Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Tidak Tahu Diri!
Setelah hampir empat puluh menit, mesin motor Reyna akhirnya kembali menyala. Reyna mengembuskan napas lega dan segera membayarnya, lalu tanpa membuang waktu langsung memacu kendaraannya membelah kepadatan jalanan kota Bandung.
Reyna tiba di halaman parkir kantor pada pukul 08.45 pagi, terlambat empat puluh lima menit dari jam masuk. Dengan tergesa-gesa, ia merapikan pakaian serta rambutnya yang sedikit berantakan, memungut ranselnya, lalu melangkah cepat membelah koridor menuju meja kerjanya.
Namun, begitu Reyna melangkah masuk dan bermaksud menuju meja kerjanya, atmosfer ruangan yang biasanya hangat mendadak terasa hening mencekam. Rekan-rekan kerjanya menundukkan kepala dalam-dalam, menatap layar komputer mereka dengan raut tegang.
Belum sempat Reyna mendaratkan tasnya di atas meja, sebuah teriakan melengking memecah keheningan ruangan.
"REYNA! KE MEJA SAYA SEKARANG!"
Suara Bu Sandra menggelegar, memotong seluruh kesibukan di divisi tersebut. Reyna terperanjat, jantungnya berdegup kencang saat melihat Bu Sandra berdiri di depan pintu ruangannya dengan kedua tangan bersedekap di dada. Raut wajah atasannya itu sangat tegang, matanya menatap tajam bagaikan hendak menelan Reyna bulat-bulat.
Dengan langkah ragu dan sikap sopan, Reyna menghampiri Bu Sandra. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu Sandra. Seperti yang sudah saya kabarkan melalui pesan tadi, motor saya mendadak...,"
"Jangan bawa-bawa alasan pesan konyol itu!" potong Bu Sandra murka, mengacungkan ponsel pintarnya tepat di depan wajah Reyna.
"Kamu pikir kantor ini milik nenek moyang kamu, hah? Bisa seenaknya datang jam segini cuma dengan kirim foto motor mogok? Kamu pikir saya tidak tahu akal-akalan orang seperti kamu yang sengaja cari-cari alasan supaya bisa datang terlambat!" maki Bu Sandra tanpa memedulikan etika kerja.
Reyna menelan ludah, dadanya sesak oleh tuduhan yang teramat tidak adil itu. "Bu Sandra, saya sama sekali tidak berbohong. Foto bengkel dan kondisi motor itu beneran, saya benar-benar mendorong motor dan menunggu perbaikan, pesan saya juga sudah Ibu baca...,"
"Saya baca pesan kamu bukan berarti saya menyetujui keterlambatan kamu!" serosot Bu Sandra dan menunjuk-nunjuk muka Reyna dengan jarinya.
"Kantor ini punya aturan! Mau motor kamu mogok atau jalanan macet, itu tanggung jawab pribadi kamu untuk mengantisipasi! Karena kelalaian kamu hari ini, laporan barang belum saya kirim ke Direktur! Kamu itu memang tidak becus ya kerjanya!" maki Bu Sandra.
Reyna meremas jemarinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menundukkan kepala sedalam-dalamnya di hadapan Bu Sandra. Hatinya terasa remuk, teriris oleh setiap kata caci maki yang dilontarkan sang atasan. Ia memilih diam, berharap sikap kooperatif dan pasrahnya bisa meredam amarah wanita bertubuh tambun di depannya itu.
Namun, keheningan Reyna justru diartikan sebagai bentuk pembangkangan terselubung bagi Bu Sandra, amarah wanita itu semakin membumbung tinggi dan membakar habis sisa rasa kemanusiaannya.
"Kamu mau sok bisu di depan saya, hah!" teriak Bu Sandra dengan nada yang makin melengking dan memecah keheningan lantai kantor.
"Dasar tidak tahu diri! Sudah salah, terlambat dan bikin kerjaan divisi berantakan, sekarang malah memasang muka memelas begitu! Kamu pikir saya bakal kasihan? Karyawan yang tidak tahu aturan seperti kamu ini cuma jadi beban di sini!" maki Bu Sandra.
Suara bentakan itu begitu keras hingga menggema melewati batas sekat-sekat kaca ruang administrasi, langkah beberapa karyawan dari divisi lain yang kebetulan melintas di koridor luar mendadak terhenti. Dari balik pintu kaca yang transparan, belasan pasang mata mulai menatap ke arah ruangan mereka dan menyaksikan bagaimana Reyna dipermalukan secara terbuka.
Mbak Maya dan Mas Doni makin menundukkan wajah, tak sanggup melihat Reyna dimarahi sedemikian rupa, sementara Clarissa tampak mengepalkan tangan dan menahan emosi yang memuncak melihat kesewenang-wenangan Bu Sandra.
Bu Sandra tak peduli bahwa tindakannya telah menjadi tontonan gratis bagi staf dari divisi lain. Dengan langkah berderap angkuh, ia berjalan mendekati meja kerja Reyna, lalu meraup tumpukan berkas laporan yang telah tersusun rapi sejak kemarin.
Tanpa ragu, Bu Sandra melemparkan tumpukan kertas itu ke udara, berkas-berkas tersebut melayang dan berserakan mengotori lantai di sekitar kaki Reyna.
Bu Sandra berdiri dengan berkacak pinggang, napasnya memburu dan matanya membelalak penuh kebencian. "Lihat ini! Berkas sampah seperti ini yang kamu bangga-banggakan? Cepat bereskan dan susun ulang semuanya dari awal! Saya tidak mau tahu, sebelum jam makan siang laporan ini harus sudah ada di meja saya! Kalau sampai terlambat satu detik saja, jangan salahkan saya kalau kamu harus lembur satu bulan penuh!" gertak Bu Sandra dengan caci maki yang kian merendahkan.
"Kamu itu cuma staf biasa yang harusnya sadar diri! Sudah miskin, banyak alasan dan tidak tahu terima kasih lagi sudah diberi pekerjaan di sini! Jangan merasa sok penting!" tambahnya lagi, menyemburkan kata-kata beracun tepat di depan wajah Reyna.
Keheningan yang menyengat mendadak mengambil alih ruangan, suasana mendadak menjadi begitu dingin.
Di bawah lantai, di antara lembaran kertas yang berserakan, jemari Reyna gemetar hebat. Namun kali ini, getaran itu bukan lagi berasal dari rasa takut, lelah fisik usai mendorong motor atau kesedihan akibat dipojokkan. Ada sesuatu yang mendadak patah dan pecah di dalam dadanya, sisa-sisa kesabaran yang selama ini ia jaga rapat-rapat demi sesuap nasi.
Reyna perlahan menegakkan tubuhnya, ia tidak menunduk lagi dan menatap lurus tepat ke dalam manik mata Bu Sandra dengan pandangan yang mendadak tajam, dingin dan benar-benar tenang, rona pucat di wajahnya berganti dengan ketegasan yang tak pernah terlihat sebelumnya.
"Cukup, Bu Sandra," ucap Reyna.
Suara Reyna tidak melengking, tetapi berbobot dan bergetar penuh penekanan yang bergaung jernih ke seluruh sudut ruangan.
Bu Sandra tertegun sejenak, terkejut mendengar balasan suara itu, sebelum wajahnya kian memerah. "Apa kamu bilang?"
"Saya bilang, cukup," ulangi Reyna, melangkah satu tapak lebih maju hingga jarak mereka kian dekat.
"Selama ini saya diam bukan karena saya takut pada Ibu dan bukan juga karena tuduhan-tuduhan sampah Ibu itu benar, saya diam karena saya masih menghargai etika kerja dan posisi Ibu sebagai atasan," ucap Reyna.
"Reyna, kamu...," Bu Sandra terkejut melihat keberanian Reyna.
"Tapi ternyata, semakin saya menghargai Ibu, semakin Ibu bertindak semena-mena dan kehilangan akal sehat sebagai pimpinan. Foto yang saya kirimkan benar adanya, saya terlambat karena kondisi darurat, bukan karena saya pemalas seperti yang selalu Ibu tuduhkan untuk menutupi ketidakmampuan Ibu sendiri dalam memimpin divisi ini!" lanjut Reyna dengan nada tenang namun menusuk tajam.
"Kurang ajar kamu ya, Reyna! Berani-beraninya kamu bicara begitu sama saya?" teriak Bu Sandra dan menunjuk mukanya dengan telunjuk yang bergetar murka.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor