Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Dipagi Hari
Suasana di dalam kamar utama mansion yang luas itu masih diselimuti temaram lampu tidur ketika jam dinding digital menunjuk pukul empat lewat empat puluh lima menit pagi. Serena Amaryllis sudah terbangun dengan mata berbinar-binar penuh semangat yang membara.
Begitulah keseharian Serena selama beberapa hari terakhir ini. Di luar dugaan, rutinitas bangun pagi untuk belajar menembak yang awalnya ia benci dan takuti, kini justru menjadi hal paling dinantikannya setiap hari. Berkat latihan disiplin dan bimbingan langsung dari sang suami, kemampuan menembak Serena berkembang dengan sangat pesat. Setiap kali peluru yang ia tembakkan mengenai sasaran dengan tepat, ada kepuasan tersendiri yang memenuhi dadanya.
Perkembangan pesat itu bahkan membuat Sergio diam-diam sering tersenyum kecil di belakang punggungnya, bangga atas ketekunan sang istri. Uniknya lagi, Serena yang biasanya hobi mengeluh dan merajuk, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tidak banyak mengeluh lelah, bahkan justru menjadi pihak yang paling bersemangat setiap pagi, bahkan terlalu semangat hingga sering kali membangunkan Sergio jauh sebelum jam lima pagi tiba.
Seperti pagi hari ini. Dengan tidak sabaran, Serena mengguncang-guncang tubuh besar Sergio yang masih terbaring nyaman di atas ranjang king size.
"Max! Bangun, Max! Ayo bangun!" seru Serena antusias sambil menarik-narik selimut suaminya.
"Hari ini kita harus latihan menembak lebih awal! Target kemarin aku sudah hampir tepat di tengah, aku mau coba level jarak yang lebih jauh lagi!"
Sergio yang masih menutup mata rapat-rapat karena kantuknya terganggu mendengus pelan di balik bantal. Pria itu mengabaikan guncangan di tubuhnya, memilih pura-pura tidur lelap demi mendapatkan tambahan waktu istirahat beberapa menit lagi.
Melihat suaminya hanya diam dan mengabaikannya begitu saja, Serena langsung memasang wajah kesal. Alisnya bertaut tajam, bibirnya mengerucut tebal.
"Ih, kok malah tidur lagi sih?!" protes Serena dengan nada sebal.
"Padahal kan jelas-jelas kamu sendiri yang bilang kalau jam lima pagi kita harus latihan, tapi giliran aku sudah semangat dan cocok sama hobi baru ini, kamu malah abai dan pura-pura tuli! Mana janjimu, Tuan Mafia?!"
Sergio tetap bergeming, sengaja ingin melihat seberapa jauh istrinya itu akan ngomel pagi-pula.
Kesabaran Serena akhirnya habis. Karena geram diabaikan, ia langsung mengambil keputusan nekat. Dengan gerakan cepat, Serena naik ke atas tempat tidur, lalu mendudukkan pantatnya tepat di atas perut bidang Sergio dengan penuh kemenangan.
Bruk!
Sergio yang tengah menutup mata rapat-rapat langsung melotot kaget. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar sejenak sebelum menunduk mendapati tubuh istrinya sudah bertengger sempurna di atas perutnya.
"Apa yang kamu lakukan, Serena?!" tanya Sergio dengan suara serak berat, nada bicaranya berubah serius dan tertahan.
Serena melipat kedua tangannya di dada, mendongakkan dagunya menantang. "Aku bakalan begini terus dan nggak mau turun kalau kamu tidak mau bangun sekarang juga!" ancam Serena dengan senyuman puas, mengira ancamannya akan membuat suaminya menyerah.
Sergio menyipitkan mata birunya, menatap tajam ke arah wanita di atasnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang berbahaya.
"Kamu yakin mau berlama-lama duduk di situ, hm?" tanya Sergio dengan nada rendah yang sarat akan makna tersembunyi.
Serena mengangguk mantap tanpa rasa curiga sedikit pun. "Tentu saja! Sebelum kamu buka mata dan siap-siap ke lapangan tembak, aku nggak bakal bergeser satu sentimeter pun dari sini!" balas Serena tersenyum licik, merasa dirinya berada di atas angin.
Sergio menghela napas pendek, lalu tangan kekarnya tiba-tiba bergerak merayap naik, mencengkeram erat pinggang ramping Serena dengan cengkokan yang kokoh.
"Baiklah, kalau itu mau mu..." bisik Sergio pelan, suaranya berubah menjadi sangat seksi dan berat di telinga Serena.
"Kalau begitu, coba duduk ke bawah sedikit posisimu, sekaligus buka celanamu. Sepertinya, bergulat panas di atas ranjang jauh lebih bagus dan produktif kita lakukan pagi ini daripada latihan menembak."
Mendengar kalimat blak-blakan dan vulgar tersebut, otak Serena langsung terkoneksi seketika. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak menegang. Ia menunduk, menyadari posisi tubuh mereka yang sangat intim dan berbahaya di atas tempat tidur di pagi buta.
Wajah Serena langsung merona merah padam hingga menjalar ke telinganya. "E-eh?! Apa-apaan sih, mesum banget?!" seru Serena panik, wajahnya memanas hebat. Ia buru-buru berniat bangkit melompat turun dari perut Sergio karena salah tingkah luar biasa.
Namun, sebelum Serena sempat mengangkat tubuhnya, cengkeraman di pinggangnya semakin diperketat oleh Sergio.
"Mau ke mana, Nyonya Ziegler?" bisik Sergio tepat di dekat telinga Serena, napas hangat pria itu menerpa kulit lehernya dengan sangat intim.
"Duduk kembali di sini, Serena... Milikku sudah bangun dan menegang di bawah sana gara-gara ulahmu."
Deg!
Jantung Serena seakan berhenti berdetak mendengar pengakuan vulgar tanpa filter dari suaminya itu. Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhnya merinding hebat. Ia bisa merasakan dengan jelas sesuatu yang keras dan panas menekan perut bagian bawahnya dari balik selimut.
"M-Max... Jangan ngomong sembarangan, ya!" protes Serena terbata-bata dengan suara gemetar, lidahnya mendadak kelu karena rasa grogi dan malu yang bercampur aduk menjadi satu.
"Aku cuma mau bangunin kamu buat latihan menembak, bukan mau ajak kamu keloni pagi-pagi begini!"
Sergio tertawa rendah, sebuah tawa bariton yang terdengar begitu menggoda dan maskulin. Pria itu sedikit mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata cokelat Serena yang tampak salah tingkah luar biasa.
"Siapa yang menyuruhmu membangunkan macan yang sedang tidur, hm?" bisik Sergio penuh dominasi, sorot mata birunya berkilat tajam namun sarat akan hasrat terselubung.
"Kamu sendiri yang menantang ku dengan cara duduk di atasku seperti ini, Serena. Jadi, tanggung jawab atas akibatnya."
Serena benar-benar ingin menangis saat itu juga. Niat awalnya hanya ingin mendisiplinkan suaminya agar segera bangun pagi demi latihan, tapi senjata makan tuan kembali terjadi, hanya saja kali ini bentuknya jauh lebih mendebarkan dan berbahaya bagi kesehatan jantungnya!
"I-iya deh, aku salah! Aku minta maaf! Lepasin dulu, aku mau turun!" bujuk Serena memelas, kedua tangannya menepuk-nepuk pelan dada bidang Sergio sebagai bentuk gencatan senjata.
Sergio tidak langsung melepaskan. Pria itu menikmati setiap detik ekspresi panik di wajah cantik istrinya, merasa sangat terhibur melihat Serena yang biasanya banyak bicara kini mendadak kehabisan kata-kata di hadapannya.
"Cium aku dulu di pipi, baru aku biarkan kamu turun," syarat Sergio dengan nada datar namun mutlak, menunjuk pipinya sendiri menggunakan jari telunjuk.
Serena melotot kaget. "Hah?! Modus ya kamu, Tuan Mafia!" protesnya sewot.
"Cepat, atau hukuman bergulat di ranjang ini yang kita lanjutkan," ancam Sergio dengan tatapan mata yang tidak main-main.
Tanpa punya pilihan lain dan demi menyelamatkan harga dirinya dari ancaman yang lebih berbahaya, Serena dengan cepat menundukkan kepalanya, lalu mengecup sekilas pipi Sergio dengan gerakan kilat.
"Nah, begitu kan anak pintar," ucap Sergio puas, akhirnya melonggarkan cengkeramannya di pinggang Serena.
Begitu terlepas, Serena langsung melompat turun dari atas ranjang dengan wajah semerah kepiting rebus. Ia merapikan bajunya yang sedikit kusut sambil menunjuk-nunjuk Sergio dengan jari telunjuknya dengan napas terengah-engah.
"Awas kamu ya, Sergio! Hari ini di lapangan tembak, aku bakal tembak papan sasarannya berkali-kali bayangin itu muka kamu yang mesum!" ancam Serena kesal setengah mati, lalu berbalik lari terbirit-birit keluar kamar.
Sergio tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa lepas yang sangat jarang terdengar di mansion itu. Pria bertubuh tegap tersebut menyandarkan punggungnya kembali ke kepala ranjang, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan senyuman lebar di wajahnya. Kehadiran Serena benar-benar telah mengubah dunianya yang tadinya dingin, gelap, dan kaku menjadi begitu berwarna, hidup, dan penuh dengan kejutan yang mengasyikkan setiap harinya.
bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔