Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ia mulai makan dengan enggan. Adrian mengawasinya dari sudut matanya, memastikan setiap suapan dikunyah dengan benar sebelum ditelan.
Di tengah perjamuan, Kayna mencoba minum anggur terlalu cepat, berharap tersedak. Adrian langsung menepuk punggungnya dengan kekuatan yang terukur, cukup keras untuk mencegah tersedak, tapi tidak terlalu keras untuk menarik perhatian.
Kayna mencoba berdiri terlalu cepat, berharap pingsan karena tekanan darah rendah dan kepalanya membentur meja. Adrian langsung menangkap lengannya dan mendudukkannya kembali dengan lembut.
Kayna mencoba menggigit lidahnya sendiri. Adrian, entah bagaimana, menyadari gerakan rahangnya yang aneh dan langsung menyelipkan serbet yang dilipat ke antara gigi Kayna.
"Kunyah serbetnya kalau kau butuh sesuatu di mulutmu," bisik Adrian di telinganya.
Kayna menatap Adrian dengan tatapan yang untuk pertama kalinya bukan datar, bukan sarkastik, melainkan benar-benar frustrasi. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan murni.
"Aku benci kamu," bisik Kayna, suaranya bergetar.
Adrian menatapnya, dan untuk sesaat, topeng dinginnya retak. Ada sesuatu yang sangat lembut di matanya. "Aku tahu," bisiknya balik. "Tapi aku tidak akan berhenti."
***
Setelah perjamuan berakhir, Adrian menarik Kayna ke balkon pribadi di sayap timur istana kerajaan. Pintu kaca ditutup di belakang mereka, meredam suara musik dan tawa dari dalam.
Udara malam yang dingin menerpa wajah Kayna. Bulan purnama bersinar terang di atas mereka, memandikan balkon marmer dengan cahaya perak.
Kayna berdiri di tepi pagar balkon, menatap ke bawah. Ketinggian tiga lantai. Cukup untuk mematahkan leher. Ia menghitung dalam hati.
Kalau aku melompat sekarang, Adrian butuh dua detik untuk berlari ke arahku. Jarak dari pintu ke pagar: empat meter. Kecepatan lari Adrian: sekitar...
"Jangan," ucap Adrian dari belakangnya. Suaranya tidak keras, tidak memerintah. Hanya... lelah.
Kayna tidak bergerak. Ia tetap menatap ke bawah.
"Kenapa?" tanyanya, suaranya terdengar kecil di tengah angin malam. "Kenapa kau terus menyelamatkanku? Aku tidak meminta itu. Aku tidak pernah meminta itu."
Adrian melangkah maju, berdiri di samping Kayna, tapi tidak terlalu dekat. Ia juga menatap ke bawah, ke taman istana yang gelap.
"Karena aku tidak bisa membiarkanmu mati," jawab Adrian sederhana.
"Itu egois," bisik Kayna. "Kau egois. Aku sudah menderita dua puluh tahun. Dua puluh tahun tanpa pernah dicintai, tanpa pernah diinginkan. Dan sekarang, di kehidupan ini, aku hanya ingin pergi dengan tenang. Tapi kau terus menghalangiku. Kau mengambil pisaunya, kau mengambil bantalnya, kau bahkan membawakan sendok kayu tumpul ke perjamuan kerajaan. Kau egois, Adrian."
Kayna tidak menyadari bahwa ia baru saja memanggil Duke Adrian dengan nama depannya tanpa gelar. Dan Adrian tidak mengoreksinya.
"Mungkin aku egois," ucap Adrian pelan, menatap bulan. "Seluruh hidupku, aku melakukan segalanya untuk kerajaan, untuk reputasi, untuk nama keluarga. Aku tidak pernah egois untuk diriku sendiri. Tapi untuk pertama kalinya..."
Ia menoleh ke arah Kayna. Bulan purnama menerangi separuh wajahnya, membuat mata birunya terlihat seperti lautan yang dalam.
"...untuk pertama kalinya, aku egois untuk seseorang yang bukan diriku sendiri."
Kayna terdiam. Angin malam meniup rambutnya, membawa aroma bunga melati dari taman di bawah.
Ia menatap Adrian. Pria yang seharusnya menjadi algojonya. Pria yang seharusnya membencinya sampai mati. Pria yang tadi siang rela menghantamkan punggungnya ke lantai marmer hanya untuk melindungi kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke dalam tubuh ini, untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan untuk mati.. Kayna tidak memikirkan cara untuk mengakhiri hidupnya.
Hanya selama beberapa detik.
Tapi beberapa detik itu terasa seperti keabadian.
"Kau menyebalkan," bisik Kayna akhirnya, suaranya pecah. Ia memalingkan wajahnya, tidak ingin Adrian melihat matanya yang basah.
Adrian tidak menjawab. Tapi perlahan, sangat perlahan, tangannya bergerak dan menyentuh ujung jari Kayna yang mencengkeram pagar balkon. Tidak menggenggam. Tidak menarik. Hanya... menyentuh.
Dan Kayna tidak menarik tangannya.
Di bawah cahaya bulan purnama, dua orang yang seharusnya saling membenci berdiri berdampingan di balkon, jari-jari mereka bersentuhan, dan untuk sesaat, dunia terasa tidak terlalu berat untuk dijalani.
Hanya sesaat.
..gagal terus🤣