"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Cahaya yang Akan Lahir
Angin musim berganti membawa udara yang makin sejuk dan segar menyapu lereng bukit tempat kediaman mereka berdiri tenang dan damai. Langit tampak bersih berwarna biru jernih dengan gumpalan awan putih yang melayang lembut bagaikan kapas yang disisir rapi oleh tangan tak tampak. Di taman depan rumah, bunga-bunga bermekaran dengan warna-warni yang cerah, mengeluarkan aroma harum yang lembut menyebar ke seluruh penjuru. Suasana alam seakan ikut menyambut kedatangan kehidupan baru yang sedang tumbuh dengan sehat dan kuat di dalam rahim Su Yi, membawa serta harapan dan kebahagiaan yang melimpah ruah ke dalam setiap sudut rumah itu.
Su Yi kini memasuki masa-masa indah di mana kandungannya semakin tampak jelas dan membuncit dengan anggun. Kulitnya bersinar lembut berkilauan terkena cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah tirai jendela kamar. Wajahnya tampak semakin lembut dan teduh, seakan setiap garis wajahnya kini terukur dengan penuh kasih sayang dan kelembutan yang tak terlukiskan. Setiap kali ia berjalan perlahan di dalam rumah, tangannya selalu terulur lembut menopang perutnya yang membuncit indah, langkahnya pelan namun penuh keyakinan dan kelembutan, seakan tak ingin mengganggu ketenangan si kecil yang sedang beristirahat nyaman di dalam sana.
Dan Mo Han... sejak hari di mana mereka mendengar detak jantung anak mereka, pria itu seakan berubah menjadi sosok yang jauh lebih lembut, lebih hangat, dan lebih penuh kasih sayang dari sebelumnya. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, hal pertama yang ia lakukan adalah berlutut di samping tempat tidur, menatap wajah istrinya yang masih terlelap damai, lalu menurunkan pandangannya perlahan ke arah perut yang mulai membuncit itu. Ia akan meletakkan telapak tangannya yang hangat dan kokoh di sana, mengusapnya perlahan berulang kali dengan penuh kelembutan, lalu berbisik pelan seakan ingin membangunkan si kecil dari tidurnya yang nyenyak.
"Selamat pagi, anakku..." Mo Han berucap lembut dengan suara yang begitu rendah dan penuh kasih sayang, matanya menatap perut itu lekat-lekat seakan dapat melihat langsung kehidupan kecil yang tumbuh di dalam sana. "Bangunlah dan sapa sinar matahari pagi yang indah ini. Ayah akan berangkat bekerja... tapi hati ayah selalu tinggal di sini bersamamu dan ibumu. Tumbuhlah dengan sehat dan kuat... ayah akan segera pulang menemani kalian berdua lagi."
Dan seringkali setelah kata-kata itu terucap, seakan mendengar suara ayahnya, perut itu akan bergerak halus. Gerakan kecil yang lembut namun terasa nyata di bawah telapak tangan Mo Han. Saat merasakannya, mata pria itu akan seketika berkaca-kaca penuh kebahagiaan yang meluap-luap. Ia akan menempelkan bibirnya ke perut itu dan mengecupnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang, lalu mendongak menatap wajah istrinya yang terbangun perlahan sambil tersenyum lembut menatapnya dengan mata yang berbinar penuh cinta.
"Dia menyapamu lagi..." Su Yi berbisik pelan sambil meraih tangan suaminya dan menekannya lebih erat di perutnya, matanya menatap wajah Mo Han yang tampak begitu bahagia dan haru di hadapannya. "Setiap kali kau berbicara... dia selalu bergerak menyambutmu. Seakan dia sudah mengenali suaramu dan menantikan setiap kata yang kau ucapkan."
Mo Han tersenyum mendengar itu. Ia mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu menarik tubuhnya yang masih berbaring lemah itu masuk ke dalam pelukan hangatnya. "Karena ikatan kasih sayang kita sudah terjalin sejak awal kehidupan itu terbentuk. Darah dagingku mengalir di dalam tubuhnya. Maka wajar jika ia sudah merasakan kehadiranku bahkan sebelum melihat dunia. Dan kelak... saat ia lahir ke dunia ini... aku akan memeluknya erat dan tidak akan pernah melepaskannya lagi. Aku akan menjaganya seumur hidupku."
Su Yi menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama tenang dan kuat di bawah telinganya. Ia merasakan kehangatan tubuh yang memeluknya erat, merasakan ketenangan yang selalu terpancar dari kehadiran pria di sisinya, dan hatinya terasa penuh hingga meluap-luap rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kebahagiaan yang dilimpahkan kepadanya.
Hari-hari berlalu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang tak pernah putus. Setiap sore saat Mo Han pulang ke rumah, ia akan segera menemani Su Yi berjalan perlahan di sepanjang taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Ia berjalan di samping istrinya dengan langkah yang disesuaikan, tangannya tak pernah lepas dari pinggang Su Yi memberikan dukungan dan kekuatan tanpa henti. Mereka berbicara tentang banyak hal — tentang masa lalu yang kini telah menjadi pelajaran berharga, tentang masa kini yang penuh kebahagiaan dan kedamaian, serta tentang masa depan yang cerah yang sedang menanti mereka berdua dan anak yang akan segera lahir ke dunia.
"Kau sudah memikirkan nama untuknya?" Su Yi bertanya pelan suatu sore saat mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang yang daunnya berkilauan terkena sinar matahari sore yang keemasan. Tangan kanannya terbaring lembut di atas perutnya yang semakin membuncit, sementara tangan kiri Mo Han menindihnya dari atas dengan penuh kelembutan.
Mo Han menatap wajah istrinya yang tampak bersinar cantik di sampingnya, lalu menatap jauh ke arah lembah hijau yang terbentang luas di bawah bukit itu. Matanya berbinar penuh harapan dan kasih sayang yang mendalam.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama..." Mo Han menjawab pelan dengan suara yang rendah namun penuh keyakinan. "Jika kelak ia seorang putra... aku ingin menamainya Mo Cheng Yang. Cheng berarti keteguhan hati dan kebenaran. Yang berarti cahaya dan kebaikan. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang teguh memegang kebenaran dan menjadi cahaya kebaikan bagi siapa pun di sekitarnya. Namun jika kelak ia seorang putri... aku ingin menamainya Mo Xi Yue. Xi berarti cahaya terang yang menyingsing. Yue berarti keindahan dan kelembutan bagai rembulan. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang bersinar terang membawa keindahan dan kelembutan ke mana pun ia pergi."
Su Yi mendengarkan setiap kata itu dengan penuh kekaguman dan haru. Matanya perlahan berkaca-kaca menatap wajah suaminya yang tampak begitu tulus dan penuh kasih sayang saat mengucapkan nama-nama itu. Ia merasakan betapa besar harapan dan doa yang terselip di balik setiap nama yang dipilihnya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
"Nama-nama itu begitu indah dan penuh makna..." Su Yi berucap pelan dengan suara yang sedikit tercekat karena haru. "Siapa pun jenis kelaminnya kelak... nama itu akan menjadi doa dan harapan terbaik yang kita berikan kepadanya. Semoga ia tumbuh membawa cahaya kebahagiaan dan kebaikan ke dalam hidup kita dan ke dalam hidup siapa pun yang mengenalnya."
Mo Han tersenyum lembut mendengar itu. Ia menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya yang hangat, lalu menatap mata jernih itu lekat-lekat dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tak terhingga.
"Semoga doa itu terkabul. Karena anak kita lahir dari cinta sejati yang murni dan tulus. Maka wajar jika ia lahir membawa cahaya kebahagiaan ke dalam hidup kita. Dan tugas kita berdua... adalah menjaga cahaya itu agar tetap menyala terang dan tak pernah padam walau badai apa pun datang menerpa."
Su Yi mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan yang melimpah ruah. Di dalam hatinya, ia berdoa agar janji itu selalu terjaga. Agar kelak saat cahaya kecil itu lahir ke dunia, dunia itu sudah menjadi tempat yang aman, damai, dan penuh kasih sayang baginya.
Waktu terus berjalan membawa serta pertumbuhan yang luar biasa dari kehidupan kecil di dalam rahim Su Yi. Setiap hari si kecil semakin aktif bergerak, menendang, dan menyapa dunia di luar sana dengan cara-cara ajaib yang membuat kedua orang tuanya selalu tersenyum bahagia. Mo Han tak pernah melewatkan satu pun momen berharga itu. Setiap kali ia merasakan gerakan kecil di bawah telapak tangannya, ia akan berhenti sejenak, menatap perut istrinya dengan mata yang penuh kasih sayang dan kebanggaan, lalu berbicara pelan seakan si kecil dapat mendengar dan memahami setiap kata yang terucap.
"Kau sepertinya sangat bersemangat hari ini..." Mo Han berbisik pelan sambil tersenyum saat merasakan tendangan halus yang menyapa telapak tangannya. "Apakah kau sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan ayah dan ibumu? Sabarlah sebentar lagi... tak lama lagi pintu dunia akan terbuka untukmu. Dan saat itu tiba... ayah akan menyambutmu dengan pelukan terhangat dan kasih sayang yang tak akan pernah berakhir."
Su Yi tersenyum mendengar percakapan lembut itu antara ayah dan anak yang belum lahir itu. Ia menatap wajah suaminya yang tampak begitu lembut dan penuh kasih sayang, lalu merasakan kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi dadanya. Ia tahu bahwa anak yang akan lahir kelak akan tumbuh dalam kasih sayang yang berlimpah ruah. Karena ia memiliki ayah yang rela berkorban apa pun demi keselamatan dan kebahagiaannya, serta ibu yang akan mencurahkan seluruh jiwa raganya demi kebahagiaannya.
Malam itu, saat bulan purnama bersinar terang benderang di langit gelap dan cahayanya yang lembut menyelinap masuk menerangi kamar tidur mereka, Mo Han duduk di tepi tempat tidur sambil memegang kedua tangan istrinya dengan lembut. Cahaya rembulan yang putih bersih menyinari wajah mereka berdua yang tampak tenang dan damai. Mo Han menatap wajah istrinya yang tampak cantik bersinar di bawah sinar rembulan, lalu perlahan menurunkan pandangannya ke arah perut yang membuncit indah di balik selimut lembut.
"Tidak lama lagi..." Mo Han berucap pelan dengan suara yang penuh harapan dan kasih sayang yang mendalam. "Tidak lama lagi cahaya kecil itu akan lahir ke dunia. Dan saat itu tiba... hidup kita akan berubah menjadi jauh lebih indah dan bermakna dari apa pun yang pernah kita bayangkan."
Su Yi mengangguk pelan sambil meremas lembut tangan suaminya yang menggenggam tangannya erat dan hangat. Matanya menatap wajah pria yang dicintainya itu lekat-lekat dengan penuh cinta dan kepercayaan yang tak tergoyahkan.
"Aku menantikan hari itu dengan segenap hatiku..." Su Yi berbisik pelan dengan suara yang lembut namun teguh. "Aku menantikan kelahiran cahaya kecil kita... buah cinta sejati kita. Dan aku yakin... kelak ia akan tumbuh menjadi kebanggaan kita berdua. Karena ia lahir dari kasih sayang yang tulus dan abadi."
Mo Han tersenyum mendengar itu. Ia berbaring di samping istrinya, menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan hangatnya, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut istrinya dengan penuh kelembutan. Ia menutup matanya perlahan, merasakan kedekatan yang luar biasa di antara mereka bertiga — dirinya, wanita yang dicintainya, dan kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam sana. Di dalam hatinya, ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar senantiasa melindungi istri dan anaknya. Agar kelahiran si kecil kelak berjalan lancar dan penuh kebahagiaan. Dan agar cahaya kecil itu lahir ke dunia sebagai anugerah terindah yang membawa kebahagiaan dan kedamaian yang abadi bagi seluruh keluarga kecil mereka.
Di luar jendela, angin malam berhembus lembut membawa aroma bunga yang harum. Bulan purnama bersinar terang benderang menyinari bumi yang damai. Dan di dalam kamar yang hangat itu, tiga hati yang saling terhubung oleh ikatan kasih sayang yang tak terputuskan itu beristirahat dengan tenang. Mereka menantikan hari yang penuh cahaya itu dengan penuh harapan dan keyakinan. Karena mereka tahu... bahwa cahaya yang akan segera lahir itu bukan sekadar kehidupan baru yang datang ke dunia. Ia adalah perpanjangan cinta sejati mereka. Ia adalah cahaya kebahagiaan yang akan terus bersinar terang selamanya. Dan ia adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan kepada mereka berdua untuk dijaga, dibesarkan, dan dicintai seumur hidup.
salam interaksi thor😉