Pada usia delapan belas tahun, Neylane Green sudah tahu rasanya dikhianati—oleh sahabat dan kekasih yang paling ia percaya. Tapi ia tak pernah menyangka pengkhianatan itu hanya permulaan.
Ketika sebuah rahasia kelam masa lalu mengancam menghancurkan seluruh keluarganya, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan mereka: menikahi pria paling ditakuti di dunia. Dikenal para musuhnya sebagai sang Leviathan—monster yang menghancurkan segala yang dilaluinya—Jean Yankelevich adalah pembunuh, penguasa bayangan, dan lelaki yang tak pernah mengizinkan siapa pun mendekati hatinya.
Neylane memilih mengorbankan dirinya. Ia mengira akan menghadapi seorang monster tanpa hati. Yang tak ia duga, di balik tatapan dingin dan tangan berlumur dosa itu, tersembunyi sesuatu yang bahkan sang Leviathan sendiri kira sudah lama mati.
Sebuah pernikahan yang lahir dari paksaan. Sebuah pulau tempat tak ada yang bisa lari. Dan dua orang keras kepala yang bersumpah takkan pernah jatuh cinta—sampai takdir, gairah, dan bahaya memaksa mereka memilih: bertahan bersama, atau hancur sendiri-sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
"Maestro, lepaskan saya," kata laki-laki itu. "Saya tak tahu perempuan itu begitu penting bagi Anda. Anda tak pernah melarang kami bersama perempuan-perempuan yang berada di dekat Anda. Perempuan itu menggoda saya, itu salahnya."
Mendengar itu amarah Jean hanya bertambah. Ia memukul mulut laki-laki itu hingga sebuah giginya lagi tanggal. "Ulangi apa yang kau katakan."
Laki-laki itu memuntahkan darah dari mulutnya. "Maestro, maafkan saya. Andai saya tahu dia tak boleh disentuh, pasti sudah saya abaikan, tapi perempuan itu memang penggo—"
Jean melayangkan pukulan lain yang lebih keras hingga membuatnya limbung. "Selesaikan kalimatmu."
Laki-laki itu berusaha pulih dari pukulan itu. "Maestro, dia cuma seorang perempuan sundal, apa pentingnya? Saya setia pada Anda."
Melihat laki-laki itu tak juga mengerti dan masih terus berbicara tentang Neylane dengan cara seperti itu, kemarahan Jean kian menjadi. Ia mengambil sebuah tang, mencengkeram tangan laki-laki itu, dan mencabut dua kuku dari tangannya. "Ulangi, kau menyebutnya apa?"
Laki-laki itu menjerit kesakitan hingga nyaris kehilangan kesadaran. Dengan sebuah pandangan yang dilempar Jean pada sang dokter, laki-laki itu disadarkan kembali dengan mengusapkan kapas beralkohol, lalu disuntik adrenalin agar tak kembali pingsan.
Wajah Jean dingin tanpa ekspresi dan suaranya keras. "Perempuan yang kau hina itu bukan perempuan sembarangan. Kau bahkan tak boleh memandangnya sekali pun. Dia ISTRIKU."
Mendengar kata-kata itu, mata laki-laki itu terbelalak. Dengan rasa takut dan suara gemetar ia berkata, "Maestro, ampuni nyawa saya, saya tak tahu. Andai saya tahu, takkan saya sentuh dia."
Jean mencabut seluruh kuku kaki dan tangan laki-laki itu, menimbulkan rasa sakit sedemikian hebat hingga hanya jeritannya yang terdengar. Setelah selesai, laki-laki itu berkata, "Maestro, ampuni saya, hentikan, saya sudah tak tahan lagi."
"Aku takkan berhenti," kata Jean. "Kau akan menderita seribu kali lebih sakit daripada yang dia derita karena pukulanmu, dan kau akan mengalami apa yang ingin kau lakukan padanya. Penyihir gila, obati dia, besok kita lanjutkan."
"Dengan senang hati kuobati, dia akan siap untuk besok," kata dokter.
Jean dan Adonis keluar dari tempat itu, melanjutkan ke desa untuk membangun kembali rumah-rumah penduduk, mengganti pohon-pohon apel yang ditumbangkan badai, dan menanami ulang ladang stroberi. Setiap hari Jean kembali menyiksa laki-laki itu, hari demi hari, membuatnya merasakan apa yang telah ia lakukan pada Neylane dan apa yang ingin ia lakukan padanya, sampai Jean merasa puas dan memutuskan membunuhnya dengan cara membakarnya hidup-hidup.
Hari-hari berlalu hingga Neylane pulih sepenuhnya dan rutinitasnya kembali. Setiap hari sama saja: Jean tak mau menyentuhnya sebagai perempuan, dan hal itu mengecewakan Neylane. Setiap malam ia mengenakan pakaian yang sangat seksi untuk menggoda Jean, tetapi Jean hanya memeluknya dan membawanya tidur. Bagi Neylane itu sungguh membuat putus asa hingga ia tak tahan lagi, muak melihat Jean memandangnya seolah ia akan runtuh di tangannya, padahal ia baik-baik saja.
Neylane memutuskan menemui sang dokter. Jean tak ingin ia pergi, tetapi Neylane berhasil membujuknya. Jean mengizinkannya dengan syarat ia pergi bersama Sofia dan ditemani dua laki-laki kepercayaannya. Meski Neylane memprotes, Jean berkata, "Itu syaratnya, atau kau tak pergi." Neylane terpaksa menerima.
Dalam salah satu perbincangannya dengan Nana, Nana berkata pada Jean, "Ini juga salahmu. Kau harus memperkenalkannya pada semua orang di pulau ini sebagai istrimu supaya tak seorang pun mengganggunya, dan berhentilah bersikap konyol. Dia perempuan yang kuat. Kalau kau terus memperlakukannya begini, kau hanya akan membuatnya kehilangan keceriaannya."
Neylane pergi ke rumah sakit mencari sang dokter dan mendapatinya sedang memarahi para perawat.
"Selamat pagi. Kurasa aku datang di saat yang tak tepat," kata Neylane.
Dokter menoleh memandangnya. "Syukurlah kau datang, aku sudah berpikir untuk mencarimu. Ayo ke kantorku." Ia menoleh pada perempuan yang menjadi asistennya. "Ambilkan kami dua kopi dan jangan biarkan siapa pun mengganggu kami. Urusan apa pun, hubungi suamiku."
Keduanya pergi ke kantor dokter dan duduk di ruang duduk kecil yang ada di dalamnya.
"Kantormu bagus sekali," kata Neylane.
"Menurutmu begitu? Katakan, bagaimana kabarmu?" tanya dokter.
"Baik, sudah tak ada yang sakit lagi, dan memar-memarnya sudah lama hilang," jawab Neylane.
"Baguslah kalau begitu," kata dokter. "Aku ingin percaya kau datang menemuiku karena kau ingin bertemu denganku, tapi melihat wajahmu, kurasa kau datang untuk hal lain."
Dengan suara malu Neylane berkata, "Aku ingin kau membantuku soal Jean."
"Coba jelaskan padaku," kata dokter.
"Ini memalukan, tapi bisakah kau membantuku?" kata Neylane. "Aku ingin menunjukkan pada Jean bahwa aku baik-baik saja dan takkan terjadi apa-apa padaku. Aku hanya ingin kembali bersamanya. Kadang aku berpikir dia sudah tak lagi menginginkanku, mungkin bagi dia aku sudah, bagaimana ya mengatakannya, kotor, atau dia sudah tak menganggapku pantas untuknya."
Mendengar permintaan itu, dokter tak kuasa menahan tawa. "Si tolol ini benar-benar membuat segalanya jadi rumit. Nak, sebelum kau lanjut memikirkan hal-hal itu, kau harus membuangnya jauh-jauh, karena bukan itu yang dia pikirkan. Dia hanya ingin melindungimu, dia takkan pernah berpikir begitu tentangmu. Serahkan urusan itu padaku, akan kubantu kau."
Neylane dan sang dokter mengobrol lama sekali, makan bersama hingga hari beranjak malam, sampai Jean datang menjemputnya.
Melihatnya, dokter berkata, "Kau si tolol raksasa, ayo kita bicara. Neylane cantik, tinggalkan kami berdua."
Neylane keluar dari kantor dan pergi ke ruang bayi tempat tiga bayi mungil berada.
"Katakan, apa maumu?" kata Jean.
"Kenapa kau bersikap begini dan memperlakukannya seolah dia terbuat dari kaca? Tidakkah kau sadar betapa luar biasa dan kuatnya perempuan yang ada di sisimu?" tanya dokter.
"Aku tak paham maksudmu, dan jangan ikut campur, ini urusanku," kata Jean.
"Tidak, kau keliru, ini juga urusanku, bukan sebagai temannya, melainkan sebagai dokternya aku berbicara padamu," kata dokter. "Akan kukatakan sesuatu padamu. Dia muda, sedang di masa terbaiknya, kebutuhan biologisnya perlu kau penuhi. Setelah kejadian itu, alih-alih memandangnya seperti kaca yang hampir pecah, kau seharusnya membuatnya merasa bahwa dia kuat, aman. Kau paham yang kumaksud?"
"Kau benar-benar gila. Mana mungkin aku..." kata Jean.
"Diam dan dengarkan," potong dokter. "Istrimu ingin bersamamu. Dia tak punya masalah apa-apa, ya, sebenarnya dia punya satu masalah: menikah dengan si tolol yang tak tahu cara memuaskan istrinya sendiri, yang menganggapnya terbuat dari kaca."
"Kau penyihir gila, jangan keterlaluan dengan ucapanmu," kata Jean.
"Katakan, apa aku salah?" balas dokter. "Sudahlah, tenang dan dengarkan aku. Dia baik-baik saja secara mental, tak ada trauma sisa dari kejadian itu, dan secara fisik dia sudah pulih. Tapi seandainya pun ada trauma yang tersisa, yang terbaik adalah membiarkannya kembali menjalani hidupnya seperti biasa, dan kau membuatnya merasa kuat serta aman. Berhubungan intim dengan istrimu takkan menyakitinya, malah akan membuatnya merasa dicintai."
"Menurutmu itu mudah setelah apa yang terjadi? Bagaimana kalau aku melakukannya lalu dia mengingat semuanya, atau aku malah menyakitinya lagi?" kata Jean.
"Dialah yang jadi korban kekerasan, tapi yang menyisakan trauma malah kau," sahut dokter. "Kurasa terapi psikologis yang harus kau minta itu untuk dirimu sendiri, bukan untuknya. Coba saja, dan jangan pikirkan apa pun selain memuaskannya."
"Aku mengerti maksudmu, akan kucoba, tapi nanti," kata Jean. "Dan jangan ikut campur lagi. Kalau dia mengatakan sesuatu padamu, jangan hasut dia lebih jauh, biarkan saja waktu berlalu."
"Kuberi kau beberapa hari, tak lebih. Kalau kau tak melakukannya, akan kuminta terapi, tapi untukmu," kata dokter.
Keduanya keluar dan mencari Neylane. Ketika tiba di ruang bayi, mereka melihatnya di dalam sedang menggendong seorang bayi, menimang-nimangnya seolah sudah sangat berpengalaman. Jean memandanginya, betapa cantiknya ia.
Dengan suara pelan dokter berkata, "Dia tampak sangat pas, kan? Tidakkah menurutmu dia akan jadi ibu yang luar biasa?"
"Sejujurnya dia memang cantik, dan ketika bayi kami berada di rahimnya, dia akan tampak lebih cantik lagi," kata Jean. "Kalau dia melahirkan anak kami, dia akan jadi ibu yang luar biasa. Aku hanya ingin melewati setiap tahap itu langkah demi langkah di sisinya."
Jean masuk dan memeluk pinggang Neylane, membisikkan di telinganya, "Ayo, gadis kecilku, kita harus pulang, sudah malam."
Neylane mengembalikan bayi itu ke boks, lalu keduanya keluar. Mereka berpamitan pada sang dokter, dan Neylane berjanji akan kembali. Dalam perjalanan pulang tak sepatah kata pun terucap. Neylane tak mau makan, ia langsung ke kamar, wajahnya menyiratkan kemurungan. Ia mandi dan mengenakan piyama biasanya, sudah tak berselera lagi mencoba menggoda Jean. Ia berbaring dan tertidur. Beberapa saat kemudian Jean naik, melihatnya tertidur, pergi mandi, keluar, dan hanya mengenakan celana dalam untuk tidur. Ia memeluk Neylane lalu tertidur bersamanya.
Keesokan paginya ketika Jean terbangun, ia mendapati Neylane tak ada di kamar, dan di meja tergeletak segelas susunya seperti setiap pagi. Setelah berpakaian untuk berangkat kerja, ia pergi ke dapur. Neylane ada di sana, belum ada orang lain yang datang, ia sendirian menyiapkan segala sesuatu untuk kedatangan yang lain. Jean menghampirinya. "Gadis kecilku, aku berangkat kerja."
Neylane tak menoleh padanya, ia melanjutkan pekerjaannya. "Semoga harimu menyenangkan," katanya.
Jean tak lagi ingin berkata apa-apa dan keluar dari rumah. Sepanjang pagi Neylane sangat aktif, tetapi wajahnya murung. Semua orang ingin bertanya, tetapi Neylane mengalihkan pembicaraan dengan hal apa pun. Ketika Jean datang untuk sarapan, makanan sudah tersaji di meja untuknya, Nana, dan Luc. Neylane tak mau makan, ia pergi ke kamar dan mulai membereskannya. Setelah selesai ia turun, membantu membersihkan dapur. Ketika selesai, ia berkata pada Carmen, "Nanti aku takkan datang menyiapkan makan siang. Maafkan aku, aku tak enak badan, aku akan ke kamar."
"Nak, apa yang sakit? Kuberi kau sesuatu, atau kita panggilkan dokter?" kata Carmen.
"Tak perlu, hanya sakit kepala, akan hilang. Permisi, aku pamit," kata Neylane.
Neylane keluar rumah tanpa ada yang menyadari. Ia pergi ke kandang dan mengeluarkan kuda hitam, memasang pelananya, dan menungganginya. Tak seorang pun melihat saat ia pergi. Ia sampai di mata air, tempat yang membuatnya bahagia, sementara ia sendiri sedang begitu murung dan hanya ingin menangis. Ia merasa Jean tak menginginkannya, atau mungkin tak mau menyentuhnya karena menganggap ia sudah tak pantas untuknya. Sepanjang hari selalu ada yang menjaganya, ia tak bisa keluar rumah tanpa ada yang mengikutinya, dan meski ia bukan tahanan, ia mulai merasa seperti itu. Ia merasa Jean memandangnya dengan iba, dan para pekerja seisi rumah memandangnya seolah menanti-nanti ia runtuh. Ia sudah tak menginginkan tatapan-tatapan itu, ia hanya ingin diperlakukan seperti biasa, dan ingin Jean berhenti memandangnya dengan iba, memandangnya sebagai perempuan, perempuannya, ia ingin merasa diinginkan olehnya. Lama sekali ia menangis, lalu teringat kata-kata kakaknya: keluarkan tekanan dan rasa sakitmu. Ia berdiri dan mulai berlatih seni bela diri yang diajarkan kakaknya.
Jean tiba pukul 2 siang untuk makan. Ketika masuk ke dapur dan tak melihat Neylane, ia bertanya pada Carmen. Carmen berkata bahwa Neylane ada di kamarnya karena tak enak badan. Mendengar itu Jean cemas dan langsung menuju kamar, mencarinya, tetapi tak menemukannya. Ia mulai khawatir dan menyuruh semua orang mencarinya. Salah seorang pekerja memberitahunya bahwa kuda hitam tak ada. Jean menyuruh menyiapkan kudanya, ia bisa membayangkan di mana Neylane berada. Ia berkata pada Adonis agar mengurus segalanya, nanti malam ia akan menemuinya.
Jean pergi ke mata air, ia merasa Neylane ada di sana. Ketika tiba, ia melihatnya dalam kuda-kuda latihan seni bela diri, kuda-kuda yang sama seperti yang digunakan kakak Neylane saat bertarung dengannya. Ia mengamatinya beberapa saat, lalu mendekat.
"Kapan kau berhenti menjadi gadis manja?" kata Jean. "Kau membuat kami semua cemas. Jangan pernah menghilang seperti ini lagi."
Neylane mengabaikannya dan melanjutkan latihannya. Ketika Jean mendekat, Neylane menyambutnya dengan sebuah pukulan yang bisa ia tangkis.
"Bertarunglah denganku," kata Neylane.
"Sudahlah, jangan konyol, ayo kita pulang," kata Jean.
"Kakakku pasti akan melakukannya. Tak ada seorang pun dari keluargaku yang akan memperlakukanku seperti boneka porselen," kata Neylane. "Kau hanya ingin memenjarakanku. Kalau kau sudah tak mau aku bersamamu, kalau aku menjijikkan bagimu, antar saja aku ke orang tuaku, tapi jangan tahan aku seperti tahanan."