Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 : tiba di arena berburu
Gerbang Hutan Larangan hari itu tampak luar biasa ramai dan dijaga ketat oleh ribuan prajurit kekaisaran berpakaian zirah lengkap. Bendera-bendera merah bersulam naga emas berkibar megah di sepanjang pembatas arena berburu. Di area tengah, tenda-tenda sutra mewah telah didirikan sebagai tempat istirahat bagi para menteri, pejabat tinggi, dan para selir yang ikut serta.
Begitu kereta kuda Ara tiba, kehebohan kecil langsung tercipta. Ara melangkah turun dari kereta dengan gerakan melompat yang santai. Dia sama sekali tidak membutuhkan bantuan tangan pelayan seperti wanita bangsawan lainnya.
Penampilannya hari itu langsung memaku pandangan semua orang. Jubah berburu wanita yang harusnya berlapis kain panjang menyapu tanah, kini telah dipangkas habis. Ara mengenakan celana panjang longgar hitam dari kain katun tebal, lengkap dengan pelindung kaki dari kulit yang melilit betisnya. Busur panah hitam besar tersampir kokoh di punggungnya. Gaya berpakaian yang super ringkas, tomboi, tapi memancarkan aura gagah yang luar biasa karismatik.
Di sudut tenda utama, Selir Agung Li yang sedang duduk di dekat ayahnya Menteri Wang langsung mendengus benci melihat kedatangan Ara. Dia berbisik pelan ke telinga ayahnya dengan tatapan mata yang penuh kilat pembunuhan. Menteri Wang hanya mengangguk pelan dengan senyuman licik terselubung di balik kumis tipisnya.
Krieeek...
Terompet tanduk kerbau ditiup dengan suara menggelegar, menandakan bahwa acara perburuan tahunan resmi dibuka.
Kaisar Yan yang mengenakan zirah perang hitam ringan tampak gagah menunggangi kuda perang hitam raksasa miliknya. Pria itu menoleh ke arah Ara. Mata elangnya sempat menyipit sesaat, menilai penampilan tidak biasa dari Permaisurinya, sebelum akhirnya seulas senyuman miring andalannya muncul.
"Bagaimana, Permaisuri? Kau sudah siap mendampingiku di barisan depan, atau kau mau memilih bersembunyi di dalam tenda bersama para selir penakut itu?" tantang Kaisar Yan, suaranya lantang hingga terdengar oleh para jenderal di sekitarnya.
Ara langsung melompat naik ke atas kuda cokelat pilihan yang sudah disediakan untuknya dengan sekali sentak yang sangat lincah. Dia menarik tali kekang kudanya, membuat kuda itu meringkik tegak di samping kuda hitam sang Kaisar.
"Sembunyi di tenda? Sori ya, Mas Bro, kata sembunyi kagak ada di kamus gua!" balas Ara ceplas-ceplos sambil menepuk busur di punggungnya. "Lu mendingan jagain barisan lu sendiri. Jangan sampai nanti di dalam hutan, lu malah nangis karena jumlah buruan lu kalah banyak dari gua!"
Para menteri dan jenderal yang mendengar ucapan lancang Ara langsung menahan napas berjamaah. Namun, Kaisar Yan justru tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang sangat jarang terdengar di lingkungan istana yang kaku.
"Hahaha! Bagus! Kita buktikan ucapanmu di dalam hutan nanti, Xia Ruo!" seru Kaisar Yan penuh semangat. Pria itu langsung menghentak kudanya, memimpin barisan pertama melesat masuk menembus rimbunnya pepohonan Hutan Larangan, disusul oleh Ara yang berkuda dengan kecepatan tinggi tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Namun, baru beberapa menit rombongan melesat masuk ke dalam area hutan yang remang-bahaya, kabut tebal mendadak turun dengan sangat cepat, menutupi pandangan mata. Jalur berburu yang tadinya jelas, kini berubah menjadi labirin pohon raksasa yang mencekam.
Insting preman Ara langsung berdenting waspada. Dia memperlambat laju kudanya, matanya yang tajam melirik ke arah semak-semak yang bergoyang secara tidak wajar di sisi kirinya. Suara derap langkah kaki kuda rombongan Kaisar perlahan mulai menjauh akibat kabut yang semakin pekat, memisahkan Ara dari barisan utama.
"Nah... permainan sesungguhnya baru mau dimulai nih", batin Ara sambil menyeringai tipis, perlahan menurunkan busur panah dari punggungnya dengan gerakan yang sangat senyap.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣