Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Dua Bulan, Cerita Baru, dan Topeng yang Kembali Dipakai

Waktu tidak selalu berjalan sebagai penyembuh; kadang kala waktu hanyalah sebuah garis panjang yang mengaburkan bekas luka tanpa benar-benar mencabut durinya. Dua bulan telah berlalu sejak sore berhujan yang meremukkan segala benang kedekatan antara Alee dan Rama. Dua bulan delapan minggu, puluhan hari yang berlalu dalam keheningan yang serba canggung di dalam ruang kelas 12 MIPA 1.

Bagi Alee, rasa sakit itu tidak pernah benar-benar berkurang. Rasa bersalah yang menancap di dadanya masih memiliki ketajaman yang sama persis seperti malam saat omongan Zikri menghantamnya. Setiap kali ia sengaja menatap lurus ke papan tulis demi menghindari sosok Rama yang duduk di jajaran meja depan, atau tiap kali nama cowok itu dipanggil oleh guru saat presensi, ada denyut nyeri yang akrab dan menusuk di dadanya.

Namun, Alee adalah Alee. Ia menyadari satu hal penting: ia tidak bisa terus-terusan mengurung diri dalam bayang-bayang masa lalu yang merusak harinya. Ia muak melihat wajah cemas Nara setiap pagi, ia lelah mendengar bisik-bisik kasihan dari teman-teman sekelasnya yang menyadari keheningan di antara dirinya dan sang Ketua Kelas.

Maka, Alee mengambil sebuah keputusan tegas. Jika rasa sakit di dadanya memang tidak mau pergi, maka ia yang akan memaksa dirinya untuk bangkit. Ia bertekad untuk kembali ceria atau paling tidak, menampilkan sosok Alee yang lama di hadapan dunia.

Pagi itu, suasana koridor lantai dua SMA Nusantara Jaya yang biasanya riuh mendadak makin meriah saat langkah kaki yang riang menghentak ubin berselang-seling.

"PAGI DUNIA! PAGI NARA MY LOVE!"

Sebuah teriak nyaring memecah kebisingan lorong. Nara yang sedang menyandarkan badannya di dekat pintu kelas sampai tersedak susu kotak yang sedang diminumnya. Belum sempat Nara mengusap mulutnya, sebuah rengkuhan kencang di lehernya membuat gadis itu hampir terjerembab.

Alee berdiri di sana dengan gaya khasnya: seragam yang dipasang agak melar di bagian bahu, tas ransel yang hanya disangkutkan di satu bahu, dan rambut yang diikat asal-asalan namun memancarkan energi yang luar biasa. Senyum lebar dengan deretan gigi putihnya yang rapi kembali terpampang di wajahnya wajah yang selama dua bulan ini terus dibayangi raut kusam dan mata sembab.

"Lee! Lu apaan sih, leher gue mau putus!" seru Nara, meski matanya membelalak kaget bercampur haru melihat binar di wajah sahabatnya itu. "Lu... lu kesambet apa semalam?!"

Alee tertawa lepas, tawa renyah petantang-petenteng yang sudah delapan minggu hilang dari peredaran. Ia berkacak pinggang, menepuk dadanya bangga. "Semalam gue dapat hidayah, Nar! Hidup ini terlalu singkat buat diisi sama drama menye-menye. Alee yang ceria, tampan, dan pemberani telah kembali secara resmi!"

"Tampan dari mananya, lu cewek!" omel Nara, namun sejurus kemudian ia tersenyum lega. Ada rasa hangat yang membuncah di dada Nara melihat Alee kembali tertawa lepas, melontarkan lelucon-lelucon konyol seperti tak terjadi apa-apa.

Alee berjalan masuk ke dalam kelas dengan gaya berjalan yang dibuat-buat agak melangkah lebar-lebar dengan dagu terangkat, persis seperti anak jalanan yang merasa menguasai tempat itu. Ia menyapa Hanafi dengan tepukan keras di bahu sampai cowok itu kaget, menyambar bolpoin milik anak barisan depan sambil tertawa-tawa, dan melemparkan lelucon pada siapa saja yang melewatinya.

Alee telah kembali menjadi pribadi yang petantang-petenteng, ceplas-ceplos, dan seolah tidak punya beban hidup.

Namun, ada satu garis tegas yang sangat jelas digambar oleh Alee: Ramaditya adalah area terlarang.

Saat Alee sedang asyik tertawa terpingkal-pingkal bersama Hanafi dan beberapa anak cowok di depan kelas, sosok Rama melangkah masuk membawa tumpukan buku latihan Matematika.

Suara tawa Alee mendadak berhenti selama setengah detik sebuah jeda mikro yang hanya bisa disadari oleh orang yang benar-benar memperhatikan. Namun dengan kecepatan luar biasa, Alee langsung mengalihkan pandangannya, melanjutkan tawanya dengan nada yang agak dinaikkan seolah tidak ada hal penting yang baru saja melewati pintu.

Rama menghentikan langkahnya sejenak. Matanya yang ada di balik kacamata menatap Alee yang sedang tertawa lebar di depan meja guru.

Dua bulan ini adalah neraka bagi Rama. Melihat Alee yang tadinya pendiam dan murung kini mendadak kembali ceria adalah sesuatu yang sebenarnya ia harapkan. Namun, melihat kecekatan Alee dalam membangun benteng pertahanan baru yaitu berpura-pura sangat bahagia dan super sibuk agar tidak ada celah bagi Rama untuk mendekat terasa seperti jenis siksaan baru bagi sang Ketua Kelas.

Rama melangkah pelan menuju mejanya. Saat berjalan melewati barisan depan tempat Alee berdiri, Rama sempat memberanikan diri berbisik pelan, "Alee..."

Namun, Alee secara refleks membalikkan badannya 180 derajat, langsung mengajak Hanafi berbicara dengan nada suara yang keras. "Fii! Lu tahu nggak kemarin si Kak Maya bikin kue gosong?! Asli kocak banget!"

Rama membisu. Langkah kakinya terhenti sejenak sebelum akhirnya ia menunduk dan melanjutkan jalannya menuju kursi Ketua Kelas.

Alee terus tertawa. Ia terus berbicara dengan gestur tangan yang heboh. Namun di balik saku rok seragamnya, jari-jemari Alee mengepal sangat kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, dan rasa nyeri di ceruk dadanya berdenyut hebat.

“Gue bisa. Gue pasti bisa berpura-pura biasa aja,” bisik Alee dalam hatinya yang paling dalam, memaksakan senyumnya tetap merekah tajam di wajahnya.

Jam istirahat menjadi ajang pembuktian bagi Alee. Ia sengaja mengumpulkan anak-anak kelas di meja sudut belakang tempat duduknya bersama Nara untuk merencanakan acara makan-makan kelas akhir semester.

Alee duduk di atas meja dengan kaki terayun-ayun santai, gaya petantang-petentengnya makin menjadi-jadi saat memimpin diskusi dadakan itu.

"Pokoknya kita harus bakar-bakar ikan di rumah Nara! Nggak ada penolakan!" seru Alee sambil menunjuk beberapa anak dengan penggaris plastik. "Yang nggak ikut, ntar tugas Biologinya gue acak-acak!"

Gelak tawa pecah di barisan belakang. Suasana kelas yang selama dua bulan ini terasa tegang dan kaku mendadak kembali hidup berkat kehebohan Alee. Nara yang duduk di sampingnya ikut tertawa, meski sesekali matanya menatap Alee dengan cemas, menangkap getaran halus pada tangan Alee yang memegang penggaris.

Di sudut depan kelas, Zikri memperhatikan pemandangan itu dari mejanya. Penyesalan di dada Zikri tidak pernah hilang, namun melihat Alee kembali tertawa dan berisik membuat beban di pundaknya sedikit berkurang, meski ia tahu hubungan antara Rama dan Alee sudah tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu.

Rama sendiri tetap bertahan di mejanya. Ia berpura-pura membaca buku paket Fisika, namun perhatiannya 100% tercurah pada suara tawa renyah Alee di barisan belakang. Suara tawa yang dulu selalu menjadi alasannya untuk tersenyum, kini terasa seperti melodi indah yang dimainkan dari balik dinding kaca yang tak tersentuh.

Rama tahu, topeng keceriaan dan sikap petantang-petenteng yang dipakai Alee hari ini adalah cara gadis itu untuk melindungi dirinya dari rasa sakit. Alee tidak melupakan kejadian itu; Alee hanya memilih untuk menimbun rasa sakitnya di balik tawa yang nyaring.

Dan celakanya, Rama paham betul bahwa selama Alee memilih untuk memakai topeng kokoh itu, tidak akan pernah ada celah baginya untuk bisa merengkuh kembali gadis yang amat dicintainya tersebut. Alee telah berhasil melangkah maju dengan caranya sendiri caranya yang penuh dengan kepura-puraan yang menyiksa.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!