. Seolah orang itu sekadar… tak eksis.
"Profesional," komentar Jason di dalam mobil. "Atau punya perlindungan kuat."
Aku tak menjawab. Karena aku sudah tahu. Kesalahan semacam ini… tak terjadi begitu saja.
Kami menuju klub. Tempat Rebecca bekerja. Kuminta akses ke rekaman kamera. Uang menyelesaikannya dengan cepat. Tapi percuma. Rekaman malam itu… sudah lenyap. Terhapus. Bersih. Tanpa jejak.
Rahangku mengeras.
"Dia sudah bersiap sejak awal," ucap Jason. "Tahu kau bakal mengejarnya."
Tentu ia tahu. Ini hanya mengonfirmasi satu hal. Semua ini bukan kebetulan. Ini terencana. Dan seseorang… punya kepentingan langsung padanya. Atau pada mereka.
Kami kembali. Tanpa jawaban. Tanpa nama. Tanpa wajah. Dan itu… mengusikku lebih dari seharusnya.
Sudah lewat tengah malam saat aku masuk ke rumah. Senyap. Semua lampu mati. Sebagaimana seharusnya. Tapi tak sepenuhnya kosong. Lampu dapur menyala.
Aku melangkah ke sana. Dan menemukannya. Rebecca. Membelakangiku. Mengenakan kaus longgar. Dan celana pendek… yang terlalu pendek.
Aku terhenti sesaat. Pandanganku menyapunya. Dari atas ke bawah. Cepat. Tapi tak cukup cepat. Dan itu membuatku kesal. Bukan padanya. Melainkan pada reaksiku sendiri.
"Tak bisa tidur?"
Suaraku memecah ruangan. Ia terkesiap. Berbalik cepat. Tangannya langsung menekan dadanya.
"Ya Tuhan—" Ia menarik napas panjang. "Kau nyaris membuatku mati jantungan."
Kuabaikan. Aku bersandar di meja dapur.
"Gambarkan dia." Aku langsung ke inti.
Ia mengerjap. Masih pulih dari kagetnya. "Apa?"
"Pria itu," ulangku. "Aku mau setiap detail yang kau ingat."
Ia diam sejenak. Berpikir. Menata. "Tinggi," ia memulai. "Kira-kira setinggi kau."
Aku melipat tangan.
"Rambut gelap. Selalu rapi. Tatapannya…" Ia ragu. "Aneh."
Alisku sedikit berkerut. "Aneh bagaimana?"
"Seolah dia sudah tahu segalanya," jawabnya. Pelan. "Seolah dia selalu selangkah di depan."
Itu tak kusukai. Sama sekali.
"Dia pernah menyentuhmu?" tanyaku. Nadaku lebih keras.
Ia langsung menggeleng. "Tidak. Tak pernah. Tapi dia sempat cukup dekat."
Aku mengangguk perlahan. Menyimpan tiap detail. Tiap kata. Tiap reaksi.
"Besok pagi," kataku. "Kita lihat sekolah barunya."
Ia menatapku. Terkejut. "Secepat itu?"
"Semakin cepat, semakin baik," jawabku. Tanpa ruang untuk berdebat.
Aku menjauh dari meja. Siap pergi. Tapi aku terhenti. Kembali menatapnya. Dan kali ini… aku tak bisa menahannya. Pandanganku turun. Naik. Lambat. Terkendali. Tapi langsung.
"Kau tak sepatutnya berkeliaran di rumah begini," kataku. Suaraku lebih rendah. Lebih tertahan. "Dengan celana pendek itu."
Keheningan turun. Berat. Pekat.
Aku tak menunggu jawaban. Tak perlu. Aku berbalik. Dan menaiki tangga. Tanpa menoleh ke belakang. Namun dengan satu kepastian yang mengganjal di benakku.
Situasi ini… sudah mulai lepas kendali. Dan bukan cuma karena pria yang mengincarnya.