GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Gunung Salak dan Air Mata Sang Penembus Badai
Lorong pembuangan air itu terasa seperti tenggorokan monster purba yang sedang runtuh menelan mereka hidup-hidup. Dinding batu dan beton di sekeliling Senja, Gala, dan Siska bergetar hebat. Debu tebal, kerikil tajam, dan serpihan semen berjatuhan dari langit-langit, menghujani tubuh mereka di tengah kegelapan pekat yang hanya dibelah oleh cahaya senter taktis dari senjata Siska.
Di kedalaman perut Gunung Salak, rentetan ledakan bawah tanah mulai meledak beruntun. Suaranya tidak terdengar seperti bom biasa, melainkan dentuman seismik yang rendah, berat, dan menggetarkan tulang rusuk. BUMMM... BUMMM... BUMMM... Itu adalah suara asam korosif dan api yang sedang melahap habis seluruh fasilitas Bunker Alpha-Zero, menghapus jejak The Architect, jaringan Vanguard, dan... Pak Broto.
“LEPASIN GUE, SISKA! LEPASIN!”
Senja meronta hebat. Tenaga mantan stuntwoman itu meledak didorong oleh keputusasaan dan adrenalin yang memuncak. Ia berhasil melepaskan satu tangannya dari cengkeraman Siska, berbalik arah menghadap kegelapan lorong, bersiap untuk berlari kembali ke pintu baja yang sudah terkunci mati.
“BAPAAAK!!” jerit Senja, suaranya pecah dan parau, menggema tragis menabrak dinding-dinding batu.
Namun sebelum Senja sempat melangkah maju, Gala menerjangnya dari samping. Jurnalis itu menabrak tubuh istrinya, memeluk pinggangnya erat-erat dengan kedua lengan, dan menahan bobot tubuh Senja hingga mereka berdua jatuh berlutut di genangan air lumpur sedalam mata kaki.
“Nja! Sadar, Nja! Bapak udah nggak ada di sana! Pintu itu udah kekunci mati!” teriak Gala tepat di telinga Senja, menahan rontaan keras istrinya. Air mata Gala sendiri sudah mengalir deras, bercampur dengan debu dan keringat di wajahnya.
Senja memukul-mukul dada dan bahu Gala, mencoba melepaskan diri. “Gue harus tolongin dia, Gal! Gue bisa hancurin pintunya! Dia bapak gue, Gal! Cuma dia yang gue punya!!”
“Bapak milih ini, Nja!” suara Gala bergetar hebat, namun pelukannya sama sekali tidak mengendur. Ia menempelkan dahinya ke dahi Senja yang basah oleh keringat dingin. “Dia milih ngorbanin nyawanya biar lo, gue, dan ribuan orang lain di luar sana bisa hidup tenang! Kalau lo balik ke sana dan mati, pengorbanan bapak lo bakal sia-sia! Lo mau bapak lo mati percuma?!”
Kata-kata Gala menghantam kesadaran Senja bagaikan godam besi. Rontaan Senja perlahan melemah. Pukulan-pukulannya di bahu Gala berubah menjadi cengkeraman putus asa di kemeja suaminya. Akhirnya, pertahanan emosional wanita tangguh itu runtuh sepenuhnya. Senja memeluk leher Gala, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya, dan menangis sejadi-jadinya—sebuah tangisan panjang, memilukan, dan menyayat hati yang mengalahkan suara gemuruh runtuhnya gunung.
Di depan mereka, Siska berdiri diam menatap pemandangan itu. Wajah agen pembunuh berdarah dingin itu tertutup bayangan, namun rahangnya mengeras. Untuk pertama kalinya dalam hidup Siska, algoritma logis di kepalanya gagal memproses emosi manusia yang tersaji di depan matanya.
KRAAAKK!
Sebuah bongkahan batu sebesar lemari es runtuh dari langit-langit lorong, hanya berjarak tiga meter di belakang Siska. Air bah dari sungai bawah tanah mulai merembes masuk melalui retakan dinding, menaikkan volume air di kaki mereka dengan cepat.
“Gala! Angkat dia!” perintah Siska tajam, membuang sentimen sesaatnya dan kembali menjadi mesin pelindung. “Integritas struktur lorong ini sudah mencapai batas toleransi! Kita punya waktu kurang dari dua menit sebelum seluruh terowongan ini amblas ditelan sinkhole!”
Gala mengangguk cepat. Ia menarik tubuh Senja berdiri. Senja tidak lagi melawan, namun tatapannya kosong, separuh jiwanya seolah tertinggal di balik pintu baja di belakang sana. Gala memapah istrinya, merangkul pinggangnya erat, dan berlari tertatih-tatih mengikuti cahaya senter Siska.
Air lumpur kini setinggi betis, memperlambat langkah mereka. Suara gemuruh di belakang mereka makin memekakkan telinga. Gelombang tekanan udara dari ledakan di dalam bunker mulai mendorong mereka dari belakang, membawa hawa panas yang menyengat kulit.
“Cahaya! Di depan ada cahaya!” teriak Gala saat melihat pendaran kebiruan dari ujung terowongan.
Itu adalah mulut lorong pembuangan yang mengarah langsung ke tebing sungai di kaki Gunung Salak.
“Lompat!!” jerit Siska.
Mereka bertiga melempar tubuh mereka menembus mulut terowongan tepat saat sebuah ledakan udara raksasa meletup dari dalam lorong.
WUUUSSSSHHH—BUMMMM!
Tubuh mereka terhempas ke udara bebas, melayang melewati derasnya hujan malam, sebelum akhirnya menghantam permukaan air sungai pegunungan yang sedingin es.
BYUURRR!
Gala tenggelam ke dalam pusaran air sungai yang deras. Paru-parunya mendadak kram karena perubahan suhu yang drastis. Ia menendang air, berenang sekuat tenaga ke permukaan sambil menarik kerah baju Senja. Mereka muncul ke permukaan sambil terbatuk-batuk, menghirup udara malam yang basah dan bersih dari bau ampas mesiu.
Siska sudah lebih dulu mencapai tepian berbatu. Agen itu merangkul lengan Gala dan Senja, menarik mereka berdua ke daratan yang dipenuhi kerikil dan semak belukar.
Mereka bertiga terkapar di tepi sungai. Hujan gerimis perlahan reda, digantikan oleh kabut tipis sisa-sisa badai. Di kejauhan, jauh di atas tebing yang tersembunyi oleh pepohonan pinus raksasa, tanah tampak amblas ke dalam, meninggalkan kawah cekung berselimut asap tebal.
Bunker Alpha-Zero telah sepenuhnya terkubur. Selesai sudah.
Gala tergeletak telentang, dadanya naik turun memburu oksigen. Kemejanya sobek, wajahnya penuh memar, dan seluruh tubuhnya gemetar kedinginan. Ia menoleh ke samping. Senja duduk memeluk lututnya di atas batu berlumut. Pandangan wanita itu kosong menatap aliran sungai, air matanya sudah mengering, digantikan oleh ruang hampa yang teramat dalam.
Siska duduk bersandar di sebatang pohon tumbang. Agen elit itu tampak kacau balau. Jas mahalnya hancur, rambutnya lepek oleh air sungai dan darah, dan perban di bahunya kembali merembes merah. Namun, dengan tangan yang bergetar menahan hipotermia, Siska merogoh saku dalam jasnya yang tahan air.
Ia mengeluarkan sebuah benda logam kecil yang terikat pada rantai perak kusam, lalu melemparkannya ke pangkuan Senja.
Ting.
Senja tersentak pelan. Matanya bergerak menatap benda logam yang kini tergeletak di atas pahanya yang basah.
Itu adalah sepasang dog tag militer—kalung tanda pengenal tentara. Di permukaannya yang bergores, tercetak nama yang sangat ia kenal: BROTO S. - KORPS MARINIR - GOL. O.
Senja mengambil kalung itu dengan tangan gemetar. “Ini... ini punya Bapak. Bapak nggak pernah lepas kalung ini seumur hidupnya.”
“Saat... saat ayahmu menahan Victor di meja lab,” suara Siska terdengar parau dan putus-putus karena menahan rasa sakit di bahunya. “Dia sengaja menabrakkan bahunya ke arahku. Dia menyelipkan kalung itu... dan sebuah flashdisk enkripsi kecil ke dalam saku jas saya.”
Gala bangun dan merangkak mendekati Senja. “Flashdisk?”
Siska mengangkat sebuah benda pipih berwarna hitam sebesar kuku jari dari tangannya. “Protokol Bumi Hangus Broto memang menghancurkan seluruh senjata dan aset kotor Vanguard. Tapi ayahmu tidak menghancurkan semuanya. Flashdisk ini berisi data akses ke rekening off-shore rahasia senilai dua ratus miliar rupiah. Dana bersih yang telah ayahmu cuci dan pisahkan dari uang berdarah Vanguard selama dua puluh tahun terakhir.”
Siska menatap Senja lurus-lurus. “Ayahmu tidak mewariskan kutukan, Senja. Dia mewariskan modal untuk membangun kembali hidup kalian. Dan... untuk membayar biaya pengobatan mental para agen muda yang selamat dari Vanguard.”
Mendengar itu, Senja meremas dog tag ayahnya di depan dada. Kebenaran utuh akhirnya meresap ke dalam hatinya. Ayahnya bukanlah monster, bukan pula pahlawan tanpa cacat. Ayahnya hanyalah seorang pria yang mencoba memperbaiki kesalahan masa lalunya dengan cara yang paling sunyi, dan menanggung seluruh dosanya sendirian hingga napas terakhir.
Senja menyandarkan kepalanya ke bahu Gala, dan untuk kedua kalinya malam itu, ia menangis. Kali ini bukan tangisan kemarahan, melainkan tangisan kelegaan dan perpisahan yang damai. Gala memeluknya rapat, mengecup puncak kepala istrinya di bawah langit malam yang mulai memudar.