Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Radar Sasa

Gosip soal kami "serasi" bertahan lebih lama dari yang aku duga.

Bukan karena isinya benar. Cuma karena kampus, seperti sistem apa pun yang punya terlalu banyak waktu luang dan terlalu sedikit hiburan, butuh sesuatu untuk dibicarakan. Minggu itu topiknya kebetulan kami. Minggu depannya mungkin akan jadi orang lain. Aku sudah cukup lama kenal Cahaya untuk tahu bahwa reaksi terbaik terhadap gosip semacam ini adalah tidak bereaksi sama sekali.

Cahaya tidak setuju dengan pendekatan itu.

"Kamu kenapa diem aja waktu Rio bilang gitu?" tanyanya, dua hari setelah insiden foto yang beredar di grup angkatan. Kami sedang jalan menuju gedung C untuk kelas Statistika Dasar, jarak yang cukup jauh untuk membuat percakapan seperti ini terasa wajar, bukan dipaksakan.

"Diem gimana?"

"Waktu dia bilang kita pacaran. Kamu cuma bilang 'bukan' terus lanjut makan."

"Itu jawaban yang benar. Faktual dan efisien."

"Itu jawaban yang bikin orang makin curiga, Ren. Kalau kamu jawab santai gitu, orang mikirnya kamu nyembunyiin sesuatu."

Aku mempertimbangkan logika itu selama beberapa langkah. "Jadi solusinya apa? Aku harus jawab dengan lebih emosional?"

"Enggak. Solusinya kamu harus ikut aku waktu aku ngejelasin ke mereka semua kemarin."

"Kamu menjelaskan ke berapa orang?"

"Enggak banyak." Ia terdiam sebentar. "Sekitar sepuluh."

"Itu banyak."

"Itu kecil buat ukuran satu angkatan."

Aku tidak melanjutkan argumen itu karena kami sudah sampai di depan gedung C, dan di sana, bersandar di pilar dengan gelas boba di tangan dan ekspresi seseorang yang sudah menunggu terlalu lama untuk sesuatu yang tidak penting, ada Sasa.

"Akhirnya," katanya, begitu kami cukup dekat. "Aku hampir bosen nungguin."

"Kelas belum mulai," kata Cahaya.

"Aku bukan nungguin kelas. Aku nungguin kalian."

Aku melirik jam di ponselku. Sepuluh menit sebelum kelas dimulai. "Untuk apa?"

Sasa menyeruput bobanya dengan tenang, seperti sedang membiarkan pertanyaan itu tergantung lebih lama dari yang perlu. "Buat ngobrol."

"Ngobrol soal apa?"

"Soal kalian."

Cahaya, yang sedari tadi sibuk mencari sesuatu di tasnya, langsung mengangkat kepala. "Soal kita kenapa?"

"Soal gosip minggu ini."

"Itu udah kelar, Sas. Aku udah jelasin ke semua orang."

"Aku tau. Itu masalahnya."

Aku mengerutkan dahi. "Masalah gimana?"

Sasa menatap kami berdua bergantian, dengan cara yang membuatku merasa seperti sedang diperiksa oleh seseorang yang baru saja lulus kursus singkat psikologi terapan dan sangat ingin mempraktikkannya. "Kalian jelasin ke sepuluh orang berbeda, bahwa kalian bukan pacaran."

"Iya."

"Sepuluh orang, Cahaya. Kamu inget detail apa yang kamu bilang ke masing-masing?"

Cahaya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Kurang lebih sama semua."

"Coba ulangin ke aku. Persis kayak yang kamu bilang ke mereka."

"Kenapa harus—"

"Coba aja."

Cahaya menghela napas, lalu berkata dengan nada yang jelas dilatih. "Kita temen dari kecil. Enggak lebih. Orang-orang cuma salah paham karena kita sering bareng."

Sasa mengangguk pelan, seperti seorang dosen yang baru saja mendengar jawaban ujian yang cukup rapi tapi ada yang mengganjal. "Oke. Sekarang jelasin kenapa nada suara kamu berubah pas ngomong bagian 'enggak lebih' itu."

Hening.

"Enggak berubah," kata Cahaya, dengan nada yang, secara objektif, memang sedikit berubah dibanding kalimat sebelumnya.

"Berubah," kata Sasa.

"Enggak."

"Ren, kamu denger enggak?"

Aku menoleh ke Sasa, lalu ke Cahaya, lalu kembali ke Sasa. Ini adalah jenis situasi yang aku belum punya protokol jelas untuk meresponsnya. "Aku... tidak terlalu memperhatikan nada suara secara spesifik."

"Kamu enggak pernah merhatiin apa-apa," kata Sasa, tapi tanpa nada menuduh yang tajam, lebih ke arah pernyataan fakta yang sudah lama ia amati. "Itu justru yang bikin aku heran."

"Heran soal apa?"

Sasa menatapku lama. Cukup lama sampai aku mulai mempertimbangkan apakah aku baru saja melewatkan sesuatu yang seharusnya jelas.

"Enggak papa," katanya akhirnya, sambil tersenyum kecil yang tidak sepenuhnya aku percaya sebagai senyum yang tulus tanpa maksud tersembunyi. "Ayo masuk. Kelas mau mulai."

Kelas Statistika Dasar berlangsung dengan Pak Hadi, dosen yang punya kebiasaan menjelaskan konsep distribusi normal dengan analogi tinggi badan mahasiswa di kelas, yang secara tidak sengaja selalu membuat orang-orang di baris depan merasa perlu mengukur diri mereka sendiri secara mental.

Aku duduk di baris ketiga, di antara Cahaya dan Sasa, dengan buku catatan terbuka yang isinya lebih banyak diagram kecil dari game yang sedang aku mainkan dibanding rumus statistik.

"Rendy," bisik Sasa, di tengah penjelasan Pak Hadi soal varians. "Aku mau nanya sesuatu."

"Sekarang?"

"Iya."

"Kelas lagi berlangsung."

"Ini penting."

Aku menoleh sedikit, cukup untuk melihat Sasa dari sudut mata tanpa sepenuhnya berpaling dari papan tulis. "Apa?"

"Kalau misalnya, hipotetis ya, Cahaya suka sama orang lain. Perasaanmu gimana?"

Pertanyaan itu, karena datang secara tiba-tiba dan di tempat yang salah, butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk aku proses.

"Kenapa tiba-tiba nanya itu?"

"Jawab dulu."

Aku mempertimbangkan. Cahaya, yang sedang mencatat di sisi lain, sepertinya tidak mendengar percakapan ini karena posisi duduknya sedikit lebih maju dan dosen sedang menjelaskan sesuatu yang mengharuskan semua orang menatap ke depan.

"Biasa aja," jawabku akhirnya. "Kenapa harus ada perasaan spesifik soal itu?"

"Karena dia temen deket kamu."

"Iya, dan temen deket punya kehidupan pribadi mereka sendiri. Kalau dia suka sama orang, itu urusannya."

Sasa menatapku dengan ekspresi yang sulit aku baca. Bukan kesal, bukan juga puas. Lebih ke arah seseorang yang baru saja mengonfirmasi sesuatu yang sudah lama ia curigai, tapi masih belum yakin harus merasa apa soal itu.

"Kamu serius jawab gitu?"

"Kenapa enggak?"

"Enggak apa-apa." Ia kembali menatap papan tulis, tapi aku bisa melihat ia menggeleng pelan, hampir tidak terlihat. "Cuma... wow."

"Wow kenapa?"

"Nanti aja."

Pak Hadi, di depan, sedang menjelaskan konsep standar deviasi dengan analogi baru yang melibatkan tinggi badan pemain basket fakultas, dan aku memutuskan untuk kembali fokus ke penjelasan itu karena setidaknya materi ini akan keluar di ujian tengah semester, sementara percakapan barusan sepertinya tidak akan keluar di mana pun kecuali di kepalaku sendiri, yang terus memutar ulang pertanyaan itu tanpa alasan jelas.

Kalau misalnya Cahaya suka sama orang lain.

Pertanyaan hipotetis. Tidak ada dasar faktual di baliknya sejauh yang aku tahu. Tapi entah kenapa aku menemukan diriku memikirkannya lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk sebuah skenario yang, sejauh pengetahuanku, tidak sedang terjadi.

Makan siang hari itu berlangsung di meja pojok kantin sayap kanan, seperti biasa, dengan menu hari itu nasi ayam geprek yang levelnya bisa dipilih dan Cahaya, seperti biasa juga, memilih level lima meski selalu berakhir minum air putih tiga gelas setelahnya.

"Kenapa kamu selalu pesen level lima kalau ujungnya kepedesan?" tanyaku, mengamati wajahnya yang sudah mulai memerah di suapan ketiga.

"Karena aku optimis tiap kali."

"Optimisme tidak mengubah kadar capsaicin dalam sambal."

"Diem, Ren."

Sasa, yang duduk di seberang kami dengan mi ayam yang sudah setengah habis, mengamati interaksi itu dengan ekspresi yang, kalau aku harus mendeskripsikannya, mirip seseorang yang sedang menonton acara dokumenter tentang perilaku hewan dan mencatat pola-pola yang berulang.

"Kalian tau enggak," katanya tiba-tiba, "kalian ini berdua kayak nikah tapi belum nikah."

Cahaya tersedak. Butuh beberapa detik dan segelas air putih penuh sebelum ia bisa merespons. "Apaan sih, Sas."

"Serius. Aku perhatiin dari kemarin. Cahaya tau persis Rendy bakal pesen apa sebelum Rendy sendiri mikir mau pesen apa. Rendy hafal Cahaya bakal kepedesan kalau pesen level lima tapi tetep aja Cahaya pesen level lima tiap kali dan Rendy enggak pernah ngelarang, cuma ngingetin doang."

"Itu namanya perhatian ke temen," kata Cahaya, sambil menyeka mulutnya dengan tisu.

"Itu namanya perhatian yang levelnya udah lewat batas 'temen biasa', Ca."

"Sasa."

"Apa? Aku cuma ngomong apa yang aku liat."

Aku memutuskan untuk tidak terlibat dalam perdebatan ini, karena berdasarkan pengalaman, ikut campur dalam diskusi antara Cahaya dan Sasa soal topik semacam ini biasanya berujung pada aku yang jadi sasaran berikutnya.

Keputusan itu ternyata salah.

"Rendy," Sasa berpaling ke arahku. "Kamu setuju enggak sama observasiku?"

"Observasi yang mana?"

"Bahwa kalian kayak pasangan yang belum resmi."

"Kami temen dari kecil. Ada tingkat kedekatan tertentu yang datang secara alami dari itu."

"Tuh kan," kata Cahaya, cepat, seolah jawabanku barusan adalah kemenangan telak dalam argumen ini. "Kayak yang aku bilang."

Sasa menatap kami berdua bergantian lagi, dengan ekspresi yang mulai terlihat seperti kombinasi antara geli dan frustrasi. "Kalian berdua ini payah banget."

"Payah kenapa?" tanyaku.

"Enggak, bukan apa-apa." Ia mengambil sedotan, memutar-mutar sisa mi di mangkoknya. "Cuma aku jadi penasaran satu hal."

"Apa?"

"Rendy, coba jawab jujur. Kalau tiba-tiba Cahaya pindah kampus, atau pindah kota, atau apalah, dan kalian jarang ketemu lagi. Perasaanmu gimana?"

Pertanyaan yang mirip dengan yang diajukan Cahaya sendiri di bangku dekat gerbang, minggu-minggu awal PKKMB dulu, hanya dengan framing yang berbeda. Aku mempertimbangkannya dengan serius, karena sepertinya ini pertanyaan yang orang-orang di sekitarku cenderung ajukan dengan berbagai variasi belakangan ini.

"Enggak enak," jawabku akhirnya. "Pasti bakal kerasa beda."

"Beda gimana?"

"Ya... beda. Kayak kehilangan satu bagian dari rutinitas yang udah lama."

Sasa mengangguk pelan, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan apa yang ia cari. "Cuma rutinitas?"

"Apa lagi?"

"Enggak, enggak apa-apa." Ia mengalihkan pandangan ke Cahaya, yang sudah kembali fokus ke nasi ayam geprek-nya dengan wajah yang, entah karena pedas atau karena alasan lain, masih agak merah. "Cahaya, kamu denger jawaban dia kan?"

"Denger." Suara Cahaya kecil.

"Perasaanmu gimana?"

"Perasaan apaan?"

"Denger jawaban dia."

Cahaya diam sebentar, menusuk-nusuk potongan ayam di piringnya tanpa benar-benar memakannya. "Ya... biasa aja."

"Nadanya enggak biasa aja."

"NADANYA BIASA AJA, SASA."

Beberapa orang di meja sebelah menoleh. Cahaya langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya lagi, dan Sasa tersenyum kecil, senyum yang aku mulai curiga menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya ia bagikan ke kami.

Sore harinya, setelah kelas terakhir selesai, aku dan Bimo duduk di kantin yang sudah mulai sepi, menunggu hujan reda sebelum pulang. Ini sudah jadi kebiasaan baru dalam beberapa minggu terakhir. Hujan sore, kantin kosong, dan percakapan yang biasanya melompat dari satu topik ke topik lain tanpa arah jelas.

"Eh, denger-denger kamu digosipin sama Cahaya," kata Bimo, sambil membuka bungkus keripik yang ia beli dari kantin.

"Sudah lewat."

"Beneran sudah lewat? Soalnya tadi aku masih denger anak-anak angkatan komunikasi ngomongin."

Aku menghela napas. "Sepertinya belum sepenuhnya lewat."

"Kenapa sih kalian enggak jadian aja beneran? Toh udah deket dari kecil."

Pertanyaan yang sama yang sudah aku dengar dalam berbagai variasi dari berbagai orang selama beberapa minggu terakhir, tapi mendengarnya dari Bimo, yang biasanya lebih fokus pada topik-topik seperti tugas kelompok atau game terbaru, terasa sedikit berbeda.

"Kami temenan," jawabku. "Bukan hal yang harus diubah jadi sesuatu yang lain."

"Kenapa enggak?"

"Karena... kami sudah baik-baik saja seperti ini."

Bimo mengunyah keripiknya sambil memikirkan sesuatu. "Kadang sesuatu bisa baik-baik saja dan juga bisa lebih baik lagi di saat bersamaan, sih."

Aku menoleh. "Kamu tiba-tiba jadi filosofis."

"Kakakku baru putus sama pacarnya minggu lalu. Katanya penyesalan terbesarnya bukan soal putusnya, tapi soal dia dulu terlalu lama nunggu buat mulai serius, sampai akhirnya orangnya keburu capek nungguin."

Kalimat itu, entah kenapa, membuatku diam lebih lama dari yang aku antisipasi.

"Itu... kasusnya beda," kataku akhirnya.

"Mungkin," kata Bimo, dengan nada yang tidak terlalu meyakinkan diri sendiri sendiri, sambil kembali fokus ke keripiknya. "Cuma kepikiran aja."

Hujan di luar masih deras. Aku menatap ke arah lapangan yang basah, ke pohon-pohon yang bergoyang pelan tertiup angin, dan mencoba tidak terlalu memikirkan kalimat Bimo lebih jauh dari yang perlu.

Tidak sepenuhnya berhasil.

Malam itu, pesan dari Sasa masuk ke ponselku sekitar pukul sembilan. Bukan hal yang biasa, karena biasanya Sasa lebih sering mengirim pesan ke grup bertiga daripada personal ke aku saja.

"Ren, boleh nanya sesuatu?"

"Boleh."

"Serius jangan bercanda jawabnya."

"Aku enggak pernah bercanda soal hal serius."

"Itu justru masalahnya kadang. Kamu enggak bisa bedain mana yang harus diseriusin sama mana yang enggak."

Aku menatap kalimat itu cukup lama sebelum membalas. "Maksudnya?"

"Enggak, lupain. Pertanyaannya: kamu pernah mikir enggak, kenapa Cahaya selalu ada buat kamu, tapi kamu enggak pernah balikin usaha yang sama besar?"

Pertanyaan itu terasa berbeda dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya hari ini. Lebih langsung. Lebih tajam.

"Aku selalu ada buat dia juga."

"Ada secara fisik doang atau beneran perhatiin?"

"Ada dua-duanya, setahu aku."

"Coba deh mulai perhatiin lebih detail. Bukan cuma nemenin, tapi beneran liat apa yang dia butuhin."

Aku tidak langsung membalas. Ada sesuatu dalam pesan itu yang terasa seperti Sasa sedang mencoba menyampaikan sesuatu tanpa benar-benar mengatakannya secara eksplisit, dan aku tidak sepenuhnya yakin bagaimana harus meresponnya.

"Kenapa tiba-tiba nanya soal ini?"

Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya masuk.

"Enggak kenapa-kenapa. Cuma aku sayang sama Cahaya, dan aku enggak mau dia nunggu sesuatu yang enggak akan pernah dateng."

Aku membaca kalimat itu dua kali.

"Nunggu apa?"

"Tidur, Ren. Besok masih ada kelas pagi."

Sasa tidak membalas pertanyaanku setelah itu, meski aku menunggu selama sepuluh menit dengan ponsel masih terbuka di tangan.

Aku berbaring di kasur malam itu dengan pikiran yang tidak sepenuhnya tenang, meski aku tidak bisa dengan jelas mengidentifikasi kenapa.

Hari ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang, satu per satu, terdengar seperti percakapan biasa. Tapi dikumpulkan jadi satu, entah kenapa terasa seperti orang-orang di sekitarku sedang mencoba menyampaikan sesuatu yang aku belum berhasil pahami sepenuhnya.

Sasa dengan pertanyaan hipotetisnya di kelas. Bimo dengan cerita kakaknya yang menyesal terlalu lama menunggu. Sasa lagi, malam ini, dengan pesan yang berhenti di tengah kalimat yang belum selesai.

Nunggu apa?

Aku tidak dapat jawaban untuk itu. Mungkin karena Sasa memang tidak berniat menjawabnya malam ini. Mungkin juga karena jawabannya, seandainya ada, adalah sesuatu yang harus aku cari sendiri, bukan diberitahu langsung.

Aku meraih ponsel sekali lagi, membuka chat dengan Cahaya. Ia sudah mengirim pesan rutin malamnya sekitar setengah jam lalu, foto makanan yang ia coba masak sendiri dan gagal total, dengan caption "jangan ketawa" yang, tentu saja, aku tanggapi dengan tawa karena hasilnya memang cukup mengenaskan untuk dilihat.

Aku menatap foto itu lagi sekarang. Nasi goreng yang warnanya agak terlalu gelap, dengan telur yang bentuknya sudah tidak lagi menyerupai telur.

Aku mengetik. "Besok jangan coba masak lagi. Biar aku aja yang masak, kamu yang makan."

Balasannya datang cepat. "Kok gitu? Aku juga mau belajar."

"Belajar boleh, tapi jangan sampe dapur kebakaran."

"ITU CUMA SEKALI DAN ENGGAK BENERAN KEBAKARAN."

"Asapnya sampe kelihatan dari luar rumah."

"Itu asap masak biasa!!"

Aku tersenyum sendiri menatap layar ponsel. Ada kenyamanan tertentu dalam percakapan sesederhana ini yang, entah kenapa, terasa jauh lebih mudah dipahami dibanding pertanyaan-pertanyaan lain yang aku dapat hari ini.

Tapi di sela-sela tawa kecil karena bertukar pesan soal nasi goreng gosong itu, kalimat Sasa masih mengendap di suatu tempat di kepalaku.

Aku enggak mau dia nunggu sesuatu yang enggak akan pernah dateng.

Aku tidak tahu apa yang sedang ditunggu Cahaya. Kalau memang ada sesuatu yang ditunggu. Mungkin Sasa cuma khawatir berlebihan, seperti yang kadang terjadi kalau seseorang terlalu memperhatikan detail-detail kecil dalam hubungan orang lain.

Atau mungkin tidak.

Aku meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit kamar yang gelap kecuali cahaya kecil dari lampu tidur di sudut ruangan.

Besok masih ada kelas pagi, seperti kata Sasa. Dan ada tugas yang belum selesai, dan jadwal PKKMB fakultas yang masih menyisakan beberapa acara di akhir pekan.

Hal-hal praktis yang lebih mudah dipikirkan daripada pertanyaan yang terus mengambang tanpa jawaban jelas.

Aku memilih untuk fokus ke hal-hal praktis itu malam ini.

Meski, kalau jujur, tidak sepenuhnya berhasil sampai aku benar-benar tertidur.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!