Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencuri
Tetapi mereka terus saja menapaki anak tangga, dan tiba di atas rumah.
"Periksa semuanya..." titah Pak Taslim dengan wajah dingin.
Tatapannya menyapu lantai yang tersapat tetesan air yang berasal dari rambut basah, dan menuju ke dalam kamar.
Saat yang lain memeriksa rumah betang hingga ke dapur. Pak Taslim justru melangkah menuju kamar. Ia berdiri di depan pintu. Menatap lama dengan dada yang sesak.
Ia ingin menarik handle pintu.
"Tidak!" Arkan tiba-tiba membentangkan tangannya untuk menghalangi tindakan Pak Taslim.
Pria yang mengenakan peci hitam itu membeliakkan kedua matanya.
Saat bersamaan, dua orang warga datang menariknya paksa dari depan pintu.
Arkan tersentak kaget. Ia bersikukuh mempertahankan dirinya untuk tidak beranjak.
Lalu datang dua orang lagi. Kemudian menariknya dengan paksa, hingga menyingkir.
Pak Taslim dengan cepat menarik handle pintu.
Tak!
"Tidak...." teriak Arkan dengan panik. dan...
Traaaaak!
Pintu terbuka lebar.
Dunia Arkan seakan terhenti. Nafasnya tersengal. Bayangan kematian untuk Dayang Sari berada di depan matanya.
Pak Taslim menoleh ke arahnya. Tatapannya sangat dingin.
Arkan menggelengkan kepalanya. Dadanya terasa sangat sesak. Tulangnya seolah melunak, hingga ia luruh ke lantai.
Pak Taslim memutar tubuhnya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
Dunia Arkan seolah melambat. Keringat singin mengalir dari sudut pelipisnya.
Tubuh Pak Taslim menghilang si balik pintu.
Warga lainnya menatap ke arah kamar, hingga terdengar suara Pak Taslim menuju keluar.
Saat pria itu muncul, ia mengangkat sebuah benda dan memperlihatkannya ke arah warga.
Sebuah bantal karakter spongebob yang ia temukan.
Sontak warga tercengang, dan menatap ke arah Arkan. Lalu mereka tertawa bersamaan.
"Arkan...Arkan. Ternyata kau menyembunyikan benda ini..." Pak Taslim melemparkan bantal bulu angsa tersebut ke arah Arkan.
"Ayo... Kita balik. Besok ronda lagi." ajak Pak Thamrin yang baru saja muncul dari arah dapur.
Warga lainnya mengangguk, dan mereka bergerak pulang.
Setelah warga menjauh. Arkan langsung menutup pintu, dan ia bersandar di daun pintu dengan degupan jantungnya yang memburu.
"Kemana Dayang Sari?" gumanya dengan sangat pelan. Ia langsung bergegas menuju kamar. Ia memeriksanya. Tetapi tidak ada satupun yang ia temui.
"Kemana Dayang Sari?" gumamnya lagi. Ia mencari hingga ke dalam lemari. Tetapi tak ada yang ia temukan.
Namun ia merasa lega, sebab Dayang Sari dan dirinya terhindar dari petaka.
****
Srrrk!
Srrrk!
Seseorang berjalan menembus semak belukar di tengah malam yang gelap, dan wajahnya terlihat pucat.
Langkahnya terus di percepat, dan ia sengaja mencari jalan potong, sebab tak ingin ada yang memergokinya.
Sesemakan bergoyang saat ia menerobos tanpa mengindahkan luka goresan dar8 tumbuhan daun yang tajam, dan juga batang berduri.
"Atok... Aku tidak mau..." ucapnya dengan bibir tang gemetar.
Sementara itu, dikamar yang gelap. Hanya ada cahaya dari dupa dan juga anglo yang masih membara dengan taburan kemenyan yang menghasilkan aroma kuat dan menyengat.
Damang Jaya sedang duduk bersila. Tubuhnya basah oleh keringat.
Di depannya mangkuk berisi air yang berwarna merah.
Tangannya mengangkat duhung, sebuah belati senjata tertua di Kalimantan. Runcing di bagian ujung, lebar di tengah, dan ramping pada bagian pangkal.
Ia menusuk ubun-ubunnya sendiri menggunakan ujung duhung.
JLEB!
Darah menetes ke mangkuk. Air merah semakin pekat.
"Maafkan Atok... Dayang." bisiknya.
Dari cermin, muncul wajahnya sendiri. Tapi matanya . Mulutnya berkomat kamit membaca mantra.
TOK TOK!
Suara ketukan terdengar di pintu.
"Atok! Buka!" Itu suara Dayang Sari. yang sedang menangis.
Damang Jaya tak menjawab. Dia mengangkat mangkuk. Kemudian meminum darah tersebut.
GLUUUK!
Begitu minum, tiga garis cakar di lehernya langsung hilang. Luka di ubun-ubunnya menutup.
Tapi dari dadanya keluar asap hitam. Bentuknya seperti bayi yang sedang menangis.
Damang Jaya memegang kepala. "Aku sudah beri tiga! Itu sudah cukup!"
"Belum! masih ada sembilan puluh enam lagi! Kau harus menyempurnakannya! Atau kau yang akan jadi tumbal!"
BRAAAK!
Pintu didobrak dari luar.
Dayang Sari masuk. Matanya sembab. Ia melangkah menuju kamar sang Atok.
Kreeek!
Pintu kamar di buka. Saat bersamaan, Damang Jaya berdiri dengan senyum tenang.
"Atok, apa yang kau lakukan? Mengapa kau memaksa aku?!" ucapnya dengan nafas tercekat.
"Kau bisa apa?" tantangnya lagi. "Aku akan menahan semuanya. Tetapi Arkan akan mati? Kau ingin melihatnya mati?" Damang Jaya balik menyerang mental sang cucu.
Dayang Sari jatuh terduduk. "Atok... tolong putuskan kutukan ini... Atok..." ucapnya, sembari terisak.
Pundaknya terguncang, karena memikul beban yang cukup tinggi.
Damang Jaya menatap sang cucu. Matanya sudah normal lagi. Tapi bibirnya ada tampak darah.
"Sari... lari... Atok gak bisa nahan lagi..."
"JANGAN!" Dayang Sari merangkak. "Atok bilang kalung ini buat melindungi aku!"
Dia tarik kalung manik hitam dari lehernya.
Begitu kalung itu lepas...
WUUUUSSSHH!
Angin kencang.langsung bertiup. Lampu mendadak mati.
Damang Jaya teriak. Tubuhnya kejang. Dari mulutnya keluar asap hitam.
Asap itu langsung nembus atap dan keluar.
"Tumbal keempat..." gumam Damang. "Cari... di rumah Uhung..."
"Atok..." teriaknya dengan suara tertahan.
Dadanya seolah remuk. Sebab ia tidak tahu harua berbuat apa lagi.
****
Waktu memperlihatkan pukul satu malam. Di rumah Uhung, tampak seperti biasanya. Warga sudah tertidur pulas
Pria itu tampak lelah, sebab baru saja pulang meronda.
Kakinya bahkan masih tertempel lumpur.
Tiba-tiba lampu rumah mereka mati.
Dari kamar bayi, terdengar suara.
GUK... GUK...
Itu suara sedotan.
Una langsung berlari. "DEDEK!!" pekiknya.
Di dalam kamar, bayi berusia delapan bulan sedang tak bergerak. Ubun-ubunnya kembali di hisap oleh satu sosok yang sangat mengerikan dan memiliki gigi runcing sedang menyedot ubun-ubun sang bayi.
Di atasnya melayang kepala Damang Jaya. Tanpa badan. Ususnya menjuntai dan melayang di udara.
Mulutnya sudah nempel di ubun-ubun bayi.
"BERHENTI!!" teriak Uhung dengan geram.
Dia mengambil mandau, lalu mengarahkannya ke arah sosok mengerikan itu..
Uhung melempar ke kepala Kuyang.
Traaak!
Sosok Kuyang melesat cepat, dan tanpa di suga, ia berputar arah, dan mengelabui lawannya.
Traaak! Ujung mulutnya menggigit pakaian Uhung," belum selesai pria itu melalukan perlawanan, Kuyang menyeretnya keluar dari rumah. Lalu menyeretnya menuju hutan.
"Lepasin! Dasar Iblis! Makinya.
Tetapi sosok itu tak melepaskannya, dan terua membawanya menuju hutan yang cukup gelap dan lebat.
Setelah jauh melayang, ia melemparkan tubuh Uhung ke dahan pohon.
Braaaak!
Karena terlalu cukup keras. Dada Uhung langsung sesak. Sebab bagian dasanya menghantam dada bagian kirinya.
Ia tersangkut di sahan dengan kepala menghadap ke bawah.
Uhung berteriak. Tetapi suaranya sangat pelan. Ia sudah sangat kritis, dan jaraknya sekitar empat puluh lima meter ke bawah.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.