Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Diamku Bukan Kelemahan
Cepi berjalan mendekat sambil mengeringkan tangannya dengan lap. "Jangan mentang-mentang toko itu milik ibumu, terus kamu bisa minta uang sesuka hati." Nada suaranya terdengar sinis. "Toko itu gak mungkin masih ada sampai sekarang kalau bukan aku yang mengurusnya."
Aynara menatap ibu tirinya beberapa detik, kemudian ia melangkah mendekat. "Aku gak bilang mau ngambil uang toko."
"Terus apa?" tanya Cepi dengan nada suara naik satu oktaf.
Aynara berhenti tepat di hadapan Cepi. "Aku cuma mau meminta sesuatu yang selama ini memang menjadi hakku."
Cepi tersenyum sinis. "Hakmu?"
"Iya." Aynara mengangguk. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa dokumen.
Wajah Jayadi seketika berubah ketika melihat apa yang dibawa putrinya.
Aynara meletakkan dokumen itu di atas meja. "Mulai hari ini, aku mau tahu dengan jelas berapa bagian yang menjadi hakku dari rumah dan toko peninggalan Ibuku."
Cepi buru-buru meraih dokumen tersebut. Matanya bergerak cepat membaca setiap halaman. Seketika wajahnya berubah.
Dokumen itu bukan sekadar bukti kepemilikan. Di dalamnya tercantum sertifikat rumah dan toko yang selama ini mereka tempati. Lebih mengejutkan lagi, dokumen tersebut sudah mencantumkan Aynara sebagai ahli waris. Cepi membacanya sekali lagi, seolah berharap ia salah memahami isinya.
Selama ini ia mengira kepemilikan rumah dan toko masih atas nama mendiang ibu Aynara. Ia juga tidak pernah tahu di mana dokumen tersebut disimpan. Setiap kali ia bertanya kepada Jayadi, pria itu hanya menjawab bahwa semuanya disimpan di tempat yang aman. Namun ternyata, dokumen itu ada di tangan Aynara.
Cepi spontan mendekapnya ke dada. "Ini sekarang ada di tangan Ibu, berarti Ibu gak perlu takut," katanya cepat. "Tanpa dokumen ini, kamu gak bisa berbuat apa-apa."
Jayadi langsung menatap istrinya. "Bu, jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu."
Cepi menoleh tajam. "Ini rumah kita! Toko itu juga selama ini aku yang ikut mengurus!"
"Yang Ibu tinggali dan kelola bukan berarti otomatis menjadi milik Ibu," sanggah Aynara tenang. Ia sama sekali tidak terlihat panik.
Cepi semakin erat memeluk dokumen tersebut. "Jangan coba-coba mengambil ini!"
Aynara justru tersenyum tipis. "Ambil saja, Bu."
Cepi terdiam, dahinya berkerut.
Aynara sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah ibu tirinya. "Itu cuma salinan."
"Apa?" Mata Cepi membesar. Ia begitu yakin jika dokumen itu ada di tangannya maka Aynara tidak akan bisa berbuat apa-apa. Namun ternyata itu hanya dokumen salinan.
"Dokumen aslinya disimpan oleh pengacara keluarga." Aynara menatap dokumen yang masih berada dalam pelukan ibu tirinya. "Kalau Ibu mau menyimpannya, silakan. Anggap saja sebagai pengingat bahwa rumah ini dan toko itu memang milikku."
Wajah Cepi langsung menegang.
Aynara melanjutkan dengan nada tetap tenang. "Dan satu lagi." Ia menatap Cepi lurus. "Jangan pernah berharap kalau aku meninggal tanpa keturunan, harta itu akan jatuh ke tangan kalian."
Cepi membelalak. "Maksudmu?"
"Semua harta yang menjadi hakku sudah diatur dalam surat wasiat." Aynara berhenti sejenak. "Kalau aku meninggal tanpa memiliki keturunan, seluruh harta itu akan dihibahkan kepada yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan."
Cepi seketika kembali membuka dokumen tersebut. Kali ini ia membacanya jauh lebih teliti. Matanya berhenti pada bagian yang baru saja disebut Aynara.
Benar.
Tercantum jelas bahwa apabila Aynara meninggal tanpa keturunan, aset tersebut tidak diwariskan kepada keluarga Jayadi, melainkan akan dialihkan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dalam dokumen.
Wajah Cepi memerah. "Kamu..."
Tangannya bergetar sebelum akhirnya menghempaskan dokumen itu ke atas meja. "Apa maumu sebenarnya?!"
Aynara bergeming. "Aku cuma ingin hakku."
"Hak apa? Selama ini kami yang mengurus toko itu!" Cepi masih bertahan dengan argumennya.
"Aku sudah bilang tadi," ujar Aynara dengan suara rendah. "Mengurus dan menempati bukan berarti memiliki."
Cepi mendengkus. "Tapi selama ini kamu sudah kami rawat dan besarkan. Itu sudah impas!"
Aynara menatap ibu tirinya. "Pak Jayadi adalah ayahku. Dan Ibu adalah istri keduanya. Jadi wajar kalau kalian merawat dan membesarkanku."
Suaranya mulai bergetar, tetapi ia tidak mundur. "Kalian tinggal di rumah milikku. Kalian juga mendapatkan penghasilan dari toko milikku. Tapi bahkan untuk biaya kuliahku, kalian enggan mengeluarkan uang."
Cepi tak menyangkal, karena itu adalah benar. Bahkan ia selalu melarang Jayadi jika pria itu ingin memberikan uang pada Aynara sedikit lebih banyak.
"Kalian selalu memanjakan Caca, sementara aku diperlakukan seperti pembantu." Aynara menarik napas dalam. "Aku sudah lama menahannya. Dan sekarang aku sudah muak."
Matanya beralih kepada Jayadi. "Kalian bukan cuma menjadikanku babu di rumahku sendiri, tapi juga terus merendahkanku. Padahal..." Ia berhenti sejenak. "Siapa yang sebenarnya hidup menumpang di rumah ini?"
Tatapan Aynara mengeras. "Kalian."
"Cukup, Nara!" Bentakan Jayadi menggema di ruang keluarga.
"Kamu sudah keterlaluan!" Jayadi mengepalkan tangannya. "Mana rasa hormatmu kepada orang tua?"
Aynara menatap ayahnya tanpa gentar. "Ayah yang keterlaluan. Ayah gak pernah adil kepadaku hanya karena Ibuku sudah meninggal."
Suara Aynara bergetar, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Ayah lebih memilih anak dan istri kedua Ayah. Dan sekarang Ayah bicara soal rasa hormat?"
Ia tersenyum getir. "Rasa hormat seperti apa yang Ayah maksud kalau Ayah sendiri gak mampu menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga?"
"Kau..."
Jayadi tak melanjutkan kalimatnya. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah. Ia ingin membantah, ingin memarahi putrinya karena dianggap sudah melewati batas.
Namun tidak ada satu pun kata yang keluar. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu sebagian besar yang dikatakan Aynara memang benar. Dan kenyataan itulah yang membuat ucapan putrinya terasa semakin menyakitkan.
Aynara tidak memberinya kesempatan untuk menghindar. "Ayah tersinggung?"
Jayadi mengangkat wajah.
"Aku cuma mengatakan kenyataan." Aynara menahan air matanya. "Ayah selalu enggan berdebat dengan Ibu. Selalu mengalah setiap kali Ibu atau Caca memperlakukanku seenaknya. Ayah membiarkan mereka menindasku di rumahku sendiri."
Napasnya terdengar berat. "Apakah itu sikap seorang ayah yang terhormat dan bermartabat?"
Jayadi memalingkan wajahnya. Pertanyaan itu tepat menghantam bagian yang paling ingin ia sembunyikan.
Harga dirinya sebagai seorang ayah.
Selama ini ia mungkin menganggap dirinya hanya menghindari pertengkaran demi menjaga rumah tangga. Namun di mata Aynara, sikap diamnya justru menjadi alasan penderitaan putrinya terus berlangsung.
Aynara menatap keduanya bergantian. "Kalau kalian gak suka dengan sikapku, silakan keluar dari rumahku."
Cepi langsung menatapnya tajam.
Namun Aynara belum selesai. "Dan berhenti mengelola toko milikku."
Tak ada yang bicara, baik Cepi maupun Jayadi. Mereka tak bisa membantah perkataan Aynara.
Namun kali ini Aynara tidak lagi terlihat seperti gadis yang meminta izin. Ia sedang menetapkan batas.
"Silakan tetap mengurusnya." Aynara menunjuk dokumen di atas meja. "Tapi mulai hari ini, harus ada pembukuan yang jelas."
Ia menatap Cepi lurus. "Semua pemasukan dan pengeluaran harus dicatat. Aku berhak melihatnya kapan pun aku mau."
Aynara berhenti sejenak. "Karena mulai sekarang, aku akan mengurus hakku sendiri."
"Nara..." Jayadi mencoba menyela.
Aynara menoleh kepada ayahnya. "Kalau pembukuannya jelas dan sesuai, aku gak akan ikut campur." Ia kembali menatap Cepi. "Tapi kalau aku menemukan ada uang yang tidak tercatat, laporan yang tidak sesuai, atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan..."
Aynara berhenti sejenak. "Aku akan mengambil alih toko itu."
Tak ada lagi yang berbicara. Jayadi hanya diam tanpa kata.
Sementara Cepi mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ia ingin berteriak, ingin membantah. Namun ia sadar bahwa gadis yang selama ini dianggapnya hanya anak tiri yang bisa diperintah ternyata memiliki sesuatu yang tidak pernah bisa ia ambil darinya.
Hak.
Dan kali ini, Aynara tidak berniat menyerahkannya begitu saja.
Cepi menatap punggung Aynara yang semakin menjauh. Tangannya mengepal erat.
“Anak ingusan. Dia pikir bisa mengalahkanku?”
Cepi tersenyum sinis.
“Mimpi.”
Namun di balik tatapan penuh kebencian itu, sebuah rencana mulai terlintas di kepalanya.
Jayadi menoleh. "Apa yang mau Ibu lakukan?"
Namun Cepi tak menjawab. Wanita malah berbalik pergi.
...🔸🔸🔸...
...“Jangan terlalu lama mengalah hanya demi menjaga perasaan orang lain. Sebab ketika kesabaran terus disalahgunakan, memperjuangkan diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan cara untuk menghargai diri.”...
...“Mengalah adalah pilihan, tetapi membiarkan diri terus diinjak bukan kewajiban.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued