Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Zhang Li mengangguk pelan. Ingatannya lalu melayang pada paviliun terakhir yang mereka kunjungi. "Bagaimana dengan Selir Xiao Yu?"
Feng Chuan terkekeh tipis, menggelengkan kepala. "Selir Xiao Yu di Paviliun Anggrek hanyalah gadis muda yang canggung. Menurut saya dia justru paling menonjol. Kecerobohannya menyenggol cangkir teh hingga tumpah saat Yang Mulia mendekat membuktikan bahwa refleks militernya nol besar. Seorang prajurit terlatih tidak akan membiarkan jemarinya gemetar dan merusak gerakan sesederhana menuang teh."
"Ya. Dia ceroboh, tidak mencerminkan selir seperti yang ada di kediaman selir." Zhang tersenyum.
"Seperti yang anda cari Yang Mulia." Feng Chuan mengingatkan.
"Ya. Jadi ...." Zhang Li menarik napas panjang, matanya menyipit tajam. "Penyusup yang lihai memanah di arena semalam bukan salah satu dari para selirku."
"Benar, Yang Mulia," tegas Feng Chuan. "Besar kemungkinan penyusup itu adalah orang luar. Mungkin mata-mata dari fraksi oposisi atau penyusup perbatasan yang berhasil menembus benteng luar dan memanfaatkan kegelapan malam."
Suara ketukan santai di pintu ruang baca memecah keheningan. Pintu terdorong terbuka, menampilkan seorang pria berjubah hijau lumut yang melangkah masuk tanpa rasa sungkan.
Shen Mo. Dia Tabib Istana sekaligus sahabat dekat Zhang Li. Pria itu berjalan masuk membawa sebuah mangkuk keramik berisi racikan obat herbal untuk menjaga daya tahan tubuh sang Pangeran.
"Tabib Shen Mo, menghadap pangeran."
"Ah, kau Shen Mo, ada apa?"
"Ini racikan herbal baru untuk tubuh Anda Yang Mulia," ujar Shen Mo. Ia meletakkan mangkuk obat itu di meja Zhang Li.
"Kamu terdengar resmi sekali, ada apa?" tanya Zhang yang mendengar nada bicara Shen Mo formal. Padahal biasanya mereka saling memanggil nama jika dalam area pribadi. Karena mereka adalah teman lama. Jadi sudah akrab dan dekat. "Pasti ada yang ingin kau tanyakan padaku."
Shen Mo tersenyum karena ketahuan. "Boleh aku duduk?"
"Duduklah." Ia lalu menarik kursi dan duduk di hadapan pangeran. "Tadi aku memotong jalan lewat area belakang dan tidak sengaja melihatmu baru kembali dari arah kediaman para selir. Ada angin apa seorang Pangeran mendadak rajin mendatangi mereka?"
Zhang Li tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang tajam menatap uap tipis yang membumbung dari mangkuk keramik di hadapannya, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Shen Mo.
Raut wajah sang pangeran berangsur menegang, menyisakan aura dingin yang biasa ia perlihatkan di medan pertempuran.
"Semalam ada penyusup yang menembus benteng dalam," ucap Zhang Li dengan suara berat dan pelan.
"Penyusup?" bisik Shen Mo, matanya melebar. Pria ini menoleh pada Feng Chuan.
Kepala Feng Chuan mengangguk, mengiyakan. "Ya. Penyusup itu berada di arena panah. Gerakannya sangat lihai, presisi, dan ia menguasai teknik memanah tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh prajurit terlatih," kata Feng Chuan.
"Kau tidak bisa melawannya, Feng?" Tanya Tabib Shen Mo.
Zhang Li menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu hitam yang megah, memiringkan kepala sedikit. "Aku bertarung singkat dengannya sebelum dia berhasil meloloskan diri di kegelapan malam," kata Zhang Li pasrah mengaku kalah.
"Benarkah?" Shen Mo terkejut lagi. Ia tahu bahwa Zhang Li punya kekuatan yang sama prajurit kelas satu. Bahkan sejelas jenderal.
"Begitulah," ujar Feng Chuan.
"Aku curiga ada fraksi luar yang mengirim mata-mata untuk memata-matai setiap gerak-gerikku. Dan saat berduel jarak dekat, ada aroma mawar yang biasa dipakai para selir yang aku cium dari penyusup itu."
Mendengar penuturan itu, Shen Mo mendadak membeku di tempatnya. Senyum santai yang tadinya terukir di wajah sang tabib sirna seketika.
"Aroma mawar yang biasa dipakai para selir? Mata-mata fraksi luar? Bagaimana mungkin ada seseorang yang berhasil menembus penjagaan ketatmu sampai ke area dalam?"
Feng Chuan, yang masih berdiri tegak di dekat ambang pintu sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, melangkah satu tindak ke depan untuk memberi penjelasan tambahan.
"Itulah sebabnya Yang Mulia memutuskan untuk mengambil tindakan cepat hari ini, Tabib Shen," sahut Feng Chuan dengan nada bicara yang tegas dan teratur. "Karena jejak aroma mawar itulah, kami baru saja selesai melakukan sidak mendadak ke seluruh kediaman selir."
Pernyataan Feng Chuan membuat dada Shen Mo berdesir hebat. Gelombang kecemasan yang teramat sangat mendadak menguasai seluruh jalan pikirannya.
Dalam sekejap, bayangan sosok wanita yang selalu mengisi relung hatinya hadir di pikiran Shen Mo—Selir Lan di Paviliun Melati. Wanita dengan tatapan teduh, jemari halus yang rapuh, dan jiwa yang terlalu lembut untuk kerasnya konflik politik istana. Shen Mo mengenal Selir Lan bukan sekadar sebagai salah satu selir Pangeran, melainkan sebagai sosok yang diam-diam selalu ia kagumi dan ingin ia lindungi.
Sidak mendadak karena dugaan ancaman mata-mata? Shen Mo mendadak cemas.
"Kami memeriksa setiap sudut paviliun, mengamati respons refleks mereka saat terkejut, mengecek jenis wewangian dan bau tubuh, hingga memastikan tidak ada penyusup yang bersembunyi di sana. Kami harus memastikan area dalam benar-benar bersih dari ancaman," lanjut Feng Chuan.
Shen Mo meremas jemarinya di balik lipatan jubah hijau lumutnya, berjuang setengah mati agar perubahan raut wajahnya tidak memicu kecurigaan dua pria tajam di hadapannya. Ia menahan napas sejenak, mengendalikan nada suaranya agar tetap terdengar profesional sebagai seorang tabib istana.
"Lalu... bagaimana dengan hasil sidak kalian?" tanya Shen Mo, menyembunyikan getaran tipis kekhawatiran di ujung kalimatnya. "Apakah... apakah ada sesuatu yang mencurigakan di sana? Bagaimana keadaan para selir di tiap paviliun?"
Zhang Li menggelengkan kepala secara perlahan, mengibaskan tangannya di udara seolah ingin mengusir keraguan yang sempat membayangi pikirannya.
"Semua aman dan bersih," balas Zhang Li dengan nada datar yang tegas. "Aroma mawar itu memang berasal dari minyak wewangian yang umum dipakai di seluruh area kediaman selir. Bukan ciri khas satu orang tertentu. Tidak ada satu pun dari mereka yang berhubungan dengan mata-mata atau menyimpan keahlian bertarung. Selir Kui di Paviliun Mawar dan Selir Huo Yan di Paviliun Merak hanya sibuk dengan intrik politik antar wanita. Sementara Selir Lan di Paviliun Melati..." Zhang Li berhenti sejenak.
Sesaat Shen Mo menelan ludah.
"Dia sama sekali tidak berbahaya. Meskipun saat aku datangi dia tampak gugup," lanjut Zhang Li.
Shen Mo menghembuskan napas pelan yang sangat tipis.
"Tapi juga perlu di waspadai," imbuh Zhang Li. Raut wajahnya kembali serius.
"Ada apa?" tanya Zhang Li yang sedikit menyadari kelegaan Shen Mo barusan.
"Dia seperti menyembunyikan sesuatu," kata Zhang Li.
Shen Mo menelan ludah samar. Ia merasa degup jantungnya berdetak kencang.
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄