Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 — Sarapan untuk Siapa?
Ketika Nara bangun, langit di luar jendela baru mulai terang.
Adrian masih tidur. Tempat tidur lipat itu terlalu sempit untuk dua orang, dan sebelah kakinya hampir keluar dari ujung kasur.
Nara menahan senyum. Ia menarik selimut sedikit agar menutupi kaki itu, lalu turun dengan hati-hati.
Di ruang depan, sisa kopi masih ada di dua cangkir. Bungkus makanan semalam sudah masuk tempat sampah. Ia mencuci cangkir tanpa menyalakan keran terlalu besar.
Ia memiliki dua telur, beberapa lembar roti, dan kompor listrik kecil yang dibeli bersama ketel. Tidak mewah, tetapi cukup untuk sarapan.
Nara membuka kulkas mini, mengeluarkan telur, lalu berhenti.
Ponsel Adrian berdering di meja kecil ruang belakang.
Laki-laki itu terbangun, meraih ponsel, dan menatap layarnya.
Nara sudah tahu siapa bahkan sebelum ia berkata, “Iya, May.”
Ia meletakkan telur di meja tanpa suara.
Adrian duduk, punggung membungkuk sedikit. Ia memandang Nara sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke lantai.
“Sudah bangun.”
Suara Maya terdengar samar. Ada bunyi piring di ujung sana.
“Sebentar lagi pulang.”
Nara membuka keran lagi, lalu segera menutupnya. Ia tidak tahu apakah bunyi air akan menimbulkan pertanyaan.
Adrian mendengarkan, menggumam, kemudian menjawab bahwa tidak perlu dibelikan kopi.
Sesudah telepon berakhir, ia memandang Nara.
“Maya sudah beli sarapan.”
Nara mengangguk.
Ia mengembalikan satu telur ke kulkas, kemudian yang satu lagi.
Adrian berdiri dan mengambil kemeja.
“Aku bisa minum dulu.”
“Nggak usah. Nanti keburu dingin di rumah.”
Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang direncanakan Nara.
Adrian berhenti mengancingkan lengan. Ia melihat telur yang sudah kembali ke kulkas, kompor, lalu dua piring di meja.
“Aku nggak tahu kamu sudah menyiapkan sarapan.”
“Belum. Baru ambil telur. Kamu nggak perlu merasa bersalah karena itu.”
Nara mengambil kain lap. Begitu mengatakannya, ia sadar ia justru ingin Adrian merasa bersalah. Ia ingin laki-laki itu melihat dua piring tadi dan memutuskan tinggal sebentar lagi.
Ia malu, tetapi rasa kecewanya tidak hilang.
“Aku cuma pikir kita bisa makan,” katanya. “Nggak lama. Tadi bangun, lihat kamu masih tidur, aku pikir…”
Ia berhenti. Adrian menunggu, tetapi Nara tak sanggup meneruskan bayangan tentang pagi yang baru sebentar dinikmatinya.
Ia sudah tahu laki-laki ini punya istri sebelum mengirim alamat, sebelum mengunci pintu, sebelum meletakkan cincin di meja. Tetap saja Maya cukup menelepon dan Adrian langsung mengambil kemeja, sementara Nara bahkan takut menyalakan keran agar keberadaannya tidak ketahuan.
“Aku bisa duduk dulu,” kata Adrian.
Nara menatapnya.
“Sambil melihat jam? Nanti aku yang harus bilang cepat pulang supaya aku kelihatan pengertian?”
Adrian diam. Nara menyesal mendengar betapa pahit suaranya, tetapi ia tidak bisa memaksakan senyum lagi.
“Aku sudah bilang sebentar lagi sampai. Kalau terlalu lama…” Adrian berhenti sebelum menyebut Maya sekali lagi.
“Ya, sudah. Pergi.”
Adrian mendekat, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
“Jangan suruh aku pergi waktu kamu masih begini.”
“Terus aku harus gimana?” Nara meremas kain di tangannya. “Aku belum bisa senyum, Adrian. Kamu mau pulang, pulang saja. Jangan tunggu aku bilang nggak apa-apa.”
Adrian menunduk. Untuk sesaat Nara masih berharap ia meletakkan kemejanya lagi. Laki-laki itu justru merapikan lengan yang belum selesai dikancingkan.
Nara berpaling ke meja.
Adrian mengambil cincin dan memasukkannya kembali ke jari.
Nara melihat gerakan itu sampai selesai.
“Semalam bukan cuma—”
“Aku nggak tanya.”
Adrian berhenti.
Nara merapatkan kedua tangan di depan tubuh.
“Aku nggak mau kamu bilang sesuatu sekarang cuma supaya aku nggak sedih.”
Laki-laki itu menunduk.
Nara ingin menangis, tetapi ia tidak mau Adrian tinggal hanya karena merasa bersalah. Ia ingin laki-laki itu sendiri yang memilih tetap bersamanya.
“Aku butuh sebentar,” katanya.
Adrian mengangguk. Ia mencium kening Nara, singkat, lalu mengambil tas.
Di pintu, ia menoleh.
“Aku akan hubungi kamu.”
Nara tidak menjawab.
Ia mengunci pintu setelah laki-laki itu turun. Di bawah, mesin percetakan belum menyala. Semua terasa terlalu sunyi.
* * *
Maya membuka pintu ketika Adrian sampai.
“Aku kira kamu belum berangkat.”
“Tadi jalan pelan.”
“Capek banget?”
Adrian mengangguk.
Maya menyentuh punggungnya, lalu menyuruhnya duduk. Dua kotak bubur ada di meja. Sendok sudah disiapkan, sambal dipisahkan seperti yang disukai Adrian.
Ia menatap makanan itu.
“Kerjaannya selesai?”
“Iya.”
“Berarti hari ini bisa istirahat.”
Adrian mengangguk lagi.
Maya duduk di seberang, membuka kotaknya sendiri. Ia bercerita tentang pemasok yang mengirim warna pita berbeda. Ceritanya biasa saja, bahkan lucu, tetapi Adrian terlambat tertawa.
Maya memperhatikan.
“Kalau ngantuk, tidur dulu. Nggak usah maksa dengar.”
“Nggak, aku dengar.”
Ia mengambil sendok.
Di kepalanya, Nara masih mengembalikan dua telur ke kulkas satu per satu.
* * *
Nara akhirnya makan selembar roti sambil berdiri.
Ponselnya menyala. Pesan suara dari Maya.
Ia menatap nama sahabatnya sampai layar padam.
Beberapa menit kemudian ia memutarnya, menahan ponsel agak jauh dari telinga.
“Na, bingkainya jadi kapan? Gue nggak buru-buru, cuma mau atur pengiriman. Adrian hari ini di rumah, katanya mau istirahat habis semalaman kerja. Nanti kabarin, ya.”
Nara menghentikan pesan itu sebelum selesai diputar. Ia tidak sanggup mendengar Maya terus bicara seolah semalam Adrian benar-benar sedang bekerja.
Cincinnya masih di meja kecil.
Ia mengambilnya, menggenggamnya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke jari.
Maya menanyakan lukisan untuk kamar mereka.
Nara belum sanggup menjawab.