Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Reuni yang nenyakitkan
Pagi itu, sinar matahari hangat menyiram teras rumah. Adrian dan Nayla telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Kendati status mereka kini telah berubah menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai, mereka sepakat untuk tetap berangkat dengan kendaraan terpisah. Nayla masih belum siap jika status pernikahan mereka mendadak menjadi konsumsi publik dan perbincangan hangat di seluruh penjuru kantor.
Nayla mendekati sedan soft pink barunya yang terparkir anggun di halaman. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia berbalik menghadap Adrian yang berdiri menunggunya.
Nayla meraih tangan kanan Adrian, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan penuh hormat. Namun, sebelum Nayla sempat menarik diri, Adrian menahan lengannya pelan. Pria itu menunduk dan mendaratkan sebuah kecupan hangat nan lama di kening Nayla, membuat pipi wanita itu langsung merona manis.
Di dalam mobil hitam yang terparkir di belakang mereka, Rio yang duduk di kursi kemudi menatap pemandangan itu dari balik kaca depan seraya mesem-mesem sendiri.
'Akhirnya... dua insan kaku itu bisa bersikap normal seperti pasangan suami istri pada umumnya,' batin Rio kegirangan.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang... Aku akan mengikutimu dari belakang," ujar Adrian lembut seraya mengusap pipi istrinya.
"Iya, Mas..." sahut Nayla malu-malu, lalu bergegas masuk ke dalam mobil barunya dan melaju lebih dulu.
Saat Adrian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, Rio yang usil tak bisa menahan rasa penasaran. Saat melirik ke cermin tengah, mata tajam Rio menangkap bekas goresan kuku yang masih memerah di leher bagian kanan bosnya.
"Ehem... Pak," goda Rio dengan cengiran jahil. "Itu lehernya kenapa, Pak? Kena gigit nyamuk raksasa semalam?"
Adrian melirik cermin tengah, lalu menyentuh bekas goresan di lehernya dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman tipis nan bangga.
"Ini tanda cinta dari istriku," jawab Adrian santai tanpa rasa canggung sedikit pun. "Sudah, jangan banyak tanya. Ayo berangkat."
Rio tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sang CEO dingin kini benar-benar telah menjelma menjadi seorang pria yang kasmaran.
...
Suasana parkiran eksekutif gedung Dewangga Group mendadak riuh saat sedan mewah berwarna soft pink memasuki area dan terparkir rapi. Ketika pintu mobil terbuka dan Nayla melangkah keluar, puluhan pasang mata staf yang melintas langsung tertuju padanya.
Beberapa staf wanita awalnya menyapa Nayla dengan senyuman manis. Namun, begitu Nayla berjalan melewatinya, berbisik-bisik dengki langsung terdengar tajam di belakangnya.
"Gaji sekretaris memangnya sebesar itu ya sampai bisa beli sedan mewah miliaran rupiah begitu?" bisik seorang staf berlipstik merah dengan nada menyindir. "Padahal kan baru menjabat setahun... Palingan juga dapat bonus khusus atau pakai kecurangan?"
"Iya, lagian ya... Kok bisa sih perusahaan kita milih sekretaris yang kayak gitu? Masih cantikan dan mulusan kita ke mana-mana... Harusnya kan yang lebih enak dipandang," timpal temannya seraya tertawa sinis.
Lagi-lagi, ejekan soal fisik merayapi telinga Nayla. Langkah kakinya sedikit melambat, jemarinya meremas tali tasnya erat-erat seraya menundukkan kepala. Rasa minder yang sempat memudar mendadak menusuk hatinya kembali.
"Heh!"
Sebuah teriakan nyaring memotong cemoohan itu. Mira melangkah lebar-lebar dengan bersedekah tangan, menatap tajam kedua staf gossip tersebut.
"Yang dibutuhin untuk posisi tinggi di Dewangga Group itu bukan cuma sekadar penampilan atau muka tebal, tapi otak!" temprot Mira pedas dengan mata yang berkilat. "Pagi-pagi udah bikin eneg aja. Kalau iri bilang bos, nggak usah pakai nyinyir!"
Kedua staf itu melotot kesal, namun tak berani membalas karena posisi Mira yang berada di tingkat manajemen. Mereka akhirnya pergi melengos dengan raut muka masam.
Nayla mendesah pelan seraya mendekati sahabatnya. "Mira... makasih ya. Tapi kamu tidak perlu sampai segitunya, nanti mereka bisa membencimu..."
"Biarkan saja, tidak ada ruginya buatku, Nay!" sahut Mira santai. Namun, matanya langsung berbinar saat beralih menatap sedan soft pink di belakang Nayla. "Wah... mobilmu cantik banget, Nay! Ini dari..." Mira mengedipkan matanya berkali-kali dengan raut menggoda. "...suamimu, kan?"
Pipi Nayla memerah. "I-iya... ini hadiah dari suamiku."
"Widih! Udah berani sebut 'suamiku' nih sekarang!" goda Mira tertawa geli.
Nayla yang salah tingkah refleks menyisir helai rambut panjangnya ke belakang telinga. Namun, gerakan itu justru membuat kerah kemeja birunya sedikit tersingkap. Mata tajam Mira menangkap satu titik rona kemerahan di leher mulus Nayla yang terlewat tidak tertutup concealer.
Mira membelalakkan matanya lebar-lebar, menyeringai jahil. "Aha! Jadi semalam... kalian sudah itu ya?! Nay, ceritain dong!"
"Mira! Ih, enggak ada cerita-cerita!" seru Nayla panik setengah mati. Ia langsung balik badan dan lari kecil menuju lobi gedung demi menghindari interogasi sahabatnya.
"Hei! Nyonya Muda, jangan kabur!" tawa Mira bergaung seraya mengejar Nayla.
Di area lobi utama, langkah Nayla terhenti saat melihat Adrian dan Rio baru saja melangkah masuk dari pintu kaca depan. Nayla buru-buru mengontrol ekspresinya, menunduk sopan.
"Selamat pagi, Pak Adrian... Pak Rio..." sapa Nayla dengan bahasa formal yang sempurna.
Adrian mengangguk tenang, namun iris matanya menyapu wajah Nayla dengan kehangatan yang amat dalam sebelum berlalu menuju lift khusus direksi.
Mira yang berdiri di samping Nayla mengamati interaksi kaku yang dibuat-buat itu dengan dagu terangkat. Di dalam hatinya, Mira tertawa geli.
Coba kita lihat... siapa nanti di antara mereka berdua yang bakal kagak tahan duluan buat ngebuka identitas asli sebagai pasangan suami istri di kantor, batin Mira penuh kejahilan. Sepertinya seru banget kalau dijadikan taruhan... Tapi sama siapa ya?
Mata Mira menyisir lobi dan terhenti pada sosok Rio yang berjalan di belakang Adrian. Karena hanya Rio yang tahu rahasia ini, pria itulah kandidat paling pas.
Saat Adrian dan Nayla melangkah masuk ke dalam lift lebih dulu, Mira dengan sigap menarik lengan jas Rio dari belakang, menahannya di dekat pilar lobi.
"Eh! Mbak Mira?!" kaget Rio seraya memegangi dadanya. "Ada apa sih pagi-pagi narik-narik? Mau minta tanda tangan saya?"
"Ih, apaan sih Mas Rio!" cetus Mira gemas. "Saya punya penawaran menarik nih."
"Penawaran apa?" tanya Rio curiga.
"Mari kita taruhan! Siapa di antara dua pasangan 'privasi' itu yang tidak tahan duluan buat bongkar status pernikahan mereka di depan umum?" bisik Mira penuh semangat.
Rio menaikkan alisnya antusias. "Oke, ayo! Saya jamin pihak 'wanita' yang bakal kelepasan duluan."
"Kalau begitu aku pihak 'pria'!" tantang Mira percaya diri. Mereka sengaja menggunakan kata ganti agar staf lain yang melintas tidak mengerti siapa yang dimaksud. "Yang kalah... wajib bayarin tiket liburan ke Paris! Gimana?"
"Oke, deal!" sahut Rio menyengir lebar seraya menyalami tangan Mira, lalu berlari menyusul bosnya ke dalam lift.
.....
Jam menunjukkam pukul sembilan lewat lima belas menit. Nayla, Adrian, dan Rio telah berada di sebuah ruangan VIP restaurant untuk melangsungkan pertemuan penting bersama pemilik lahan yang akan dibangun proyek hotel dan lapangan golf Dewangga Group.
Binar bahagia masih belum menguap dari raut wajah Adrian maupun Nayla. Di bawah meja makan beralas kain putih itu, jemari mereka saling bertaut erat, memberikan kehangatan tersembunyi di tengah nuansa formal pekerjaan.
Cklek.
Pintu ruangan VIP terbuka. Seorang wanita paruh baya berbusana elegan dengan perhiasan mewah melangkah masuk.
"Maaf saya sedikit terlambat... jalanan macet sekali," tutur wanita itu dengan suara tenang dan anggun.
Deg!
Genggaman tangan Nayla di bawah meja mendadak melemas. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Matanya membelalak kaku menatap wanita yang baru saja masuk.
Wanita di hadapannya saat ini... adalah Nyonya Dewi Ambarwati Baskoro. Sesuai dugaannya tadi pagi dia adalah Ibu kandung yang telah membuang dan meninggalkannya sejak ia masih berusia tiga belas tahun.
Pandangan mata mereka sempat bertemu di udara. Namun, tidak ada raut keterkejutan, duka, apalagi rasa rindu di wajah Dewi Ambarwati. Wanita itu menatap Nayla dengan pandangan biasa saja, seolah-olah Nayla hanyalah seorang sekretaris asing yang tidak ada artinya.
Berbeda dengan Dewi, tubuh Nayla gemetar hebat. Dadanya bergemuruh menahan gejolak emosi dan kepedihan yang meluap tajam.
Dewi Ambarwati tidak datang sendirian. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda berbusana gaun brand ternama dengan gaya angkuh. "Ini putri saya, Anita Baskoro," kenal Dewi singkat mengenai putri dari suami kayanya saat ini, yang usianya kini 25 tahun, hampir sebaya dengan Nayla.
Adrian yang menyadari keheningan tak biasa dari sekretarisnya, melirik ke samping. Ia melihat tubuh Nayla tegang kaku dengan jemari yang dingin memucat.
Adrian memajukan tubuhnya sedikit, berbisik sangat pelan di samping telinga Nayla. "Nayla...? Kamu baik-baik saja? Ada masalah?"
Pikiran Nayla berputar liar bagaikan badai. Luka lama yang terpendam belasan tahun mendadak terbuka kembali dan berdarah.
'Jadi... saat usiaku tiga belas tahun... Ibu pergi meninggalkanku dan Ayah hanya demi memilih merawat putri orang lain? Hanya demi mendapatkan hidup mewah dan bergelimang harta seperti sekarang ini?' batin Nayla menjerit pilu. 'Dulu... disaat aku sangat membutuhkan kehangatan seorang ibu... Ibu justru memeluk dan memanjakan anak orang lain...?'
Nayla memejamkan matanya erat-erat, menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga demi menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tidak menetes di depan pria dan wanita yang telah menghancurkan masa kecilnya itu.
Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai suaranya yang bergetar. "E-emm... tidak apa-apa, Pak Adrian," bisik Nayla berusaha profesional. "Kita... kita bisa langsung membahas soal kesepakatan dan deal untuk harga lahannya."
Sementara itu, di sudut meja berseberangan, Dewi Ambarwati melirik sekilas ke arah Nayla yang sibuk membuka berkas dokumen.
'Anak ini... ternyata bisa juga bekerja di perusahaan besar seperti Dewangga Group,' batin Dewi dingin seraya menyeruput tehnya. 'Tapi sayang... tubuhnya tetap saja besar, dia benar-benar tidak bisa merawat diri. Membuatku malu saja kalau sampai ada yang tahu. Untung saja di sini tidak ada satu orang pun yang tahu kalau dia adalah anak kandungku.'
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️