Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau Capek, Bilang, Dong!
Selesai sholat Maghrib, Kanaya dan Yudha menikmati makan malam sambil berbincang ringan seputar pekerjaan mereka hari ini setelah cuti.
Interaksi seperti ini sangat diperlukan karena mereka baru saling kenal beberapa hari saja, agar hubungan mereka bisa lebih erat.
Yudha menanyakan bagaimana hari pertama Kanaya mengajar setelah menyandang status sebagai pengantin baru? Dia yakin, pasti banyak rekan guru dan murid yang menggoda Kanaya.
Dengan malu-malu Kanaya pun menceritakannya pada Yudha tentang hari pertama mengajar setelah menikah. Sudah pasti banyak yang meledek dan menggoda, itu adalah hal yang lumrah menurutnya dan pasti akan dialami setiap pengantin baru.
"Kamu sendiri, selain bos kamu, apa orang-orang di kantor kamu juga tahu kamu menikah?" Giliran Yudha yang mendapat pertanyaan dari Kanaya.
Yudha menggelengkan kepala lalu menjawab, "Belum, selain mereka yang diundang, memang belum ada yang tahu soal pernikahanku."
Hembusan nafas pelan lolos dari sela bibir Kanaya. Dia mengira, Yudha tak ingin statusnya yang sudah menikah diketahui oleh rekan kerjanya.
"Tapi, rencananya aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk mengumumkan pernikahan kita pada rekan kantor. Mungkin kita booking restoran untuk acara ini. Menurutmu gimana?" Yudha meminta pendapat Kanaya tentang rencana yang ingin ia buat untuk mempublikasikan pernikahan mereka pada rekan-rekan di kantornya.
Kanaya menatap Yudha lekat. "Kamu nggak malu punya istri lebih tua dari kamu?" tanyanya kemudian.
"Mungkin kamu kali, yang malu punya suami berondong?" Alih-alih menjawab, Yudha justru melempar pertanyaan serupa pada Kanaya.
Kanaya menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan seperti itu. Hanya saja, nanti pasti akan ada omongan nggak enak kalau mereka tahu kamu menikahi wanita yang lebih tua." Kanaya mengkhawatirkan Yudha, karena Yudha yang akan berinteraksi dengan orang-orang di kantornya.
"Tenang aja, yang ngadepin mereka 'kan aku, bukan kamu," jawab Yudha enteng. "Jadi gimana? Setuju, nggak?" tanya Yudha memastikan persetujuan dari Kanaya.
Kanaya mendesah dan mengedikkan bahunya, menampakkan gestur pasrah. "Terserah kamu aja, deh," sahutnya kemudian.
"Kok, parah gitu?" tanya Yudha meledek.
"Yang ambil keputusan 'kan kamu ..." Meskipun dirinya lebih tua dari Yudha, tapi mengingat Yudha sebagai suaminya, dia menghargai keputusan suaminya itu.
"Nah, itu baru benar ..." Yudha terkekeh lalu menyuap nasi ke dalam mulutnya. Dia menyukai sikap Kanaya, bersikap dewasa dan sangat perhatian. Mungkin keuntungan baginya mempunyai istri yang usianya jauh di atas usianya.
***
Wulan mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Pandangannya tampak buram, tak jelas apa yang ada di hadapannya saat ini. hanya suara mesin monitor ICU yang terdengar di telinganya. Sementara seluruh tubuhnya seakan mati rasa, tak bisa untuk ia gerakan.
"Kenapa belum sadar juga ya, Pak. Ini sudah hampir seminggu Wulan nggak sadarkan diri sejak kecelakaan."
Samar terdengar suara yang sangat familiar di telinga Wulan. Dia mengenali suara itu adalah suara mamanya. Namun, ia tidak dapat melihat di mana keberadaan mamanya saat ini.
Tenggorokannya terasa kering, mulutnya sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
"Ma ..." Setelah berusaha dicoba, akhirnya keluar juga suara yang terdengar lirih.
Nungky terkesiap dan seketika menolehkan wajahnya ketika ada suara yang terdengar pelan memanggil namanya. Matanya seketika terbelalak saat melihat gerakan mata Wulan yang mengerjap.
"Wulan? Nak, kamu sudah sadar?" Nungky menghampiri Wulan, memeluk tubuh putrinya dengan haru.
"Sus, suster!" Sementara Dicky langsung berlari ke luar untuk memanggil perawat agar mengecek kondisi Wulan setelah siuman.
Satu jam setelah Wulan sadar.
Setelah mendengar kabar dari Dicky soal Wulan yang sudah sadar, Yogi langsung kembali ke rumah sakit. Dia baru saja pulang mengantar Rayhan, adik Wulan pulang ke rumah. Dia masih belum kembali ke Jakarta, karena sebelumnya ia mengambil cuti menikah.
"Aku senang kamu udah sadar, Lan. Aku khawatir banget lihat kamu di ICU." Yogi menggenggam tangan Wulan.
"Mas ... k-kenapa ... di sini?" Dengan terbata Wulan menanyakan keberadaan Yogi, karena setahunya Yogi telah menikah.
Dia mendengar cerita dari mamanya kalau dirinya sudah hampir seminggu tak sadarkan diri. Jika benar begitu, artinya Yogi sudah menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tua Yogi.
"Aku kemari setelah papamu kasih tahu kalau kamu kecelakaan. Aku merasa bersalah, itu pasti karena aku penyebabnya. Aku minta maaf, Lan." Yogi mengecup jemari Wulan, penuh rasa bersalah.
"Per ... nikahan ...?" tanya Wulan kembali, dia masih belum tahu jika Yogi membatalkan pernikahannya.
"Aku sudah membatalkan pernikahanku, Lan. Aku nggak bisa tinggalin kamu kayak gini," ujar Yogi.
Wulan tak lagi bertanya, hanya tatapannya saja yang mengandung arti.
"Kamu tenang saja, jangan banyak pikiran. Setelah kondisi kamu membaik, kita akan menikah." Yogi benar-benar sudah bertekad menikahi Wulan.
Wulan tersentak mendengar Yogi berniat menikahinya.
"M-menikah?" tanyanya tak percaya.
"Ya, kita bicarakan nanti kalau kamu sudah pulang ke rumah ..." Yogi mengakhiri membahas soal rencananya, dia akan membahasnya nanti setelah Wulan benar-benar mendapat izin pulang dari dokter. Saat ini kondisi Wulan masih lemah dan butuh istirahat.
***
Yudha menjatuhkan tubuhnya di samping Kanaya. Mereka kembali merasakan indahnya surga dunia malam ini. Setiap ada kesempatan, Yudha selalu manfaatkan untuk memadu kasih dengan sang istri. Diharapkan itu akan memupuk rasa cinta dan sayang mereka sebagai pasangan suami istri.
Buku jari Yudha mengusap peluh yang mengembun di kening Kanaya.
"Capek, ya?" tanyanya dengan menyeringai.
Kanaya hanya mendengus seraya mengusap pinggangnya. Bagaimana tidak capek? Sejak pertama kali mereka melakukannya, setiap malam Yudha memintanya untuk melakukan kewajiban suami istri. Tentu dia tak bisa menolak karena ia pun menikmatinya. Namun, Yudha kadang tak cukup puas sekali atau dua kali dalam melakukannya, hingga dirinya cukup kewalahan meladeninya.
"Kalau capek bilang, dong. Biar aku nggak minta berkali-kali," ucapnya terkekeh, sementara jarinya kini menari di pundak mulus Kanaya.
Kanaya seketika mendelik mendengar ucapan Yudha.
"Enteng banget ngomong gitu, ya?" keluhnya seraya bangkit dan menutupi tubuhnya yang belum mengenakan pakaian. Dia ingin membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.
Yudha tertawa puas, melihat Kanaya memberengut. "Mau ke mana? Jangan ke kamar mandi dulu. Barangkali punyaku kepingin masuk lagi," kelakarnya seraya mencekal lengan Kanaya.
"Iiikkhh!!"
Kanaya mengibas tangan Yudha yang menghalanginya untuk berdiri, lalu bergegas meninggalkan kamar menuju kamar mandi, membuat Yudha kembali tertawa bahagia
❤️❤️❤️
Bersambung ...
auto mandi keramas lagi kamu nay🤣🤣
Awas Kanaya kena hukuman.tapi hukumannya yang bikin enak😁
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..