Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Identitas Tersembunyi / Fantasi Timur
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.


Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.


Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gua Pertapaan Kuno dan Titik Terang Kultivasi

Badai salju di luar gua perlahan-lahan mulai mereda menjelang fajar hari berikutnya. Udara dingin yang membekukan masih menyelimuti lereng Pegunungan Angin Utara, namun langit di atas mulai menampakkan semburat keemasan yang menembus celah-celah puncak es, memantulkan kilauan cahaya yang memesona di atas permukaan salju putih bersih.

Di dalam gua perlindungan, Gu Yan-Zhi duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Di hadapannya, sisa-sisa api unggun telah padam, menyisakanabu tipis di atas tanah batu. Aliran energi Qi keemasan berputar stabil di dalam Dantiannya, mengalir deras menyusuri jalur meridian yang kini jauh lebih bersih dan terbuka lebar berkat efek dari Pil Pembersih Meridian yang ia konsumsi semalam.

Di bahu kanannya, Hu Yijie membuka matanya perlahan. Makhluk mitos itu melompat ringan turun ke tanah, meregangkan tubuh kecilnya, lalu mengibaskan bulu putih lebatnya. Auranya terasa semakin pekat dan matang, menandakan bahwa proses pemulihan kekuatan sejatinya sebagai ras Singa Surga juga berjalan beriringan dengan peningkatan kultivasi Gu Yan-Zhi.

Tuan... suara telepati Hu Yijie bergema pelan di kepala Gu Yan-Zhi. Para pengintai dari Sekte Pedang Salju itu sepertinya tidak akan kembali dalam waktu dekat. Mereka tahu bahwa menghadapi kita di luar batas wilayah utama adalah risiko yang terlalu besar untuk martabat sekte mereka.

Gu Yan-Zhi perlahan membuka kedua matanya. Kilatan cahaya keemasan yang tajam dan jernih terpancar dari maniknya sebelum akhirnya meredup kembali menjadi tatapan teduh yang penuh wibawa. Ia menghembuskan napas panjang, merasakan perubahan drastis pada kapasitas tenaga dalamnya.

Hantaman bentrokan melawan Leng Jian semalam ternyata bertindak sebagai katalisator sempurna yang mematangkan pemahaman spiritualnya. Saat ini, fondasi kultivasinya telah kukuh sepenuhnya di ambang batas akhir Pemusatan Qi Tingkat Dua, bersiap untuk menembus gerbang Pemusatan Qi Tingkat Tiga kapan saja ia menginginkannya.

"Bagus," gumam Gu Yan-Zhi pelan. Ia bangkit berdiri dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. "Kita tidak boleh membuang waktu terlalu lama di sini. Berdasarkan peta dari Kakek Gui, lokasi Sekretariat Lembah Salju—gua pertapaan kuno peninggalan para leluhur—sudah sangat dekat dari sini. Hanya butuh waktu sekitar setengah hari perjalanan mendaki menyusuri punggung bukit es di sebelah utara."

Gu Chen dan Gu Ruoxi yang sedang merapikan sisa perlengkapan logistik segera berdiri begitu mendengar ucapan tersebut. Wajah Gu Ruoxi tampak jauh lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya; udara pegunungan yang murni dan bebas dari intrik busuk Klan Gu membuat fisik dan mental gadis itu beradaptasi dengan sangat baik.

"Kami siap, Kakak," ucap Gu Ruoxi mantap sambil mengenakan kembali jubah hangatnya.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Tuan muda. Kuda beban juga sudah tampak lebih tenang setelah badai semalam," tambah Gu Chen sambil memegang tali kekang hewan tersebut.

Perjalanan selama setengah hari itu membuahkan hasil. Menjelang tengah hari, ketika matahari berada tepat di atas puncak gunung dan mencairkan sebagian es tipis di tebing-tebing batu, ketiganya tiba di sebuah celah tersembunyi yang diapit oleh dua dinding tebing es raksasa yang menjulang tinggi bagaikan gerbang raksasa alam.

Di balik celah sempit tersebut, terbentang sebuah lembah kecil berbentuk mangkuk yang dikelilingi oleh dinding es abadi. Di tengah-tengah lembah yang terlindung dari tiupan angin kencang itu, berdiri sebuah struktur bangunan kuno berarsitektur batu pualam putih yang sebagian besar dindingnya telah tertutup oleh lumut es dan tumpukan salju tebal.

Itulah Sekretariat Lembah Salju—tempat pertapaan para kultivator tingkat tinggi di masa lampau yang telah lama terlupakan oleh dunia luar.

Begitu mereka melangkah melewati celah sempit dan memasuki area lembah tersebut, Gu Yan-Zhi langsung merasakan perubahan drastis pada konsentrasi energi spiritual alam di sekitarnya. Udara di tempat itu tidak terasa dingin menusuk tulang, melainkan terasa begitu sejuk, padat, dan kaya akan elemen es serta energi murni yang berdenyut lembut di setiap embusan napas.

"Luar biasa..." bisik Gu Chen takjub, matanya terbelalak lebar merasakan betapa pekatnya energi Qi yang berkelebat di udara lembah tersebut. "Hanya dengan berdiri di sini saja, aku merasa aliran darah di tubuhku berdesir lebih cepat!"

"Tempat ini dulunya adalah pusat konsentrasi formasi pengumpulan Qi alami yang dibuat oleh para leluhur sekte besar zaman dahulu," penjelasan Gu Yan-Zhi mengalir tenang sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kompleks bangunan pualam yang sunyi. "Meskipun formasinya sudah melemah selama ratusan tahun, sisa-sisa energi spiritual yang terjebak di lembah ini masih sepuluh kali lebih padat daripada di luar sana."

Gu Yan-Zhi memimpin langkah mereka mendekati pintu gerbang batu utama sekretariat yang tertutup rapat oleh balok es tebal. Tanpa ragu, ia meletakkan telapak tangan kanannya di atas permukaan pintu batu tersebut, lalu menyalurkan sebagian kecil energi keemasan dari Kitab Pembalik Langit.

Kreeet... ssshhhh...

Energi keemasan itu bereaksi dengan sisa-sisa segel kuno di pintu. Lapisan es tebal yang menutupi permukaan batu perlahan-lahan mencair dan retak berkeping-keping, sementara daun pintu batu pualam tua itu berderit berat membuka ke dalam, menyambut kedatangan pewaris sah dari warisan leluhur Jenderal Langit.

Di dalam aula utama yang luas, pilar-pilar batu berukir relief naga es menjulang tinggi menopang langit-langit gua batu yang dihiasi oleh kristal-kristal bercahaya alami. Di bagian tengah aula, terdapat sebuah altar batu datar yang dikelilingi oleh ukiran pola lingkaran kosmik—sebuah tempat meditasi sempurna yang dirancang khusus untuk menyerap energi alam dengan efisiensi maksimal.

"Tempat ini akan menjadi basis latihan kita selama beberapa pekan ke depan," ujar Gu Yan-Zhi sambil berbalik menatap Gu Ruoxi dan Gu Chen dengan senyuman penuh keyakinan. "Di sinilah kita akan menempa diri, menaikkan tingkat kultivasi, dan mempersiapkan langkah besar berikutnya sebelum dunia luar menyadari kehadiran kita."

Di bawah kubah es purba yang megah itu, babak baru penempaan kekuatan sang Jenderal Langit resmi dimulai, merangkak perlahan namun pasti menuju puncak kedigdayaan di Benua Dewa.

1
Siskasuryaningsih
bapak mu piye nang? bok no tinggal ta?
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: 😂😂lha harus gimana kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!