Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Jadi benar laporan itu, Ratu Iblis yang kejam ternyata bersembunyi di bawah ketiak seorang tukang pijit rendahan!" cerca Jenderal Barata dengan suara menggelegar.
Arya mendengus pelan sambil merapikan tas usangnya yang tersampir di pundak.
"Jangan bawa-bawa ketiak saya, Jenderal, itu masalah higienitas pribadi," balas Arya santai.
Vanya melotot tajam ke arah Arya dengan kilatan mata merah yang menyala-nyala.
"Bisa-bisanya kamu bercanda di tengah situasi genting seperti ini, Arya!" bentak Vanya kesal.
"Mau gimana lagi, tegang juga percuma kalau ujung-ujungnya kita harus babak belur," jawab Arya tanpa rasa takut.
Jenderal Barata mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi ke arah langit-langit halaman kuil.
"Habisi mereka berdua sekarang juga! Jangan sisakan satupun nyawa!" perintah sang jenderal murka.
Puluhan prajurit berzirah emas langsung menerjang maju secara serempak dengan teriakan beringas.
Brak... brak...
Suara derap sepatu besi mengguncang halaman kuil tua itu.
Vanya menyeringai dingin, aura hitam pekat langsung meluap keluar dari kedua telapak tangannya.
"Sekumpulan semut yang berani mengusik ketenanganku," desis Vanya berbahaya.
Ia melompat maju menyambut terjangan prajurit terdepan dengan kecepatan kilat.
Bum...
Hantaman gelombang energi hitam langsung membuat belasan prajurit terpental jauh.
Arya berdiri di ambang pintu kuil sambil memperhatikan pertempuran brutal di hadapannya.
"Wah, ratu satu ini kalau sedang ngamuk ngeri juga ya," gumam Arya ngeri sendiri.
Jenderal Barata melihat pasukannya tumbang dalam sekejap langsung mendidih amarahnya.
"Keparat! Biar kuuji seberapa hebat kekuatan Ratu Iblis yang melemah ini!" tantang Barata beringas.
Jenderal berbadan kekar itu melesat cepat mengayunkan pedang besar bermuatan tenaga dalam tinggi.
Ssh...
Desisan angin tajam menerpa wajah Vanya dengan kecepatan luar biasa.
Vanya menangkis tebasan itu menggunakan cakar iblis bayangan miliknya.
Kring...
Percikan api berpijar terang saat cakar dan bilah pedang saling beradu keras.
"Argh... berat juga tenaga tua bangka ini," batin Vanya sedikit terkejut.
Meskipun Vanya adalah Ratu Iblis, luka lamanya membuat staminanya belum pulih sepenuhnya.
Jenderal Barata memanfaatkan kelengahan Vanya untuk mendaratkan tendangan keras.
Brak...
Tendangan telak itu mengenai lambung Vanya hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
"Yang Mulia!" pekik Arya kaget melihat Vanya terdorong mundur.
Vanya menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Sialan, manusia ini ternyata cukup merepotkan dalam kondisi aturanku terkunci," umpat Vanya kesal.
Jenderal Barata tertawa meremehkan sambil menatap Vanya dengan seringai keji.
"Ha-ha-ha! Ternyata Ratu Iblis yang ditakuti dunia sudah kehilangan taringnya!" ejek Barata lantang.
Arya langsung berlari mendekati posisi Vanya dengan napas terengah-engah.
"Kamu nggak apa-apa? Jangan sok kuat kalau badan masih belum beres," tegur Arya cemas.
"Diam kamu, manusia bodoh, aku tidak butuh diceramahi!" balas Vanya sewot meski wajahnya pucat.
[Peringatan Sistem: Subjek Vanya mengalami penurunan stamina drastis akibat benturan fisik.]
[Misi darurat aktif: Lakukan kontak fisik dan pijat titik akupuntur pemulihan di tengah pertempuran!]
Suara dengungan sistem itu berputar kencang tanpa henti di kepala Arya.
"Sistem sialan, nyuruh aku mijit di tengah medan perang yang lagi hujan pedang!" protes Arya dalam hati.
Jenderal Barata kembali mengangkat pedangnya bersiap melancarkan serangan pemungkas.
"Rasakan ini, tebasan maut penghancur jiwa!" teriak Barata berlari kencang.
"Cepat selamatkan dirimu, Arya, biar aku hadapi dia sendiri!" suruh Vanya bersiap maju.
"Nggak usah banyak ngatur, kita selesaikan ini bareng-bareng!" potong Arya tegas.
Arya langsung menarik lengan Vanya ke belakang tubuhnya dengan gerakan cepat.
Ia mengaktifkan seluruh skill dorongan energi sistem sementara yang tersisa di dalam tubuhnya.
Sss... shh...
Tangan Arya memancarkan cahaya biru samar yang menenangkan.
Ia menekan titik saraf akupuntur punggung Vanya untuk menyalurkan energi pemulihan instan.
"Ehh... apa yang kamu lakukan di tengah pertarungan?!" kaget Vanya merasakan aliran hangat di tubuhnya.
"Diam dan rasakan efek pijatan mautku, biar tenagamu balik lagi!" jawab Arya fokus.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis berhasil mentransfer energi pemulihan mutlak!]
[Stamina Subjek Vanya pulih 100 persen dalam sekejap!]
Seketika mata merah Vanya bersinar jauh lebih terang dari sebelumnya.
Energi hitam pekat meledak dahsyat melingkupi seluruh tubuh sang Ratu Iblis.
Jenderal Barata yang sedang berlari mendekat mendadak terhenti karena merasakan tekanan luar biasa berat.
"A-Apa-apaan tekanan energi mengerikan ini?!" gemetar Jenderal Barata ketakutan setengah mati.
Vanya merasakan seluruh rasa sakit di tubuhnya lenyap tak bersisa, digantikan kekuatan penuh yang meluap-luap.
Ia menatap Jenderal Barata dengan tatapan dingin yang membekukan jiwa.
"Beraninya kamu menyentuhku dan membuat tukang pijitku kerepotan," desis Vanya berbahaya.
Sebelum Jenderal Barata sempat melarikan diri, Vanya sudah melesat di hadapannya dalam sekejap mata.
Bum...
Satu pukulan telak langsung menghantam dada Jenderal Barata tanpa ampun.
Panglima perang terkuat kerajaan itu terpental jauh menembus dinding batu kuil hingga hancur berkeping-keping.
Gedebuk...
Tubuh Jenderal Barata jatuh tak sadarkan diri dengan luka parah di sekujur tubuhnya.
Seluruh prajurit istana yang melihat jenderal mereka tumbang seketika menjatuhkan senjata dari tangan.
"Jenderal kalah dalam satu pukulan... lariiii!" teriak prajurit panik ketakutan.
Mereka kocar-kacir melarikan diri meninggalkan halaman kuil dalam waktu singkat.
Arya menghembuskan napas panjang, lalu terduduk lemas di tanah karena kehabisan tenaga.
"Hah... hampir saja kita jadi sate panggang hari ini," keluh Arya lemas.
Vanya mendarat anggun di dekat Arya, menatap pemuda itu dengan tatapan rumit penuh rasa kagum.