Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Suasana di rumah besar Wijaya berubah menjadi tegang setelah kejadian hilangnya dokumen. Adrian meningkatkan kewaspadaan, memerintahkan setiap orang yang masuk dan keluar rumah untuk dicatat dan diawasi. Namun meskipun semua tindakan pencegahan telah diambil, kecurigaan terus menyebar seperti racun di antara anggota keluarga.
Victor dan Marissa yang selama ini menghilang, tiba-tiba muncul kembali dengan senyum ramah dan sikap yang sangat bersahabat. Victor mengaku telah merenungkan semua kesalahannya dan ingin kembali menjadi bagian dari keluarga. Marissa bahkan membawa kue buatan tangannya sendiri dan meminta maaf pada Elena dengan air mata berlinang.
"Kami sadar bahwa kami telah berbuat salah," kata Victor dengan suara penuh penyesalan di ruang tamu yang dipenuhi keluarga. "Kami ingin memperbaiki segalanya. Kami ingin menjadi keluarga yang baik lagi."
Adrian yang sudah lebih waspada, tidak langsung percaya. Tetapi William yang sudah tua dan lelah dengan pertikaian, mulai melunak. Elena juga merasa kasihan melihat Marissa menangis. Nathan tetap diam dengan tatapan curiga, sementara Adeline duduk di sudut ruangan sambil mengamati pamannya dan bibinya dengan mata waspada.
Suara hati Victor berbicara dengan jelas di telinga Adeline.
Mereka mulai percaya. Aku hanya perlu bersabar beberapa minggu lagi. Begitu aku mendapatkan akses ke perusahaan, semuanya akan berakhir. Adrian akan kehilangan segalanya.
Suara hati Marissa juga tidak kalah jahatnya.
Elena benar-benar bodoh. Dia pikir aku menangis karena menyesal. Wanita itu tidak akan pernah tahu bahwa aku merencanakan segalanya dari awal. Adeline memang ancaman, tapi aku punya cara untuk menghadapinya.
Adeline menggenggam erat boneka beruangnya. Dia ingin berteriak dan memberitahu semua orang bahwa Victor dan Marissa masih berbohong. Tetapi Clara telah mengajarinya untuk tidak selalu bereaksi impulsif. Dia harus memilih saat yang tepat dan cara yang bijaksana untuk menyampaikan kebenaran.
Sementara itu, Marissa mulai menjalankan rencananya dengan cerdik. Dia mulai mendekati setiap anggota keluarga satu per satu, membisikkan kata-kata manis yang perlahan menanamkan keraguan.
Kepada Elena, dia berkata, "Aku tahu Adrian sangat sibuk dengan pekerjaannya. Pasti sulit bagimu mengurus rumah sendirian. Jika aku bisa membantu, mungkin kau tidak perlu terlalu terbebani."
Kepada William, dia berkata, "Ayah, aku khawatir Adrian terlalu memaksakan diri. Dia tidak mau berbagi beban dengan siapapun. Bukankah seharusnya keluarga saling membantu?"
Kepada Nathan, dia berkata, "Kau masih muda, Nathan. Kau harus memikirkan masa depanmu sendiri. Jangan biarkan semua perhatian keluarga hanya tertuju pada Adeline. Kau juga berhak mendapatkan kesempatan."
Kepada Adeline, Marissa tersenyum manis dan berkata, "Kau anak yang sangat istimewa, Sayang. Tante sangat sayang padamu. Kau tahu, Tante selalu ingin memiliki anak perempuan sepertimu."
Tetapi Adeline tidak tertipu oleh senyum manis Marissa. Gadis kecil itu mendengar suara hati bibinya yang berbicara dengan penuh kebencian.
Anak kecil menyebalkan ini. Dia harus dijauhkan dari keluarga. Aku akan membuat semua orang percaya bahwa dia hanya anak yang suka berimajinasi. Tidak ada yang akan percaya padanya lagi.
Adeline merasakan bulu kuduknya berdiri. Marissa tidak hanya ingin menghancurkan perusahaan. Dia juga ingin menghancurkan kepercayaan keluarga pada Adeline. Dia ingin membuat gadis kecil itu kesepian dan tidak berdaya.
Malam itu, ketika semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, Marissa mulai menjalankan rencana terbesarnya. Dia berbicara dengan suara pelan dan penuh keprihatinan.
"Aku khawatir tentang Adeline," katanya pada Adrian dan Elena. "Dia sering mengatakan hal-hal aneh tentang orang lain. Aku tidak ingin dia tumbuh dengan keyakinan bahwa dia bisa menuduh siapa pun tanpa bukti. Mungkin dia perlu lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak seusianya, agar dia tidak terlalu larut dalam imajinasinya."
Elena langsung melindungi putrinya. "Adeline tidak berimajinasi. Dia memiliki kemampuan istimewa yang sudah terbukti berkali-kali."
Marissa tersenyum lembut. "Tentu saja, aku percaya padamu, Elena. Tapi kadang kita sebagai orang tua perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin Adeline hanya butuh lebih banyak perhatian dan kasih sayang agar dia tidak perlu mencari perhatian dengan cara-cara yang aneh."
Adrian yang mendengar kata-kata Marissa, merasakan kemarahan membara di dadanya. Dia sudah berjanji pada putrinya bahwa dia akan selalu percaya. Dan sekarang Marissa mencoba merusak kepercayaan itu.
"Marissa," kata Adrian dengan suara dingin. "Aku menghargai keprihatinanmu. Tapi Adeline adalah anakku dan aku tahu apa yang terbaik untuknya. Kemampuannya bukanlah imajinasi. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun meragukannya lagi."
Marissa tersenyum, tetapi matanya menyipit penuh amarah. Dia tidak menyangka Adrian akan begitu tegas membela Adeline.
Adeline yang mendengar semua percakapan itu, merasakan kehangatan di dadanya. Ayahnya telah membelanya. Ayahnya benar-benar percaya padanya. Dia menatap Marissa dan untuk pertama kalinya, dia tidak merasa takut.
"Tante Marissa," kata Adeline dengan suara pelan tetapi jelas. "Tante bilang Tante khawatir tentangku. Tapi di dalam hati Tante, Tante justru ingin aku dijauhkan dari keluarga. Tante ingin membuat semua orang tidak percaya padaku. Kenapa Tante berbohong?"
Marissa tersentak. Wajahnya memucat. Semua mata tertuju padanya. Victor yang duduk di sampingnya, terlihat gelisah dan mulai berkeringat.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Marissa dengan suara bergetar. "Tante tidak pernah—"
"Aku mendengar suara hati Tante," potong Adeline dengan tenang. "Tante membenciku. Tante ingin menghancurkan keluargaku. Tante hanya berpura-pura baik agar semua orang percaya padamu."
Ruangan itu sunyi. Adrian berdiri dan menatap Victor dan Marissa dengan tatapan tajam. "Kalian berdua, keluar dari rumah ini. Sekarang."
Victor mencoba membela diri. "Adrian, kau tidak bisa percaya pada anak kecil—"
"Cukup!" bentak Adrian dengan suara keras. "Aku sudah cukup dengan semua kebohongan kalian. Aku sudah cukup dengan semua pengkhianatan. Keluar dari rumahku dan jangan pernah kembali."
Victor dan Marissa tidak punya pilihan selain pergi dengan malu-malu. Mereka berjalan keluar dari rumah besar itu dengan kepala tertunduk, tetapi di dalam hati mereka, amarah membara. Mereka tidak akan menyerah. Mereka hanya butuh waktu untuk merencanakan serangan berikutnya.
Adeline memeluk ayahnya erat. "Ayah, aku takut. Mereka tidak akan berhenti, kan?"
Adrian mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Mereka mungkin tidak akan berhenti, Sayang. Tapi kita akan selalu siap. Dan selama kita bersama, tidak ada yang bisa menghancurkan keluarga kita."
Malam itu, keluarga Wijaya berkumpul dalam pelukan yang hangat. Mereka tahu bahwa pertempuran masih panjang, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain. Dan dengan Adeline di sisi mereka, mereka tidak akan pernah kalah.