Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Perjanjian di Bawah Cahaya Bulan

Arlen berdiri di puncak bukit, tubuhnya masih diselimuti cahaya keperakan yang mulai pudar seperti embun pagi tertelan mentari. Tatapannya tertuju pada Tuan Valian—sosok tua yang berdiri sunyi di kejauhan. Sesuatu menggelitik naluri pemuda itu. Tak ada yang datang membawa pertolongan tanpa pamrih, apalagi di saat genting begini. Namun di sisi lain, Arlen tahu betul bahwa penyihir kerajaan bukanlah musuh yang bisa dikalahkan dengan kekuatan yang dimilikinya saat ini.

"Kenapa kau mau membantuku?" suara Arlen memecah keheningan malam, tegas dan penuh rasa curiga. "Tak ada untungnya bagimu jika tempat ini tetap aman."

Tuan Valian tersenyum samar. Pria tua itu melangkah perlahan, setiap langkah terasa penuh pertimbangan, hingga berhenti beberapa langkah dari Arlen—tepat di batas tak kasatmata yang memisahkan mereka.

"Keuntungan? Bukan emas, bukan tahta,," sahut Valian, suaranya bergema pelan namun sarat makna. "Aku sudah cukup tua menyaksikan terlalu banyak hal berharga lenyap karena keserakahan manusia. Bukit ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kau bayangkan. 

Jika jatuh ke tangan kerajaan—atau lebih buruk lagi, ke tangan Gereja—keseimbangan seluruh utara akan hancur."

Pria tua itu berhenti, matanya menatap ke tanah di bawah kaki mereka, seolah menembus lapisan bumi hingga ke kedalaman yang tak terjangkau mata biasa.

"Aku hanya ingin memastikan semuanya tetap utuh. Dan... aku penasaran, ke mana langkahmu akan membawamu. Kau berbeda, entah bagaimana. Aku belum pernah bertemu manusia sepertimu."

Arlen terdiam, mencerna setiap kata yang terucap. Hatinya masih diliputi curiga—terlalu banyak luka di masa lalu yang mengajarinya untuk tak mudah percaya. Tapi malam ini, pilihannya sempit. Arlen menghela napas panjang.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi ingat, apapun yang tersembunyi di sini, itu tanggung jawabku. Kau hanya boleh membantu menguatkan pelindungnya. Jangan coba-coba membuka atau mengambil apapun."

Tuan Valian mengangguk, gerakannya penuh hormat. "Sebagaimana kau minta."

Pria tua itu melangkah maju, kini berdiri tepat di samping Arlen. Tongkat kayunya terangkat—sederhana, usang, namun tiba-tiba memancarkan cahaya keabu-abuan yang lembut namun tajam. Tangan Valian bergerak lambat di udara, melukiskan pola-pola melengkung yang rumit, seperti aksara kuno yang tertulis di angkasa.

"Kekuatanmu murni," ucap Valian, suaranya sedikit terengah seiring gerakan yang terus berlanjut. "Bersumber dari jiwa dan keseimbangan alam. Kekuatanku adalah pengetahuan—pola-pola kunci yang diwariskan leluhurku turun-temurun. Satukan keduanya saat kuberi isyarat."

Cahaya perak Arlen dan cahaya kelabu Valian mulai merambat saling mendekati. Awalnya keduanya seperti dua ekor ular yang saling curiga, menolak bersatu karena sifatnya bertolak belakang. Tapi Arlen mengingat satu pelajaran paling dasar dari kekuatannya: harmoni tercipta dari pertentangan yang diseimbangkan. Maka pemuda itu melunakkan aliran cahayanya, membiarkannya mengalir lembut menyusup di antara garis-garis kunci kuno yang diciptakan Valian.

Seketika, gelombang cahaya membesar, menyebar melingkar ke seluruh permukaan bukit, lalu perlahan meresap ke dalam tanah seperti air diserap pasir. Udara di sekitar mereka berubah—kini terasa biasa, datar, seolah tak pernah ada energi magis yang mengalir di tempat ini.

Tuan Valian terhuyung, tubuhnya sedikit goyah. Pria itu menopang berat badannya pada tongkat, napasnya memburu.

"Selesai," katanya. "Kini, kecuali seseorang memiliki pengetahuan leluhur yang sama persis denganku, tak ada yang bisa melihat atau merasakan apapun yang tersembunyi di sini. Bahkan Penyihir Kerajaan sekalipun hanya akan melihat bukit tanah subur biasa."

Arlen merasakannya—perlindungan itu kini lebih kuat, lebih sempurna, seperti benteng tak kasatmata yang menyelimuti seluruh wilayah Arlen mengangguk, memberi hormat pada pria tua di hadapannya.

"Terima kasih. Kau telah membantuku menjaga sesuatu yang berharga."

Valian tersenyum, janggut putihnya bergerak. "Satu hal lagi. Mereka yang datang besok tak akan berhenti hanya karena tak menemukan apapun. Keserakahan tak pernah puas. Mereka akan mencari alasan lain—selalu ada alasan lain—untuk mengambil tanah ini jika mereka merasa ada yang mereka lewatkan."

Pria tua itu mulai melangkah mundur, perlahan menjauh menuju jalan setapak.

"Bersiaplah dengan bukti hukum, atau kekuatan yang cukup untuk membuat mereka gentar. Jika kau benar-benar terdesak... gunakan batu yang kuberikan itu. Tapi hanya saat benar-benar terpaksa."

Sosok Valian perlahan lenyap ditelan gulita, meninggalkan Arlen sendirian di puncak bukit. Pandangan pemuda itu menerawang jauh ke arah kerajaan yang gemerlap di kejauhan. Pertempuran ini belum usai—mungkin baru saja dimulai.

Pagi menjelang, matahari naik setinggi puncak bukit. Rombongan kerajaan kembali, kali ini lebih besar. Di tengah kerumunan, sesosok pria paruh baya duduk tegak di atas kereta terbuka. Jubah biru tua bermotif emas melingkari tubuhnya, wajahnya datar dan dingin, penuh kewibawaan yang menekan. Itulah Penyihir Kerajaan, dikirim khusus dari ibu kota.

Cedric dan Elena telah berdiri di depan rumah, wajah mereka berusaha tenang meskipun tangan Elena sedikit gemas menggenggam ujung roknya. Arlen berdiri di sisi mereka, tampak santai, tanpa sedikit pun rasa takut di matanya.

Rombongan itu berhenti tepat di depan halaman rumah mereka. Tuan Karis turun dengan tergesa, lalu memberi hormat dalam-dalam pada penyihir itu.

"Tuan Penyelidik, inilah tanah yang saya maksud," katanya, tangannya menunjuk ke sekeliling dengan gerakan yang sedikit berlebihan. "Dulu tandus, tapi tiba-tiba berubah subur tanpa sebab yang jelas."

Penyihir itu turun perlahan, setiap gerakannya terukur dan penuh wibawa. Matanya menyapu pemandangan di sekitar nya, lalu berjalan mendekati bukit hijau yang tampak damai. Sebuah bola cahaya biru muncul di telapak tangannya, berputar perlahan seperti bola dunia kecil. Langkahnya maju, cahaya itu menyisir setiap jengkal tanah dan udara di depannya.

Penyihir itu berjalan hingga ke kaki bukit, lalu berhenti. Keningnya berkerut. Bola cahaya diperkuat, mencoba menembus ke dalam tanah—namun yang terasa hanyalah aliran energi alam yang biasa, stabil, dan seimbang. Tak ada puncak kekuatan, tak ada sumber magis, tak ada keanehan sedikit pun. Hanya tanah subur yang biasa.

Dia mengelilingi bukit itu, mencoba dari berbagai sudut, mencari celah atau gangguan sekecil apapun. Hasilnya tetap sama.

Akhirnya Penyihir Kerajaan berbalik dan berjalan kembali menghadap Tuan Karis dan keluarga Ashford.

"Tempat ini biasa saja," ucapnya, suaranya datar namun tegas. "Tanahnya subur karena komposisi yang baik dan aliran air bawah tanah yang seimbang. Tak ada jejak sihir terlarang, tak ada sumber kekuatan tersembunyi, tak ada tempat peninggalan kuno."

Wajah Tuan Karis mendadak pucat. Pria itu melangkah maju dengan gerakan setengah sadar. "Tapi itu mustahil! Beberapa tahun lalu tempat ini masih tandus!"

Penyihir itu menatapnya tajam, dan Tuan Karis seketika membeku.

"Apakah kau menuduhku buta?" ucap penyihir itu dingin. "Atau jangan-jangan kau punya dendam pribadi dengan pemilik tanah ini, dan kau membuat laporan palsu?"

"Ti—tidak mungkin—" Tuan Karis gagap,  dia tanpa sadar mundur selangkah.

Penyihir itu mengalihkan pandangannya pada Cedric dan Elena. "Berdasarkan pengamatanku, tanah ini adalah milik sah kalian. Tidak ada alasan bagi kerajaan untuk mengambil alih. Namun—"

Dia berhenti. Matanya tertuju pada Arlen yang berdiri diam, menatapnya tanpa rasa takut. Sesuatu dalam tatapan anak itu membuatnya tertegun sejenak—tapi tidak ditemukan keanehan apapun. Hanya anak laki-laki biasa, atau setidaknya itulah yang terlihat.

"Kalian beruntung," lanjutnya akhirnya. "Tanah kalian kini subur. Jaga baik-baik. Jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran, kerajaan akan bertindak."

Tanpa menunggu jawaban, Penyihir Kerajaan memberi isyarat pada rombongannya untuk bersiap pergi. Dia tak punya minat tinggal lebih lama di tempat yang membosankan ini. Tuan Karis masih terpaku, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah, namun tak berani membantah. Dengan enggan pria itu mengikuti rombongan yang mulai bergerak perlahan menjauh.

Kereta-kereta kuda melintas di jalan berdebu, meninggalkan kediaman Ashford dalam kesunyian.

Saat debu mulai mengendap, Cedric menghela napas panjang, bahunya turun seperti beban berat yang terangkat. Dia menatap Arlen dengan campuran rasa syukur dan takjub. Elena langsung memeluk putranya erat-erat.

"Kita aman... untuk sekarang," bisiknya pelan.

Tapi Arlen tahu. Hari ini mereka menang, tapi luka dendam Tuan Karis kini semakin dalam. Pria itu tak akan berhenti. Dan kehadiran Penyihir Kerajaan tadi mengingatkannya pada satu hal: betapa rapuhnya rahasia ini jika suatu saat terbongkar.

Pandangan pemuda itu beralih ke arah bukit yang kini tampak tenang dan hijau, seolah tak pernah menyimpan misteri apapun. Perlindungan kuno telah terpasang. Kekuatannya terus bertambah. Namun Arlen juga sadar—dirinya masih terlalu kecil, terlalu muda, dan terlalu lemah untuk melawan seluruh dunia yang serakah sendirian.

Dia harus belajar. Berlatih lebih keras. Dan mencari jawaban atas satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apa sebenarnya tugas yang diembannya menjaga bukit ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!