Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 17
Menunggu adalah sesuatu yang paling membuat Alensky tigak suka, kata yang diucapkan Tranaka tentu saja tidak di turutinya, apalagi dengan tubuh yang cukup lelah saat ini, hingga akhirnya Alensky melangkahkan kaki.
"Mau kemana?" Tanya Draja yang sudah pindah tempat di sampingnya semenjak kepergian Tranaka.
"Pulang, kamu pulang nggak?, aku nebeng" ucap Alensky.
"Eh, nggak ingat apa pesan Naka tadi?"
"Ck, nggak ingat, ayo pulang, ngapain juga disini, aku pengen istirahat, badan sakit semua" ucap Alensky sudah tak sabar lagi, dan kini sudah berdiri.
Galen dan Vito segera menghampiri, kebetulan di kelas hanya ada mereka berdua setelah dirinya dan Draja.
"Tunggu, mau kemana?" Tangan Galen menghalangi.
"Pulang, kemana lagi?" Sahut Alensky yang sudah siap melangkah.
"Jangan bercanda, Tranaka sudah mengatakan kita untuk menunggunya" sahut Vito.
"Terlalu lama, aku duluan, kalian terserah kalau mau menunggunya"
Alensky langsung berjalan begitu saja, tak peduli dengan dua laki-laki yang memanggilnya dan bahkan berusaha untuk menahannya, sementara Draja akhirnya pergi mengikuti nya.
Tak ada suara dari mulut Alensky saat ini, yang ada di pikirannya hanya segera sampai di Apartemennya dan menyembuhkan diri, luka di tubuhnya cukup menganggu.
"Alen, kita kemana?" Tanya Draja yang duduk di sebelahnya, taksi online menjadi pilihan mereka saat ini, karena Draja tak mungkin membonceng Alensky pakai sepeda motonya, bisa tambah parah, batinnya.
"Apartemen ku, sopir sudah tau alamatnya" jawab Alensky.
Draja hanya mengangguk pelan, lalu merebahkan punggungnya, merasa sedikit rileks untuk sementara.
Masih berkecamuk di pikirannya, kenapa Alensky melakukan itu semua, kenapa dia bisa membela Murni dengan mengorbankan diri, bahkan tak melawan sama sekali.
"Alen?"
Draja menoleh ke Alen yang masih memejamkan mata menikmati perjalanan.
"Hem?"
"Kamu tidur?"
Alen lalu membuka matanya perlahan, dan sejenak menatap Draja di sampingnya.
"Ada apa?" Tanya Alensky dengan kembali menyandarkan kepala di kursi mobil sambil menutup matanya.
"Murni sudah pulang duluan, di ruang kesehatan tadi ada Dosen yang membantu memeriksanya, tapi saat aku mengatakan semua luka itu karena ada orang di kampus ini yang melakukan kekerasan, sepertinya mereka hanya diam saja"
"Lalu?"
"Luka Murni lumayan parah tadi, sepertinya bukan cuma hari ini, dia mungkin sering mendapatkan kekerasan entah dari siapa"
"Untuk itu aku tadi menggantinya, dia tidak akan kuat lagi menerima kekerasan dari wanita-wanita gila itu" sahut Alensky.
Sesaat Draja terdiam, nampak ada yang di pikirkan, dan akhirnya mengucapkan_
"Terimakasih Alen"
Alensky mengerutkan dahi, rasanya ada yang aneh dari kata-kata Draja saat ini, lalu menegakkan tubuh setelah membuka matanya.
"Terimakasih untuk apa?" Tanya Alensky.
"Untuk semuanya, untuk Murni, dan untukku juga"
"Untuk mu?, maksud nya?"
"Aku sadar sekarang, bahwa kepedulian itu penting, bukan malah memikirkan diri sendiri untuk menyelamatkan diri, aku merasa lebih hidup saat membantu Murni, berlari kebingungan meminta bantuan, dan saat aku melihat Murni tersenyum di tengah itu semua sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali, aku merasa lebih berharga, aku merasa berguna" panjang lebar kali ini Draja bicara, dan Alensky hanya mendengarkan saja.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Alensky.
"Takut, khawatir dan bingung, tapi kenapa menyenangkan sekali ya?" jawab Draja.
Alensky tersenyum lalu menepuk bahu Draja yang sesaat nampak terkejut lalu ikut tersenyum bersama nya.
Alensky kembali merebahkan kepalanya, memejamkan mata dan menata pikiran, banyak sekali yang berseliweran di sana, sampai pada akhirnya hanya satu fokusnya, waktu dua Minggu dia harus bertahan untuk menjaga ketenangan saat berada di kampusnya.
Sampai akhirnya tiba di kawasan Apartemen yang tidak terlalu mewah, tapi cukup membuat Draja merasa penasaran saja, apa Alensky sendirian di Apartemennya.
"Aku boleh masuk?" Tanya Draja.
"Aku sudah membayar taksinya untuk mengantarkan mu kembali kekampus segera, motor mu ada di sana kan?" Jawab Alensky.
"Iya juga sih, okey aku pulang, lain kali aku mampir boleh?"
"Hem"
Alensky mengangguk kan kepala dan segera berjalan masuk.
Draja hanya melihat nya saja, setelah memastikan Alensky tak terlihat lagi, baru memberitahukan kepada sopir taksi untuk melanjutkan perjalanan.
Membuka pintu perlahan, Alensky langsung menuju ke kamarnya, melepas semua pakaian yang nampak lebih kotor dari biasanya, apalagi setelah insiden tadi.
Tak berapa lama, tubuhnya sudah di bawah derasnya air shower, ada rasa perih dan pedih, lalu Alensky melakukan sesuatu untuk menyembuhkan diri.
"Kalian benar-benar merepotkan sekali" Gumamnya sebelum tangannya menyentuh pelan di beberapa luka yang ada di tubuhnya.
Sesaat kemudian, semua telah sirna.
*
*
Sementara itu di tempat lain, Tranaka sudah melakukan sesuatu, dia memang laki-laki yang pantang menyakiti wanita, tapi tidak dengan hal lainnya.
Mobil mewah seseorang yang terparkir sudah hancur lebur saat ini, kaca berhamburan kemana-mana, tanpa alarm yang berbunyi dari sana, rupanya Tranaka sudah merusak semuanya.
Beberapa Mahasiswa yang tak sengaja melihat hanya berlalu pergi tanpa berkata apa-apa, siapa juga yang brani berurusan dengan Tranaka, tidak ada.
Kini sudah saatnya Tranaka memberikan pelajaran serius nya, ada senyuman sinis, lalu beranjak pergi untuk melakukan hal lainnya.
Tidak butuh waktu lama, terdengar teriakan dari seseorang wanita, terjatuh karena sebuah tali yang terpasang tanpa dilihatnya, kaki dan tangan mereka terluka karena terguling beberapa kali.
"Brengsek, Sialan!, siapa yang berani memasang jebakan ini!" Teriak Meriya setelah berusaha berdiri dengan susah payah karena lututnya yang sakit, begitu juga dengan Nirina dan Soraya yang tengah meringis dan nangis menahan nyeri di kakinya.
Namun yang paling mengejutkan adalah kedatangan Tranaka di depan mereka.
"Naka?" Ucap Meriya.
Hanya ada senyuman dan tatapan tajam saja, Tranaka melihat cukup puas, dn saat itulah Meriya tersadar akan sesuatu.
"Kau yang melakukan semua ini?" Tanya Meriya.
"Mungkin"
"Apa maksud mu, kami terluka dan kau senang melihat nya?" Meriya semakin murka.
"Aku tidak tau seberapa parah yang kalian lakukan pada Alensky, tapi setidaknya kalian bisa lebih berhati-hati mulai sekarang" Tranaka pergi begitu saja setelah memberikan peringatan.
Meriya hanya terdiam, menahan sakit dan perih akan luka yang ada di tubuhnya saat ini, sementara Nirina dan Soraya semakin merasa ketakutan akan peringatan yang di berikan oleh Tranaka.
"Apa yang harus kita lakukan, kanapa malah urusannya kemana-mana, harusnya hanya di Alensky saja" Nirina panik saat ini.
"Iya, sebaiknya aku tidak ikut campur lagi, atau kita jangan menganggu wanita itu, Tranaka akan murka jika kita_"
"DIAM!" teriak Meriya dan membuat dua temannya itu langsung bungkam.
Meriya melangkah pergi, tak peduli lagi dengan Nirina dan Soraya yang menurutnya menyebalkan sekali, saat ini hanya ingin kembali ke Mansion dan mungkin akan mengadukan kejadian ini pada orang tuanya, namun saat tiba di area parkir, seketika Meriya berteriak sekencang-kencangnya.
"AKH!!"
Mahasiswa yang kebetulan masih berseliweran seketika berlari menjauh, tak mau sampai berurusan dengan yang namanya Meriya Mawardi.
Nah kan, kapok gak sih si Meriya ini gaes?