Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Milikmu sepenuhnya
Suara deras air hujan memukul atap dan kaca jendela rumah, menciptakan simfoni alam yang syahdu di tengah pekatnya malam. Adrian dan Nayla melangkah masuk melewati pintu depan dengan kondisi tubuh basah kuyup. Tetesan air mengalir dari helai rambut dan pakaian mereka, namun senyum bahagia tak sedikit pun surut dari raut wajah keduanya.
Nayla mengusap lengannya yang dingin seraya berbalik. "Mas... aku ke kamarku dulu ya, mau ganti baju basah ini..."
"Tunggu," potong Adrian cepat.
Sebelum Nayla sempat melangkah ke anak tangga pertama, telapak tangan hangat Adrian sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya. Nayla menoleh bingung, menatap suaminya yang berdiri menatapnya dengan binar mata yang sarat akan dominasi sekaligus kelembutan.
"Mulai malam ini... tidak ada lagi kamarmu atau kamarku," ujar Adrian dengan suara rendah yang tegas. "Kamu tidur di kamarku, Kamar kita."
Deg!
Nayla membeku di tempatnya. Belum sempat bibirnya merangkai kata untuk membalas, gerakan Adrian berikutnya sukses membuat napas wanita itu tertahan di tenggorokan.
Dalam satu gerakan sigap dan bertenaga, Adrian menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Nayla dan tangan lainnya di punggung wanita itu, menggendong Nayla secara bridal style ke dalam pelukannya.
"M-Mas! Turunkan aku!" pekik Nayla kaget setengah mati, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Adrian karena takut terjatuh. "Aku berat, Mas!"
Adrian terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang amat jarang terdengar. Pria itu mengikis jarak wajah mereka seraya melangkah mantap menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua.
"Kamu meragukan tenagaku, Sayang?" goda Adrian, memiringkan kepalanya sedikit. "Kita baru saja bermain air yang dingin di luar sana... jadi sekarang, sudah saatnya kita menghangatkan diri."
Sayang...?
Panggilan manis yang meluncur begitu alami dari bibir pria kaku itu sukses membuat seluruh bulu kuduk Nayla merinding hebat. Rasa hangat membanjiri dadanya, membuat hatinya meleleh tak bersisa.
Adrian mendorong pintu kamar utamanya dengan kaki, menuntun Nayla masuk ke dalam ruangan luas yang selama setahun ini hanya dihuninya seorang diri. Pria itu menurunkan tubuh Nayla dengan sangat hati-hati di tepi ranjang berukuran king size.
Sebelum Nayla sempat mencerna situasi, Adrian menunduk, kembali menyapu bibir lembut istrinya dengan ciuman yang dalam dan penuh kehangatan. Bersamaan dengan tautan bibir yang makin intens itu, tangan tegap Adrian bergerak cekatan melepas kemeja abu-abu kasualnya yang basah kuyup oleh air hujan, lalu menghempaskannya begitu saja ke lantai.
Saat tautan bibir terlepas untuk memberi ruang napas, pandangan mata Nayla yang samar-samar langsung tertuju pada pemandangan di depannya. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, terpampang jelas dada bidang yang kokoh serta guratan perut sixpack milik suaminya yang begitu sempurna.
Melihat tatapan polos istrinya yang terkunci, Adrian menyunggingkan senyuman tipis. Pria itu meraih jemari halus Nayla yang gemetar, lalu menuntunnya untuk menyentuh permukaan dadanya yang hangat dan berotot.
"Sentuh saja sepuasmu, Sayang..." bisik Adrian penuh penekanan di telinga Nayla, membuat wanita itu meremang. "Ini semua milikmu."
Jemari Nayla gemetar hebat merasakan detak jantung Adrian yang bergedubrak kencang di bawah telapak tangannya. Meski rasa malu merayap tinggi, ia tidak menolak. Ia menyukainya.
Adrian menatap dalam iris mata hitam Nayla, membelai garis rahang istrinya dengan lembut. "Sayang... izinkan aku memilikimu seutuhnya malam ini."
Nayla menelan ludah. Dalam heningnya malam yang diiringi deru hujan, wanita itu menganggukkan kepalanya pelan, memberikan kepasrahan dan cintanya secara utuh.
Mendapat persetujuan yang paling dinantinya, Adrian bergerak lembut. Jemari tegapnya perlahan melucuti gaun hitam yang melekat di tubuh Nayla. Saat kehangatan kulit mereka menyatu, Nayla refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di dada Adrian akibat rasa minder dan tidak percaya diri yang mendadak mencubit hatinya.
Adrian yang menyadari hal itu segera menarik dagu istrinya pelan. "Tatap mataku, Nayla... Jangan menunduk seperti itu," bisik Adrian dengan nada suara paling tulus. "Kamu sudah melihat sendiri bagaimana reaksi tubuhku terhadapmu, Sayang... Bagiku, kamu adalah keindahan yang sempurna."
Kalimat tulus itu meruntuhkan sisa-sisa dinding ketakutan Nayla. Adrian membawa Nayla tenggelam semakin dalam ke dalam lautan gairah dan kenikmatan. Setiap kecupan lembut yang mendarat di dahi, pipi, ceruk leher, hingga ke seluruh tubuhnya meninggalkan jejak-jejak cinta yang membakar dinginnya malam.
Namun, ketika puncaknya penyatuan dimulai, raut wajah Nayla mendadak tegang. Matanya terpejam erat-erat, napasnya memburu tertahan akibat rasa asing dan nyeri yang menyengat.
"Tenanglah, Sayang..." bisik Adrian seraya mengusap peluh di dahi istrinya, menahan gerakannya sejenak. "Aku tidak akan menyakitimu."
"M-Mas... pelan-pelan... ini sedikit sakit..." cicit Nayla menahan napas, jemarinya refleks meremas bahu tegap Adrian, menancapkan kukunya di leher pria itu demi melampiaskan rasa asing yang bergejolak di dalam tubuhnya.
Adrian tidak memprotes goresan kuku di lehernya sedikit pun. Pria itu menanti dengan sabar, membisikkan kata-kata penenang dan memberikan kecupan-kecupan lembut hingga tubuh Nayla perlahan rileks kembali. Saat ketegangan itu mencair, gerakan kehangatan pun berlanjut, menyatu dalam simfoni desahan yang beradu harmonis dengan hembusan angin dan derasnya hujan di luar sana.
Usai melintasi malam yang panjang dan penuh gelora, tubuh mereka yang tadinya basah oleh air hujan kini berselimutkan peluh kehangatan. Nayla terkulai lemas, menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian dan tertidur lelap dalam dekapan erat sang suami.
Adrian menyunggingkan senyuman lebar yang sangat bahagia. Pria itu tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari raut wajah ayu istrinya yang masih menyisakan rona kemerahan alami. Ia mencium kening Nayla lama, sebelum akhirnya menyusul masuk ke dalam lelapnya mimpi.
.
.
Keesokan paginya, berkas sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari celah tirai membangunkan Nayla dari tidurnya.
Nayla mengerjapkan mata perlahan, merasakan pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, ia melirik ke samping. Sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong dan rapi. Adrian tidak ada di sana.
Nayla tersontak kaget saat mendapati tubuhnya kini sudah terbalut pakaian tidur berbahan kaos yang bersih dan rapi. Seketika pipinya kembali membara. Ia tahu betul siapa yang memasangkan pakaian ini pada tubuhnya saat ia tertidur lelap semalam. Adrian jelas tidak tega membiarkannya kedinginan tanpa busana, namun juga tidak tega membangunkannya yang kelimpangan karena lelah.
"Selamat pagi, Sayang... Sudah bangun?"
Suara berat yang familiar itu membuat Nayla mendongak cepat ke arah pintu kamar mandi.
Adrian berdiri di sana, tampak sangat tampan dan segar. Pria itu sudah rapi mengenakan baju koko berwarna putih bersih dan sarung tenun bernuansa gelap. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang.
"E-eh... pagi, Mas," sahut Nayla gugup, buru-buru menarik selimut hingga ke dada untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
Adrian melangkah mendekat, tersenyum hangat. "Mandilah... Aku sudah menyiapkan air hangat di dalam untukmu berendam sebentar. Setelah itu, kita sholat subuh berjamaah, aku akan menunggumu."
"I-iya, Mas..."
Nayla menyibak selimut dan bangkit dari ranjang. Namun, baru dua langkah memacu jalannya menuju kamar mandi, langkah kakinya mendadak terhenti kaku. Matanya membelalak menatap seprai putih di atas kasur yang menyisakan sebuah noda memerah, bukti keperawanannya yang telah ia serahkan sepenuhnya untuk sang suami semalam.
Dengan cemas dan rasa malu yang meluap, Nayla bergegas melepas kain seprai tersebut dan menggulungnya erat-erat.
Adrian yang memperhatikan tingkah panik istrinya terkekeh pelan. "Tidak usah repot-repot, Sayang... Biar Bi Sumi saja nanti yang mencuci dan merapikannya."
"T-tidak, Mas!" sahut Nayla cepat dengan wajah memerah padam bagaikan kepiting rebus. "Aku malu kalau Bibi lihat ini! Jadi biar aku cuci sendiri saja nanti di kamar mandi!"
Tanpa menunggu balasan Adrian, Nayla melesat masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapar, meninggalkan Adrian yang tertawa terkekeh melihat kepolosan istrinya.
Beberapa saat kemudian, Nayla keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut yang tertutup handuk basah. Ia bergegas mengenakan mukena putihnya, lalu melangkah menuju ruang tengah di mana Adrian sudah menunggunya di atas sajadah yang terbentang.
Ibadah sholat subuh berjamaah pertama mereka berlangsung dengan sangat khusyuk dan penuh kedamaian. Usai membacakan doa dan mengucap salam, Adrian memutar tubuhnya. Pria itu meraih kedua tangan Nayla, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di kening istrinya.
"Terima kasih untuk semalam, Sayang..." bisik Adrian tulus.
Pipi Nayla kembali memerah panas. Demi mengalihkan rasa salah tingkahnya yang sudah di ambang batas, Nayla buru-buru membuka suara membahas pekerjaan kantor.
"Iya sama-sama mas. Emm mas... A-anu... Mas, hari ini kita ada pertemuan dengan pemilik lahan yang rencananya mau kamu bangun hotel dan lapangan golf itu, kan?" tanya Nayla cepat. "Iya kan, Mas?"
Adrian menyunggingkan senyum maklum melihat pengalihan isu istrinya, lalu mengangguk seraya melipat sajadahnya. "Iya, betul. Apa mereka sudah memberikan konfirmasi ACC untuk rapat hari ini, Sayang?"
"Sudah, Mas. Kemarin aku sempat lihat ada email masuk dari pihak mereka," jawab Nayla seraya bangkit berdiri. "Tapi aku belum sempat baca detail siapa perwakilan yang bakal datang. Sebentar, aku lihat lagi di ponselku."
Nayla melangkah menuju meja rias, mengambil ponselnya dan membuka aplikasi email pekerjaan. Jemarinya mengusap layar, mencari dokumen lampiran konfirmasi pertemuan hari ini.
Mata Nayla menyusuri baris demi baris tulisan di layar ponselnya, hingga pandangannya terhenti pada satu nama yang tertera sebagai perwakilan utama pemilik lahan.
"Perwakilannya Nyonya Dewi Ambarwati Baskoro." Ucap Nayla dengan suara yang awalnya keras menjadi lirih.
Deg!
Jantung Nayla serasa berhenti berdetak saat itu juga. Layar ponsel di tangannya mendadak terasa begitu berat. Matanya membelalak lebar, menatap nama itu dengan tubuh yang bergetar hebat.
'Dewi Ambarwati...?' batin Nayla menjerit panik. 'I-itu... itu nama ibu kandungku... Ibu yang sudah meninggalkanku dan Ayah sejak aku masih kecil!'
Keringat dingin mendadak bercucuran di pelipis Nayla. Pikiran dan kenangan pahit masa kecilnya berputar liar seperti angin puting beliung.
'Tidak... Ini tidak mungkin... Ini pasti cuma kebetulan! Nama Dewi Ambarwati kan ada banyak di dunia ini... Tidak mungkin wanita itu adalah ibuku...' batin Nayla berusaha menenangkan gejolak di dadanya yang kian bergemuruh.
Sementara itu, Adrian yang sibuk merapikan sajadah dan membelakangi istrinya, tidak menyadari raut wajah Nayla yang berubah pucat pasi bagaikan mayat.
"Oh, perwakilannya istrinya Pak Baskoro, ya?" sahut Adrian santai, melangkah mendekati Nayla. "Semoga saja beliau tidak mempersulit proses negosiasi kita hari ini, Sayang..."
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️