Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 — Malam yang Kami Pilih

Pada Sabtu sore, Adrian masih duduk di kantor ketika pesan dari pengelola gedung muncul di grup.

Listrik akan dipadamkan pukul enam untuk pemeriksaan panel. Seluruh pegawai diminta meninggalkan ruangan. Kantor baru bisa digunakan kembali Minggu siang.

Rapat dengan klien yang semula dijadwalkan malam itu sudah dimajukan ke Jumat siang. Pekerjaannya selesai. Adrian bisa pulang sebelum gelap.

Ia memandangi percakapan Nara.

Kamu di studio hari ini?

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Iya.

Adrian mengetik, berhenti, lalu meneruskan.

Aku ingin datang. Kalau kamu mau.

* * *

Nara sedang mengupas label harga dari cangkir baru.

Ia membaca pesan itu sambil memegang tepi label yang belum terlepas. Lem menempel pada ibu jarinya.

Di ruangan belakang ada tempat tidur, koper terbuka, dan satu bantal tambahan. Di ruang utama ada dua kursi dan meja kecil yang cukup untuk makan berdua.

Adrian belum pernah datang.

Jika ia memberikan alamat, mereka tidak bisa berpura-pura kebetulan bertemu.

Nara meletakkan cangkir.

Ia mengingat Maya mengusap rak, tertawa melihat foto lama, berjanji datang lagi setelah acara minggu ini selesai.

Maya percaya kepadanya. Apa yang akan dikatakannya kalau sahabatnya tahu?

Nara bisa menyuruh Adrian jangan datang. Tetapi ia sudah membayangkan laki-laki itu duduk di sini, menemaninya sampai malam.

Nara justru mengirim lokasi.

Lewat pintu samping percetakan. Aku tunggu di atas.

Sesudah terkirim, ia duduk cukup lama sebelum berdiri untuk membersihkan meja.

* * *

Adrian mengirim pesan kepada Maya dari tempat parkir kantor.

Malam ini masih urus laporan sama tim. Kalau kemalaman, aku tidur di kantor.

Ia membaca kalimat itu sebelum menekan kirim.

Ia bisa mengabarkan pekerjaan sudah selesai, lalu pulang kepada Maya. Tetapi ia ingin menemui Nara, dan untuk itulah ia berbohong.

Maya membalas dengan pertanyaan apakah perlu diantar makanan.

Adrian menolak. Ia mengatakan sudah memesan untuk tim.

Lalu ia menyalakan mobil dan menuju alamat Nara.

* * *

Ketukan pertama membuat Nara tersentak meskipun ia telah menunggunya.

Adrian berdiri di depan pintu dengan sebuah kantong makanan. Kemejanya masih sama seperti saat bekerja, lengan digulung, wajah sedikit lelah.

Nara mundur memberi jalan.

“Aku nggak tahu kamu sudah makan atau belum,” katanya.

“Belum.”

Nara mengambil kantong itu. Melihat makanan untuk dua orang di dalamnya, ia senang Adrian rupanya juga ingin tinggal lebih lama.

Adrian memandang ruangan sebentar. Ia melihat lukisan bersandar, buku ditumpuk, tirai baru di jendela.

“Sudah nyaman?”

“Masih belajar tidur dengan suara mesin di bawah.”

“Berhenti jam berapa?”

“Sembilan. Kalau banyak pesanan, lebih malam.”

Adrian mengangguk. Ia tidak langsung menawarkan tempat lain, tidak mengatakan ruangan ini terlalu kecil.

Nara menunjukkan meja.

Mereka makan dari kotak karton, membicarakan hal-hal kecil yang sudah lama ingin diceritakan. Pelanggan galeri yang mengira harga label belum termasuk kanvas. Pegawai kantor yang tanpa sengaja mengirim catatan belanja ke grup rapat.

Nara tertawa sampai menutup mulut.

Adrian memandangnya.

“Apa?”

“Nggak.” Ia tersenyum. “Sudah lama nggak dengar kamu ketawa begitu.”

Nara menunduk, membuka tutup gelas.

Ia ingin malam ini tetap sesederhana makanan hangat di meja sendiri, laki-laki yang mendengarkan, dan tidak ada yang mengukur berapa menit ia boleh menikmati sesuatu.

Sesaat ia lupa bahwa Adrian bukan miliknya. Ada Maya yang mungkin sedang menunggu laki-laki ini pulang.

Ponsel Adrian menyala.

Maya.

Nara sempat melihat nama itu sebelum Adrian membalik layarnya. Bukan panggilan, hanya pesan.

“Kamu bilang apa di rumah?” tanya Nara.

Adrian tidak langsung menjawab.

“Masih kerja.”

Nara meletakkan gelas.

Mereka duduk tanpa bicara. Bunyi mesin cetak dari bawah memenuhi jeda.

Adrian mengangkat ponsel, membaca pesan, lalu mengetik jawaban singkat. Ia meletakkannya kembali, kali ini dengan layar menghadap ke atas.

“Aku bisa pergi,” katanya.

Nara melihat pintu. Ia tidak dikunci dari dalam ketika Adrian datang. Ia bisa berdiri, membukakannya, mengakhiri sesuatu sebelum menjadi lebih jauh.

“Duduk dulu.”

Adrian tetap di kursinya.

Nara membereskan kotak makan, membuangnya ke tempat sampah, lalu berhenti di sisi meja. Sekarang meja sudah bersih. Nara tidak bisa lagi berpura-pura sibuk untuk menghindari tatapan Adrian.

Adrian berdiri.

Ia menunggu sampai Nara mengangkat wajah sebelum menyentuh tangannya.

Nara mendekat dan memeluknya.

Nara memeluknya lebih erat. Ia sudah rindu sejak pertemuan di kedai itu, sejak mereka berpisah sesudah ciuman pertama. Malam ini ia ingin Adrian tinggal bersamanya.

Adrian menunduk dan menciumnya. Nara membalas, lalu memegang tangannya ketika mereka berpisah.

“Jangan buru-buru pergi,” katanya.

Adrian menatapnya.

“Iya.”

Nara mengunci pintu depan sendiri.

Begitu bunyi kunci terdengar, Adrian berdiri tepat di belakangnya. Nara belum sempat berbalik ketika kedua tangan lelaki itu singgah di pinggangnya. Napas hangat menyentuh tengkuknya.

“Kalau kamu berubah pikiran, bilang.”

Nara berbalik di dalam pelukannya. “Aku nggak berubah pikiran.”

Ia menarik kerah kemeja Adrian dan menciumnya lebih dulu.

Ciuman kali ini tidak lagi hati-hati. Adrian mendorongnya perlahan ke daun pintu, satu tangan menahan pinggangnya, satu lagi menyusup ke rambut. Nara membuka bibir, membiarkan lidah mereka bertemu, dan desahan kecil lolos sebelum sempat ia tahan. Suara itu membuat genggaman Adrian mengencang.

Selama berhari-hari Nara hanya mengingat ciuman pertama mereka. Sekarang ia merasakan semuanya sekaligus: dada Adrian menekan payudaranya, paha lelaki itu di antara kedua kakinya, napas yang semakin berat setiap kali Nara menariknya lebih dekat.

Jemarinya membuka kancing kemeja Adrian satu per satu. Beberapa kali kukunya meleset karena tangannya gemetar. Adrian tidak membantu. Ia hanya menatap, membiarkan Nara membuat pilihan itu sendiri sampai kancing terakhir terbuka dan telapak tangannya menyentuh dada telanjang yang selama ini cuma pernah dilihatnya di layar ponsel Maya.

Kenyataan terasa lebih panas.

Di bawah telapak tangannya, jantung Adrian berdegup keras. Nara menyusuri otot dadanya, lalu bahunya, seolah perlu memastikan tubuh itu benar-benar ada di hadapannya dan malam ini menyentuh dirinya.

Adrian mencium sudut bibirnya, rahang, lalu lehernya. Ketika bibir hangat itu berhenti di bawah telinga, Nara menengadah dan mencengkeram pundaknya. Tubuhnya sudah bereaksi bahkan sebelum tangan Adrian menyelinap ke balik bajunya. Jemari lelaki itu meremas payudara Nara dari balik bra, mengusap puting yang menegang, lalu turun ke dalam celana dalamnya. Dua jarinya membelah lipatan vagina yang sudah licin dan mengitari klitoris. Sentuhan langsung itu membuat perut Nara menegang dan kedua pahanya merapat mengapit tangan Adrian.

“Kamu sudah basah,” bisik Adrian.

Nara seharusnya malu. Sebaliknya, ia menggerakkan pinggang, menggesekkan klitoris pada jari-jari itu. Ketika satu jari menembus vaginanya, disusul jari kedua, desahan Nara pecah tepat di telinga Adrian.

“Adrian...”

Namanya keluar persis seperti dalam video yang pernah dilihat Nara—parau, penuh kebutuhan. Bedanya, kali ini Adrian mengangkat wajah untuk menatap dirinya.

“Lihat aku,” bisiknya.

Nara membuka mata. Tatapan Adrian membuat panas di tubuhnya semakin pekat. Tidak ada layar, tidak ada Maya, tidak ada jarak aman. Hanya mulut lelaki itu yang kembali menutup bibirnya dan tangan yang membelai punggung telanjangnya setelah bajunya terlepas.

Mereka berjalan tersandung menuju ruang belakang tanpa benar-benar berhenti berciuman. Betis Nara membentur sisi tempat tidur, lalu Adrian menahannya sebelum jatuh. Nara tertawa pendek, gugup, tetapi tawa itu berubah menjadi desahan ketika Adrian membaringkannya dan mencium tulang selangka hingga ke lekuk dadanya.

Nara membenamkan jemari di rambutnya. Setiap ciuman membuat kulitnya semakin peka. Ia telah lama merindukan tubuhnya diperlakukan sebagai sesuatu yang diinginkan, bukan masalah yang harus dihindari. Adrian menyentuhnya tanpa ragu, tetapi selalu berhenti sepersekian detik untuk membaca wajahnya sebelum melanjutkan.

Nara menjawab dengan menariknya kembali.

Ketika akhirnya tidak ada lagi pakaian yang menghalangi, ia sempat menahan napas. Penis Adrian sudah keras di antara kedua pahanya, ujungnya mengilap saat bergesekan dengan lipatan vagina Nara. Adrian menyentuh pipinya.

“Masih mau?”

Nara melingkarkan kedua kaki di pinggangnya. “Aku mau kamu.”

Adrian meraih kondom dari dompet, memasangnya dengan tangan yang tidak sepenuhnya tenang, lalu kembali berada di antara kedua kaki Nara. Ia mengusap kepala penisnya pada klitoris Nara sebelum menekan ke lubang yang basah. Nara melihat bagian itu perlahan menghilang ke dalam tubuhnya, meregangkan vagina sampai rasa penuh membuat jari-jari kakinya menekuk.

Adrian menciumnya ketika seluruh penisnya sudah tertanam. Dorongan pertama masih lambat; dorongan berikutnya lebih dalam dan membuat erangan Nara pecah. Setiap kali Adrian menarik hampir seluruh batangnya keluar, cairan bening ikut membasahi kondom sebelum penis itu menghunjam kembali. Tempat tidur sempit berderit mengikuti benturan pinggang mereka. Nara mencengkeram bahunya dan mengangkat panggul, meminta setiap entakan masuk lebih jauh.

Ia tidak memikirkan cincin yang sudah dilepas. Tidak memikirkan rumah tempat Maya menunggu atau kebohongan yang dikirim Adrian dari parkiran kantor. Kenikmatan menumpuk terlalu cepat, membuat napas Nara putus-putus dan punggungnya melengkung dari kasur.

“Jangan berhenti,” pintanya.

Adrian mempererat pelukan dan bergerak lebih dalam. Satu tangannya turun di antara tubuh mereka untuk menggosok klitoris Nara sesuai irama entakannya. Vagina Nara mulai mengejang, mencengkeram penis yang terus bergerak di dalamnya. Ia menyebut nama Adrian saat orgasme pecah; punggungnya melengkung, cairannya membasahi pangkal penis lelaki itu, dan kedua kakinya gemetar di pinggang Adrian.

Adrian tetap menghunjam selama beberapa dorongan berat sebelum tubuhnya menegang. Penisnya berdenyut di dalam Nara dan cairan panas tertahan di ujung kondom. Bibirnya menyapu leher Nara, lalu kembali ke mulutnya sementara getaran terakhir tubuh mereka perlahan surut.

Malam itu, di ruang belakang yang baru beberapa hari menjadi tempat tidurnya, mereka melewati batas yang selama ini hanya berani dibayangkan. Sesudah lampu dipadamkan, tidak ada lagi percakapan tentang pekerjaan—hanya bisikan, ciuman yang kembali menyala, dan tubuh yang berkali-kali mencari kehangatan satu sama lain.

* * *

Nara terbangun ketika suara mesin di bawah akhirnya berhenti.

Adrian berada di sampingnya. Napasnya teratur, satu tangan masih memegang ujung tangan Nara di atas selimut.

Ia memandang wajah laki-laki itu dalam cahaya tipis dari ruang depan.

Ia telah tidur dengan suami sahabatnya. Bagaimana nanti ia bisa menatap Maya dan berpura-pura semuanya masih seperti biasa?

Nara menoleh ke meja kecil.

Dua cincin terletak di samping jam tangan Adrian.

Ia mengingat dengan jelas dirinya melepas cincin sendiri, meletakkannya di sana, lalu kembali kepada Adrian. Ia menginginkan malam ini sama seperti Adrian. Mengingatnya membuat Nara bahagia, lalu merasa bersalah karena bahagia.

Nara menggeser tubuh sedikit lebih dekat.

Adrian terbangun sebentar, mencari tangannya, lalu menggenggamnya lagi.

Nara memejamkan mata.

Untuk beberapa jam yang tersisa, ia memilih tetap di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!