"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Mencari fitri
Tanpa memberi kesempatan pada Adam untuk membela diri, Dokter Maya langsung berbalik dan melangkah meninggalkan koridor yang sunyi. Suara ketukan sepatu hak tingginya bergema pelan, lalu perlahan hilang di balik belokan tangga.
"Dokter..." Ucap Adam ingin bertanya kembali namun dokter maya acuh.
Adam membeku di tempatnya berdiri. Tubuhnya terasa begitu lemas, seolah seluruh tenaga dan harapannya dikuras habis dalam sekejap. Pencariannya mentok di benteng tebal yang tak mampu ia tembus. Semua orang menutupi jejak Fitri, memperlakukannya persis seperti seorang penjahat yang tak layak mendapat pengampunan.
Dengan langkah gontai, Adam berjalan ke parkiran, membiarkan gerimis tipis membasahi kemeja putihnya. Di dalam mobil yang gelap, ia menyandarkan kepala ke lingkar kemudi. Keheningan langsung menyergapnya, menyajikan sebuah kenyataan pahit: Fitri tak sekadar angkat kaki dari rumah, tetapi telah benar-benar menghapus dirinya dari peta kehidupan wanita itu.
Malam makin merambat larut, menyelimuti rumah dua lantai yang kini terasa bagaikan makam sepi. Suara detik jarum jam dinding berdetak teratur, menjadi satu-satunya suara di dalam ruangan yang gelap gulita. Adam duduk menyendiri di sudut sofa ruang tamu, memangku diari sampul kulit biru tua milik Fitri yang mulai kusam oleh usapan tangannya sendiri.
Rosa belum juga pulang. Wanita itu cuma mengirimkan pesan singkat beberapa jam lalu, mengatakan bahwa ia menginap di apartemen temannya karena enggan melihat wajah Adam yang dianggapnya membawa sial. Adam bahkan tak berniat membalas sepatah kata pun. Kehadiran atau ketiadaan Rosa kini tak lagi penting, hanya menyisakan rasa mual atas kebodohannya sendiri.
Dengan mata yang sembap dan memerah, Adam mengusap perlahan lembaran kertas diari yang menguning. Dinyalakannya lampu meja yang remang-remang, lalu dibacanya kembali baris-baris tulisan tangan rapi yang terukir di sana.
‘Malam ini Mas Adam pulang terlambat lagi. Dari aromanya, dia baru saja makan malam di luar bersama Rosa. Ada rasa sakit luar biasa yang mencubit dadaku, tapi aku harus sadar diri. Aku cuma wanita yang hadir lewat perjodohan. Aku cuma bisa berdoa semoga masakan yang kutinggalkan di tudung saji tetap dimakan kalau dia merasa lapar sewaktu subuh.’
Air mata Adam menetes begitu saja, jatuh tepat di atas tinta hitam yang mengering itu. Ingatannya mendadak berputar ke malam itu. Malam itu, ia memang pulang dalam kondisi kenyang setelah menghabiskan uang jutaan rupiah untuk makan malam romantis bersama Rosa di restoran mewah.
Saat tiba di rumah, ia melihat tudung saji tertutup rapat di meja dapur. Tanpa kasihan sedikit pun, Adam langsung membuang tumis ayam dan sup hangat buatan Fitri ke dalam tong sampah, hanya karena ia tak sudi memakan buatan wanita yang tak dicintainya.
"Betapa jahatnya aku..." bisik Adam lirih, tangisnya pecah di dalam ruangan yang sunyi.
Adam bangkit berdiri dengan langkah berat, berjalan menyusuri lorong rumah yang dingin menuju kamar tidur almarhumah ibunya. Dibukanya pintu kayu itu pelan. Aroma minyak kayu putih yang dulu sering dipakai ibunya masih tersisa tipis di udara. Di kamar inilah Fitri dulu menghabiskan malam-malam panjangnya dengan telaten mengganti kain kompres, menyuapi bubur, dan memijat kaki ibunya tanpa pernah mengeluh capek.
Adam berlutut di samping tempat tidur tua itu, membenamkan wajahnya di atas kasur yang dingin. Ia membayangkan sosok Fitri sedang duduk di sana mengenakan mukena putih, tersenyum lembut sambil mengusap dahi ibunya.
Dulu, sang ibu berkali-kali mengingatkannya, "Adam, hargai Fitri. Dia itu mutiara di rumah ini. Jangan sampai kamu menyesal saat dia sudah tidak ada."
Namun saat itu, telinga dan hatinya tersumbat oleh ego serta obsesi buta pada kecantikan luar Rosa. Ia menganggap peringatan ibunya sebagai angin lalu. Kini, setelah ibunya meninggal dan Fitri melangkah pergi, Adam baru menyadari bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya tempat pulang paling hangat dalam hidupnya.
Adam meremas seprai kasur ibunya kencang-kencang, menangis terisak dalam kesendirian. Rumah ini masih berdiri kokoh, tetapi terasa mati. Tak ada lagi perhatian tulus, tak ada lagi doa yang dilangitkan untuk keselamatannya. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang akan terus mengejarnya di setiap helai napas yang tersisa.
Malam makin merambat larut saat gemuruh petir menyambar langit, disambut hujan deras yang menghantam kaca jendela rumah. Di dalam ruang tengah yang remang-remang, Adam duduk membisu di atas sofa. Wajahnya tirus dengan lingkaran hitam pekat di bawah mata.
Di atas meja kayu di hadapannya, tiga hal terhampar berantakan: buku diari biru milik Fitri, tumpukan surat tagihan utang, dan sebuah botol minuman keras yang sudah mengering.
Brak!
Suara langkah kaki menggunakan sepatu hak tinggi menghentak kasar, memecah sepi. Rosa melangkah masuk dengan pakaian yang agak basah. Wajah cantiknya yang biasa dipoles sempurna kini tampak kusut dan penuh amarah. Tanpa mengacuhkan keberadaan Adam, wanita itu menyambar tas mewahnya, hendak langsung masuk ke kamar.
"Dari mana saja kamu, Rosa?" tanya Adam dengan suara dingin dan datar.
Rosa menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya malas sembari menyilangkan tangan di dada. "Bukan urusanmu! Aku mau menginap di mana, mau jalan sama siapa, itu hakku! Lagian buat apa aku betah di rumah dingin dan kotor ini? Makanan tidak ada, uang jajan tidak ada, suami cuma bisa melamun seperti orang gila!"
Adam bangkit berdiri perlahan, menatap Rosa lurus-lurus. Tak ada lagi rasa marah membara seperti hari-hari sebelumnya. Yang tersisa di mata Adam hanyalah tatapan hampa yang teramat dingin.
"Uang jajan?" Adam tertawa pelan, sebuah tawa hambar yang menyayat hati. "Kamu tahu tidak, Rosa? Gara-gara menuruti gaya hidup sosialita mu dan membayar pesta pernikahan mewah yang kamu minta, seluruh tabunganku habis. Kartu kreditku diblokir. Sekarang bank mulai mengirim surat peringatan cicilan rumah. Tapi kamu sama sekali tidak peduli."
"Ya salahmu sendiri kenapa tidak becus cari uang lebih banyak!" potong Rosa melengking tanpa rasa iba sedikit pun. "Dulu kamu pamer seolah-olah pria paling kaya yang bisa memanjakan aku! Kalau tahu kamu bakal jatuh miskin dan menyedihkan begini, aku tidak akan pernah mau menerima lamaranmu!"
"Menerima lamaran?" Adam maju satu langkah, menunjuk tumpukan surat tagihan di atas meja. "Kamu yang mengemis-ngemis minta dinikahi secara mewah supaya bisa dipamerkan di media sosialmu itu! Kamu cuma memanfaatkan aku dari awal, Rosa!"
"Kalau iya kenapa?!" Rosa membalas bentakan Adam tak kalah kencang. "Memangnya ada wanita yang mau sama pria kere seperti kamu kalau bukan karena uang?! Tak usah sok merasa jadi korban! Kamu sendiri yang gatal mengejar-ngejar aku dan menendang mantan istrimu itu!"
"Cukup, Rosa!" potong Adam, suaranya gemetar menahan getir yang teramat sangat. "Mulai malam ini... kamu keluar dari rumah ini."
Rosa tertawa sinis, menatap Adam tak percaya. "Kamu mengusirku? Kamu pikir aku sudi bertahan di rumah rongsokan ini? Tanpa kamu usir pun aku bakal pergi! Dasar pria tak guna!"
Brak!
Rosa menyambar koper dan tasnya, lalu menghentakkan kaki keluar rumah tanpa berpaling sedikit pun, membanting pintu depan hingga bergetar keras.
Adam kembali sendirian. Pria itu ambruk ke sofa, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penyesalan itu kini makin membakar habis seluruh sisa hidupnya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.