"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: ANOMALl DAN BAYANG-BAYANG ANCAMAN
"Aku bukan bagian dari kalian, bajingan!" geram Mo Xie, suaranya naik satu oktaf, memecah kebisingan badai salju di sekeliling lembah.
Matanya yang memerah akibat luapan emosi yang membakar dada menatap tajam langsung ke sela zirah retak tanpa wajah milik sang pemburu.
"Dan aku tidak akan pernah menjadi bagian dari entitas menjijikkan seperti kalian!"
Mendengar penolakan keras yang terlontar dari mulut praktisi fana itu, sang pemburu dari dimensi terdalam justru mengeluarkan suara tawa yang kering, bergetar, dan parau langsung di dalam tempurung kepala Mo Xie.
"Kekeke..." Makhluk itu melayang mundur perlahan, menjauh dari jangkauan tebasan Pedang Kehampaan, namun sepasang matanya yang merah menyala tetap terkunci rapat pada mangsanya.
"Sampai kapan kau mampu bertahan dari gerogotan kegelapan itu, Bocah? Perlahan... kau akan terseret masuk ke dalam celah dimensi ini. Kau tidak akan bisa lari dari takdirmu... karena kau adalah pembawa kehancuran itu sendiri."
Kata-kata itu menghantam benak Mo Xie bagai godam tak kasat mata, memicu denyut rasa sakit yang hebat di tangan kanannya yang terbalut kain hitam. Pedang Kehampaan bergetar lebih liar, seolah membenarkan kutukan sang entitas.
Namun sebelum keraguan itu mengakar lebih dalam di jiwanya, seberkas cahaya perak-biru yang menyilaukan membelah kegelapan malam.
"Tutup mulutmu!" teriak Xue Qingyue murka.
Praktisi wanita itu melesat bagaikan badai salju yang mengamuk. Dengan presisi tinggi, ia mengayunkan pedang kristalnya—melancarkan tusukan kilat dari Hukum Es murni yang mengarah tepat ke leher sang pemburu. Es kristal seketika merambat deras dari ujung senjatanya, mencoba membekukan makhluk dimensi tersebut dari dalam.
PRANG!
Sang pemburu menangkis tusukan Xue Qingyue menggunakan sabit ganda kristalnya, namun hawa dingin ekstrem milik praktisi Awakened puncak itu berhasil memaksa makhluk tersebut terdorong mundur beberapa langkah mendekati bibir celah dimensi yang bergolak ungu-kemerahan.
Meskipun tersudut oleh serangan kombinasi Xue Qingyue dan tatapan waspada dari faksi luar, seringai mengerikan di wajah tanpa bentuk entitas itu tidak memudar.
Sebaliknya, tubuhnya perlahan mulai melebur menjadi cairan hitam dan abu, menyatu kembali dengan Qi Kegelapan yang mengalir di sekitar retakan langit.
"Kita akan bertemu lagi... sang pembawa kehancuran..." bisik gema suaranya yang perlahan memudar seiring dengan tubuhnya yang tersedot kembali ke dalam celah dimensi.
Retakan besar itu perlahan menutup dari dalam, menyisakan kesunyian yang mencekam di medan perang yang telah luluh lantak.
Mo Xie berdiri mematung di atas lapisan salju hitam, napasnya memburu kasar sementara matanya menatap kosong ke arah bekas celah yang kini telah hilang. Kata-kata sang pemburu terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya, meninggalkan tanda tanya besar yang merongrong jiwanya.
Suasana di lembah es seketika senyap, hanya menyisakan desau angin malam yang membawa sisa-sisa bau belerang dan abu panas yang kian mendingin. Celah dimensi yang tadinya menganga lebar kini telah terkatup sepenuhnya, menyisakan garis retakan samar di langit malam yang perlahan kembali menggelap.
Namun, ketegangan di antara mereka berempat justru semakin pekat, menggantikan hawa pertempuran yang baru saja usai.
Mo Xie masih berdiri membisu. Tangan kanannya yang memegang erat Pedang Kehampaan perlahan turun, namun getaran di lengan itu belum juga reda. Kata-kata terakhir dari pemburu dimensi itu terasa seperti racun yang mengalir bersama darahnya, membuat dadanya terasa amat sesak.
Pembawa kehancuran...
"Mo Xie," suara Xue Qingyue memecah keheningan.
Praktisi wanita itu melangkah mendekat, pedang kristalnya telah disarungkan kembali dengan anggun ke pinggangnya, namun mata biru esnya menatap Mo Xie dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekhawatiran yang coba ia sembunyikan di balik wibawanya.
"Kau tidak apa-apa?"
Sebelum Mo Xie sempat membalas pertanyaan itu, suara tepuk tangan yang lambat dan ritmis mendadak terdengar dari arah belakang mereka.
Prok... prok... prok...
"Pertunjukan yang sangat menarik," ucap Feng Yue sambil melayang turun perlahan hingga ujung jubah sutra hitamnya menyentuh permukaan salju.
Matanya yang hitam legam menatap Mo Xie dengan binar penuh selidik dan kecurigaan yang tak lagi ditutupi.
"Seorang praktisi fana yang mengayunkan pedang dengan energi korosi kehampaan pekat... dan sekarang, entitas dimensi terdalam mengenali dirinya sebagai bagian dari mereka? Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mencurigakan."
Lu Cang berjalan mendekat, menyampirkan kembali gada besi raksasanya di atas pundak yang kekar. Ukiran segel di lengan kanannya perlahan meredup, namun tatapan matanya kini menjadi jauh lebih serius saat memandang Mo Xie.
"Aku harus setuju dengan pandangan Feng Yue kali ini, Xue Qingyue. Kami dikirim ke sini oleh Sekte Angin Surgawi untuk menyelidiki anomali celah dimensi selatan ini. Tapi sepertinya... anomali terbesar justru berdiri tepat di sampingmu."
Xue Qingyue langsung bergeser, memosisikan tubuhnya di antara Mo Xie dan kedua utusan faksi luar tersebut.
"Aku sudah mengatakannya sekali, Lu Cang, Feng Yue. Mo Xie berada di bawah pengawasan langsung Ketua Agung Han Wuyan dan diriku. Jika ada pihak yang berhak mempertanyakan asal-usulnya, itu adalah hak mutlak Sekte Es Abadi. Bukan hak Sekte Angin Surgawi."
"Oh, tentu saja," sahut Feng Yue dengan nada sinis yang tajam.
"Namun jika 'bocah' ini benar-benar membawa benih kehancuran yang sanggup memicu runtuhnya dimensi lain, maka seluruh sekte di tanah ini memiliki hak penuh untuk menyingkirkannya sebelum semuanya terlambat."
Mo Xie mendengarkan perdebatan itu dengan gigi mengatup rapat hingga rahangnya berderit.
Mata kanannya yang sempat memerah kini perlahan meredup kembali menjadi hitam pekat, sementara mata kirinya yang membawa esensi Inti Es Abadi masih menatap dingin ke arah Feng Yue dan Lu Cang.
Rasa sakit di tangannya yang terluka akibat benturan tadi mulai berdenyut hebat, meneteskan darah segar ke atas salju putih yang langsung melepuh akibat sisa Qi Kegelapan yang tertinggal.
Mo Xie perlahan menundukkan pandangannya, menatap tetesan darah segar dari sela kain hitamnya yang jatuh dan melelehkan salju.
Rasa sakit yang berdenyut di lengannya tidak sebanding dengan gemuruh murka yang berkecamuk di dalam dadanya. Kata-kata Feng Yue tentang "menyingkirkannya sebelum terlambat" dan sebutan "pembawa kehancuran" dari entitas tadi terus berputar-putar di kepalanya bagai kutukan yang menuntut balas.
Namun, alih-alih gemetar atau menunjukkan celah kelemahan di hadapan para praktisi ranah Awakened puncak ini, Mo Xie justru terkekeh rendah. Tawa itu terdengar sangat dingin, serak, dan dipenuhi oleh kepahitan yang pekat.
Ia menegakkan kepalanya kembali. Mata kanannya yang hitam pekat menatap tajam ke arah Feng Yue, sementara mata kirinya yang bersinar biru gletser redup mengunci pandangan Lu Cang.
"Menyingkirkanku?" desis Mo Xie, menyeka sisa darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan kiri yang bebas.
"Silakan saja coba jika kalian punya cukup nyali untuk menghadapi murka Ketua Agung Han Wuyan."
Ia melangkah maju satu depak, mengabaikan tarikan napas tertahan dari Xue Qingyue yang terkejut dengan kelancangannya yang tanpa batas.
Mo Xie mengacungkan bilah Pedang Kehampaan yang kini tampak tenang, namun tetap memancarkan aura Qi Kegelapan yang amat pekat.
"Aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh entitas menjijikkan dari celah itu, dan aku tidak peduli dengan ketakutan sektemu," lanjut Mo Xie dengan nada suara yang sangat dingin dan datar.
"Jika aku memang ditakdirkan menjadi pembawa kehancuran... maka kehancuran pertama yang akan kubawa adalah untuk mereka yang berani menghalangi jalanku!"
Mendengar ucapan tersebut, atmosfer di sekitar mereka kembali membeku kaku.
Niat membunuh yang tipis namun sangat tajam mulai menguar dari tubuh Feng Yue, membuat jubah gaun sutra hitamnya berkibar meski angin badai telah mereda sepenuhnya.
"Mulutmu sangat berani untuk ukuran praktisi fana yang baru saja diselamatkan, Bocah," ucap Feng Yue, nadanya merendah menjadi bisikan yang sangat berbahaya.
Jemari lentiknya yang pucat kembali bergetar, siap memanggil Qi kegelapan sektenya untuk memberi pelajaran keras pada praktisi fana di depannya.
"Cukup, Feng Yue!" potong Xue Qingyue tegas.
Praktisi wanita itu melangkah tepat di hadapan Mo Xie, menutupi tubuh pemuda itu sepenuhnya dari tatapan membunuh Feng Yue. Pedang kristalnya memang tidak terhunus, namun tangan kirinya telah bertumpu rapat pada gagang senjata, siap ditarik dalam hitungan waktu.
"Pertempuran di celah ini sudah selesai. Tugas kalian di wilayah selatan ini telah usai. Laporkan apa yang kalian lihat pada sekte kalian, tapi jangan pernah berani menyentuh apa yang menjadi milik Sekte Es Abadi!"
Lu Cang menatap ketegangan yang membeku itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan menepuk pundak Feng Yue dengan tangan kekarnya.
"Sudahlah, Feng Yue. Kita tidak datang ke sini untuk memicu perang sekte dengan Sekte Es Abadi. Lagipula... bocah ini berada di bawah perlindungan Han Wuyan sang Ascendant. Menyerangnya di tanah ini sama saja dengan mencari mati."
Feng Yue menatap Xue Qingyue dan Mo Xie bergantian untuk terakhir kalinya dengan tatapan dingin yang sarat akan janji permusuhan di masa depan.
"Kuharap keputusanmu melindunginya tidak akan membakar habis seluruh Benteng Es Abadi, Xue Qingyue," desis Feng Yue tajam.
Dengan satu kibasan jubah sutra hitamnya, Feng Yue berbalik dan melompat ringan ke udara, tubuhnya melebur menjadi bayangan malam yang melesat cepat ke arah utara.
Lu Cang melirik Mo Xie sekali lagi, memberikan seringai penuh arti sebelum akhirnya menyusul rekan satu sektenya, melompat jauh menembus kabut salju dan menghilang di balik pegunungan es abadi.
Setelah kepergian kedua utusan Sekte Angin Surgawi tersebut, keheningan yang sesungguhnya akhirnya menyelimuti lembah yang luluh lantak itu.
Xue Qingyue perlahan menurunkan tangannya dari gagang pedang. Ia berbalik, menatap Mo Xie dengan saksama. Mata biru esnya menyapu luka-luka di tubuh Mo Xie, sebelum akhirnya tertuju pada pedang hitam yang masih digenggam erat oleh pemuda itu.
"Mo Xie," panggil Xue Qingyue, suaranya kini melunak, kehilangan sebagian besar nada dingin yang biasa ia gunakan di depan orang asing.
"Genggamanmu... pedang itu benar-benar mencoba mengikis jiwamu, bukan?"