Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Demam dan Keraguan

“Kamu terlalu nurut sama ibu kamu, Revan. Seharusnya kamu nolak dari awal untuk menikah dengan wanita itu, sayang....”

Aira terus memeluk tubuhku erat di jok belakang. Ia sedang marah karena tahu kalau aku sudah mengantar Alya pulang. Aira tahu itu dari Dona.

Aku terus melajukan motor dengan kecepatan sedang, dengan sebelah tangan mengusap punggung tangan Aira, mencoba membujuknya agar amarahnya sedikit mereda.

“Aku hanya memenuhi permintaan dari ibu kamu. Kamu percaya sama aku, Aira. Di hati ini hanya ada kamu. Bukan dia. Lagian, aku menikahinya karena permintaan ibu. Ibu itu sakit, Aira. Aku takut jika tidak memenuhi permintaan ibu, itu akan menjadi penyesalan terbesarku.”

Aku berkata tegas, menepis deru angin malam.

“Aku takut kalau kalian semakin dekat. Aku tahu sekali akal bulus wanita seperti dia. Wanita itu pasti akan bersikap baik di depan pasienmu itu, hingga suatu saat nanti dia akan sering mengunjungi rumah sakit dan semakin dekat sama kamu, sayang....”

Wajar saja Aira sangat cemburu. Wanita ini sangat mencintaiku, begitupun denganku. Aku sangat mencintainya.

Aku semakin erat menggenggam tangannya, mengelusnya pelan sampai terasa Aira bersandar nyaman pada punggungku.

“Antar aku ke Kafe Kenari. Aku mau ketemu teman-temanku,” ujar Aira pelan.

“Ini sudah malam, Aira. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Teman-temanku sudah menunggu di sana, sayang. Antar aku ke sana.”

Pada akhirnya, aku harus menuruti kemauannya, mengantar Aira menuju Kafe Kenari untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

“Aku pulang. Jangan sampai larut malam.”

“Kamu buru-buru pulang mau ketemu wanita itu, kan?” Aira masih saja menampilkan wajah masamnya, bahkan ia berkata dengan ketus.

Aku kembali menggenggam tangannya, menatap matanya lembut.

“Sayang, ibu belum minum obat. Tolong percaya sama aku.”

“Sampai kapan kamu akan memelihara wanita itu? Sampai waktu ibumu habis di dunia?”

Deg.

Entah mengapa, ketika Aira mengatakan kalimat itu, ada desiran panas di dalam rongga dada. Aku masih tidak menyangka Aira akan mengatakan kalimat itu tentang ibu.

Aku menghela napas gusar, mencoba meredam emosi yang semakin terpancing oleh kecemburuan Aira.

“Aku pulang. Kamu hati-hati. Sayang, percaya sama aku. Sampai waktunya tiba, aku akan melepas Alya....”

Untuk pertama kalinya, aku mengatakan nama Alya di hadapan Aira.

🌸🌸🌸

Sampai di rumah, aku langsung menuju kamar ibu dan memberinya obat seperti biasa. Akhir-akhir ini ibu sering merasa lemas karena kadar gulanya yang tidak stabil. Jadi, aku harus melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kondisi ibu.

“Alya sepertinya sedang sakit, Van. Selepas makan malam, wajah Alya terlihat pucat.”

Ibu berkata lembut kepadaku. Aku teringat tadi siang, ia sudah menggigil kedinginan akibat menerjang hujan deras.

“Periksa kondisinya. Ibu takut Alya kenapa-kenapa.”

“Kenapa ibu terus membicarakan Alya? Anak-anak di rumah sakit sangat menyukainya. Apa yang membuatnya terlihat istimewa?”

Ujarku sambil membereskan obat-obatan milik ibu.

“Alya selalu memancarkan energi positif, Revan. Itulah mengapa orang-orang yang hatinya bersih akan sangat menyukainya. Buktinya sekarang, ia tetap menjalankan pernikahan ini dengan baik tanpa menuntut apa pun dari kamu.”

Ibu berkata lembut, dengan sorot mata tegas menatapku.

“Padahal Alya memiliki hak untuk marah kepada kamu yang masih memiliki hubungan dengan kekasihmu itu. Tapi apa yang ia lakukan? Ia tetap memberimu kebebasan untuk memiliki hubungan dengan Aira.”

“Memang benar apa yang dikatakan Aira. Seharusnya aku tidak menuruti kata ibu untuk menikahi Alya. Aira jadi cemburu, Bu. Ibu tahu aku sangat menyayangi Aira. Kenapa ibu tidak merestui hubungan kami?”

Ibu semakin menatapku tajam.

“Sudah ibu katakan padamu, Revan. Kamu jangan terlalu dibutakan oleh cinta dengan wanita itu.”

“Namanya Aira, Bu....”

“Ibu tahu,” jawab ibu singkat sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.

“Alasan ibu itu sebenarnya apa? Ibu mau cucu? Aira bisa memberikannya. Ibu ingin menantu yang baik, Aira juga sangat baik, Bu. Aku bisa menikahi Aira tanpa ada hati wanita lain yang terluka.”

Perkataanku terjeda sejenak, menahan rasa pegal yang terasa di tenggorokan. Sesak sekali rasanya saat teringat wajah Aira yang sangat cemburu.

“Hati Aira terluka, begitupun dengan Alya....”

Ibu masih diam termenung. Kemudian air matanya perlahan turun, membasahi pipinya.

Ternyata lebih sakit ketika melihat ibu menangis karena ucapanku. Aku jadi menyesal.

“Maafkan Revan, Bu,” kataku pelan, yang direspons oleh anggukan dari ibu.

“Istirahat. Kamu terlihat lelah sekali. Jika tidak ingin memastikan kondisi kesehatan Alya, tolong berikan dia obat saja. Biar ibu yang mengurusnya besok. Dia menantu ibu.”

Aku melangkah tegap menuju kamar, membuka pintu dengan pandangan langsung tertuju pada Alya yang sedang meringkuk di sisi ranjang.

Matanya terpejam sempurna. Pipi putihnya terlihat semakin pucat. Di sebelahnya terdapat layar laptop yang masih menyala.

Aku melangkah mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang sebelah Alya. Terdengar gumaman kecil dari mulutnya.

Dilema, kini yang aku rasakan.

Di satu sisi, Alya sakit karena menerjang hujan bersamaku. Di sisi lain, aku tidak ingin terus-menerus memberikan perhatian kepadanya hingga membuat Aira cemburu.

“Kak Revan sudah pulang?”

Aku menoleh. Alya membuka matanya. Ia berusaha tersenyum dan berusaha menutupi bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.

“Minum obat. Setelah itu istirahat. Tidak usah membantuku untuk membereskan alat kerjaku.”

Alya tidak bergeming. Ia kembali memejamkan matanya. Terlihat tubuhnya semakin menggigil.

“Alya!”

Aku menyentuh keningnya.

Sangat panas.

Bibirnya kering dan pucat.

“Hatsyi....”

Kelopak matanya bergerak pelan.

“Alya, kamu bisa mendengar suaraku?”

Terlihat anggukan kecil. Alya masih bisa merespons suaraku.

“Dingin sekali rasanya, Dokter....” lirih Alya dengan kelopak mata kembali terpejam. Tubuhnya semakin bergetar hebat.

Aku menyentuh tangannya. Terasa dingin, begitu pun telapak kakinya. Tetapi suhu tubuhnya sangat panas.

Aku melangkah menuju meja dan mencari termometer di sana.

Kemudian, aku meletakkan termometer itu di sudut bibir Alya.

Panasnya sangat tinggi, mencapai angka 39 derajat.

Aku merapikan selimut yang menutupi tubuh Alya. Tubuhnya masih menggigil hebat. Lebih parah, sampai giginya terdengar bergemeletuk.

“Alya, apa kamu bisa merespons suaraku? Jangan tidur dulu. Tunggu sampai rasa dinginnya mereda.”

“Aku nggak kuat, Kak....”

Sontak aku mengangkat tubuh Alya, membalut tubuhnya dengan selimut tebal, kemudian memeluknya erat. Keningnya terasa sangat panas di bahuku.

Aku mengusap rambut yang menempel di keningnya karena keringat. Kembali mendekap tubuhnya sampai getaran itu perlahan mereda.

Mata Alya terpejam sempurna dalam pelukanku.

Aku memperhatikan wajahnya.

Entah mengapa, perkataan ibu kembali terngiang di kepalaku.

Alya selalu memancarkan energi positif. Orang-orang di rumah sakit menyukainya. Bahkan anak-anak di bangsal selalu terlihat senang ketika Alya berada di sana.

Aku teringat bagaimana Alya tidak pernah menuntut apa pun dariku. Ia bahkan tetap memberiku kebebasan untuk menjalani hubunganku dengan Aira, meskipun posisi itu seharusnya sangat menyakitkan baginya.

Selama ini, aku terlalu sibuk melihat Alya sebagai wanita yang hadir dalam hidupku karena permintaan ibu.

Aku bahkan tidak pernah benar-benar mencoba mengenalnya.

Aku menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya.

Apa selama ini aku terlalu terburu-buru menilai Alya?

Dan malam ini, melihatnya terbaring lemah dalam pelukanku, aku mulai menyadari satu hal.

Alya mungkin tidak seburuk yang selama ini kubayangkan.

Bersambung

Jangan lupa like komen dan subscribe

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!