Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.
Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.
Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Keputusan
"Ibarat kapal, kamulah nahkodanya. Akan kau bawa ke mana kapal itu tergantung bagaimana nahkodanya memimpin. Salah jalan, kapal akan tersesat. Ada badai, kamu harus membuat perahumu kuat. Jangan sampai air laut yang berada di luar bisa masuk ke dalam kapal. Sebab kalau sudah masuk, ia akan menenggelamkan kamu beserta seluruh isinya. Intinya, jadilah kepala keluarga yang bisa bertahan di segala masalah, agar orang-orang yang bergantung padamu selamat."
Kini Raka terdiam setelah mendengar ucapan sang ayah. Kedua orang tuanya tidak mau mencampuri urusan rumah tangganya. Walaupun ada hal-hal yang mereka tidak sukai, tapi semua diserahkan kembali pada keputusannya.
Mereka mulai makan. Dilihatnya, Ardha begitu senang makan disuapi Maya. Wanita itu walau sedikit segan, menjawab dengan sopan setiap obrolan yang diucapkan oleh kedua orang tua Raka. Apalagi, ia membantu mengambilkan nasi dan lauk untuk keduanya. Ini potret yang dokter itu impikan saat bersama Alika, tapi kenapa Maya yang bisa mewujudkannya?
"Abi, Umi. Aku memutuskan untuk menikah dengan Maya."
Ini memang gila. Ide gila, tapi Raka penasaran dengan apa yang akan dikatakan ibunya. 'Menikahlah karena Allah'. Dulu ia tak percaya kata-kata ini karena itu ia menikahi Alika. Tentu saja ia tidak menyesal menikahi wanita yang kini jadi istrinya itu, tapi ada rasa aneh menyeruak karena lelah. Betulkah ia salah memutuskan? Butuh dada yang lapang untuk menikah karena Allah, karena pada dasarnya manusia menilai rupa karena susah menilai hatinya. Pun saat tahu hatinya, belum tentu juga hati ini tergerak untuk menikah.
Ya, ia akan coba mengikuti nasehat ibunya, karena dia merasa bingung dengan dirinya sendiri akhir-akhir ini. Tingkah Alika membuatnya lelah. Ia tak bisa sendirian bertahan dan kalau diteruskan, bukan tidak mungkin akan terucap kata cerai dari mulutnya. Sebelum itu terjadi, sebaiknya ia bertahan dengan menikahi Maya. Mungkin ini salah, dengan menikahi wanita itu akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya ia bisa bertahan dari badai itu sejenak.
Pria itu merasa dirinya sudah gila. Benar-benar gila hingga memilih jalan menikah lagi, tapi hanya dirinyalah yang tahu apa yang ia butuhkan saat ini. Bahkan saat melihat Maya meliriknya dengan wajah aneh.
Tentu saja wanita berjilbab itu bingung. Padahal orang tua Raka sudah menyerahkan pilihan pada sang anak, tapi kenapa Raka malah memilih meneruskan rencana pernikahan ini? Bukankah tugasnya lebih ringan sekarang dengan hanya meyakinkan Alika, istrinya saja?
"Oh, begitu. Jadi Maya juga setuju?" Abi beralih pada wanita muda itu.
"Oh, kita sudah membicarakannya tadi." Sebelum Maya sempat menjawab, Raka mengambil alih pembicaraan.
Maya melirik kesal pada pria itu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena Raka adalah atasannya. Apalagi ia berutang pada pria itu, yang mana tak sebanding dengan perintahnya yang berat sebelah itu.
"Oh, begitu? Bagaimana kalau kalian menikah besok."
"Besok?" Raka terkejut. Apalagi Maya.
"Iya. Abi Senin pulang ke Malang. Besok rasanya bisa. Tadi Abi sempat tanya sama teman Abi yang orang KUA, dan ia besok bisa saja menikahkan kalian dan surat-surat bisa menyusul belakangan." Ternyata ayah Raka sudah memperkirakannya.
"Eh, tapi Maya hamil, Bi," terang anak pemilik pondok pesantren itu.
"Apa?" Abi menoleh pada Maya. Wanita itu mengangguk. "Wah, selamat ya. Tapi, jadinya bagaimana?" Kini ia beralih pada anaknya.
"Nikah siri saja, Bi."
Maya kembali melirik bosnya dari sudut mata. 'Menikah siri? Ini apa maksudnya? Apa karena ia hamil atau dia ada maksud lain?'
"Raka. Memang sebenarnya, sebaiknya menikah setelah Maya melahirkan saja, tapi kalau ingin menikah, tetap nikahnya sah. Tidak ada perbedaan antara nikah sirih dengan nikah yang sudah dilegalkan negara. Kamu maunya bagaimana?"
Mendengar itu, Raka memutar kepalanya ke arah wanita di sampingnya. Tersisip keraguan di dalam benaknya, tiba-tiba. Maya mengarahkan pandangan ke tempat lain karena kesal.
"Apa kau ragu-ragu, takut pernikahanmu ...."
"Tidak Abi." Pria itu memutar kepalanya pada sang ayah kembali. "Legalkan saja pernikahan ini."
Maya memejamkan mata sebentar. Akhirnya ia benar-benar akan menikah dengan pria ini. Ia memang menyukai Raka, bahkan sampai detik ini, tapi bukan berarti ia mau dinikahi karena alasan bodoh dari orang-orang kaya ini.
Pria itu dengan mudah mengatakan akan menikahinya, hanya karena sebab yang hingga kini ia tak tahu apa. Betapa konyol hidup orang miskin seperti dirinya. Kekuasaan telah mempermainkannya. Hidup tidak sebercanda ini, semestinya. Hah ....
"Tante, aa!" Ardha membuka mulutnya lebar-lebar karena ia sudah mengunyah habis makanan sebelumnya.
"Oh, iya." Hanya dari bocah kecil yang tak tahu apa-apa ini sajalah, Maya tak merasa dibohongi. Ardha bertingkah sesuai kata hati tanpa menyembunyikan apa pun.
"Jaga kesehatanmu ya? Sudah berapa bulan kamu hamilnya?" Umi bertanya dengan senyum lebar. Wanita paruh baya itu sepertinya senang akan punya cucu lagi, walaupun bukan cucu kandungnya.
"Oh, baru tiga bulanan, Bu." Maya menjawab sambil menganggukkan kepala. Ia membalas senyum dengan semanis mungkin.
"Oh. Ibu lihat kamu masih pakai sepatu hak tinggi. Ganti ya, biar aman."
"Ah, iya, Bu." Wanita muda itu menarik kakinya ke belakang karena malu. Calon ibu mertua sangat baik padanya, sampai-sampai memperhatikan sepatu yang dipakainya.
"Biar nanti aku belikan, Umi," sahut Raka dari samping. Ternyata pria itu ikut mendengar percakapan mereka.
Bertepatan dengan itu, Alika pulang. Ia melihat keramaian di meja makan dan menyambanginya. "Duh, mesranya ... Jadi nikahnya?" Ia berdiri di belakang Ardha dengan senyum, mengejek keduanya.
"Tentu saja. Aku akan menikah besok," sahut Raka yang langsung menatap sang istri yang baru pulang dengan wajah dingin. "Undang orang tuamu juga agar mereka tidak kaget dengan apa yang terjadi di sini."
"Oh, tentu saja. Mama pasti senang, anak pembantu kesayangannya menikah lagi. Apalagi dengan suamiku! Kau jangan lupa, Maya. Beri tahu ibumu juga, biar ia senang. Selain menunggu kelahiran cucunya, ia akan mendapat menantu orang kaya!" Wanita itu tertawa sambil meninggalkan meja makan.
Umi ingin memarahi Raka karena tingkah laku istrinya yang selalu saja tak sopan, tapi melihat sikap dingin anaknya itu, ia kemudian mengurungkan niatnya itu. Ia sebenarnya cukup senang Raka berniat menikahi Maya karena ia sudah lama tak tahan dengan sikap tak acuh Alika setiap kali mereka datang. Istri anaknya itu tak suka masak dan mengurus anak, menyebabkan ia sering geram karena melihat cucunya diurus hanya oleh seorang pembantu.
Ia merasa, Maya dipaksa untuk menikahi putranya agar bisa mengurus rumah dan cucunya, tapi ia tak masalah. Ibu Raka bahkan berharap lebih. Ia berharap ada cinta yang tumbuh di antara Raka dan Maya, agar wanita itu juga spesial di mata anaknya.
Wanita muda itu terlihat perhatian pada Ardha dan berbicara dengan sangat sopan. Umi berharap ini tidak pura-pura dan penilaiannya tidak salah.
Sementara Raka membicarakan persiapan pernikahan dengan orang tuanya sambil makan siang, Alika menaiki tangga dengan lutut terasa lemas. Wanita cantik ini bukan tidak mengerti dengan sikap diri yang mudah tersulut kemarahan, mudah berganti-ganti pemikiran atau berbicara seenaknya, tapi belum pernah dalam hidupnya ia menyesali perkataannya sendiri. Namun, kali ini ia benar-benar menyesal.
Bersambung ...