Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Jika Lorenzo bukan ayah dari bayi yang dikandung Rose, lalu siapa pria itu?"
Rasa penasaran Alina langsung bekerja begitu saja. Matanya menatap kosong ke depan, sementara pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan. Siapa pria yang membuat Rose hamil? Apakah dia berpacaran diam-diam? Atau jangan-jangan pria itu sudah menikah?
Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepala Alina. Mengingat Rose adalah wanita cantik dan pintar, tetapi selama ini tidak pernah terdengar kabar punya kekasih.
Lorenzo yang berdiri tidak jauh dari Alina akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya tertuju pada wajah sang istri yang tampak serius, seolah-olah sedang memecahkan kasus kriminal besar. Dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di kepala istrinya.
"Itu semua bukan urusanmu, Alina" gerutu Lorenzo dalam hati.
Lorenzo berdecih pelan. Alina memang seperti kebanyakan wanita lainnya. Sekali mendengar gosip, pertanyaannya bisa berkembang ke mana-mana. Bedanya, Lorenzo sekarang harus mendengar seluruh pertanyaan itu tanpa Alina menyadarinya.
Pria itu mengusap keningnya. Baru saja ingin menyuruh Alina berhenti melamun, terdengar ketukan dari pintu.
"Masuk," ujar Lorenzo.
Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya yang merupakan kepala HRD masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Tuan Lorenzo, maaf mengganggu. Saya ingin memastikan sesuatu mengenai posisi sekretaris Anda," katanya sopan.
Lorenzo mengangkat wajah.
"Karena Rose mendadak mengundurkan diri, apakah perusahaan akan membuka lowongan untuk mencari sekretaris baru?" tanya kepala HRD.
Lorenzo tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergeser kepada Alina. Wanita itu masih berdiri di tempatnya dengan wajah serius. Namun, dari sorot matanya, Lorenzo tahu pikirannya masih berkelana ke mana-mana.
"Kenapa Rose begitu mendadak berhenti bekerja? Apa tidak bisa ditunda beberapa bulan ke depan? Jangan-jangan Rose berada di dalam tekanan pria itu?"
Amarah Lorenzo hampir mendengus mendengar ocehan pikiran Alina. Namun, sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Kenapa dia suka sekali bergosip?" pikir Lorenzo. "Sekalian saja kuberi dia pekerjaan supaya tidak punya waktu untuk memikirkan urusan orang lain."
Lorenzo kemudian menoleh kepada kepala HRD. "Tidak perlu membuka lowongan. Alina yang akan menjadi sekretaris baru."
Lorenzo mengangkat tangannya dan menunjuk wanita yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara, Alina bahkan tidak bereaksi.
Kepala HRD mengikuti arah telunjuk Lorenzo, lalu menatap Alina. "Baiklah kalau begitu," ucapnya setelah beberapa saat.
Lorenzo menarik napas. "Alina!"
"Hah?"
Alina langsung menoleh.
"Mulai hari ini kamu menjadi sekretaris aku!" ujar Lorenzo dengan suara cukup keras.
Alina berkedip beberapa kali. "Ada apa?" tanyanya polos.
Rahang Lorenzo mengeras. "Sejak tadi kamu melamun terus. Aku sedang bicara denganmu."
"Maaf." Alina buru-buru menundukkan kepala. Wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Ish, aku terlalu memikirkan gosip Rose," batinnya.
Lorenzo yang mendengarnya langsung memejamkan mata sebentar. "Jangan suka melamun kalau sedang bekerja!" tegurnya.
"Maaf," ulang Alina sambil menggigit bibir.
Alina benar-benar merasa bersalah. Bukan hanya karena melamun, tetapi juga karena baru menyadari bahwa sejak tadi Lorenzo dan kepala HRD sedang membicarakan dirinya.
Lorenzo menunjuk ke arah meja di dalam ruangannya. "Mulai sekarang, pekerjaanmu pindah ke sini."
Alina mengangkat kepala. "Hah?! Kenapa aku harus pindah ke sini?"
"Karena mulai hari ini kamu menjadi sekretaris baru aku."
Mata Alina membesar. "Ja-di ... sekretaris?"
"Iya." Lorenzo tersenyum manis.
"Tapi aku tidak pernah bekerja sebagai sekretaris."
"Itu bisa dipelajari."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi." Lorenzo memotong perkataannya dengan cepat.
Alina menutup mulut. Dalam hati dia mengeluh panjang.
"Kenapa tiba-tiba aku jadi sekretaris? Aku lebih suka bekerja di HR, bukan mengurus jadwal manusia kulkas ini."
Alina melirik Lorenzo sekilas. Alis pria itu langsung terangkat. Alina pun buru-buru membuang pandangan.
Kepala HRD yang tidak tahu apa-apa hanya berdiri sambil memegang berkas. "Kalau begitu, saya akan mengurus perpindahan posisi Bu Alina," katanya.
"Segera."
"Baik, Tuan." Kepala HRD keluar dari ruangan.
Tidak lama kemudian, beberapa karyawan mulai membawa meja dan perlengkapan kerja Alina ke ruang Lorenzo.
Alina hanya bisa berdiri di sudut ruangan dengan wajah tercengang. "Ini serius?"
Sebuah meja diletakkan tidak jauh dari meja kerja Lorenzo. Komputer dipindahkan. Berkas-berkas ditata. Telepon kantor dipasang. Bahkan perlengkapan kecil di meja Alina ikut dibawa.
Alina memandangi semua itu dengan perasaan campur aduk. Biasanya meja sekretaris berada di luar ruangan bosnya. Rose pun selalu bekerja di sana sehingga masih memiliki sedikit ruang untuk bernapas.
Sekarang? Alina justru ditempatkan di dalam ruangan Lorenzo. Setiap hari akan melihat wajah pria itu dari pagi sampai sore.
Alina menelan ludah. "Ini hukuman apa?"
Lorenzo yang sedang duduk di belakang meja hanya meliriknya. "Kenapa?"
"Meja aku benar-benar di sini?"
"Iya."
"Kenapa tidak di luar ruangan ini?"
"Ya, terserah aku! Aku kan atasan kamu." Lorenzo tersenyum miring. Jelas sekali kalau pria itu sedang ngerjain istrinya.
Alina terdiam.
Lorenzo kembali menatap layar komputer. "Kalau sudah selesai bertanya, mulai bekerja."
Alina mengembuskan napas pelan. "Baik."
Hari itu menjadi salah satu hari terpanjang dalam hidup Alina. Bukan hanya harus memindahkan barang-barangnya, dia juga harus mempelajari semua tugas barunya. Jadwal rapat, dokumen perusahaan, agenda Lorenzo, surat masuk, panggilan telepon, sampai berbagai urusan yang sebelumnya ditangani Rose.
Masalahnya, Lorenzo tidak memberikan banyak waktu untuk beradaptasi. "Jadwal rapat ini salah."
Alina buru-buru mengambil berkas. "Yang salah bagian mana?"
"Jamnya."
"Oh, maaf. Aku perbaiki."
Belum sempat duduk, suara Lorenzo kembali terdengar. "Alina, telepon untuk rapat dengan klien sudah dikonfirmasi?"
"Sudah."
"Surat ini?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku belum sempat—"
"Kerjakan sekarang."
Alina mengangguk cepat. "Baik."
Beberapa menit kemudian. "Alina."
"Ya?"
"Dokumen ini kurang satu lampiran."
Alina menatap berkas di tangannya. "Sebentar, aku cari."
Lorenzo mengembuskan napas.
Seharian itu, Alina hampir tidak sempat mengangkat kepala. Baru sekarang dia tahu bahwa Lorenzo yang bekerja ternyata jauh berbeda dengan Lorenzo yang berada di rumah.
Di rumah, pria itu masih bisa dia hadapi dengan santai. Di kantor? Lorenzo seperti atasan yang tidak mengenal kata santai. Tatapannya tajam. Suaranya tegas. Kesalahan kecil langsung dikoreksi. Alina bahkan mulai duduk lebih tegak setiap kali Lorenzo memanggil namanya.
Sementara itu, Lorenzo diam-diam memperhatikan perubahan istrinya. Biasanya pikiran Alina banyak ngoceh. Sekarang, setiap mendengar suaranya, wanita itu langsung menjawab.
Lorenzo hampir tertawa melihatnya. Namun, dia memilih diam.
Hari sudah berganti malam ketika pekerjaan mereka akhirnya selesai. Alina menatap jam dinding, hampir tengah malam.
"Ya ampun, sudah jam sebelas malam!"
Alina menyandarkan tubuh ke kursi. Bahunya terasa pegal.
Lorenzo mematikan komputer. "Kita pulang."
Alina menatapnya dengan mata lelah. "Haaaah, pulang sekarang?"
"Memangnya kamu mau menginap di kantor?"
Alina menggeleng cepat. "Tidak."
Mereka kemudian meninggalkan gedung kantor bersama-sama. Di dalam mobil, Alina menyandarkan kepala ke kursi. Matanya sudah berat. Hari pertamanya sebagai sekretaris ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.
Lorenzo menyetir dengan tenang. Namun, perjalanan malam itu tiba-tiba membuat keduanya terdiam ketika kendaraan mereka berhenti di lampu merah. Lorenzo tanpa sengaja melirik ke samping. Matanya langsung menyipit.
Di dalam kendaraan yang berhenti kurang dari semeter dari mereka, ada dua orang yang sangat dikenalnya. Bianca dan Samuel sedang berciuman mesra.
Lorenzo langsung membunyikan klakson. Tatapannya terpaku kepada keduanya.
Bianca yang awalnya sedang berciuman dengan Samuel akhirnya menoleh. Matanya membesar. Wajahnya seketika berubah.
Samuel juga ikut melihat ke arah mobil Lorenzo. Dia sama-sama terkejut.
Lorenzo tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap mereka dengan sorot mata dingin. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram kemudi.
Di sebelahnya, Alina yang semula hampir tertidur ikut membuka mata.
"Ada apa?" Alina menoleh ke arah Lorenzo. Kemudian mengikuti arah pandangan suaminya. Alina membeku.
"Oh. Mereka tertangkap basah!" Alina malah kegirangan.
Bianca dan Samuel masih terlihat panik. Lampu lalu lintas belum berubah. Namun, suasana di antara mereka terasa jauh lebih tegang daripada suara klakson kendaraan yang memenuhi jalan. Lorenzo terus melotot ke arah keduanya.
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....