Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 17
Namun, di sudut kota yang lain, malam tak mengizinkan Kevin menikmati ketenangan yang sama.
Lampu gantung di ruang tamu rumah Kevin berpendar redup. Di atas sofa, Asha duduk meringkuk, jemarinya terus meremas tisu basah yang sudah hancur. Wajahnya yang biasa dipoles sempurna kini sembab oleh air mata.
"Kev..." panggil Asha lirih, suaranya bergetar memecah kesunyian.
"Kamu dari tadi cuma bolak-balik pegang ponsel. Kamu... kamu masih mikirin Dilara? Kenapa kamu tidak menghargai aku? Toh dia itu juga bukan istri kamu lagi. Dia sudah kamu talak, lebih baik sekarang fokus dengan perceraian kamu dan persiapan pernikahan kita..."
Kevin menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Rambutnya berantakan, dua kancing teratas kemejanya sudah terbuka. Rasa bersalah menghimpit dadanya dari dua arah berbeda, penyesalan mendalam pada Dilara yang melangkah pergi, serta rasa tanggung jawab pada Asha yang terlanjur melepaskan segalanya demi dirinya.
"Asha, tolong," bisik Kevin parau, memijat pelipisnya.
"Pikiranku mau pecah. Ibu tadi telepon sambil menangis, Papa marah besar... Dilara benar-benar hilang tanpa jejak. Bagaimana aku bisa tenang?"
Asha bangkit berdiri, matanya menatap Kevin dengan binar keputusasaan. "Lalu aku bagaimana, Kevin?! Aku di sini! Aku meninggalkan karierku di luar negeri dan kembali untukmu! Kamu yang bilang pernikahanmu dengan Dilara cuma formalitas tanpa cinta! Kenapa sekarang setelah dia pergi, seolah-olah aku yang jadi penjahat di mata keluargamu... dan di matamu?"
"Aku tidak pernah menganggapmu penjahat, Asha!" potong Kevin tegas, namun nada suaranya goyah. Ia melangkah mendekat, memegang kedua bahu Asha seraya menatap mata wanita itu dengan sorot bersalah.
"Tapi cara kita salah... Aku menyakiti wanita yang sama sekali tidak punya salah padaku, pada kita. Tolong beri aku waktu, Asha. Aku harus memastikan Dilara aman. Hanya itu satu-satunya agar aku tak terlalu merasa bersalah kepada Dilara..."
"Kamu mau cari dia?" tangis Asha kembali pecah, tangannya meremas lengan kemeja Kevin.
"Kalau kamu temukan dia, kamu mau tinggalkan aku dan kembali lagi pada dia?"
Kevin membisu. Ia tak bisa memberikan jawaban yang diinginkan Asha. Dengan helaan napas berat, Kevin melepaskan pegangan tangannya di bahu Asha pelan-pelan.
"Aku antar pulang ya. Kamu butuh istirahat. Jangan sampai kamu sakit dan membuat kedua orang tua kamu khawatir lagi..."
"Baiklah! Tapi kamu harus janji tak akan pernah kembali pada wanita itu kalau kamu tahu dimana dia... Kamu harus segera nikah sama aku!"
Kevin tidak menjawab ucapan Asha. Dia menarik tangan Asha lembut ke dalam mobil dan mengantarkan ke rumahnya. Sedangkan Kevin langsung pamit dan tidak mampir. Tiga puluh menit kemudian, deru mesin mobil Kevin berhenti di depan sebuah rumah minimalis di kawasan Jakarta Selatan. Tanpa ragu, ia melangkah cepat dan mengetuk pintu kayu itu secara beruntun.
TOOOKKK
TOOOKKK
"Nisa! Nisa, buka pintunya!" panggil Kevin setengah berteriak.
Tak lama, pintu terbuka. Nisa, sahabat karib Dilara sejak bangku kuliah berdiri di ambang pintu. Mengenakan kaos santai dan celana panjang, wajah Nisa yang semula biasa saja seketika berubah kaku dan dingin saat menyadari siapa yang berdiri di depannya. Rasa kesal dan kecewa kepada pria yang sudah membuat sahabatnya sakit hati. Bahkan Nisa tahu seberapa besar perjuangan dan juga pengorbanan Dilara dalam pernikahan dingin mereka. Bahkan di saat Kevin meminta bercerai karena wanita yang di cintainya kembali, Dilara tak memperbolehkannya untuk mengumpat Kevin.
"Mau apa kamu ke sini, Vin?" tanya Nisa tanpa nada ramah sedikit pun, tangannya bersedekap di dada.
"Nisa, tolong... aku mohon," suara Kevin melunak, matanya memancarkan rasa frustrasi yang mendalam.
"Kasih tahu aku Dilara ada di mana. Dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Nomor aku di blok... Tolong, Nis, aku tahu kamu pasti tahu dia di mana."
Nisa menyunggingkan senyum sinis yang menyakitkan. "Oh, sekarang kamu kelabakan cari Dilara?"
"Mau apa lagi sih kamu cari Dilara, Vin? Bukannya kamu sudah dengan amat jelas ingin bercerai dari dia, demi wanita yang kamu cintai. Bahkan kamu juga dengan sadar sudah menjatuhkan talak pada Dilara. Jadi kamu maunya apa lagi?"
"Nis, ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" sela Kevin cepat, mengambil langkah maju.
"Ada banyak hal yang rumit antara aku, Dilara, dan Asha. Keputusanku malam itu terburu-buru, aku lepas kendali! Aku cuma mau bicara sama Dilara secara baik-baik. Aku mau minta maaf!"
"Minta maaf?" Nisa tertawa sumbang, menatap Kevin dengan tatapan tajam yang penuh amarah.
"Kamu pikir maaf bisa menyembuhkan hati yang kamu hancurkan berantakan, Vin? Dilara itu kurang apa? Satu tahun dia melayani kamu, sabar menghadapi dinginnya kamu, mengalah demi bayang-bayang masa lalumu! Dan begitu wanita itu kembali, kamu buang Dilara begitu saja? Apa kurangnya dia sebagai wanita dan istrumu? Bahkan Dilara jauh segalanya di bandingkan dengan cintamu itu. Tapi mau gimana ya, kalau kata Dilara, cinta tak bisa di paksa yang penting sudah berusaha memberikan yang terbaik,"
"Aku tahu aku salah, Nisa!" bentak Kevin frustrasi, air mata penyesalan akhirnya menetes di pipinya.
"Aku tahu aku brengsek! Tapi tolong... setidaknya biarkan aku memastikan dia tinggal di tempat yang aman. Ibu sampai sakit mikirin Dilara. Aku mohon, Nis..."
Nisa menatap Kevin yang kini tertunduk dengan dada kempas-kempis. Rasa iba sempat terlintas tipis, namun bayangan penderitaan Dilara jauh lebih besar.
"Aku tidak akan pernah kasih tahu kamu di mana Dilara berada," tegas Nisa dengan suara pelan namun menancap kuat.
"Dilara sudah ikhlas. Dia sedang berusaha menata hidupnya kembali dari nol, tanpa bayang-bayang kamu dan wanita itu. Kalau kamu memang punya sedikit saja rasa kemanusiaan tersisa, berhenti cari dia. Biarkan dia tenang."
"Nisa, tolonglah..."
"Pulang, Kevin!" potong Nisa keras seraya menunjuk ke arah jalan.
"Kembali ke wanita pilihanmu itu. Jangan jadi laki-laki egois yang mau menguasai semuanya tapi menyakiti semua orang. Pergi sebelum aku panggil sekuriti!"
BLLLAM!
Nisa memutus percakapan dengan membanting pintu tepat di depan wajah Kevin.
Kevin terpaku di depan pintu yang tertutup rapat. Ia menyandarkan keningnya pada permukaan kayu yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat saat penyesalan yang terlambat kini balik mencengkeram dadanya tanpa ampun. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan. Hanya saja dia merasa kehilangan Dilara. Apalagi Dilara pergi tanpa membawa apapun darinya. Dia khawatir kalau Dilara di luar sana bertemu dengan orang jahat.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛