⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 17: Kemurkaan Jiang Xiuwei
Kekalahan telak Shen Mingzhu dan rombongannya di Paviliun Barat menyebar bagaikan api yang menyambar jerami kering di seluruh Kediaman Shen.
Di kediaman timur, Shen Mingzhu menangis sesenggukan di dalam kamar sambil membuang semua barang porselen di atas mejanya.
Rasa malu dipermalukan di hadapan teman-teman bangsawannya membuat wajahnya terasa terbakar. Sementara itu, di aula utama, Jiang Xiuwei duduk dengan raut wajah yang sangat kelam.
Kring!
Jiang Xiuwei menghempaskan cangkir teh tembaga ke atas nampan hingga suaranya menggelegar di aula yang sunyi.
"Gadis tidak tau diri!" geram Jiang Xiuwei, giginya gemeretak menahan amarah yang membakar dada. "Dia tidak hanya melukai pelayanku, tetapi juga berani mempermalukan Mingzhu dan mengusir putri-putri pejabat tinggi dari kediaman ini!"
Pelayan Bi yang berdiri tegap di sampingnya berusaha membakar suasana. "Nyonya Besar, Nona Sulung benar-benar sudah melampaui batas. Jika hal ini dibiarkan, martabat Anda sebagai pengatur kediaman akan hancur di mata para bangsawan ibu kota!"
Jiang Xiuwei memejamkan matanya sejenak, dan menenangkan napasnya yang memburu. Sebagai wanita yang memegang kendali belakang panggung Kediaman Shen selama bertahun-tahun, ia paham betul bahwa bertindak gegabah menggunakan kekerasan fisik di saat Jenderal Shen Longwei sedang mengawasi Paviliun Barat adalah tindakan bodoh.
"Dia pikir dia sudah menang hanya karena bisa gertak sambal?" gumam Jiang Xiuwei dingin. Matanya perlahan terbuka, dan memancarkan kearifan yang licik dan penuh racun. "Jika dia ingin bermain halus, aku akan melayaninya dengan cara yang paling menyiksa."
Jiang Xiuwei melambaikan tangannya yang mengisyaratkan Pelayan Bi untuk mendekat.
"Potong jatah bulanan Paviliun Barat mulai hari ini," bisik Jiang Xiuwei penuh muslihat. "Hentikan pasokan bahan makanan segar dari pasar luar. Berikan mereka sisa-sisa bahan makanan dari dapur umum, dan tahan pengiriman kain sutra serta Herba pemulihan tubuhnya dari gudang utama. Kita lihat seberapa tegap dia bisa berdiri jika perutnya kelaparan dan fisiknya kembali melemah!"
**
Dua hari berlalu sejak insiden kedatangan Shen Mingzhu. Paviliun Barat tampak begitu tenang, namun perubahan halus mulai terjadi pada pasokan kebutuhan harian mereka.
Siang itu, Shen Yue baru saja menyelesaikan latihan fisik rutinnya di halaman. Peluh membasahi jubah latihannya, namun staminanya terasa semakin mantap.
Begitu ia melangkah masuk ke aula dalam untuk makan siang, ia menemukan Qingzhu dan pelayan lainnya berdiri menunduk di dekat meja makan dengan wajah yang cemas dan takut.
Di atas meja kayu jati yang biasanya dipenuhi hidangan melimpah, kini hanya tersaji semangkuk bubur encer berkuah bening, sepiring sayur layu yang ditumis tanpa rempah, dan sepotong kecil daging keras yang baunya sudah agak masam.
Shen Yue menyipitkan matanya. Ia lalu berjalan mendekati meja dan mengamati makanan itu sejenak.
"Apa ini?" tanya Shen Yue datar tanpa nada emosi.
Qingzhu langsung berlutut dengan tubuh gemetar. "M-maafkan hamba, Nona Muda! Saat hamba pergi ke gudang bahan makanan utama pagi tadi, Pelayan Deng mengatakan bahwa pasokan bahan makanan untuk Paviliun Barat dipangkas atas perintah pengelola gudang. Mereka bilang... jatah bahan segar bulan ini terbatas dan di prioritaskan untuk kediaman tengah."
Shen Yue menyunggingkan senyuman tipis. Langkah picik seperti ini sudah sangat mudah ditebak dari wanita sekelas Jiang Xiuwei. Mengontrol perut dan logistik adalah taktik tertua dalam perang attrisi.
"Taktik murah," batin Shen Yue sambil menggelengkan kepala.
Ia tidak marah atau mengamuk seperti yang mungkin diharapkan oleh Jiang Xiuwei. Shen Yue lantas menyilangkan dadanya, dan menatap Qingzhu yang masih ketakutan.
"Qingzhu, bangunlah," perintah Shen Yue. "Berapa banyak tabungan atau perak yang disimpan oleh pemilik tubuh ini, maksudku, berapa banyak uang perak yang kupunya di dalam lemari?"
Qingzhu berdiri perlahan sambil menyapu sudut matanya. "Nona Muda memiliki simpanan uang saku dari almarhumah Ibunda sebanyak lima puluh tael perak yang tersimpan di kotak kayu jati kamar Anda. Tetapi... Nona tidak boleh menggunakan uang pribadi untuk membeli bahan makanan! Itu adalah hak Anda dari kediaman!"
"Uang ada untuk digunakan," sahut Shen Yue santai. "Mengapa harus bergantung pada makanan basi dari dapur utama jika kita bisa membeli makanan terbaik dari restoran termewah di ibu kota?"
Mata Qingzhu membelalak. "T-tapi Nona... wanita bangsawan dari klan Jenderal tidak boleh keluar kediaman tanpa pengawalan khusus atau izin dari Nyonya Besar..."
Shen Yue tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan rasa percaya diri.
"Aturan itu dibuat untuk gadis penakut di masa lalu," tegas Shen Yue. "Ambilkan aku pakaian paling ringkas di lemari. Hari ini, kita akan keluar menikmati suasana kota dan membeli semua yang kita butuhkan sendiri.
Satu jam kemudian, pintu samping Kediaman Shen terbuka pelan.
Shen Yue melangkah keluar menembus jalanan ibu kota yang ramai. Ia mengenakan jubah pria berwarna biru muda yang longgar, rambut panjangnya diikat rapi di atas kepala membentuk sanggul cendekiawan dengan topi kain sederhana.
Meski menyamar sebagai pria muda, ketampanan dan aura anggun dari wajahnya tetap membuat beberapa pejalan kaki menoleh dan terpukau.
Di belakangnya, Qingzhu berjalan dengan cemas sambil mengenakan pakaian pelayan biasa, ia terus-menerus menengok ke belakang karena takut ada pengawal kediaman yang mengejar mereka.
"Nona... maksud hamba, Tuan Muda," bisik Qingzhu terdengar tegang. "Apakah ini benar-benar aman?"
"Tenanglah, Qingzhu," ujar Shen Yue seraya menikmati hiruk-pikuk ibu kota era kerajaan ini.
Jalanan berbatu dihiasi oleh kedai-kedai kayu, penjual buah-buahan, aroma roti kukus yang meletup hangat di udara, serta lalu lalang kereta kuda berornamen megah.
Suasana yang sangat hidup ini memberikan dorongan kesegaran baru bagi Shen Yue yang terbiasa dengan hutan beton dunia modern.
Shen Yue membawa Qingzhu menuju Restoran Tianxiang, restoran terbesar dan paling bergengsi di pusat ibu kota yang terkenal dengan hidangan kelas atas untuk para pejabat dan bangsawan tinggi.
Begitu melangkah masuk ke dalam lantai dua Restoran Tianxiang, seorang pelayan restoran menyambut mereka dengan ramah dan membimbing mereka ke meja di dekat jendela kayu yang menghadap langsung ke jalan raya utama.
"Tuan Muda, silakan pilih menu terbaik kami," ujar pelayan restoran seraya menyodorkan daftar hidangan di atas gulungan bambu.
Shen Yue memesan bebek panggang madu, sup sirip ikan, tumis rebung segar, dan dua poci teh krisan kualitas tertinggi tanpa ragu-ragu. Uang perak peninggalan ibunya lebih dari cukup untuk membiayai gaya hidup ini.
Saat makanan lezat disajikan dan mereka mulai menikmati santap siang yang mewah, suara percakapan dari meja sebelah, yang dipisahkan oleh tirai bambu tipis, menarik perhatian Shen Yue.
"Kudengar pernikahan antara Yang Mulia Putra Mahkota Zhao Xiao dan Putri Sulung Klan Shen tinggal menghitung Minggu?" suara seorang pria berbusana mewah terdengar tertawa pelan.
"Benar," timpal suara pria lainnya. "Tetapi bukankah rumor mengatakan bahwa Putri Sulung Shen itu gadis yang bodoh, cengeng, dan tidak memiliki bakat sama sekali? Sangat berbeda jauh dengan sepupunya, Shen Mingzhu, yang terkenal cerdas dan berbakat dalam seni musik."
"Haha! Putra Mahkota Zhao Xiao sendiri kabarnya sangat membenci perjodohan ini. Beliau bahkan berencana meminta Kaisar membatalkan pertunangan itu di perjamuan istana minggu depan!"
Shen Yue meneguk teh krisannya dengan perlahan. Senyuman tipis dan dingin pun terukir di bibirnya.
"Putra Mahkota Zhao Xiao..." batin Shen Yue.
Pria yang menjadi alasan pemilik tubuh asli tertekan hingga meracuni diri sendiri kini berencana mempermalukannya di depan seluruh Istana?
Shen Yue meletakkan cangkirnya dengan gerakan tenang, mata sehitam malamnya berkilat penuh intrik.
"Bagus sekali," gumam Shen Yue pelan. "Aku memang tidak berminat menjadi istri dari pangeran manapun di era ini. Jika dia ingin membatalkan pertunangan itu di depan Istana... akan kubuat dia menyesal karena pernah menganggapku sebagai bidak yang bisa dibuang begitu saja."
Bersambung...