Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Harga sebuah kesaksian
Puk!
Sebuah tendangan keras menghantam perut pemuda itu. Tubuhnya terlempar menghantam tumpukan karung gandum. Ia meringis kesakitan, memegangi perutnya seraya terus menggeleng pasrah.
"Ampun, Pak... saya sama sekali tidak mencuri..."
Salah seorang prajurit melangkah maju, merenggut rambut pemuda itu hingga kepalanya mendongak. "Masih berani membantah?"
"Saya benar-benar tak—"
Plak!
Tamparan keras memotong kalimatnya seketika.
Para kuli di sekitar tempat itu hanya sanggup menundukkan kepala. Tak seorang pun berani pasang badan. Mereka tahu betul kedua perwira itu bukan sekadar penjaga gudang biasa, melainkan prajurit kepercayaan Wiradipa.
Jayengrana melangkah tenang mendekati kerumunan. Giman menahan lengannya dengan cemas.
"Saka... jangan," bisik pemuda itu.
"Tenanglah," sahut Jayengrana pelan seraya menepuk bahu Giman. "Aku hanya ingin meluruskan keadaan."
Ia menghentikan langkah dalam jarak beberapa tindak dari kedua prajurit. "Permisi, Pak."
Kedua prajurit itu berbalik dengan sorot mata gusar. "Mau apa kau?"
"Jika pemuda ini dituduh mencuri..." ucap Jayengrana rendah, "...di mana gerangan barang bukti yang ia ambil?"
Prajurit yang memegang senjata mendengus kasar. "Itu bukan urusan kuli seperti kalian!"
Jayengrana mengangguk samar. "Memang bukan. Namun menetapkan sangkaan tanpa barang bukti tentu terasa janggal."
Prajurit yang lebih tua maju mendesak. "Kau berniat mengajari kami cara menegakkan aturan?"
"Saya hanya mengutarakan pertanyaan sederhana."
Jayengrana membangkitkan Naluri Niat. Seketika itu pula gelombang emosi terhampar di benaknya.
Prajurit pertama dipenuhi amarah yang meluap. Sedangkan prajurit kedua... dilingkupi kegelisahan yang amat pekat. Sensasi itu bukan lahir dari rasa takut kepada Jayengrana, melainkan kecemasan kalau-kalau perbuatan jahat mereka terungkap.
Jayengrana paham seketika. Matanya menyapu deretan karung gandum hingga tertuju pada gerobak kayu yang terparkir di pojok ruangan.
Di atas ubin batu, beberapa bulir gandum berceceran membentuk jalur tipis menuju sebuah peti kayu tertutup. Jayengrana mengayunkan langkah mendekati peti tersebut.
"Hei!" bentak prajurit itu. "Siapa yang mengizinkanmu bergeser?"
Jayengrana tak mengindahkan gertakan itu. Ia mengangkat penutup peti kayu.
Di dalamnya, tersusun rapi beberapa kantong gandum tebal—jumlah yang terlalu banyak untuk sekadar konsumsi pribadi.
Sang mandor gudang serta-merta membelalakkan mata. "Itu... itu bukan kantong serah terima gudang!"
Jayengrana menatap kedua prajurit itu secara bergantian. "Kalian sibuk memburu pencuri. Lantas bagaimana kantong-kantong gandum ini bisa tersembunyi di sini?"
Kedua perwira itu saling lempar pandang. Naluri Niat kembali memancarkan gejolak emosi mereka yang kini berubah menjadi kepanikan murni.
Prajurit pertama mencabut pedangnya seraya menunjuk Jayengrana. "Dia berbohong! Kuli ini yang sengaja menyembunyikannya di sana!"
Beberapa pekerja mundur ketakutan melihat bilah tajam berkelebat. Jayengrana tetap bergeming, menatap perwira itu dengan raut tenang tanpa cela.
"Jika saya pelakunya, untuk apa saya sendiri yang menunjuk lokasi persembunyian ini di depan semua orang?"
Pertanyaan lugas itu membungkam suasana gudang. Sang mandor pun mengangguk-angguk setuju—logika bersahaja itu terlampau jelas untuk dibantah.
Saat ketegangan berada di puncak, suara berat bernada tenang bergaung dari arah pintu masuk.
"Ada keriuhan apa di sini?"
Seluruh pasang mata menoleh. Rakai Sindura melangkah masuk didampingi dua pengawal pribadi.
Sang mandor buru-buru membungkuk hormat dengan tubuh gemetar. "P-Pak Rakai..."
Rakai Sindura melirik peti yang terbuka, lalu mengalihkan pandangannya pada kuli muda yang terbaring babak belur. "Jelaskan padaku apa yang terjadi."
Sang mandor memaparkan kronologi kejadian secara jujur—tanpa mengurangi maupun menambahkan fakta. Rakai Sindura menyimak tiap detail hingga tuntas sebelum beralih menatap kedua prajuritnya.
"Atas perintah siapa kalian memborgol pemuda ini?"
Kedua perwira itu mendadak mengunci mulut.
"Jawab."
"...Kami... kami hanya mencurigai tindak-tanduknya, Pak."
"Kecurigaan tanpa bukti bukan dasar penangkapan," tegas Rakai Sindura dingin, membuat kedua perwira itu tertunduk dalam.
Ia mengibaskan tangan ke arah kuli yang tersungkur. "Lepaskan rantainya."
Borgol besi itu segera dibuka. Rakai Sindura lantas memutar pandangan, mengunci tatapannya pada Jayengrana.
"Siapa namamu, Anak Muda?"
"Saka," sahut Jayengrana seraya menundukkan pandangan.
"Kau yang mencermati jejak ceceran ini?"
"Benar, Pak."
Rakai Sindura mengangguk pelan. "Pengamatanmu cermat. Sikap seperti itu amat langka."
Ia berbalik hendak meninggalkan kompleks gudang. Namun sebelum melangkah lebih jauh, ia menambahkan tanpa berpaling, "Mulai besok... pindahkan tugasmu ke area dalam. Kau diperbantukan di bagian pencatatan logistik."
Seluruh kuli di lorong gudang terperangah. Posisi pencatatan merupakan divisi krusial yang hanya dipercayakan pada orang-orang pilihan kerajaan.
Jayengrana membungkuk hormat. "Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."
Begitu rombongan Rakai Sindura berlalu, Giman berlari menghampiri Jayengrana dengan mata berbinar. "Saka! Kau benar-benar luar biasa!"
Jayengrana hanya menyunggingkan senyum tipis.
Di saat yang sama, tanda perjanjian di dadanya kembali menyengat hangat. Namun kali ini, Penunggang Perjanjian tak melontarkan sepatah kata pun.
Jayengrana duduk menyendiri di dalam kamar sempit belakang warung Mbok Sari. Di atas meja kayu yang lapuk, hanya ada sebuah lampu minyak berjelaga, segelas air putih, dan tombak pusakanya yang terbungkus kain rapat-rapat.
Kemajuan hari ini terbilang melampaui perkiraannya. Langkahnya menerobos lebih dalam ke dalam struktur gudang kerajaan makin terbuka lebar—membuka akses yang lebih dekat menuju benteng batu rahasia tersebut.
Saat pikirannya tengah menimbang strategi berikutnya...
Tanda perjanjian di dadanya berdenyut pelan. Sekali. Lalu berulang dua kali.
Bisikan Penunggang Perjanjian mendadak merayap halus.
"Hari ini... kau sejatinya sanggup mencabut nyawa dua prajurit itu dalam sekejap."
Jayengrana memejamkan mata sejenak. 'Mereka pantas mendapatkan balasan atas kezalimannya.'
"Benar," sahut suara gaib itu. "Namun kau memilih jalan untuk menyingkap kebohongan mereka."
Jayengrana bergeming. Ia memang sempat berniat mematahkan lengan kedua perwira itu saat melihat kelakuan mereka. Namun amarah yang dibutakan tak akan pernah menyelesaikan masalah. Bila ia mengamuk, penyamarannya sebagai "Saka" akan berujung berantakan dalam sekedip mata.
"Garis perjanjian ini kembali mencatat tindakanmu."
Sensasi hangat di dadanya menyebar perlahan—tak segejolak saat ia memperoleh Topeng Jiwa, melainkan mengalir lembut menyerupai usapan air hangat.
"Simpul ketiga..." Suara itu jeda sejenak. "...mulai melonggar sedikit."
Jayengrana mengernyitkan dahi. 'Hanya sedikit?'
Terdengar dengus tawa tipis yang mengaung di relung benaknya. "Pohon pelindung tidak akan menjulang setinggi gunung dalam waktu semalam."
'Apakah itu berarti ada kemampuan baru yang terkoyak?'
"Belum purna. Hanya pecahan kecilnya."
Jayengrana sudah terbiasa dengan retorika berbelit makhluk gaib tersebut. 'Kemampuan apa yang kau maksud?'
Keheningan melingkupi ruangan selama beberapa saat sebelum Penunggang Perjanjian kembali berbisik.
"Mata Pemburu."
Jayengrana mengulang nama itu dalam batinnya. 'Apa gunanya?'
"Tataplah pendar api di hadapanmu."
Jayengrana mengalihkan pandangannya pada lampu minyak di atas meja. Nyala api mungil itu bergoyang pelan diterpa angin malam yang menerobos celah dinding.
"Sekarang... pusatkan fokus perhatianmu."
Jayengrana menuruti petunjuk itu.
Beberapa detik berlalu, lalu secara mendadak... pandangannya menajam drastis. Nyala api yang semula remang mendadak tampak begitu nyata, bahkan butiran jelaga halus yang melayang naik dari ujung sumbu bisa ia amati dengan teliti.
Ia menggeser fokusnya ke dinding bambu di sudut kamar. Di sana, ia sanggup mendeteksi seekor semut kecil yang merayap di sela-sela anyaman bambu sejauh sepuluh langkah—padahal ruangan itu diselimuti remang malam.
Penglihatannya bergeser lagi melewati celah jendela. Di luar sana, di atas dahan pohon tinggi yang berjarak belasan tombak, sesosok burung hantu bertengger diam. Setiap lembar bulunya terlihat begitu jelas seolah berada tepat di depan matanya.
Jayengrana mengembuskan napas perlahan. 'Penglihatanku... berkembang jauh lebih tajam.'
"Ini baru retakan kecil," selak Penunggang Perjanjian. "Saat simpul ini terbuka sempurna, matamu sanggup melacak jejak-jejak terselubung yang tak bakal mampu ditangkap oleh mata manusia awam."
'Jejak seperti apa?'
"Bercak darah lapuk. Derap langkah halus. Hawa panas tubuh. Sisa pendar energi... dan banyak penanda lainnya."
Hangat di dada Jayengrana perlahan memudar. Tajam penglihatannya kembali normal seperti sedia kala. Ia mengusap kedua kelopak matanya—tak ada rasa sakit, hanya sedikit kelelahan yang menyerap.
"Jangan memaksakan penggunaannya terlampau lama. Raga manusiamu tetap memiliki batas ketahanan."
Gema suara itu menguap sepenuhnya.
Keesokan paginya...
Jayengrana resmi mengawali tugas barunya di dalam ruang pencatatan logistik.
Atmosfer ruangan ini jauh lebih tenang dibanding keriuhan halaman gudang. Rak-rak kayu jangkung berjejer rapi, dipenuhi oleh rumbia kitab catatan barang keluar-masuk.
Di sinilah indra pengamatannya menangkap sebuah ketidakwajaran.
Dalam tiga malam terakhir, selalu ada catatan mengenai satu kereta kuda yang diberangkatkan keluar dari area gudang pada tengah malam. Anehnya, kolom muatan kereta tersebut dibiarkan kosong melompong—tanpa muatan beras, tanpa persenjataan, maupun barang upeti.
Sementara pada kolom tujuan pengiriman, hanya tertera dua kata pendek:
"Gedung Utara."
Jayengrana menatap lekat-lekat tulisan di atas kertas rumbia tersebut. Ia tak asing dengan julukan itu, namun intuisinya meyakini bahwa "Gedung Utara" yang dimaksud tak lain adalah benteng batu terselubung tempat para tawanan disekap.
Ia menutup kitab logistik tersebut secara perlahan.
Kini, peta rencananya makin benderang. Kompleks itu terus menerima pengiriman terselubung setiap malamnya. Dan bila ia berniat menyusup masuk kembali tanpa memicu kegaduhan... kereta kosong itu adalah sarana penyusupan terbaik yang ia miliki.