Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Lahirnya Leon dan Luna
Sembilan bulan telah berlalu dengan sangat cepat.
Jika dihitung dari Bab 11 saat Elena pertama kali tes kehamilan dengan dua garis biru dan muntah-muntah karena ngidam rujak dan es krim durian Medan jam 2 pagi, sekarang sudah 9 bulan kemudian.
Perut Elena yang dulu rata seperti papan selancar, sekarang sudah sangat besar, sangat bulat, seperti membawa semangka kembar di depannya. Karena hamil kembar, perut Elena dua kali lebih besar dari ibu hamil biasa yang hamil satu bayi. Berat Elena naik 25 kilo!
Elena sekarang hamil 38 minggu. Sudah waktunya melahirkan. Dokter Emily bilang bayi kembar biasanya lahir lebih cepat, 37-38 minggu sudah siap lahir.
Di mansion De Luca, suasana 1 minggu terakhir sangat tegang, lebih tegang daripada saat perang Mafia melawan keluarga Moretti di pulau Miami dulu.
Kenapa? Karena Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia yang terkenal paling dingin, paling kejam, paling tidak pernah panik saat ditodong 10 pistol, sekarang PANIK SETENGAH MATI setiap hari!
Setiap 5 menit Lorenzo cek perut Elena.
"Elena, perut kamu sakit? Kontraksi? Mau lahiran? Leon sama Luna nendang?"
Setiap 10 menit Lorenzo telpon Dr. Emily.
"Dok, istri saya perutnya besar sekali, apakah Leon dan Luna baik-baik saja? Apakah mereka butuh oksigen? Apakah mereka butuh pulau pribadi?"
Dr. Emily sampai hafal nomor Lorenzo dan kadang tidak diangkat karena Lorenzo telpon 20 kali sehari.
Hari ini, tanggal 15 Juni 2026, jam 3 pagi.
Di kamar utama mansion De Luca, Elena terbangun karena merasakan sesuatu yang aneh di perutnya yang super besar itu.
Perutnya kencang. Sangat kencang. Seperti ada yang menekan dari dalam.
"Ugh... Lorenzo... perut saya... perut saya sakit... kencang..." kata Elena dengan suara pelan sambil memegang perut super besarnya.
Lorenzo yang tidur di sebelah Elena dengan piyama hitam PAPA SIAGA dan tangan selalu mengelus perut Elena bahkan saat tidur, langsung terbangun dengan panik.
"Sakit? Perut kamu sakit? Kontraksi? Mau lahiran? Sekarang? Jam 3 pagi? Thomas! Thomas! Bangun! Nyonya mau lahiran!" teriak Lorenzo dengan suara super panik, lebih panik daripada saat Elena diculik di rumah sakit dulu.
Elena memegang perutnya yang kencang dan merasakan air ketubannya pecah.
_Tes..._
Air ketuban merembes di tempat tidur king size mereka.
"Lorenzo... ketuban saya pecah... saya mau melahirkan... sekarang... ahh... sakit..." kata Elena dengan air mata mulai mengalir karena kontraksi pertama sangat sakit.
Mendengar kata KETUBAN PECAH, Lorenzo yang Tuan Muda Mafia itu langsung berubah jadi anak kecil yang gagap dan bingung.
"Ketuban pecah? Apa itu ketuban? Di mana pecahnya? Harus dijahit? Harus panggil tukang ledeng? Tidak! Harus panggil dokter! Thomas! Dokter! Dokter!"
Thomas yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk dengan piyama dan rambut berantakan.
"Tuan Muda! Ada apa? Nyonya mau lahiran?"
Lorenzo sudah menggendong Elena dengan bridal style, meskipun perut Elena super besar dan berat 25 kilo tambahan, Lorenzo tetap kuat menggendongnya karena dia memang berotot.
"Thomas! Siapkan mobil! Paling cepat! Kita ke rumah sakit St. Mary! Nyonya mau melahirkan Leon dan Luna! Panggil semua dokter kandungan di New York! Saya mau 10 dokter di ruang bersalin! Dan siapkan helikopter kalau jalan macet!"
Thomas berlari keluar dengan kecepatan 100 km per jam hanya pakai piyama.
Bi Inem yang juga terbangun, ikut panik dan membawa tas bayi kembar yang sudah disiapkan 3 bulan lalu. Tas bayi itu isinya 2 set baju bayi biru dan pink, 2 topi bayi, 2 selimut, dan foto USG Leon dan Luna.
Di dalam mobil Rolls Royce hitam yang melaju 200 km per jam di jalan tol New York jam 3 pagi yang sepi, Elena duduk di kursi belakang dengan perut super besar, memegang perutnya yang kontraksi setiap 3 menit, menangis kesakitan.
"Ahh... Lorenzo... sakit... perut saya sakit sekali... seperti mau pecah... Leon sama Luna mau keluar... ahh..."
Lorenzo yang menyetir sendiri sambil sesekali menoleh ke belakang melihat Elena, juga menangis. Ya, Lorenzo De Luca menangis melihat istrinya kesakitan melahirkan.
"Elena, sayang, tahan ya... 5 menit lagi sampai rumah sakit... tarik napas... hembuskan... seperti yang diajarkan di kelas senam hamil kemarin... ingat? Hoo... hee... hoo... hee..." kata Lorenzo sambil mencoba mempraktekkan senam hamil yang dia ikuti bersama Elena minggu lalu di kelas ibu hamil, di mana dia adalah satu-satunya Papa Mafia bertato naga di antara ibu-ibu hamil.
Elena mencoba menarik napas. "Hoo... hee... hoo... ahh... sakit, Lorenzo!"
Lorenzo semakin ngebut. 220 km per jam!
Sampai di rumah sakit St. Mary jam 3.15 pagi, 10 dokter dan 20 suster sudah menunggu di depan UGD dengan 2 inkubator bayi dan tandu.
Begitu mobil berhenti, Elena langsung dibawa dengan tandu lari ke ruang bersalin VIP yang sudah disiapkan khusus untuk Nyonya De Luca.
Ruang bersalin VIP itu sangat mewah, seperti kamar hotel bintang 5, ada sofa untuk Papa, ada musik klasik, ada lampu temaram, dan ada 2 box bayi mewah warna biru dan pink sudah siap.
Elena dibaringkan di tempat tidur bersalin. Keringat bercucuran di dahinya, rambut pirangnya basah, wajah cantiknya pucat karena kontraksi yang semakin kuat setiap 2 menit.
Dr. Emily yang sudah menunggu dengan baju operasi hijau, memeriksa pembukaan Elena.
"Nyonya Elena, pembukaan sudah 5! Leon dan Luna sudah mau keluar! Tuan De Luca, silakan pegang tangan Nyonya dan bimbing Nyonya untuk mengejan!"
Lorenzo yang masuk ke ruang bersalin dengan baju steril hijau dan topi steril hijau, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar, langsung memegang tangan Elena dengan sangat erat.
Elena mencengkeram tangan Lorenzo dengan sangat kuat sampai tangan Lorenzo memerah.
"Ahh! Lorenzo! Sakit! Sakit sekali! Saya tidak kuat!" teriak Elena dengan suara paling keras yang pernah dia keluarkan.
Lorenzo yang tangannya dicengkeram sampai hampir patah, malah mencium kening Elena yang berkeringat.
"Saya di sini, sayang... saya di sini... Papa di sini... Leon dan Luna juga di sini... kamu kuat, Elena... kamu Nyonya Mafia paling kuat... kamu bisa... ayo mengejan... seperti buang air besar yang besar..."
Elena tertawa sedikit di tengah rasa sakit mendengar kata-kata Lorenzo yang lucu itu, lalu kembali mengejan dengan sekuat tenaga.
"AAAAHHH!"
Jam 3.30 pagi, suara tangisan bayi pertama terdengar di ruang bersalin VIP.
_Oek... oek... oek..._
Dr. Emily mengangkat bayi kecil dengan kulit merah, rambut hitam sedikit, dan wajah ganteng mirip Lorenzo.
"Selamat, Tuan dan Nyonya De Luca! Bayi pertama lahir! Laki-laki! Berat 3,1 kilo! Ini Leon De Luca!"
Leon diletakkan di dada Elena yang masih menangis kesakitan karena masih ada satu bayi lagi di perutnya.
Elena menangis bahagia melihat Leon. "Leon... anak saya..."
Tapi belum sempat Elena istirahat, kontraksi kedua datang lagi, lebih sakit.
"Ahh! Masih ada satu lagi! Luna mau keluar! Ahh!"
Lorenzo yang baru saja melihat Leon lahir dan menangis bahagia, sekarang harus kembali memegang tangan Elena yang mencengkeramnya lagi.
"Ayo sayang, satu lagi... Luna... putri cantik Papa... ayo keluar..."
Jam 3.45 pagi, 15 menit setelah Leon lahir, suara tangisan bayi kedua terdengar, lebih kecil dan lebih melengking.
_Oek... oek... oek..._
Dr. Emily mengangkat bayi kecil kedua dengan kulit merah, rambut pirang sedikit seperti Elena, dan wajah cantik.
"Selamat! Bayi kedua lahir! Perempuan! Berat 2,9 kilo! Ini Luna De Luca!"
Luna diletakkan di dada Elena di sebelah Leon.
Sekarang, di dada Elena yang super lelah dan berkeringat, ada dua bayi kembar, Leon dan Luna, menangis bersamaan.
_Oek... oek... oek... oek..._
Elena menangis dengan sangat bahagia, air mata mengalir deras.
"Lorenzo... lihat... Leon dan Luna... mereka lahir... mereka selamat..."
Lorenzo yang berdiri di sebelah Elena, melihat dua bayi kembarnya di dada istrinya, langsung jatuh berlutut di samping tempat tidur bersalin dan menangis dengan sangat keras, lebih keras dari tangisan Leon dan Luna.
Tuan Muda Mafia yang tidak pernah menangis seumur hidupnya, sekarang menangis seperti anak kecil di ruang bersalin.
"Terima kasih, Elena... terima kasih... kamu kasih saya Leon dan Luna... kamu kasih saya keluarga... saya janji akan jadi Papa terbaik untuk Leon dan Luna... saya janji..."
Lorenzo mencium kening Elena, mencium kening Leon, dan mencium kening Luna dengan bergantian.
Dr. Emily dan semua suster di ruang bersalin ikut menangis haru melihat keluarga Mafia yang bucin itu.
Di luar ruang bersalin, Thomas, Bi Inem, dan 20 penjaga De Luca yang menunggu dengan tegang, mendengar suara tangisan bayi kembar dari dalam, langsung berteriak bahagia.
"HIDUP LEON DAN LUNA DE LUCA! HIDUP NYONYA DE LUCA! HIDUP PAPA SIAGA!"
Malam itu, di ruang VIP rumah sakit St. Mary, Elena terbaring di tempat tidur dengan Leon di sebelah kiri dan Luna di sebelah kanan, keduanya tidur pulas setelah menyusu. Wajah Elena lelah tapi sangat bahagia dan glowing sebagai Mama baru.
Lorenzo duduk di kursi di sebelah tempat tidur, dengan celemek pink PAPA SIAGA yang dia bawa dari rumah, menggendong Leon dan Luna bergantian, belajar cara bedong bayi dari YouTube.
Meskipun cara bedongnya masih miring-miring dan Leon hampir jatuh, Lorenzo sangat bahagia.
"Elena, lihat, Leon mirip saya kan? Ganteng, hidung mancung, tapi alisnya mirip kamu yang cantik... Luna mirip kamu, cantik, rambut pirang, tapi tatapannya tajam mirip saya..." kata Lorenzo dengan bangga.
Elena tersenyum lelah. "Iya, Lorenzo... mereka perpaduan kita... perpaduan pembantu tawanan dan Tuan Muda Mafia..."
Lorenzo tertawa dan mencium bibir Elena dengan lembut.
"Selamat datang di dunia, Leon De Luca dan Luna De Luca... Papa dan Mama sayang kalian..."
Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai terbit jam 4 pagi. Hari baru untuk keluarga De Luca.
Keluarga Mafia yang dulu hanya ada pistol dan darah, sekarang ada tangisan bayi kembar, celemek pink, dan cinta yang tak terbatas