Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Udara malam entah mengapa terasa jauh lebih dingin dari biasanya, menusuk hingga ke tulang. Di balik kepekatan langit malam, siluet sosok-sosok misterius mulai bergerak lincah. Mereka berwujud manusia, namun mampu terbang dan menggelayut di dinding gedung serta dahan pohon besar tanpa bersuara. Di tengah jalanan yang ramai, beberapa dari mereka berlari santai tanpa disadari oleh manusia biasa, berkat aura khusus yang menyelimuti tubuh mereka.
Sambil bergerak, makhluk-makhluk itu saling melempar kode. Berbondong-bondong dari segala penjuru, gerombolan berpakaian hitam rapat itu bergerak menuju satu titik: sebuah puncak gunung. Di sana, berdiri tegak sebuah siluet yang familier bagi mereka. Sosok yang selalu memancarkan aura mengerikan, namun di mata seseorang, aura itu adalah satu-satunya pelindung yang ia cari.
Wuuusssshhhhh!
Tap!
Sesosok bayangan mendarat dengan keanggunan yang terlatih tepat di belakang pria misterius itu. Sambil menekuk kaki kanan dan memposisikan tangan di depan dada, Max memberikan penghormatan tertingginya. Namun, di balik kain yang menutupi mulutnya, napas Max berembun cepat. Bukan hanya karena dinginnya malam, tapi karena jantungnya yang berdegup kencang setiap kali berada dekat dengan pria itu.
My Lord... we are at your service!
"Tuan... kami menghadap!" ucap Max dengan suara rendah yang sedikit bergetar.
We were deeply surprised to find you here.
"Kami sangat terkejut Anda berada di sini."
Sosok dengan aura mengintimidasi itu mendadak menoleh. Tekanan energinya yang begitu pekat seketika menguar, memaksa siapa pun di dekatnya untuk tunduk. Namun bagi Max, getaran di lututnya malam ini bukan hanya karena takut, melainkan karena tatapan tajam sang Tuan yang seolah langsung menembus ke dalam jiwanya. Pria di puncak gunung itu mengkerutkan kening, menatap Max lekat-lekat.
I had no intention of meeting you,
"Aku tidak bermaksud menemui kalian," desis sang Tuan dingin. Namun, langkah kakinya justru mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Max bisa mencium aroma kayu cendana dan angin malam dari jubah sang Tuan.
Pria itu merendahkan tubuhnya, menatap sepasang mata Max yang gelisah.
But... you've noticed it too, haven't you?
"Namun... kalian menyadarinya juga, kan?"
Mendengar bisikan yang begitu dekat, Max hanya bisa mengangguk patuh. Matanya terkunci pada manik mata sang Tuan yang berkilau di kegelapan. Untuk sesaat, ketatnya dunia luar seolah lenyap. Max langsung memberikan isyarat tangan kepada anggota kelompok lain yang bersiaga di kejauhan agar tetap di posisi, memberikan mereka privasi yang tak tertulis.
Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh sekilas ujung pelipis Max, membenarkan posisi kain penutup wajah bawahan setianya itu dengan gerakan yang teramat lembut, kontras dengan auranya yang membunuh.
You know what must be done, Max!
"Kau tahu apa yang harus dilakukan, Max!" perintah sang Tuan lagi, suaranya kini melunak, menyisakan nada perlindungan yang hanya bisa didengar oleh Max.
Go... if you truly understand the situation! Please, stay safe.
"Pergilah... jika kau memang mengerti situasinya! Tolong, jaga dirimu."
Sentuhan singkat itu meninggalkan rasa hangat yang membakar di kulit Max. Ia mengangguk dalam, menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya di balik kain hitam.
Understood, My Lord. I shall take my leave!
"Baik, Tuan. Saya undur diri!"
Wuuusssshhhhh!
Dalam sekejap mata, Max melompat pergi diikuti oleh seluruh pasukannya, lenyap ditiup angin malam.
Kepergian gerombolan itu meninggalkan sang Tuan seorang diri di puncak gunung. Di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan, angin malam mempermainkan rambutnya. Ia menatap ke arah perginya Max dengan pandangan yang tak lagi dingin, melainkan dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. Jari-jari yang tadi menyentuh Max kini mengepal kuat. Ia menggertakkan gigi dan berdecak kesal pada dirinya sendiri yang gagal menyembunyikan rasa peduli.
"Tck!"
Sang Tuan berbalik, menantang malam, berharap angin menyampaikan rasa rindunya yang belum sempat terucap.
...****************...
Arien adalah sosok yang sangat familiar di pasar tradisional itu. Kesehariannya dihabiskan dengan berkeliling dari satu blok ke blok lain. Sifatnya yang supel membuat seluruh penghuni pasar mengenalnya. Mereka sudah terbiasa melihat Arien berjalan ke sana kemari menawarkan menu dari warung nasi milik Ibu Bos, tempatnya mengais rezeki.
Siang itu, Arien sedang melepas lelah. Ia duduk bersandar sambil bercanda ria dengan salah seorang temannya. Tawa mereka begitu lepas, bahkan sesekali terdengar renyah hingga ke blok pasar seberang.
Di tengah keasyikan mereka, tiba-tiba sang teman membuat kegaduhan karena sebuah "panggilan alam" yang sudah tidak bisa ditunda lagi kedatangannya.
Yeuh ... duit urut dahar! Sabarahaeun?
"Nih ... uang makan tadi! Berapaan?" tanya temannya dengan wajah yang mulai memucat.
Melihat temannya yang tiba-tiba gelisah dan hendak melangkah pergi, Arien berseloroh,
Ek kamana atuh kot rurusuhan? Urang geus nyantei, maneh ngadon indit!
"Eh, mau ke mana kamu buru-buru? Aku sudah santai, kamu malah mau pergi!"
Temannya yang sudah tidak karuan menahan rasa mulas di perutnya langsung menyodorkan selembar uang. Ia menyuruh Arien cepat-cepat memberikan kembalian.
Geuwat pulangan heula duitna ...! Hayang ngising yeuh urang teu kuat ...!
"Cepat balikin kembaliannya ...! Pengen buang air besar nih, gue enggak kuat ...!" seru temannya panik.
"..."
Arien syok seketika mendengar jawaban polos dari salah satu teman sepasarnya yang sama sekali tidak ada jaim-jaimnya itu.
Nu gelo! Teu sopan, lebar atuh geus dahar ngadon dipiceun deui mah!
"Orang gila! Enggak sopan, kan sayang makanan sudah dimakan malah dibuang lagi!" omel Arien sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Arien segera memeriksa isi kantong kresek yang terdapat buku pesanan milik temannya tersebut. Sambil menghitung total harga makanan, Arien meraba saku mencari uang kembalian.
Nu pas duitna, teu boga receh!
"Uang pas saja, enggak ada recehan!" sahut Arien kepada temannya sambil menyeringai keheranan melihat kelakuan sang teman yang dirasa makin gila.
Belum selesai Arien dengan bercandaannya, kegilaan lain kembali keluar dari mulut temannya itu.
Isuk deui we angsul dua rebu mah, urang nunda saham! Haling geus teu kuat, bisi busiat yeuh!
"Besok lagi saja kembalian dua ribunya, anggap aku simpan saham! Awas, sudah enggak kuat nih, takut keluar di celana!" tutur temannya sambil bersiap mengambil langkah seribu.
Sebelum benar-benar berlari, temannya masih sempat menoleh dan bertanya,
Ek milu ...?
"Mau ikut ...?"
Candaan mereka berdua memang tidak ada otak dan di luar kewajaran, namun justru hal konyol seperti itulah yang selalu berhasil mencairkan suasana. Arien tertawa terpingkal-pingkal dalam hati. Ia heran sendiri, bagaimana bisa ia berteman dengan orang seaneh itu.
Nu burung ...! Hahaha ...!
"Orang gila ...! Hahaha ...!" teriak Arien melepas kepergian temannya.
^^^Bersambung...^^^
semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Tapi .. ya gitulah🤣🤣